“Zahwa, Abah mau kamu segera menikah!” tegas sang abah tiba-tiba saat Zahwa baru saja pulang dari luar kota untuk urusan pekerjaannya.
Zahwa cukup terkejut mendengarnya. Pasalnya, selama ini sang abah tidak pernah mempermasalahkan perihal jodoh.
“Abah, bukannya dulu Abah pernah bilang kalau jodoh itu sama dengan rezeki? Kalau Allah belum memberi Zahwa jodoh, berarti Zahwa belum waktunya mendapat rezeki itu. Lagipula, Zahwa masih ingin fokus mengembangkan usaha Zahwa,” ucap Zahwa.
“Tapi usia kamu sudah memasuki 27 tahun. Banyak yang bilang kamu sudah waktunya menikah. Siapa yang akan meneruskan pondok ini kalau bukan kamu dan suami kamu nantinya?” tanya sang abah.
“Bah, enggak usah mikir kejauhan. Ada Abah juga yang masih bisa mengelola pondok ini. Udahlah, aku tahu pasti banyak yang ngomongin aku, kan? Orang-orang kok punya energi lebih, ya, buat ngurusin kehidupan orang lain?” jawab Zahwa.
“Tapi bagaimanapun juga, apa yang orang lain katakan itu ada benarnya. Sudah saatnya kamu memikirkan pendamping hidup, jangan pendidikan dan karier terus,” kata sang abah.
“Zahwa belum kepikiran. Lagian Zahwa lagi enggak dekat sama laki-laki mana pun, jadi Zahwa enggak mungkin menikah dalam waktu dekat. Udahlah, Bah, jangan terlalu dipikirkan omongan orang lain. Toh, kita juga enggak merugikan mereka,” balas Zahwa.
“Sudah. Pokoknya Abah akan carikan jodoh terbaik untuk anak Abah. Kamu harus segera menikah!” tegas sang abah.
“Bah! Menikah itu bukannya ibadah terpanjang seumur hidup? Abah yang selalu bilang kalau kita harus menikah dengan pasangan yang bisa menjalani ibadah itu bersama-sama. Abah sendiri juga yang selalu bilang menjalani sebuah pernikahan itu enggak mudah. Menikah dengan orang yang dicintai saja terkadang ada saja masalahnya, apalagi menikah dengan pasangan yang tidak kita cintai? Mau dibawa ke mana arah rumah tangga seperti itu? Pokoknya Zahwa enggak mau menikah dalam waktu dekat, apalagi dijodohkan. Sudah, Zahwa capek. Mau istirahat,” jawab Zahwa dengan nada yang terdengar sangat kesal.
Ia pun meninggalkan sang abah dan berjalan masuk ke kamar.
Di dalam kamar, Zahwa merebahkan tubuhnya dan merenung. Entah kenapa, akhir-akhir ini dirinya memang sering mendengar bisik-bisik para tetangga pondok dan juga saudara-saudaranya karena Zahwa masih memilih untuk melajang. Bahkan, tak sedikit kata-kata tidak menyenangkan terdengar olehnya, mengatakan bahwa Zahwa perawan tua dan tidak laku-laku. Ada pula yang berkata Zahwa terlalu sombong hingga akhirnya tidak ada laki-laki yang mau menikahinya.
“Hadeuh, warga +62 emang seribet itu, ya? Perasaan di luar negeri orang belum menikah umur 35 tahun aja enggak ada tuh yang jadi bahan omongan orang banyak,” gumam Zahwa.
Tak ingin memikirkan hal itu, Zahwa pun memilih untuk beristirahat. Beberapa hari terakhir pekerjaannya sangat banyak, dan ia ingin saat berada di rumah bisa beristirahat dengan nyaman. Walaupun ucapan sang abah sempat mengganggu pikirannya, tetapi jika dipikirkan lagi, saat ini ia memang tidak ingin menjalani hubungan dengan laki-laki mana pun.
Zahwa cukup trauma. Saat masih kuliah di luar negeri, ia pernah menjalin kasih dengan sesama mahasiswa asal Indonesia. Dan apa yang terjadi? Ya … Zahwa diselingkuhi dan dimanfaatkan. Sejak saat itu, ia mulai tidak tertarik pada sebuah hubungan.
“Hadeuh, semoga Abah enggak macam-macam dan enggak serius mau menjodohkan aku,” gumamnya kembali.
Tak lama kemudian, Zahwa tertidur dan baru terbangun saat suara ketukan pintu terdengar, disusul panggilan lembut dari seorang wanita yang selalu ia sebut umi.
“Nduk, Zahwa sayang, dipanggil Abah,” ucap umi.
“Hmm, iya, Mi. Tunggu Zahwa salat dulu, ya. Baru Zahwa temui Abah,” jawab Zahwa.
“Iya, tapi jangan terlalu lama, ya. Katanya ada yang ingin Abah bahas sama kamu.”
“Iya, Mi.”
Zahwa segera menuju kamar mandi. Setelah mandi, ia langsung melaksanakan salat Asar, lalu keluar untuk menemui abahnya. Namun, saat memasuki ruang tamu, Zahwa mendapati bukan hanya abahnya yang ada di sana, melainkan juga beberapa orang yang ia kenal sebagai abdi ndalem di pondok milik sang abah.
“Nah, ini dia akhirnya keluar juga. Sini, Nduk,” titah sang abah.
Dengan wajah bingung, Zahwa duduk di samping sang abah. Di hadapannya ada dua orang laki-laki yang pernah ia lihat sebelumnya, tetapi belum pernah bertegur sapa.
“Nah, kalian tahu, kan, ini anak saya, Zahwa. Maksud saya memanggil kalian, terutama kamu, Rayyan, adalah karena saya bermaksud menjodohkan kamu dengan anak saya. Dan orang-orang yang berada di ruangan ini menjadi saksinya,” jelas sang abah.
Sontak, bukan hanya Zahwa yang terkejut. Rayyan pun kaget. Ia sama sekali tidak tahu bahwa maksud dirinya dipanggil oleh panutannya itu adalah untuk diberi tahu soal perjodohan dengan anak gurunya. Rayyan tidak pernah diberi tahu sebelumnya.
“Abah, apa-apaan sih? Abah kayak nganggep aku ini enggak laku aja, main jodoh-jodohin segala,” protes Zahwa.
“Nduk, Abah sebenarnya sudah memikirkan ini cukup lama. Abah sudah sering memperhatikan Rayyan. Dia adalah salah satu santri Abah yang sangat baik dan teladan. Abah rasa dia bisa menjadi imam yang baik untuk kamu,” ujar sang abah.
Namun Zahwa tetap menolak. “Enggak, ya, Bah. Zahwa enggak mau dijodoh-jodohin. Zahwa belum mau menikah dalam waktu dekat. Zahwa sebentar lagi mau membuka pabrik untuk merek hijab dan baju muslim yang Zahwa kelola. Jadi, Zahwa enggak mau nantinya aktivitas Zahwa terbatas hanya karena Zahwa menikah.”
“Emm, mohon maaf, Kiai. Bukan saya mau menolak atau tidak manut, tapi apa tidak terlalu mendadak? Saya ini jauh sekali dalam segi apa pun dengan Ning Zahwa. Saya tidak ganteng, tidak kaya, bahkan hidup sebatang kara. Jadi, sebaiknya Pak Kiai mencari calon yang lebih baik dari saya,” ucap Rayyan dengan sangat hati-hati.
“Tidak. Menurut saya, tidak akan ada yang lebih mengerti Zahwa nantinya selain kamu. Rayyan, kamu sudah di pondok ini sejak remaja. Saya tahu betul bagaimana sifat, sikap, dan keseharian kamu. Dan kelak ke depannya, kamu juga bisa membantu mengelola pondok ini jika saya sudah tidak ada. Saya bisa tenang jika nanti kamu yang meneruskannya,” jelas sang kiai.
“Enggak, Bah! Abah jahat. Abah lebih dengerin omongan orang-orang daripada perasaan anaknya sendiri. Sejak kapan Abah jadi lebih mementingkan omongan orang lain, sih? Ini hidup aku, Bah. Aku bebas menentukan apa yang ingin aku pilih dan apa yang ingin aku jalani. Apalagi ini urusan pernikahan, urusan hati, enggak bisa dipaksakan,” Zahwa tetap pada pendiriannya.
“Selama ini Abah selalu menuruti keinginan kamu. Dan untuk kali ini, Abah ingin kamu menuruti keinginan Abah. Menikahlah dengan Rayyan. Kali ini Abah tidak ingin dibantah.”
Nada suara sang abah terdengar jauh lebih tinggi dari biasanya. Untuk pertama kalinya, Zahwa mendengarnya berbicara setegas itu, membuat dadanya terasa sesak.
***
BERSAMBUNG