


oleh Dedek Chan · 48 Bab
Nenekku selalu menyebutnya “cerita turun-temurun". Tentang seorang perempuan yang hidup dalam penderitaan, tetapi mencintai dalam diam. Namanya Sinta. Leluhur kami. Suaminya berjudi dan pemarah, membuat hidupnya bagai neraka. Suatu malam, dalam mimpi yang entah nyata atau hanya ilusi, Sinta bertemu sosok lain, lelaki yang hangat, lembut, dan hadir hanya saat dunia sedang diam. Lelaki itu bukan manusia. Namun, ia memberi cinta yang tak bisa diberikan oleh siapa pun di dunia ini. Kisah ini terdengar tidak masuk akal. Namun, meski ratusan tahun berlalu, menapa cerita itu belum juga mati? Apakah Sinta benar-benar jatuh cinta kepada jin? Atau hanya halusinasinya saja?
Di sebuah desa kecil yang terpencil di balik perbukitan Jawa, waktu seakan berjalan lebih lambat dari tempat lain. Jam tak lagi diukur dengan detik, tetapi dengan arah cahaya matahari yang menyusup di celah pepohonan, suara kokok ayam, dan desir angin yang membawa wangi rerumputan basah.
Di sinilah, pada sebuah rumah kayu tua dengan dinding anyam bambu, seorang perempuan tua duduk bersandar di bale bambu, menatap halaman yang kosong dengan tatapan jauh.
Namanya Nyai Lastri.
Kulitnya telah keriput seperti daun kering yang terlepas dari dahan. Suaranya serak, tetapi ada kekuatan dalam nada suaranya yang membuat siapa pun merasa bahwa apa yang ia katakan layak untuk didengar.
Rambut Raras terikat rapi, matanya jernih dan penuh rasa ingin tahu. Ia duduk di depan Nyai Lastri, mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya.
Ia datang bukan hanya untuk berlibur, tetapi juga untuk menyelami kembali kisah-kisah masa lalu yang pernah diceritakan neneknya, kisah yang dulu ia anggap hanya dongeng belaka.
“Nek,” katanya perlahan, menengok dari balik kacamatanya. “Dulu Nenek pernah cerita tentang perempuan yang jatuh cinta pada makhluk dari bangsa lain. Masih ingat cerita itu?”
Nyai Lastri tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti angin menyapu daun kering.
“Tentu saja ingat. Itu cerita yang sudah lama diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan sebelum aku lahir, cerita itu sudah beredar.”
“Namanya Sinta, bukan?”
“Benar. Sinta.”
Raras berhenti menulis. Ia menatap wajah neneknya dengan ragu. “Tapi …, masa iya, Nek? Menikah dengan jin? Kedengarannya seperti cerita rakyat yang dilebih-lebihkan.”
Nyai Lastri tidak menjawab segera. Ia meneguk teh dari cangkir keramik berwarna hijau pudar, lalu menatap ke kejauhan. Suara angin berdesir pelan, membawa wangi kenanga dari halaman.
“Dulu aku juga tidak percaya,” katanya akhirnya. “Tapi, cerita itu terlalu sering diceritakan, terlalu detail, dan terlalu konsisten untuk sekadar dongeng. Dan ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan secara logika, Raras. Kadang, dunia ini tak hanya terdiri dari apa yang bisa kita lihat.”
Raras menarik napas panjang. “Kalau begitu, ceritakan lagi, Nek. Dari awal. Kali ini aku ingin mencatat semuanya.”
Nyai Lastri tersenyum tipis. “Kau yakin, Nak? Cerita ini bukan kisah yang indah dari awal. Penuh luka. Penuh air mata.”
“Aku ingin tahu semuanya. Siapa tahu, aku bisa membuktikan apakah itu nyata atau tidak.”
Nyai Lastri menatap cucunya dalam-dalam, seolah mencari sesuatu di matanya. “Baiklah.”
Ia meletakkan cangkirnya, menarik selimut tipis di atas pangkuannya, dan memulai kisah yang telah berkali-kali ia dengar dan ulang selama hidupnya, tetapi kali ini, Raras mendengarnya dengan cara yang berbeda.
---
Dulu, di masa yang belum terlalu lama dan terasa seperti dari dunia lain, hiduplah seorang perempuan muda bernama Sinta.
Ia tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran desa, tepat di batas hutan. Rumah berdinding anyam bambu, beratap rumbia, dan memiliki dua ruangan, satu tempat tidur bersama, satu lagi dapur kecil dengan tungku tanah liat.
Sinta bukanlah perempuan yang manja atau lemah. Sejak menikah dengan Aruf, laki-laki desa yang keras kepala dan gemar berjudi, hidupnya jauh dari kata mudah.
Pagi-pagi ia ke sawah, siang menjadi pembantu di rumah juragan teh, malam menjahit sepatu di sudut dapur. Namun, hasil jerih payahnya tak pernah utuh ia nikmati. Semua diambil Aruf, untuk dijadikan taruhan di meja judi yang tak pernah memberikan keberuntungan.
Kata orang-orang desa, Sinta adalah perempuan paling sabar yang pernah mereka kenal. Namun, kesabaran juga punya batas. Dan saat Aruf kembali membawa pulang hutang yang tak mampu mereka bayar, semua kesabaran itu runtuh.
Malam itu, pertengkaran besar pun terjadi. Aruf menampar Sinta. Kata-katanya menyayat lebih tajam dari pukulan.
“Kalau kau bisa kasih aku anak, mungkin hidup kita tidak akan seburuk ini!” teriaknya.
Sinta tak menjawab. Ia hanya terisak, duduk di sudut rumah, menahan sakit di pipi dan di hati. Di luar, para tetangga mendengar tapi tak berani mendekat. Mereka sudah biasa. Aruf memang seperti itu sejak lama.
Setelah malam itu, sesuatu yang ganjil mulai terjadi. Sinta mulai bermimpi.
Bukan mimpi biasa, melainkan mimpi yang terasa seperti nyata. Ia bertemu dengan seorang lelaki asing. Wajahnya tak pernah jelas, selalu tertutup bayang-bayang, tapi suaranya lembut, hangat, dan menenangkan.
Dalam mimpi itu, ia berbicara dengannya, kadang hanya duduk diam, kadang berjalan menyusuri hutan, dan sesekali ia menangis dalam pelukan lelaki itu. Dan lelaki itu menyentuhnya.
Tak seperti mimpi yang biasa datang dan pergi, mimpi itu hadir berulang. Kadang seminggu sekali, kadang dua malam berturut-turut. Dan setiap kali ia terbangun, tubuhnya masih menyisakan rasa hangat yang tidak dapat dijelaskan.
Namanya, katanya adalah Darma.
Ketika Raras mendengar nama itu keluar dari mulut neneknya, ia menggigil. Entah karena angin sore yang tiba-tiba menusuk atau karena sesuatu dalam cerita itu terasa terlalu hidup.
“Darma?” ulang Raras. “Siapa dia?”
“Menurut cerita, ia bukan manusia, tapi jin.”
Raras menggeleng pelan. “Tapi, bagaimana bisa ..., bagaimana bisa Sinta yakin dia bukan hanya ilusi mimpi?”
Nyai Lastri menarik napas dalam-dalam. “Karena ada hal-hal yang berubah dalam hidup Sinta sejak itu. Aruf tiba-tiba jatuh sakit. Tubuhnya melemah, tabiatnya memburuk. Lalu Sinta mengandung.”
Raras terdiam. Ia meremas ujung buku catatannya.
“Dan anak itu?”
“Tidak pernah lahir. Seperti semua kehamilan sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Sinta berubah. Ada kilatan cahaya di matanya yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia lebih tenang, lebih damai. Seolah seseorang telah mengisi ruang kosong dalam dirinya.”
Hening merayap di antara mereka. Raras menatap langit sore yang mulai memerah.
“Setelah itu?”
Nyai Lastri menoleh ke arah hutan yang menghitam di kejauhan.
“Sinta menghilang.”
“Menghilang?”
“Suatu malam, ia pergi dari rumah. Tanpa pesan. Hanya menyisakan kain yang biasa ia pakai, terlipat rapi di sisi tikar. Tak seorang pun pernah melihatnya lagi.”
“Aruf?”
“Aruf meninggal dua minggu kemudian. Tubuhnya ditemukan di sungai. Katanya tergelincir. Tapi, banyak yang percaya, bukan itu penyebabnya.”
Raras memeluk dirinya sendiri. “Jadi, cerita ini benar?”
Nyai Lastri menatap cucunya. “Aku tidak tahu, Raras. Aku hanya menyampaikan apa yang diceritakan oleh ibuku, yang didengar dari ibunya lagi. Tapi yang jelas, nama Sinta masih dibisikkan oleh angin malam di desa ini. Kadang, orang bilang mereka melihat perempuan berambut panjang berjalan di tepian hutan, menatap ke kejauhan.”
“Dan Nenek percaya?”
Nyai Lastri tersenyum.
“Ada hal-hal yang tak perlu dipercaya untuk tetap nyata.”

Dedek Chan
34 Pengikut · 2 Novel