


oleh Q-H@n's · 7 Bab
Memiliki pacar cantik dan populer nyatanya tidak membuat hati Bara Al Khalifi menetap. Adalah Ana Dian Paramitha yang mampu menggetarkan hati Bara dan membuat hatinya berpaling dari pacar resminya, Kimberly. Bagaimana jadinya jika Kimberly pada akhirnya tahu isi hati Bara yang sebenarnya? Lalu bagaimana pula hubungan Bara dengan Bagas jika gadis yang dicintai Bara sebenarnya berstatus sebagai kekasih Bagas yang merupakan sahabat karibnya sendiri? Dan apakah cinta Bara kepada Ana akan bersambut?
“Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu, Ana?”
Wanita muda di hadapannya itu menoleh, kemudian tersenyum ketika melihatnya.
“Seperti yang kau lihat. Aku baik. Sangat baik malah.”
Senyum itu masih sama, suaranya pun tetap menenangkan seperti biasanya. Dan ternyata hati Bara masih bergetar karenanya.
Ana Dian Paramitha yang Bara tahu masih berstatus sebagai kekasih sahabatnya. Tujuh tahun yang lalu mereka berpisah karena kelulusan dan melanjutkan pendidikan di universitas pilihan mereka masing-masing.
Kini Bara bertemu lagi dengan Ana di acara reuni sekolah siang itu. Bara memang berharap bisa bertemu lagi dengan Ana. Namun itu bukan tujuan satu-satunya dia mau menghadiri acara reuni sekolahnya tersebut.
Selain bertemu dengan Ana, Bara juga berharap bisa bertemu dengan Bagas. Sahabat karibnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar sepekan setelah acara kelulusan dulu.
Bara Al Khalifi memutuskan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sedangkan dia sama sekali tidak tahu ke mana Bagas pergi.
Dulu ketika Bara berangkat ke luar negeri Bagas tidak turut mengantarkannya ke bandara karena dirinya sudah terlebih dulu kehilangan kontak dengan Bagas.
Tujuan utamanya berkuliah keluar negeri bukan semata demi mengejar cita-citanya, melainkan dirinya juga ingin menguji hatinya sendiri.
Bara berharap dengan menjauh dari teman-teman masa SMA-nya itu, dirinya bisa melupakan perasaan yang tidak seharusnya tumbuh di dalam hatinya untuk Ana.
Bara tahu dia bersalah. Dirinya tidak mampu menahan hatinya sendiri untuk tidak jatuh hati kepada kekasih sahabatnya ketika dia sendiri sudah memiliki kekasih kala itu. Namun dia bisa apa jika rasa itu muncul tanpa bisa dicegah.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menjauh. Mengubur perasaannya dalam-dalam dan berusaha agar tidak ada orang lain yang mengetahui tentang isi hatinya terutama Bagas dan Ana. Bara tidak ingin dirinya menjadi orang ketiga dalam hubungan Bagas dan Ana yang ia tahu bahwa Ana sangat mencintai Bagas begitu pun sebaliknya.
Bara sudah melakukan itu selama tujuh tahun lamanya. Mengubur perasaannya dan berusaha melupakan Ana dengan pergi sejauh yang ia bisa. Dirinya berharap ketika ia kembali dan bertemu dengan Ana, rasa itu sudah benar-benar menghilang. Atau setidaknya rasa itu memudar seiring berjalannya waktu yang sudah tujuh tahun berlalu.
“Apa kau datang sendiri?” tanya Ana setelah beberapa saat berlalu.
“Oh, maaf. Harusnya aku menanyakan dulu kabarmu. Long time no see, bagaimana kabarmu, Bara?” Ana meralat ucapannya.
Bara tersenyum tulus. Senyum yang dulu selalu mampu membuat para teman perempuan di sekolahnya berteriak histeris sambil mengelu-elukan namanya.
Ketua tim basket dengan sejuta pesona yang dimiliki, pun dengan otak cerdasnya yang menjadikan Bara semakin populer pada masanya dulu.
“Apa kau sudah lupa, Ana? Julukanku adalah the perfect man. Jadi mana mungkin kabarku tidak baik jika julukanku saja sudah menunjukkan seberapa sempurnanya kehidupanku?” jawab Bara dengan gaya narsisnya yang seolah tidak pernah hilang terkikis oleh waktu.
Senyum Ana semakin lebar tersungging di bibirnya, memamerkan gigi putihnya yang terawat dengan baik. Kepalanya menggeleng pelan mengiringi senyum yang semakin lebar itu.
“Kau tidak pernah berubah, Bara. Dari dulu kau selalu suka bercanda seperti ini. Aku jadi berpikir apa hidupmu tidak pernah memiliki masalah yang berarti dan hanya diisi dengan kebahagiaan?”
Ana menanggapi gurauan Bara dan keduanya tertawa ketika terkenang masa-masa di mana mereka masih sekolah dulu.
“Jadi kau masih mengingatku juga, Ana? Lalu kenapa kau tidak pernah menghubungiku jika masih ingat masa-masa sekolah kita dulu?” tanya Bara.
Sejujurnya ini adalah pertanyaan yang cukup berani bagi Bara. Memangnya siapa dirinya hingga berani bertanya seperti itu kepada Ana? Tapi yang didapatkan Bara dari jawaban Ana sungguh di luar ekspektasinya.
Dengan ringan Ana menjawab, “Maaf, aku kehilangan hpku sewaktu aku mendaftar kuliah dulu. Semua nomor dan kenangan yang tersimpan di dalamnya lenyap bersamaan dengan lenyapnya ponselku itu. Dan kau tahu sendiri betapa payahnya aku hingga tidak hafal dengan nomor hpku sendiri.”
Bara cukup terkejut mendengar penuturan Ana. Ada rasa penasaran yang menggelitik yang membuatnya memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
“Astaga. Aku turut menyesal, Ana. Tapi, kau masih berhubungan baik dengan Bagas, kan? Bagaimana kabarnya sekarang? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya,” kata Bara.
Pertanyaan Bara itu membuat raut wajah Ana berubah sendu. Senyum yang tadi cerah kini berubah menjadi senyum getir.
“Aku kehilangan kontak dengannya juga, Bara. Dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Dan sebenarnya aku datang ke sini juga karena berharap bisa bertemu dengannya lagi. Tapi apa dia akan datang atau tidak, aku juga tidak tau. Aku sangat berharap dia akan datang nanti. Jujur saja aku sangat merindukannya. Dan aku pun ingin bertanya kenapa dia pergi begitu saja tanpa pamit sama sekali ataupun meninggalkan pesan untukku.”
Kening Bara mengernyit mendengar ucapan Ana. Benarkah Bagas juga melakukan hal itu kepada Ana? Pergi begitu saja tanpa pesan atau sekedar berpamitan?
“Sejak kapan?”
“Apanya?” tanya Ana yang tidak mengerti.
“Maksudku, sejak kapan kau kehilangan kontak dengan Bagas? Bukankah kalian masih ....” Kalimat Bara menggantung di udara.
“Masih pasangan kekasih maksudmu?” tanya Ana.
Bara tertegun dan menelan salivanya setelah mendengar pertanyaan Ana yang serupa tebakan itu. Sedangkan Ana justru terkekeh dengan respon Bara yang terlihat lucu di matanya.
“Entahlah, Bara. Apa aku masih bisa menganggapnya sebagai kekasihku setelah tujuh tahun lamanya tidak ada komunikasi lagi di antara kami. Atau hanya aku yang masih mengharapkannya. Dan sejujurnya aku datang ke reuni ini juga salah satu alasannya karena itu. Aku harus memastikan apakah hubungan kami sudah benar-benar berakhir ataukah hanya hilang komunikasi saja. Aku hanya ingin kepastian dan bukan status yang menggantung seperti sekarang ini.”
Ana memalingkan wajahnya dari Bara. Bagaimanapun juga dia tidak ingin kegetiran yang ia rasakan terbaca oleh Bara. Tapi sayang karena nyatanya usahanya itu sia-sia. Bara sudah mengetahui kegundahan hati Ana bahkan hanya dari suaranya saja.
“Ana, ini sudah tujuh tahun. Dan kau tidak mengambil keputusan sendiri dan masih menunggunya?” tanya Bara seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Tak habis pikir kenapa Ana masih begitu sabar menunggu kepastian dari Bagas bahkan setelah tujuh tahun lamanya. Dan Ana kembali menyunggingkan senyum getir.
“Sejujurnya aku sangat sering mengatakan pada diriku sendiri untuk menyerah dan berhenti menunggu kepastian dari Bagas, Bara. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, aku selalu merasa bimbang. Aku selalu takut akan menyesali keputusanku jika aku mengakhiri hubungan ini tanpa komunikasi dengan Bagas terlebih dulu. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri mungkin saja Bagas mengalami hal yang sama sepertiku. Kehilangan ponselnya dan tidak tahu bagaimana caranya menghubungiku.”
“Tapi Bagas tahu dimana rumahmu, Ana. Seharusnya dia sudah menghubungimu sejak awal. Tapi ini …. ”
Bara tidak melanjutkan kalimatnya karena melihat Ana yang tiba-tiba mematung dan menatap ke satu arah tanpa berkedip. Membuat Bara ikut menolehkan tatapannya ke arah yang sama dengan tatapan Ana saat ini.

Q-H@n's
21 Pengikut · 1 Novel