


oleh Yellow Flower · 100 Bab
Gian hanya berniat mengantar kue. Rani tak bermaksud jatuh hati, tetapi kenangan hadir dalam bentuk tubuh tinggi dan gestur yang mengingatkan pada almarhum. Casy yang mengenalkan Gian kepada Rani. Bagi Casy, Gian adalah bayangan kakak yang telah pergi. Mereka bertiga terhubung bukan karena rencana, melainkan karena luka yang tak terlihat dan rasa yang tak pernah selesai. Rani lebih dulu mengucapkan suka pada Gian. Gian memilih Casy. Cinta segitiga yang berujung pada perasaan bersalah antara dua sahabat. Meski hati tak sepenuhnya pulih, mereka tetap bersama.
Gian berdiri di depan pintu rumah itu, kotak kue di tangan, aroma mentega dan vanila masih hangat. Ia tidak tahu siapa yang memesan, hanya alamat yang tertulis rapi di nota.
Hujan baru saja reda dan sisa embun di helmnya menetes pelan ke ubin. Ia mengetuk sekali, lalu dua kali. Tak ada jawaban tetapi pintu terbuka perlahan dan di baliknya berdiri seorang perempuan dengan mata yang tidak bertanya, hanya mengamati.
Gian mengangguk pelan, menyerahkan kotak itu. Perempuan itu tidak bicara, hanya menerima tetapi dalam jeda itu, Gian merasa seperti sedang menyerahkan sesuatu yang lebih dari sekadar kue.
Ada sesuatu yang tertinggal di udara bukan aroma, bukan suara tetapi kenangan yang belum selesai. Gian melangkah mundur, tidak tahu bahwa langkah kecil itu akan membawanya ke dalam cerita yang tak pernah ia rencanakan.
Rani tidak tahu harus berkata apa. Tubuh tinggi itu, cara Gian berdiri, bahkan cara ia menunduk saat menyerahkan kotak, semuanya mengingatkan pada seseorang yang sudah tiada. Ia tahu ini bukan dia, tentu saja bukan tetapi kenangan punya cara sendiri untuk menyelinap.
Gian menunggu sebentar, mungkin berharap ada ucapan terima kasih tetapi Rani hanya diam. Ia ingin bicara tetapi lidahnya berat. Gian tersenyum kecil, lalu melangkah pergi. Rani menutup pintu pelan tetapi tatapannya masih tertinggal di tempat Gian berdiri tadi.
Di sana, kenangan lama mulai bergerak. Ia duduk di lantai, membuka kotak kue perlahan. Aroma manis menyebar tetapi rasanya berbeda. Bukan karena resep tetapi karena ingatan. Rani tahu ini bukan tentang kue tetapi tentang seseorang yang dulu selalu datang membawa rasa yang sama.
Di dapur, Casy mencatat sesuatu di kalender dinding. “Pesanan Rabu, jam tiga,” gumamnya. Ia tahu Rani belum sepenuhnya siap tetapi ia juga tahu bahwa Gian bukan sekadar pengantar.
Ada sesuatu dalam cara Gian hadir, tenang dan tidak menuntut tetapi cukup untuk membuat ruang terasa berbeda.
Casy tidak bicara banyak soal kakaknya tetapi ia menyimpan harapan kecil bahwa Gian bisa menjadi jembatan, bukan pengganti. Ia melihat ke arah Rani yang masih berdiri di depan pintu dan tahu bahwa sesuatu telah bergeser. Tidak besar tetapi cukup untuk memulai.
Di meja, kue yang belum disentuh tampak terlalu rapi. Casy memotong sepotong kecil, lalu meletakkannya di piring. Ia tidak makan, hanya menatap. Di antara aroma manis dan suara jam yang tak berdetak, ia merasa waktu mulai bergerak lagi, pelan tetapi pasti.
Gian kembali ke motor, helm masih basah. Ia tidak tahu mengapa pertemuan itu terasa berat. Biasanya, ia hanya mengantar dan pergi tetapi kali ini, ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang membuatnya ingin bertanya.
Gian membuka nota pesanan, nama Rani tertulis di sana, dengan tulisan tangan yang rapi. Di dalam kotak, kue bolu dengan lapisan krim kuning, terlalu manis untuk hari yang mendung. Gian menatap langit, lalu menyalakan mesin.
Gian tidak tahu bahwa kue itu bukan sekadar makanan tetapi bagian dari ritual yang Rani lakukan untuk mengenang. Di jalan pulang, Gian merasa ada yang tertinggal. Bukan barang, bukan kata tetapi rasa yang belum ia kenali. Ia tidak tahu bahwa langkah kecil tadi telah membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Di balik pintu itu, ada cerita yang menunggu untuk disentuh.
Yellow, si kucing kecil, bersembunyi di bawah meja. Ia tidak suka tamu tetapi hari ini ia tidak lari. Rani duduk di lantai, membuka kotak kue perlahan. Yellow mendekat, mengendus aroma manis itu. Rani memotong sepotong kecil, meletakkannya di piring. Ia tidak makan, hanya menatap.
Di luar, suara motor Gian menjauh. Yellow mengeong pelan, seolah ingin bertanya. Rani tersenyum tipis, lalu berkata, “Mirip, ya?” Yellow tidak menjawab, tentu saja tetapi kehadirannya cukup untuk membuat Rani merasa tidak sepenuhnya sendiri.
Rani mengelus bulu Yellow, lalu menatap ke arah jendela. Di sana, hujan mulai turun lagi pelan, seperti kenangan yang datang tanpa permisi. Rani tahu hari ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang berubah, meski ia belum tahu apa.
Casy duduk di ruang tamu, memandangi jam tua yang tak lagi berdetak. Ia ingat kakaknya dan bagaimana dulu mereka selalu duduk di sana, menunggu kue datang.
Gian bukan kakaknya tetapi ada sesuatu yang membuat waktu terasa kembali. Ia tidak ingin berharap terlalu banyak, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan rasa yang muncul.
Rani masuk, membawa piring kue. Mereka tidak bicara, hanya duduk bersebelahan. Di antara mereka, aroma manis dan kenangan yang belum selesai. Casy tahu ini bukan awal yang direncanakan tetapi mungkin cukup untuk memulai.
Ia menatap wajah Rani, lalu berkata pelan, “Kuenya manis.”
Rani mengangguk, tidak menjawab tetapi dalam anggukan itu, ada sesuatu yang mengendap, seperti waktu yang diam-diam mulai berjalan lagi.
Malam datang pelan, membawa angin yang lembut. Gian duduk di kamarnya, memandangi nota pesanan yang sudah ia lipat. Ia tidak tahu mengapa pertemuan itu tertinggal di pikirannya.
Rani tidak bicara tetapi tatapannya berbicara banyak. Gian tidak tahu cerita di balik mata itu tetapi ia merasa ingin tahu.
Di tempat lain, Rani menatap langit dari jendela, Yellow di pangkuannya. Casy menuliskan sesuatu di buku kecilnya. Tidak ada kata yang diucapkan malam itu tetapi semuanya merasa bahwa diam bisa mengikat lebih kuat dari suara.
Di antara embun yang turun dan lampu yang redup, mereka masing-masing menyimpan rasa yang belum punya nama tetapi rasa itu ada dan malam ini, mereka membiarkannya tinggal.
Pagi berikutnya, Gian kembali ke rute biasa tetapi rumah itu. Rumah yang kemarin ia datangi, masih terbayang. Ia tidak tahu apakah ia akan mengantar ke sana lagi tetapi ada sesuatu yang membuatnya berharap.
Di dalam kamar, Rani menyalakan radio pelan. Lagu lama mengalun, membawa kenangan yang tak ia undang.
Yellow melompat ke jendela, menatap jalanan kosong. Casy menyiapkan teh, lalu menulis satu kalimat di buku kecilnya. “Kadang, yang datang tanpa rencana justru paling mengerti.”
Di luar, langit cerah tapi dingin. Gian berhenti sejenak di persimpangan, lalu memilih jalan yang sama seperti kemarin. Ia tidak tahu apakah pintu itu akan terbuka lagi tetapi ia tahu, kadang satu langkah kecil cukup untuk memulai sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Pagi berganti siang tetapi rumah itu tetap sunyi. Rani menarik tirai sedikit, membiarkan cahaya masuk ke ruang yang selama ini ia jaga rapat.
Yellow masih tidur dan Casy sedang menyiapkan teh seperti biasa tetapi ada yang berbeda hari ini, bukan pada benda-benda, melainkan pada cara mereka diam.
Rani membuka laci kecil di meja, mengambil foto lama yang sudah mulai pudar. Di sana, wajah seseorang yang dulu ia cintai tersenyum, mengenakan syal yang kini tergantung di belakang pintu. Ia menatap lama, lalu menaruh foto itu di atas meja.
Di luar, suara motor terdengar pelan. Gian lewat, tidak berhenti tetapi cukup dekat untuk membuat jantung Rani berdebar. Ia tidak tahu apakah Gian melihat ke arah rumah itu tetapi ia tahu kadang, kehadiran yang sebentar bisa tinggal lebih lama dari yang pernah dijanjikan.

Yellow Flower
66 Pengikut · 5 Novel