(POV Ellean)
Air mata yang selama ini kutahan akhirnya menetes. Memandangi makanan yang kini sudah berserakan itu dengan nanar. Padahal aku sudah berusaha susah payah memasaknya.
"Tidak ada gunanya! Kau hanya menyusahkan putraku saja. Bisamu itu apa? Memasak saja tidak becus!" teriak ibu mertuaku sembari melotot ke arahku dengan jijik.
"Aku sudah tidak tahan lagi melihat menantu tidak tahu diri sepertimu!" katanya sembari keluar. Ia sengaja menyenggolku hingga aku jatuh berlutut. Perihal selera masakan yang berbeda membuatnya melontarkan kata-kata yang membuatku sakit hati.
Baru dua bulan lalu ibu tinggal di sini bersama adik ipar. Namun, sejak itu menjadi mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Ia menciptakan suasana menyakitkan di rumah ini.
Bahkan saat itu ibu mertua dan adik iparku baru melangkah ke dalam rumah ini dan langsung membuat huru-hara.
Hari itu saat Mas Arkha pulang dari kantor aku memberinya kejutan yang tidak dia sangka-sangka. Aku memberikan sebuah testpack yang membuktikan bahwa diriku hamil. Dan tepat saat itu ibu mertua dan Sisilia, adik iparku datang.
“Kau yakin itu anakmu, Kak Arkha?” tanya Sisilia waktu itu.
“Beberapa waktu yang lalu aku melihatnya bersama dengan seorang pria tampan. Kupikir dia berselingkuh.”
Kebahagiaan Mas Arkha seketika pudar setelah mendengar itu. Bahkan Sisilia memberikan foto bukti kalau aku menemui seorang pria dan masuk ke mobil pria itu.
Aku begitu terkejut, kenapa Sisilia bisa melihat kami.
“Foto ini aku sudah melihatnya. Tapi aku tidak berpikir kalau akan sejauh itu.”
Mas Arkha menatap perutku dengan raut sulit diartikan. Dan yang lebih mengejutkanku, Mas Arkha sudah tahu tentang foto itu.
Padahal aku sudah sangat berhati-hati. Jika saja aku tidak butuh bantuan, aku tidak akan menemui kakakku pada saat itu. Kini semua menjadi rumit. Adik iparku yang terus menghasut Mas Arkha, ibu mertuaku yang terus menudingku selingkuh, serta apa pun yang kukerjakan selalu kurang di matanya. Lebih-lebih Mas Arkha pun juga tidak mengakui kalau dalam kandunganku ini adalah anaknya. Jika kujelaskan pun, dia tidak akan percaya karena yang dia tahu aku hanyalah seorang yatim piatu.
Aku tahu jika hal ini terus terjadi, aku bisa pulang, tapi aku sudah bertekad membuktikan jika pernikahan ini akan berhasil. Pernikahanku telah mengorbankan kemewahanku yang harus kutinggalkan.
Bahkan aku rela membantunya berjuang dari nol. Membiayai Mas Arkha agar bisa lulus kuliah bahkan diam-diam menaikkan jabatan Mas Arkha di kantornya. Maka dari itu aku harus menunjukkan pada keluargaku kalau aku bisa mendapat pria yang tulus menikahi diriku.
Selama beberapa menit aku tenggelam dalam pikiran sembari membereskan makanan di lantai yang katanya tidak enak itu. Lagipula, apa pun yang kulakukan selama ini memang salah di matanya.
Sampai kedatangan Mas Arkha menyadarkan lamunanku. Dia menyadari hal tidak baik yang terjadi padaku dan ibu mertuaku. Tapi dia justru mendiamkanku dan berjalan begitu saja ke kamar mandi.
Padahal aku sangat butuh bicara. Aku butuh kepastian bahwa pria yang telah membuatku jatuh cinta tiga tahun yang lalu, pria yang menemaniku dan kutemani saat kami dalam masa kesulitan, hingga saat ini bahkan aku masih bersamanya.
Kuikuti dia ke kamarnya dan dia belum juga bersuara. Seolah menganggapku tidak ada.
Akhirnya aku memecah keheningan.
"Ibumu baru saja pergi," kataku dengan suara netral.
"Lalu kenapa? Dia sudah lama tinggal di sini," jawabnya dengan nada dingin.
Aku ragu sejenak, sebelum menjawab, "Tidak suka makananku."
Kata-kataku menggantung di udara, aku merasa tidak nyaman.
Respons Arkha tidak terduga, dia hanya berkata, "Oh ...."
Ekspresinya tidak memberi petunjuk apa pun hingga membuatku bertanya-tanya apa maksudnya.
Aku terus memperhatikannya saat dia berjalan. Menghindari pandangan tubuhku dan mengemasi tasnya. Aku memecah kesunyian sekali lagi. "Kau mau ke mana, Mas?"
"Aku tidak di rumah malam ini," jawabnya tanpa penyesalan.
"Sudah lama kita tidak bicara. Tinggallah di rumah dan aku ingin menyelesaikan permasalahan kita."
Aku mengingatkannya, mencoba agar tidak kecewa.
Ia terhenti sejenak, kemudian mendengus. "Apa yang mau diselesaikan? Aku punya pertemuan yang lebih penting untuk dihadiri besok dan acara penghargaan akan dimulai minggu depan. Kau tahu artinya itu? Aku akan dipromosikan."
"Siapa tahu pemiliknya akhirnya muncul dan saat itu akan tidak hanya menjadi manajer, tetapi menjadi Wakil CEO," lanjutnya.
"Aku tidak keberatan ikut karena kau sudah lama tidak pulang. Aku ingin pergi ... agar terasa seperti liburan."
Tanpa memberiku ruang, ia menjawab dengan tajam. "Aku sudah pergi dengan Fika. Kau akan menjadi pemandangan yang menyakitkan. Lalu bagaimana menyembunyikan perut besar yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya!?"
Aku merasakan gelombang kemarahan yang membuatku sakit hati. "Kau serius? Aku bahkan tidak merawat wajahku karena sibuk bekerja. Apa kau lupa bahwa yang kau dapat saat ini modal dariku?"
"Itu tiga bulan yang lalu. Aku sampai tidak kenal kau lagi."
Aku memang banyak berubah, lebih tepatnya sejak hamil ini. Jangankan merawat tubuh, jika mertua tidak ada di sini pun lebih baik aku banyak beristirahat.
"Apakah itu sebabnya kau lebih memilih sahabatku? Aku hamil anakmu, Mas! Apa kau masih percaya fitnah dari adikmu itu?" Aku membalas dengan suara bergetar karena emosi.
"Jangan mulai lagi! Ya, itu memang penyebabnya. Kau buruk rupa karena kau sendiri hamil dengan anak orang lain."
Perkataannya kejam sekali.
"Berkali kukatakan bayi dalam perut ini anakmu! Kau memilih agar aku selalu merawat wajahku, padahal selama ini aku kerja demi menyisihkan uang buatmu ....” Suaraku hampir berbisik. "Untuk apa aku perjuangkan semua jika akhirnya aku selingkuh."
Semua terasa begitu berat bagiku, terlebih sikap ibunya yang begitu kejam padaku, adiknya yang selalu tidak suka padaku dan sekarang aku masih saja dituduh selingkuh. Bahkan Mas Arkha lebih peduli pada Miranda, sahabatku, ketimbang diriku dan beberapa waktu aku merasa khawatir tentang mereka berdua.
"Aku akan pergi! Jadi berhentilah bersikap kekanakan!"
"Mari kita bercerai, Mas!"
Bibirku masih saja bergetar karena emosi ini belum reda.
Sesaat menjadi hening karena Mas Arkha tampak membeku setelah mendengar perkataanku. Kemudian ia bicara.
"Apa?"
"Jangan menipu diri kita lagi! Mari kita bercerai!" ulangku.
"Apa yang terjadi?"
Keningnya berkerut bingung. Perubahanku seolah membuatnya khawatir.
"Aku tidak tahu apakah kau mau memperbaiki pernikahan ini, atau justru selesai. Siapa yang tahan terus berpura-pura menahan sesak, padahal tidak."
Matanya membelalak. "Dari mana ide itu datang?"
"Datang dari seorang wanita yang mengorbankan semuanya pada pria agar menjadi sukses hanya untuk difitnah, dihina, diabaikan lalu ditelantarkan. Seorang istri yang dimarahi karena membuat wanita lain menangis."
Suaraku masih bergetar ketika menjelaskan. Bayang-bayang sahabatku yang menyebalkan itu seketika muncul.