Langit di atas Desa Lumina selalu berwarna cerah dan biru seperti permen kapas yang meleleh, dihiasi awan-awan berbentuk aneh seperti kelinci bersayap atau teko terbang. Namun, pagi itu berbeda.
Langit retak.
“Arshaka! Cepat bangun! Ada yang aneh!” teriak seorang anak dari luar jendela.
Di dalam kamar kecil yang penuh buku dan botol ramuan berwarna-warni, Arshaka menggeliat malas. Rambutnya acak-acakan, jubahnya bahkan masih tersangkut di kaki kursi.
“Hm lima menit lagi,” gumamnya sambil menarik selimut.
“Langitnya pecah!” teriak suara itu lagi, kali ini lebih panik.
Arshaka langsung membuka mata.
“Apa!”
Ia melompat bangun, hampir tersandung jubahnya sendiri. Dengan langkah terburu-buru, ia membuka jendela. Matanya membelalak.
Langit benar-benar retak.
Garis-garis merah menyala menjalar seperti pecahan kaca raksasa, memancarkan cahaya aneh yang membuat udara terasa bergetar.
“Ini bukan ilusi,” bisik Arshaka.
Ia meraih tongkat sihir kecilnya yang bersandar di meja. Tongkat itu bersinar redup, seolah merespons sesuatu di kejauhan.
“Kenapa kau ikut bergetar, hmm?” Arshaka mengangkat tongkat itu ke depan wajahnya. “Kau juga takut?”
Tongkat itu berdenyut pelan.
“Baiklah, aku juga,” katanya pelan, setengah bercanda, setengah jujur.
Di luar, desa mulai ramai. Orang-orang berlarian, menunjuk ke langit, beberapa bahkan berteriak panik.
Arshaka bergegas keluar rumah. Di halaman, sahabatnya, Lilo, sudah menunggu dengan napas tersengal.
“Kau lihat itu!” kata Lilo, matanya membesar.
“Aku tidak buta,” jawab Arshaka cepat. “Itu bukan fenomena biasa.”
“Menurutmu itu apa?” tanya Lilo.
Arshaka terdiam sejenak. Ia menatap retakan langit itu, lalu menggigit bibirnya.
“Masalah,” jawabnya singkat.
“Tentu saja itu masalah! Maksudku masalah seperti apa?”
Arshaka tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tongkatnya, menggumamkan sesuatu.
“Lumen vistra buka penglihatan.”
Cahaya biru tipis melingkari matanya. Dunia seketika berubah warna menjadi lebih tajam, udara terlihat berdenyut seperti gelombang, dan di balik retakan itu dan ia melihat bayangan.
Makhluk besar.
Bersayap.
Mata Arshaka melebar.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Apa? Apa yang kau lihat?” Lilo mendesak.
Arshaka menurunkan tongkatnya perlahan.
“Naga.”
Lilo terdiam.
Lalu tertawa kecil.
“Kau bercanda, kan?”
Arshaka tidak tertawa.
“Tidak.”
Tawa Lilo langsung menghilang.
“Serius?”
Arshaka mengangguk pelan.
“Mereka tidak terlihat seperti naga biasa.”
Seketika, suara gemuruh terdengar dari langit.
BOOOOM!
Retakan itu melebar.
Orang-orang berteriak.
“Apa yang terjadi?!”
“Lari!”
“Masuk ke rumah!”
Arshaka menatap ke atas. Napasnya tercekat saat sesuatu mulai keluar dari celah itu.
Sisik hitam.
Sayap besar.
Mata merah menyala.
Seekor naga benar-benar muncul dari langit yang retak.
“Ini buruk,” kata Arshaka pelan.
Naga itu meraung, suaranya mengguncang tanah.
“GRRRAAAAAHHHH!”
Angin kencang menerpa desa. Atap-atap rumah bergetar. Beberapa genteng beterbangan.
Lilo menarik lengan Arshaka. “Kita harus pergi!”
“Tunggu,” kata Arshaka.
“Tunggu?! Kau gila?!”
Arshaka menatap naga itu dengan serius. “Ada yang aneh.”
“ANEH?!” Lilo hampir menjerit. “ITU NAGA!”
“Ya, tapi lihat matanya.”
Lilo memaksa dirinya menatap.
“Matanya merah?”
“Bukan cuma merah,” kata Arshaka. “Itu seperti dikendalikan.”
“Dikendalikan?”
Arshaka mengangguk.
Sebelum Lilo sempat bertanya lagi, naga itu membuka mulutnya.
Api hitam menyembur ke arah desa.
“LARI!” teriak seseorang.
Orang-orang berpencar.
Arshaka mengangkat tongkatnya.
“Perisai cahaya!”
Cahaya biru muncul, membentuk dinding transparan di depan mereka.
Api menghantam perisai itu.
BRAKK!
Arshaka terdorong mundur beberapa langkah.
“Berat sekali,” gumamnya.
“Kau tidak bisa menahannya lama!” kata Lilo panik.
“Aku tahu!”
Arshaka menggertakkan giginya. Tangannya gemetar.
“Ayo sedikit lagi.”
Perisai itu mulai retak.
“Arshaka!” Lilo berteriak.
“Baik, baik! Kita mundur!”
Arshaka menjentikkan tongkatnya. Perisai itu pecah menjadi serpihan cahaya.
Mereka berdua berlari menjauh, menghindari semburan api berikutnya.
“Ini bukan naga biasa!” teriak Lilo sambil berlari.
“Aku sudah bilang!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan!”
Arshaka tidak langsung menjawab. Ia terus berlari, pikirannya bekerja cepat.
Ini bukan serangan acak.
Ini sesuatu yang lebih besar.
Tiba-tiba, tanah di depan mereka bergetar.
Dari bawah tanah, sebuah batu besar muncul seperti pilar yang naik sendiri.
“Berhenti!” kata Arshaka.
“Apa lagi sekarang?!”
Arshaka mendekati batu itu. Di permukaannya, ada ukiran aneh.
Simbol-simbol kuno.
Matanya menyipit.
“Ini bahasa sihir purba.”
“Kau bisa membacanya?” tanya Lilo.
Arshaka mengangguk pelan.
“Sedikit.”
Ia menyentuh ukiran itu.
Simbol-simbolnya bersinar.
Arshaka membaca pelan, “Jika langit retak dan bayangan terbangun.”
Ia berhenti.
“Lanjutkan!” kata Lilo.
“Yang kecil akan memegang kunci dan yang terlupakan akan menentukan akhir.”
Lilo mengernyit.
“Itu maksudnya apa?”
Arshaka menggeleng.
“Aku tidak tahu, tapi ini jelas bukan kebetulan.”
Langit kembali bergemuruh.
Lebih banyak retakan muncul, dan lebih banyak bayangan terlihat di baliknya.
Arshaka menelan ludah.
“Lilo .…”
“Ya?”
“Kita punya masalah besar.”
“Seberapa besar?”
Arshaka menunjuk ke langit.
Lilo melihat, dan wajahnya langsung pucat.
Lebih dari satu naga kini mencoba keluar.
Dua.
Tiga.
Lima.
“Ini tidak mungkin,” bisik Lilo.
Arshaka menggenggam tongkatnya erat.
Ini bukan serangan biasa melainkan ini invasi, dan teka-teki tadi ‘yang kecil akan memegang kunci’
Apakah itu aku?
Ia menggeleng cepat.
“Tidak mungkin.”
“Apa yang tidak mungkin?” tanya Lilo.
Arshaka menatapnya.
“Kita harus ke Lembah Naga.”
Lilo membeku.
“Kau serius?”
“Ya.”
“Itu tempat terlarang!”
“Aku tahu.”
“Penuh teka-teki mematikan!”
“Aku juga tahu.”
“Naga tinggal di sana!”
Arshaka menghela napas.
“Justru itu.”
Lilo menatapnya, tidak percaya.
“Kau ini benar-benar aneh.”
“Terima kasih,” jawab Arshaka datar.
“Aku tidak sedang memuji!”
“Tidak apa-apa.”
Naga di langit kembali meraung.
Salah satu dari mereka mulai turun lebih rendah.
“Apa rencananya sekarang?” tanya Lilo.
Arshaka berpikir cepat.
“Kita harus keluar dari desa dulu.”
“Setuju.”
“Lalu kita cari jawaban.”
“Di Lembah Naga?”
“Ya.”
Lilo menghela napas panjang.
“Baiklah, kalau kita mati, aku akan menyalahkanmu.”
Arshaka tersenyum tipis.
“Kalau kita selamat, kau harus mentraktirku roti manis.”
“Kesepakatan aneh di tengah bencana,” gumam Lilo.
Mereka saling pandang.
Lalu—
“LARI!” kata mereka bersamaan.
Keduanya berlari menuju hutan di tepi desa, menghindari bayangan naga yang semakin banyak.
Di belakang mereka, Desa Lumina mulai diliputi kekacauan.
Api.
Teriakan, dan langit yang terus retak. Namun, di tengah semua itu, Arshaka merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan hanya ketakutan, tapi juga panggilan.
Seolah-olah sesuatu di kejauhan sedang menunggunya.
Lembah Naga.
Ia menatap ke depan, matanya penuh tekad.
“Baiklah,” gumamnya pelan. “Kalau ini memang jalanku dan aku akan menyelesaikannya.”
Tongkatnya kembali bersinar.
Lebih terang dari sebelumnya.
Tanpa ia sadari—
Petualangan besar itu baru saja dimulai.