


oleh pena biru · 19 Bab
Nayra adalah seorang gadis desa yang ceria dan penuh semangat. Ia memberanikan dirinya untuk mengadu nasib di ibukota dan ingin mengubah kehidupannya di kampung. Walaupun pada nyatanya semua tak mudah tapi Nayra selalu optimis dalam menghadapi segala cobaan dan masalah dalam bekerja. Namun, ternyata hal itu membuat Nayra dipertemukan dengan Tuan Muda Arkha yang tak disangka adalah jodoh si gadis desa. Akankah Arkha menerima kehadiran Nayra yang hanyalah seorang office girl di kantor miliknya?
Nayra, umur 22 tahun. Pekerjaan saat ini OB, alias seorang superhero yang selalu siap siaga untuk membasmi para penjahat yang disebut juga kuman-kuman nakal. Baginya, pekerjaan adalah segalanya.
Di tengah banyaknya jumlah pengangguran saat ini, ia sangat mensyukuri dan menjunjung tinggi pekerjaannya kini. Walaupun tak bisa dipungkiri, terkadang sebagian orang suka menatap dan memandang rendah dirinya yang hanya seorang OB ini.
Tapi, hal itu tak menyurutkan semangat dan rasa percaya diri Nayra. Sebab, hanya satu yang ia tahu, tetaplah bekerja dan hadapi semua dengan senyuman pasti semuanya akan baik-baik saja. Ingat, jika kita tidak berusaha, perut dan dompet ini gak akan ke isi bro, hehee.
Walaupun pekerjaannya begini, tapi ia sangat senang karena seumur hidup baru kali pertama diterima bekerja di perusahaan sebesar dan seterkenal ini. Bahkan gedungnya pun super duper tinggi.
Kalau di kampungnya sih mana ada yang seperti ini hehee. Jadi, semangat Nayra, semangat!
Tapi tak ia sangka, kejadian tak terduga kini berada di hadapannya. “Aduh, ini siapa sih yang ngepel?." ucap seorang lelaki paruh baya, sambil memegang pinggangnya yang terasa ngilu akibat tak sengaja terpeleset lantai basah. Dan saat itu, kebetulan Nayralah yang bertugas untuk membersihkan koridor kantor tersebut.
"Waduh Pak! Kenapa bisa begini?" tanya Nayra, saat melihat Pak Anton terjatuh tak jauh dari posisinya saat ini. Ya, namanya Pak Anton, dia adalah senior paling baik dan bijaksana juga selalu memberi arahan dengan sopan dan rendah hati.
Tak jarang, dia juga suka menegur senior lain yang kadang menindas para junior. Pokoknya dua jempol deh.
Namun saat ini, Nayra malah membuatnya meringis kesakitan akibat human error-lah bahasa kerennya. Dalam hati, tentu saja ia sangat terkejut, kok bisa-bisanya sih Pak Anton kepeleset?
‘Wah parah nih! Gimana kalau aku dipecat? Oh, no! Itu tidak boleh terjadi,’ batin Nayra.
"Kamu bisa tolong saya berdiri? Malah bengong aja!" tegur Pak Anton, saat Nayra sibuk dengan pikirannya sendiri. Jujur saja Nayra merasa bersalah dan dengan sigap ia langsung membantu Pak Anton.
"Ehh, iya Pak, maaf" ucap Nayra.
Dengan perlahan, Nayra membantu Pak Anton untuk berdiri kembali. Akibat ulahnya yang lupa tidak memasang rambu kebersihan, alhasil Pak Anton menjadi korban lantai licin di pagi itu.
Keesokan harinya, kepala HRD mengumpulkan para tenaga kebersihan termasuk Nayra.
"Hei, ada apa ya ini kok kita dipanggil semua sih?"
"Iya nih gak tahu juga, mau ada pengumuman apa ya?" Terdengar berbagai pertanyaan, yang terlontar dari beberapa pegawai. Atau, bisa disebut kawan seperjuangan.
Yah, bagaimanapun juga mereka satu server dalam pekerjaan. Tak lama berselang, seorang pria yang memakai setelan kemeja berdiri dan berbicara menggunakan mikrofon di hadapan mereka semua.
"Perhatian buat semuanya, mohon dengarkan baik-baik!" ucapnya.
Nayra yang semula anteng-anteng saja mendengar pengumuman, tiba-tiba merasa kesusahan menelan ludahnya sendiri, bahkan mungkin saat ini napas Nayra berkurang frekuensinya. Akibat mendengar kabar bahwa Pak Anton sakit, hingga beliau tidak bisa bekerja untuk sementara.
Dan, lebih sialnya lagi, yang Nayra tahu hal itu gara-gara dirinya.
'Ya Tuhan, inilah akhir hidupku eh, karirku. Dengan susah payah hamba-Mu ini mencari pekerjaan dan belum juga hamba mengumpulkan sekarung uang, eh malah berakhir dengan tragis. Aduh Gusti ...!'
Batin Nayra terus bergumam, merutuki nasib diri yang menurutnya sudah berantakan. Dan, Nayra dibuat semakin terkejut bahkan sepenggal nyawanya seperti turut melayang, saat namanya dipanggil oleh kepala HRD hingga membuat banyak mata tertuju padanya.
"Nayra, kamu ikut saya ke ruangan!" perintah lelaki berkemeja biru tersebut.
Sontak saja, hal itu membuat Nayra senam jantung karena mengira di sinilah sekarang akhir hidupnya. Dengan langkah yang lesu dan perlahan, ia mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan 'HRD ROOM'.
"Masuk!"
"Iya, Pak. Bapak memanggil saya?" ucap gadis berhijab instan itu sambil berdiri dengan kepala menunduk. Ia tak berani untuk bersitatap dengan lelaki di hadapannya itu.
"Umm, jadi kamu yang namanya Nayra?"
"I, Iya Pak. Saya orangnya," jawab Nayra yang merasa sangat bersalah dengan sangat gugup. Tak sanggup rasanya menghadapi akhir dari semua ini.
Suara ketukan sepatu mulai terdengar. Dan hal itu seperti bunyi bom waktu di telinga Nayra, hingga membuatnya mulai memejamkan mata bersiap serta menguatkan hati saat mendengar akhir dari perbuatan dan kesalahannya. Namun, tanpa Nayra sadari lelaki tersebut mengucapkan hal lain setelah melihat penampilannya dari atas hingga bawah.
'Hmm ... Lumayan cantik juga ini OB,' batin Aldi sambil memindai gadis berhijab itu. Lanjut ia berkata "Oke, kayaknya kamu bisa."
"Hah!? Bisa apa Pak?" Nayra terkejut, mendengar apa yang diucapkan oleh atasannya itu.
"Ssttt .… Diam dulu, saya mau ngomong!."
"Hehe, iya maaf Pak."
"Nayra, karena Pak Anton saat ini sedang terkena musibah, dan tidak bisa bekerja untuk sementara waktu, jadi kamu yang akan menggantikannya," lanjut Aldi.
"Hah?”
"Issh, kamu tuh bloon atau gimana sih! Dari tadi bisanya cuma hah, heh, hoh aja. Sudah ah saya gak jadi pilih kamu!" kesal Aldi.
"Ehhh tunggu Pak! Ja,-jangan gitu dong, ya Pak. Saya mohon maafkan kesalahan saya!" ucap Nayra sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Heuhh … Kamu tuh ya, syarat bekerja di perusahaan ini tuh harus selalu sigap dan smart thinking! U know!" dalih sang atasan, sambil menggerakkan jari telunjuknya ke hadapan wajah Nayra.
"Iyes Pak! I’am sorry Pak, sekali lagi maafkan saya. Lain kali, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang saya buat," terang Nayra sambil meletakkan telapak tangannya di dada.
"Ya sudah, mulai besok pagi kamu kerjain tugasnya Pak Anton!"
"Iya Pak siap, terima kasih. Saya pamit dulu kalau begitu,” ucap Nayra.
Kini hatinya begitu gembira, saat mengetahui bahwa dirinya tidak jadi dipecat karena kesalahan yang diperbuat.
Senyuman terbit di bibirnya, menghapus kegalauan yang sedari tadi melanda hatinya bagai badai dahsyat. Namun, baru saja tiga kali melangkah, Nayra langsung kembali ke posisinya semula.
"Mmm Pak?" Nayra terlihat ragu.
"Iya, ada apa lagi?" tanya lelaki tersebut.
"Itu Pak, anu, kalau boleh saya bertanya, besok tugas saya beresin ruangan yang mana ya?"
"Aduh ... Ini nih, dasar ceroboh main pergi saja tanpa bertanya!" cecar Aldi.
"Iya maaf Pak, harap dimaklumi saya kan baru, Pak," ungkap Nayra dengan wajah memelas.
Hembusan napas kasar, kini terdengar keluar dari mulut atasannya itu.
“Iya deh kali ini saya maafin kamu. Besok kamu mulai beresin ruangan Tuan Bos yang ada di lantai tujuh belas. Kamu paham kan maksud saya."
"Siap, Pak!" Dengan lantang Nayra berucap, sambil menempelkan tangan di dahinya seperti sedang upacara dan memberikan hormat.
"Bagus! Saya suka semangat kamu, sana lanjutin kerjaan kamu!"
"Tapi Pak?"
"Apa lagi, hmmm ...."
"Itu ... Anu Pak, saya mau izin ke wc dulu, udah kebelet soalnya.” Nayra berkata sambil nyengir.
"Uhuk-uhuk!" Aldi pun terbatuk, saat hendak menyeruput kopi di hadapannya, lantas nada suaranya naik satu oktaf.
"Nayra ...!” geram Aldi, tampaknya lelaki itu mempunyai kesabaran setipis tisu.
"Aduh Pak maaf, sekali lagi maafin saya. Tapi, ini beneran darurat loh, Pak. Jangan sampai saya brojol di sini loh, kan malu Pak," keluh Nayra dengan tanpa dosa.
"Pergi sana!"
"Tapi Bapak gak marah kan? Maafkan saya, tolong jangan pecat saya, Pak," ucap Nayra ngotot.
"Ya salam ...." Aldi pun menepuk jidatnya sendiri, tatkala menghadapi OB baru itu.
"Sudah sana, bisa-bisa saya masuk UGD, jika lama-lama di ruangan ini sama kamu!"
"Lah, kok bisa gitu Pak, memangnya Bapak kenapa? Kok ujung-ujungnya masuk UGD sih?" Nayra masih keukeh dengan raut tak berdosanya.

pena biru
18 Pengikut · 1 Novel