Namaku Tasya. Orang-orang bilang aku Taurus—keras kepala, katanya. Aku tidak terlalu percaya zodiak, tapi kalau dibilang keras kepala, aku mengangguk pelan. Aku memang begitu. Tidak suka gosip, tidak suka ribut, dan cukup nyaman hidup di dunia versiku sendiri.
Aku menyukai kenyamanan. Bukan kenyamanan ala kafe mahal atau liburan jauh, tapi kenyamanan sederhana, bangun tanpa deg-degan, menjalani hari tanpa harus menebak-nebak akan dimarahi karena hal apa.
Saat cerita ini dimulai, aku kelas tiga SMK. Di sekolah, kata kuliah diucapkan seperti mantra wajib. Semua orang harus melewatinya, meski tidak semua tahu pintunya di mana, apalagi isi dompet orang di balik pintu itu. Orang tuaku bilang aku harus kuliah. Titik. Tidak ada koma, apalagi rencana cadangan.
Masalahnya, aku tahu betul kondisi ekonomi keluargaku. Pengetahuan itu datang bukan dari obrolan keluarga yang hangat, tapi dari kebiasaan menghitung diam-diam. Selama PKL, aku sudah menghasilkan uang sendiri. Tidak banyak, kadang malah habis sebelum sempat disyukuri, tapi cukup untuk mengajarkanku satu hal penting, uang hasil kerja keras itu capek, tapi rasanya masuk akal. Ada kepuasan kecil setiap kali aku tahu, ini hasil tanganku sendiri.
Aku ikut SNBP. Ikut saja, tanpa ekspektasi berlebihan. Aku sudah mengenal diriku, kalau mengerjakan sesuatu setengah hati, hasilnya sering kali ikut setengah-setengah. Benar saja, aku tidak lolos. Aku tidak menangis. Tidak juga marah. Rasanya lebih seperti, oh, ya sudah, lalu lanjut makan seperti biasa.
Setelah itu, orang tuaku menyuruhku mencoba SNBT yaitu ujian tertulis. Aku belajar, meski pelan dan sering sambil ragu. Suatu hari, saat aku sedang serius membuka buku, mamaku berkata, “Belajar mulu.” Kalimat sederhana, tapi efeknya seperti tombol off.
Aku langsung down. Rasanya aneh disuruh kuliah, tapi belajar dianggap berlebihan. Aku sampai berpikir, mungkin aku ini terlalu rajin di waktu yang salah.
Beberapa hari sebelum ujian, aku mendengar mama berbicara soal biaya. Ongkos ke tempat ujian, makan, ini-itu minimal satu juta. Angka itu berputar-putar di kepalaku, lebih sering muncul daripada rumus yang seharusnya kuhafal.
Sejak saat itu, aku mulai berpikir, ya sudah, tidak usah dilanjutkan. Terlalu banyak tanda tanya untuk sesuatu yang bahkan belum tentu terjawab.
Tanggal tiga Mei, hari Jumat. Hari ujian. Aku bangun dengan perasaan yang anehnya tenang. Keputusan sudah kubuat. Aku tidak akan datang. Bukan karena malas, tapi karena aku tidak punya harapan. Aku tahu aku tidak ikut les, tidak punya senjata rahasia, dan otakku, menurut penilaianku sendiri, kadang lebih cocok dipakai mikir hal lain daripada soal ujian.
Diam-diam, aku sudah mendaftar ke universitas lain. Jurusan berbeda. Aku tahu satu hal, aku tidak ingin kuliah pendidikan untuk mengajar.
Bukan karena tidak mulia, tapi karena membayangkan diriku berdiri di depan kelas saja sudah membuatku ingin duduk lagi. Aku memilih Teknologi Informasi. Dunia yang terasa lebih logis, lebih sunyi, dan entah kenapa lebih jujur bagiku.
Keputusan itu memicu pertengkaran. Ayahku bilang, yang penting dicoba. Aku mengangguk, tapi tetap bergeming. Aku keras kepala, bahkan mungkin lebih keras dari batu padas, dan seperti batu, aku memilih diam sambil tetap di tempatku. Orang tuaku akhirnya kehabisan kata. Bukan karena setuju, tapi karena tahu aku tidak akan berubah pikiran.
Di dalam hati, tentu saja aku tidak sepede itu. Aku menghitung hari sambil berpikir, kalau aku tidak masuk universitas itu, nasib anak malang ini bagaimana, ya? Pikiran itu muncul sambil tertawa kecil sendiri. Hidup ini aneh, di saat tegang dan sedih, masih sempat menyelipkan humor tipis agar kepala tidak benar-benar pecah.
Hari itu, aku tidak berangkat ujian. Aku duduk di kamarku, merasa campur aduk, lega, takut, dan sedikit geli pada diriku sendiri. Tidak ada janji yang kuterima, tidak ada kepastian yang disodorkan. Yang ada hanya keyakinan kecil yang keras kepala.
Di rumah ini, kami terbiasa bertahan tanpa janji, dan hari itu, aku sadar—aku sedang memilih jalanku sendiri, pelan-pelan, dengan perasaan yang tidak selalu sama, tapi selalu jujur.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa, tapi juga tidak sepenuhnya sama. Aku menghitung waktu dengan cara yang aneh, bukan menunggu kepastian, tapi menunggu keberanian. Hari demi hari kulewati dengan pikiran setengah melayang.
Kadang aku yakin dengan pilihanku, kadang aku bertanya sendiri apakah keras kepalaku ini akan menolong atau justru menjerumuskanku.
Sampai akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Hari pengumuman.
Aku membuka laman pengumuman dengan perasaan yang sebenarnya setengah iseng. Aku tidak berani berharap terlalu tinggi. Dalam kepalaku, harapan itu kecil saja, cukup namaku nyempil di barisan bawah.
Dari sembilan puluh mahasiswa yang diterima, aku membatin, ya Tuhan, kalau bisa, taruh aku di nomor delapan puluh sembilan saja. Tidak perlu teratas. Aku tidak ambisius. Aku cuma ingin lolos.
Tanganku agak gemetar saat menggulir layar. Mataku menyapu satu per satu nama, cepat, lalu lebih cepat lagi. Sampai akhirnya aku berhenti.
Nomor tiga puluh empat.
Namaku ada di sana.
Aku menatap layar beberapa detik lebih lama, memastikan aku tidak salah baca. Kubaca ulang. Kubandingkan. Tetap sama. Nomor tiga puluh empat. Bukan delapan puluh sembilan. Bukan nyempil. Cukup tengah, cukup jelas, dan cukup nyata untuk membuatku heran.
"Ini beneran aku?" gumamku, lebih ke diri sendiri daripada ke siapa pun.
Orang tuaku menghampiri. Mereka ikut menatap layar ponsel di tanganku. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada pelukan dramatis. Hanya keheningan singkat yang aneh, seperti semua orang sedang menyesuaikan diri dengan kabar baik yang datang tanpa aba-aba.
"Jadi selanjutnya ngapain?" tanya salah satu dari mereka.
Aku menelan ludah. "Daftar ulang," jawabku singkat.
Kedengarannya sederhana. Seolah setelah itu semua beres. Padahal di kepalaku, pertanyaan lain sudah berbaris rapi dan biaya daftar ulang, uang kost, makan, hidup sehari-hari. Aku tahu pengumuman ini bukan akhir dari apa pun. Mungkin justru awal dari hitung-hitungan yang lebih panjang.
Aku menatap lagi namaku di layar. Ada senyum kecil yang muncul, lalu cepat-cepat kusimpan. Aku tidak ingin terlalu senang. Di rumah ini, kami terbiasa tidak merayakan apa pun berlebihan.
Aku lolos, tapi setelah itu, aku tahu, bertahan tetap harus dilanjutkan tanpa janji, seperti biasa.