


oleh shanty_story · 6 Bab
Pertunangan menghancurkan hati Amira. Perselingkuhan tunangan dan jebakan keji membuatnya mencari pelarian dalam pelukan seorang asing, Elang. Pertemuan satu malam itu membawa konsekuensi tak terduga: pernikahan kontrak yang penuh ambisi dan rencana balas dendam. Namun, di balik pernikahan tanpa cinta, benih-benih asmara mulai tumbuh. Mampukah Amira dan Elang bersatu, ataukah masa lalu akan menghancurkan mereka, terutama saat kehamilan mengubah segalanya?
Malam yang diterangi sinar bulan purnama penuh, dengan cuaca sejuk khas negara tropis.
Terlihat Amira menghentikan mobil sedan nya di sebuah kelab malam dengan perasaan hancur. Siang tadi dia telah memergoki tunangannya tidur dengan adik tirinya sendiri,Bianca.
Pikiran Amira mengingat kembali tontonan penuh desah itu, semuanya yang diingat tadi, nyaris membuatnya setengah gila.
Wajah tampan Arkan hampir mencapai klimaks menindih tubuh polos Bianca,bibir wanita itu tak henti meracau, mendesah, mengerang nikmat.
Semua ingatan dari wajah kedua orang yang telah mengkhianatinya, seketika membuat perut Amira terasa mual dan perasaannya muak.
"Aku benci kamu, Arkan! tega kamu berbuat sekeji itu mengkhianati aku."
"Bukankah kita sedang merencanakan pernikahan, dan ternyata segila itu kamu berselingkuh dengan adik tiriku sendiri, sialan kamu Arkan!"
Amira memukuli setir dengan frustrasi. Wajahnya bersimbah air mata dan yang tampak kacau itu sesaat menoleh ke arah pintu masuk bar 'The City Light' yang lumayan populer di kotanya.
"Sebetulnya aku sedang tidak dalam mood untuk mengurus bisnis, apalagi di tempat seperti itu."
"Aku jarang sekali dan hampir tak pernah mengunjungi bar," gumam Amira resah.
"Tapi kalau aku tidak turun dan bertemu klien, nanti aku akan kena pinalti denda," gumam Amira lirih dan gelisah.
Jemari lentik bercat kuku coklat tua mengambil sehelai tisu dan mengusap pelan wajah yang belepotan terkena air mata. Kemudian, Amira menyurai rambutnya yang panjang dan bergelombang.
Setelah memastikan tampilan dirinya di kaca cermin tak terlalu berantakan, lantas Amira terdiam dan bersandar ke jok mobil yang empuk.
Gadis cantik itu melirik jam tangan dan menghela nafas lelah.
"Masih ada sisa setengah jam lagi sebelum waktu yang telah ditentukan oleh klienku," ucap Amira.
"Sekalian saja aku mengunjungi tempat hiburan seperti itu, di dalam sana aku akan mencari kesenangan untuk melampiaskan kekesalanku, ada baiknya aku mencari 'seseorang' yang menarik," ucap Amira dingin.
Cinta tulus miliknya pada Arkan, yang lalu dikhianati secara kejam ternyata bisa membuat seseorang kehilangan akal dan kewarasannya.
Gadis itu lantas sejenak mengatupkan kedua matanya. Mau tak mau angannya melayang pada Arkan, pria yang sangat dicintainya.
***
Tiga tahun yang lalu dia dan Arkan berkenalan saat masih kuliah. Waktu itu Arkan adalah lulusan jurusan arsitek ternama. Berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, setelah lulus kuliah dia langsung Diberikan kepercayaan untuk menjadi CEO di perusahaan bisnis investasi keluarganya.
Arkan jatuh cinta pada Amira saat ada kegiatan amal di kampus yang mengharuskan mereka melakukan perjalanan bersama. Arkan berperan sebagai duta arsitek dari kampusnya yang ternama.
Sejak saat itu hubungan keduanya diresmikan hingga terlaksana menjadi pesta pertunangan yang meriah.
Selama ini perjalanan cinta Amira dan Arkan baik-baik saja sampai apa yang terjadi pada siang hari tadi.
Dari tahun ke tahun Arkan selalu mendampingi Amira dengan penuh cinta, sebagai kekasih yang ideal dan idaman semua wanita.
Ulang tahun Amira selalu diingat oleh Arkan dan dirayakan berdua, dengan romantis moment. Semua makanan kesukaan Armira diingat persis oleh Arkan. Termasuk makanan apa yang akan membuat Amira alergi.
Begitulah seterusnya sampai pada titik mereka sepakat untuk segera meneruskan hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi yaitu, pernikahan.
Hari ini sebetulnya Arkan tahu kalau Amira harusnya sedang pergi ke Singapura untuk mengunjungi pameran expo design arsitektur yang dihadiri oleh ratusan arsitek yang berasal dari luar negeri.
Tapi ternyata ada perubahan jadwal dan diundur, sehingga membuat Amira tidak jadi pergi ke Singapura.
Oleh karena itu, Amira bermaksud mengadakan kunjungan dadakan ke kantor Arkan, dia berinisiatif sambil membawa bekal makan siang. Menu khas Jepang yang menjadi favorit tunangannya.
Sengaja tak memberi tahu dulu pada sang kekasih karena ingin tahu reaksi Arkan. Dalam benak Amira pasti pria itu akan sangat terkesima dan tentu saja Arkan akan semakin cinta padanya.
Senyuman lebar mengembang di paras cantik, tiba di depan pintu yang kokoh, Amira membuka benda kotak itu dengan sandi yang dia ketahui kodenya.
Langkah sangat pelan menapak saat memasuki ruangan kerja Arkan yang besar dan beraroma bunga melati.
"Di mana Mas Arkan? Aku tahu persis jadwal kerjanya hari ini, seharusnya sekarang dia ada di ruangan kerja ini," gumam Amira bingung.
Tapi tak lama kemudian Amira mendengar suara-suara samar yang saling bersahutan dari ruangan sebelah. Suara pria dikenali olehnya, itu Arkan.
Memang ada kamar khusus untuk istirahat di ruang kerja Arkan. Disitu tempat beristirahat kekasihnya bila sedang suntuk dan ingin rileks sejenak.
"Mas Arkan, ada di kamar sebelah,tapi aku mendengar suara wanita juga. Siapa sebenarnya yang ada di dalam sana?"
Suara desahan perempuan khas yang sedang melakukan pergumulan Panas.
Berbagai prasangka mulai bertebaran di pikiran Amira yang resah. Tapi dia sontak menggeleng jengah dan tetap yakin kalau itu hanyalah suara tak penting.
"Tidak mungkin Mas Arkan sedang berbuat sesuatu 'kan?"
"Tidak, tidak mungkin terjadi apa yang sedang kupikirkan ini," engah Amira menahan debaran di dada yang mulai tak beraturan.
Padahal suara-suara laknat itu semakin jelas terdengar, seiring langkah Amira mendekati ruangan kamar khusus itu.
"Arkan, kamu sangat perkasa." Suara wanita mengerang panjang.
Kali ini Amira mendengar dengan jelas dan kalau di dalam pintu kamar tertutup itu, sedang terjadi kegiatan yang telah menghantam hatinya bagaikan badai besar di lautan.
Tas belanja berisi menu makanan Jepang yang akan diberikan pada Arkan, terlepas dari genggaman tangannya begitu saja. Tergelincir jatuh ke lantai marmer yang dingin dan isinya berhamburan begitu saja.
Wajah Amira merah padam, jemarinya bergetar saat akan membuka kenop pintu.
"Mas Arkan kamu!"
Amira tak tunggu lebih lama lagi, gadis itu membuka pintu dengan cara tak sabar nyaris mendobraknya.
"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN, BRENGSEK?!"
Amira melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kelopak mata Arkan yang terpejam menikmati olah raga panas di siang hari.
Sedangkan di bawah Arkan terbaring Bianca, yang tak lain adik tirinya Amira.
"Mas Arkann!"
"Kalian berdua!"teriak Amira emosi.
"A-amira ka-kamu, kenapa Ke sini?"
Arkan tampak linglung, wajahnya pucat. Sama sekali tak menyangka akan kedatangan Amira di saat dirinya sedang meniduri Bianca, adik tiri tunangannya sendiri.

shanty_story
2 Pengikut · 1 Novel