


oleh Cats Whitening · 22 Bab
Elara Vance, influencer paling berpengaruh, adalah simbol kesempurnaan di mata dunia. Namun, citranya hancur seketika saat rekaman CCTV menangkapnya mencuri di toko milik Mr. Sterling. Meski kasus diselesaikan secara damai, Mr. Sterling justru mengunggah video tersebut ke media sosial. Dunia Elara runtuh; kariernya di ambang kehancuran. Ia pun menuntut balik atas pelanggaran privasi. Kini, publik terbelah. Apakah kebenaran berhak disebarluaskan meski menghancurkan hidup seseorang, atau haruskah ada ruang untuk kesempatan kedua? Di era di mana jempol netizen adalah hakim, cerita ini mengeksplorasi garis tipis antara keadilan, empati, dan penghakiman yang mematikan. Siapa yang sesungguhnya bersalah?
"Elara, tolong miringkan sedikit wajahmu ke kanan. Cahaya dari lampu ring light itu membuat bayangan di dagumu terlihat tidak rata," perintah seorang pria dengan nada datar. Jemarinya sibuk mengetik sesuatu di ponsel, mengabaikan letih yang terpancar dari mata lawan bicaranya.
Elara Vance, wanita yang duduk di kursi rias itu, menghela napas panjang, sangat pelan agar tidak merusak sapuan lipstik merah menyala di bibirnya. Ia memutar sedikit kepalanya sesuai instruksi.
Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang begitu sempurna, kulit yang tampak seperti porselen tanpa pori, mata yang tajam meneduhkan, dan senyum yang dirancang khusus untuk memikat jutaan pasang mata di dunia maya.
"Sudah lebih baik?" tanya Elara dengan suara yang diatur agar terdengar lembut, kontras dengan rasa lelah yang mulai merayap di tengkuknya sejak matahari terbit tadi.
"Sempurna. Tahan ekspresi itu selama sepuluh detik. Kita harus menangkap sisi 'hangat dan bersahaja' untuk konten promosi produk perawatan kulit malam ini," sahut pria itu lagi, kini berdiri di balik kamera profesional yang terpasang di atas tripod.
Itu adalah rutinitas yang ia jalani setiap hari. Elara Vance bukan sekadar nama, ia adalah sebuah industri yang berjalan.
Dengan tiga puluh juta pengikut di berbagai platform, setiap gerak-geriknya adalah komoditas bernilai tinggi.
Jika ia mengenakan anting, besok anting itu akan terjual habis di seluruh toko daring. Jika ia memuji sebuah kafe, tempat itu akan penuh sesak dalam hitungan jam.
Ia adalah simbol keberhasilan, kecantikan, dan kehidupan yang tampak begitu rapi, seolah-olah disusun dengan penggaris dan ketelitian tingkat dewa.
Elara mematung. Pikirannya melayang jauh dari sorotan lampu studio. Sejujurnya, ia tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa tertawa tanpa merasa sedang diawasi, atau kapan ia bisa memakan sepotong cokelat tanpa menghitung kalori di depan kamera.
Hidupnya adalah serangkaian panggung. Rumahnya adalah studio. Bahkan perasaannya, kebahagiaan, kesedihan, atau sekadar rasa bosan, semuanya harus dikemas dalam durasi enam puluh detik agar layak untuk dikonsumsi publik yang lapar akan kesempurnaan.
"Oke, cut! Hasilnya luar biasa. Kamu memang tidak pernah gagal, El," seru sang pria, manajernya, sembari mengacungkan jempol.
Elara tersenyum, senyum yang sama yang ia gunakan untuk menyapa pengikutnya di layar. Ia berdiri, membiarkan tim penata rias mendekat untuk menyentuh wajahnya sekali lagi sebelum ia harus melakukan siaran langsung untuk sesi tanya jawab.
Ia merasa seperti boneka porselen yang setiap inci tubuhnya telah dipahat untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Di balik lapisan foundation dan bedak yang mahal, ada sesosok wanita yang merasa semakin asing dengan cerminnya sendiri.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari asisten pribadinya.
Kak, klien dari kontrak kosmetik itu menelepon. Mereka merasa engagement kita turun 0,5 persen bulan ini. Mereka minta kita membuat konten yang lebih 'relatable' dan menyentuh agar pengikut merasa lebih dekat dengan Kak Elara.
Elara meremas ujung gaun sutranya. Relatable. Kata itu terasa seperti pisau yang menusuk ulu hatinya. Bagaimana ia bisa menjadi lebih "terjangkau" ketika ia bahkan tidak lagi merasa memijak tanah yang nyata?
Setelah menyelesaikan siaran langsung yang melelahkan selama dua jam, di mana ia harus berpura-pura sangat antusias membahas kehidupan pribadinya yang sebenarnya sudah ia karang sedemikian rupa, Elara akhirnya diizinkan pulang pada pukul sebelas malam.
Ia menolak diantar sopir. Ia butuh ruang. Ia butuh kesendirian, meskipun hanya untuk satu jam di balik kemudi mobil sport-nya yang mewah.
Kota di malam hari tampak berbeda. Cahaya lampu jalanan membias di kaca depan mobilnya yang gelap. Elara memacu kendaraannya menyusuri jalanan yang mulai lengang.
Ia tidak ingin pulang ke apartemennya yang dingin dan penuh dengan produk sponsor yang menumpuk di setiap sudut. Ia ingin merasa bebas, meski hanya untuk sesaat.
Di sebuah persimpangan, ia melihat sebuah minimarket yang masih buka. Tanda neon merah di depannya berkedip-kedip, seolah memanggilnya.
Entah dorongan apa yang merasuki pikirannya, ia memarkir mobilnya jauh dari lampu utama. Ia mengenakan topi bisbol dan masker hitam, menyamar agar tidak dikenali.
Ia berjalan masuk. Suasana di dalam minimarket itu sunyi. Hanya ada suara dengung kulkas pendingin minuman dan langkah kakinya yang berat di atas ubin putih yang bersih. Elara tidak berniat membeli apa pun yang penting.
Ia hanya ingin merasakan sensasi menjadi orang biasa, seseorang yang datang ke toko, memilih barang, dan keluar tanpa harus memikirkan branding atau citra diri.
Ia berhenti di depan rak makanan ringan. Tangannya meraih satu bungkus keripik kentang. Kemudian, ia bergeser ke rak perawatan diri, mengambil sebotol kecil pelembap wajah yang biasanya ia promosikan dengan bayaran miliaran rupiah. Ia menatap botol itu, lalu menatap pantulan dirinya di pintu kaca kulkas.
Di sana, di sudut langit-langit toko, sebuah lampu merah kecil berkedip dengan ritme yang konsisten.
Kamera CCTV.
Elara tahu benda itu ada di sana. Namun, ada semacam adrenalin yang memompa di dadanya. Sebuah keinginan destruktif yang sudah lama terpendam muncul ke permukaan.
Ia merasa seperti sedang berada di luar kendali, sebuah pemberontakan kecil terhadap hidupnya yang terkungkung. Ia memasukkan barang-barang itu ke dalam tas tangannya tanpa berniat membayarnya di kasir.
Ia berjalan menuju pintu keluar dengan jantung berdegup kencang, nyaris tidak terdengar oleh telinganya sendiri.
Saat ia hendak memutar pegangan pintu, sebuah suara berat dan tenang menghentikan langkahnya tepat sebelum ia melangkah keluar ke kegelapan malam.
"Maaf, Nona. Sepertinya ada barang di tas Anda yang belum diselesaikan pembayarannya di kasir."

Cats Whitening
69 Pengikut · 85 Novel