


oleh sweetchocosin · 84 Bab
Mungkinkah siluman dan manusia bisa bersatu? Kala adalah seorang jenderal tak terkalahkan, hingga seorang raja mengubahnya menjadi siluman kelelawar, keblek. Setelah kematian sang raja, Kala terbuang dan dianggap sebagai pembawa petaka. Ia pun mengabdi pada sebuah keluarga, dengan mencuri hasil tani dari pejabat korup. Cintanya pada Gendhis, putri keluarga tersebut, membuatnya berusaha kembali menjadi manusia. Namun, rencana itu digagalkan oleh orang tua Gendhis, yang akhirnya membunuh putri mereka sendiri dalam upaya membunuh Kala. Setelah 600 tahun, Kala, kini bernama Wahyu, bertemu gadis yang mirip dengan Gendhis. Apakah kali ini cinta mereka akhirnya bisa melampaui kutukan?
"Tetaplah hidup, Kakanda ...."
--
Suara rintihan seorang gadis membuatku terjaga. Napasku tersengal-sengal. Keringat dingin mengalir dari pelipisku. Kulirik jendela kamar yang terbuka. Cahaya bulan memantul mengenai cermin, membuat mataku menyipit.
Aku mengangkat kedua tanganku, seolah baru saja memeluk seorang gadis yang terluka. Gadis dengan manik-manik mata berwarna jingga, yang senyumnya secerah sinar mentari. Dari tubuh itu, darah mengalir deras.
Meskipun hanya mimpi, aku masih bisa merasakan kehangatannya.
"Sial!" desisku sambil mengepalkan kedua tangan. Segera kutarik selimut dan bergegas mencari minum. Meskipun mimpi itu cukup singkat, rasanya seluruh tubuhku baru saja diinjak kuda.
Secara harfiah, aku pernah ditendang kuda.
"Ahhh ...."
Darah kelinci segar yang dingin menyiram kerongkongan, membuatku segar kembali. Namun, pandanganku terpaku pada lukisan yang terpajang di dinding dekat tangga. Gadis yang sinar keberadaannya serupa kehangatan fajar sedang membawa sebuah buku. Senyum tipisnya seolah membekukan waktu.
Kring!
Suara ponselku membuyarkan lamunan.
"Halo, Pak Wahyu?" Suara dari balik telepon terdengar panik.
"Chandita." Aku memanggilnya dengan tenang. "Kendalikan dirimu dulu sebelum berbicara."
Aku mendengar suara helaan napas beberapa kali sebelum gadis itu kembali berbicara.
"Pak," ulang Chandita, kalem. "Saya baru dapat laporan dari Shasti kalau malam ini dia melahirkan."
Aku mendengarkan dengan saksama. "Sampaikan salamku padanya kalau kalian hendak menjenguk Shasti."
"Bapak tidak ikut?"
Aku terdiam beberapa saat. Sudah lama sejak terakhir kali aku berinteraksi dengan manusia. Belum ada niat dalam diriku untuk mengunjungi seseorang di luar masalah pekerjaan. Bagiku, terikat pada makhluk fana seperti mereka adalah hal yang merepotkan.
"Seperti biasa." Chandita tampaknya menangkap maksudku. "Bapak pasti menolaknya, kan?"
Senyumku mengembang. "Aku bahkan belum mengucapkan apa pun."
"Saya tahu Bapak. Bapak terlalu baik untuk menolak dan terlalu malas ikut acara kantor."
"Aku bukannya terlalu malas Chandita." Aku mengoreksi. "Ngomong-ngomong, kenapa kabar kelahiran Shasti membuatmu panik?"
Chandita tersentak. "Oh, iya. Pak, Shasti hendak mengajukan surat pengunduran diri. Anaknya lahir prematur."
Alasan itu membuatku berpikir keras. "Apa hubungannya?"
"Shasti ingin menjadi ibu rumah tangga, Pak. Dia tidak bisa lagi menjadi editor KutuBuku."
Salah satu alasan mengapa manusia merupakan makhluk yang menyebalkan adalah terlalu mencintai keluarganya. Padahal, bayi sekecil itu belum tentu akan membalas jasa kedua orang tuanya di masa depan.
Mengapa Shasti harus repot-repot melepas impiannya menjadi penulis hanya karena anaknya terlahir lemah? Logika berpikir manusia cukup aneh.
Aku mengangguk mengerti. "Kau urus saja. Bilang pada Shasti agar tidak perlu terburu-buru mengirimkan surat padaku. Aku tidak merasa keberatan."
"Baik, Pak."
"Siapkan perekrutan editor baru, Chandita. Kalau aku tidak salah ingat, ada pelamar yang dua bulan lalu masih ada dalam daftar tunggu kita."
"Ada sekitar tiga orang, Pak. Yang mana yang kita pilih?"
Tanganku mengusap dagu, mencoba berpikir. "Yang pengalaman kerjanya paling sedikit."
"Eh?" Aku mendengar suara Chandita hendak memprotes.
"Chandita, kita harus memberi kesempatan kepada para lulusan baru."
Aku bisa mendengar desahan jengkel yang tertahan dari balik ponsel, menandakan Chandita tak punya pilihan lain. "Baik, Pak. Akan saya hubungi calon pekerjanya."
"Terima kasih."
Usai Chandita menutup telepon, aku menghela napas panjang. Aku menatap ponsel dengan cermat.
"Manusia zaman sekarang memang ajaib," ucapku. "Suara Chandita terdengar sangat nyata dari sini."
Namaku Wahyu Mahendra, pendiri platform menulis digital terkenal, KutuBuku. Bagi manusia dengan penglihatan normal, aku hanyalah pria berusia tiga puluhan yang kebetulan mewarisi kekayaan berlimpah dan hidup bergelimang harta. Namun, bagi mereka yang bisa melihat menembus dimensi, aku adalah siluman kelelawar berusia lebih dari 11 abad.
Matamu tidak salah memberikan informasi. Aku adalah keblek terakhir yang berhasil membaur di tengah-tengah kehidupan manusia pada umumnya.
Normalnya, keblek berkoloni. Mereka menumpang hidup dari manusia-manusia serakah yang hendak memperkaya diri. Tugas keblek sederhana. Ia hanya perlu mencuri beras atau bahan makanan lain dari gudang seseorang. Sebagai balasannya, keblek meminum sedikit darah kepala keluarga untuk bertahan hidup.
Aku berbeda dari siluman menjijikkan dan tidak tahu adab. Tujuan penciptaanku jauh lebih mulia dari sekedar mencuri sembako. Meskipun, pada akhirnya aku terpaksa bertahan hidup mengotori prinsipku sendiri. Setidaknya, yang aku minta selama ini hanyalah darah babi hutan, atau darah apa pun yang mereka berikan padaku, asalkan bukan darah manusia.
Rasa dari darah hewan lebih lembut dan sedikit berbau amis, tak seperti darah manusia yang biasanya lebih kental, lengket, dan berbau menyengat. Apalagi kalau manusia itu selalu mengotori tubuhnya dengan uang-uang kotor dan hidup sembarangan. Aku benci manusia yang mengabaikan kesehatan dan tidak bermoral.
Suara ketukan pintu rumah terdengar. Dari baunya, aku bisa menebak abdi setiaku, atau bisa dibilang asisten pribadiku, sedang berdiri di balik pintu.
Tanpa meninggalkan tempat duduk, aku berucap pelan.
"Masuklah, Mahisa."
Sekelebat asap hitam terbuyarkan tepat di depanku, meninggalkan seorang pria berwajah kecil dan elok. Tubuhnya tinggi, meskipun tidak setinggi tubuhku, dan berperawakan tegap. Sekalipun usianya lebih dari tiga abad, tampilannya masih tetap sama seperti remaja yang baru beranjak dewasa.
Pemuda itu berlutut sambil menundukkan kepala. Meskipun begitu, aku bisa melihat bibirnya yang cemberut. "Kok Mahisa, sih? Namaku sekarang Angga."
Aku menghela napas. "Maaf, aku lupa."
Angga tanpa basa-basi langsung berdiri dan melemparkan diri ke sofa. Ia menyengir nakal.
"Kangmas, aku baru saja menang lotre."
Mataku mengerjap. Beberapa kali aku sempat memarahi pria ini agar mengurangi permainan yang tidak perlu. Rupanya aku kurang ketat mendidiknya.
"Sepertinya aku sudah lama tidak mencambuk punggungmu," desisku sambil menjentikkan kuku. Sebuah tongkat kayu pun muncul dari udara.
Angga yang awalnya duduk dengan pongah, buru-buru berlutut. Wajahnya tampak panik. "Dengar dulu, Kangmas. Aku tidak bermaksud ikut sayembara itu."
"Sayembara?" Alisku terangkat. "Di zaman serba canggih ini masih ada sayembara?"
"B-betul, Kangmas."
"Hei, kau pikir aku orang tua kolot yang bisa dengan mudah tertipu remaja tengil sepertimu?"
Pelan-pelan Angga mengangkat wajahnya. Matanya menatapku seolah aku adalah salah satu makhluk menyebalkan yang kesulitan berkembang mengikuti zaman.
"Kau ...."
"Kangmas! Kangmas!" Angga mencegahku mengayunkan tongkat. "Tunggu sebentar. Dengarkan aku dulu. Aku tidak membeli apa pun, loh."
"Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau ucapkan."
Angga menangkupkan kedua tangannya, memohon untuk diberi kesempatan bicara.
"Baiklah. Jelaskan secara singkat!" ucapku, akhirnya mengalah.
Aku melihat kelegaan dari wajah Angga.
"Jadi, aku tidak sengaja menemukan kertas lotre di pinggir jalan. Ini kertasnya." Angga menunjukkan kertas kucel yang ia ambil dari saku bajunya. "Nih."
Sekilas, aku bisa melihat deretan angka yang tercantum di sana. "Terus?"
"Aku hendak membuangnya. Tapi ...."
Angga melihat ke sekeliling ruangan, mencari sesuatu. Saat ia berhasil menemukan remote televisi, ia pun menyalakannya.
"Kenapa? Kau menang?" tanyaku.
Angga mengangguk tanpa melihatku. Pria itu sibuk mencari saluran yang ia maksud.
"Ya, sekali lagi kita umumkan ya. Untuk pemenang sayembara kali ini adalah ...."
Aku menggeleng pelan. "Pembawa acara zaman sekarang kurang literasi. Sayembara dan lotre itu berbeda."
"Cek, Kangmas!" Angga tampak antusias. "Aku menang!"
Karena penglihatan dan ingatanku tajam, aku bisa tahu dua belas deret angka di kertas kucel milik Angga sama dengan yang ditampilkan di layar kaca.
"Tapi itu bukan milikmu, kan?"
Angga tertunduk lesu. "Memang, sih. Tapi kan ini rezeki."
Sebelum sempat menceramahi Angga lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari televisi. Seorang gadis berambut panjang tampak berlari mendekati pembawa acara.
"Kertasku hilang! Percayalah!"
"Eh?" Angga tampak tak percaya. "Oh, ini siaran langsung rupanya."
Awalnya aku tidak tertarik mengikuti drama yang disiarkan secara tidak sengaja.
Namun, begitu gadis itu menoleh, aku bisa melihat manik-manik jingga yang kukenal. Sorot mata tajam yang menenangkan. Dua bola mata yang bisa menarikku masuk ke dalam dunia asing yang familiar. Rambutnya yang hitam legam, bergelombang mengikuti irama hentakan kakinya.
Tanpa sadar, bibirku mendesis lirih.
"Gendhis ....”

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel