Aira merasakan dinginnya marmer di bawah ujung sepatu hak tingginya, sebuah keakraban yang kini terasa asing. Ia duduk di kursi paling ujung meja rapat dewan direksi Winata, tempat ia biasa memimpin, kini ia menjadi pesakitan. Cahaya lampu gantung kristal terasa menusuk mata, memantul dari wajah-wajah yang ia anggap keluarga dan rekan kerja.
Di seberangnya, Sofia Winata berdiri tegak, tampak seperti seorang ratu yang baru saja merebut takhtanya. Wajahnya tanpa cela, senyum tipis menyungging di bibirnya.
"Terima kasih, Bapak dan Ibu Dewan, telah meluangkan waktu pagi ini," ujar Sofia, suaranya lembut, tetapi memiliki resonansi baja. "Kita berkumpul bukan untuk membahas kinerja kuartal, melainkan untuk membahas integritas inti perusahaan, yang sayangnya, telah ternoda."
Aira menahan napas. Ia melihat ke arah Pak Budi, kepala keuangan yang selalu ia hormati. Pak Budi hanya membuang pandangan, menatap berkas di tangannya dengan intensitas palsu.
"Selama enam bulan terakhir," lanjut Sofia, menekan tombol proyektor. "Saya telah menerima laporan anonim mengenai dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Direktur Operasional kita, Aira Winata."
Layar lebar menampilkan grafik yang tampak meyakinkan, serangkaian transfer dana besar yang dialihkan ke entitas luar negeri yang tidak dikenal. Aira merasakan darahnya mendingin. Itu semua palsu.
"Angka-angka ini." Sofia menunjuk dengan pena laser merah. "Menunjukkan penggelapan dana sebesar tiga puluh miliar rupiah dari proyek ekspansi Asia Tenggara."
"Tunggu sebentar," sela Aira, suaranya sedikit bergetar, berusaha menahan guncangan internal. "Saya tidak pernah menyetujui transfer sebesar itu. Semua laporan saya valid."
"Tentu saja Anda akan mengatakan itu, Aira," balas Sofia santai, seolah menanggapi keluhan anak kecil. "Bukti tidak berbohong, dan bukti itu semakin kuat ketika kita mempertanyakan posisi Aira di perusahaan ini."
Sofia menarik napas dramatis. Semua mata Dewan kini terfokus pada Aira, bukan pada wanita yang menuduhnya.
"Penyelidikan internal yang dipercepat ini juga menyentuh validitas status pewaris Aira," kata Sofia. "Kami telah melakukan tes DNA independen, yang seharusnya menjadi formalitas terakhir setelah wafatnya almarhum ayahmu, Bapak Jonathan Winata."
Sebuah map tebal diletakkan di meja tepat di hadapan Aira. Sampulnya mencantumkan logo laboratorium terkenal, tetapi ada rasa kertas yang salah di tangannya.
"Hasilnya mengejutkan," bisik Sofia, membuat suasana semakin mencekik. "Berdasarkan sampel yang kami dapatkan, Aira Winata bukan putri kandung Jonathan Winata."
Keheningan yang terjadi terasa seperti ledakan di telinga Aira. Ia menatap Sofia, mencari celah, mencari tanda bahwa ini adalah lelucon kejam.
"Itu bohong," desis Aira. Ia meraih map itu, jantungnya berdebar kencang hingga rasanya seperti akan merobek rusuknya.
"Ini pemalsuan. Saya putri sah Ayah!"
"Nona Winata, kontrol emosi Anda," tegur Pak Budi, nadanya tajam. "Kami telah memverifikasi laboratoriumnya."
Aira membuka map itu dengan tangan gemetar. Laporan itu menampilkan garis keturunan yang terputus, menunjuk pada pernikahan rahasia lama yang tidak pernah ia ketahui, atau yang lebih mungkin, rekayasa keji. Pengkhianatan ganda, penggelapan dan pembatalan identitasnya.
"Sofia," panggil Aira, memohon pada mata bibi tirinya. "Kau tahu ini tidak benar. Ini adalah fitnah! Ayah memercayakan perusahaan ini padaku!"
Sofia berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Aira bisa mencium aroma parfum mahal yang selalu dikenakan Sofia.
"Kesempatanmu sebagai Direktur Operasional sudah berakhir, Aira, dan sebagai pewaris? Yah, itu urusan keluarga yang akan saya selesaikan secara internal."
Sofia mundur, kembali ke podiumnya. Aira merasakan gelombang panas kemarahan bercampur dengan kepanikan dingin menyapu dirinya. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada sekutu.
Para direktur lain mengangguk setuju, takut pada Sofia, atau mungkin lebih takut pada bayangan yang memayungi Sofia.
"Dengan semua bukti yang disajikan, dan demi menjaga stabilitas pasar." Suara Sofia menggelegar kembali, kini penuh otoritas. "Saya mengajukan mosi untuk segera mencopot jabatan Aira Winata sebagai Direktur Operasional, serta pembekuan semua aset yang dikaitkan dengan namanya, sampai investigasi penuh selesai."
Aira berdiri tiba-tiba, kursinya berderit keras memecah keheningan.
"Anda tidak bisa melakukan ini! Ini semua konspirasi!" serunya, suaranya meninggi, tetapi rasanya seperti teriakan di dalam sumur.
Beberapa anggota dewan mulai mengangkat tangan mereka, sesuai arahan Sofia.
"Saya mohon, Dewan." Aira menoleh putus asa ke setiap wajah. "Saya telah mendedikasikan hidup saya untuk Winata. Saya mohon Anda berpikir jernih!"
Rehan. Di mana Rehan? Ia seharusnya ada di sini, membela pertunangannya, membela integritasnya, tapi ia tidak ada.
Mosi itu disahkan dalam hitungan detik, suara tangan yang terangkat menggema seperti palu hakim.
"Mosi disetujui," kata Sofia, senyum kemenangannya kini membeku. "Aira Winata, Anda diberhentikan efektif sekarang juga."
Aira terpaku di tempat. Jantungnya terasa mati rasa. Ia melihat beberapa staf keamanan mendekat. Ia telah kehilangan segalanya dalam satu jam.
"Anda harus segera meninggalkan gedung ini, Nona Winata," ujar salah satu staf keamanan dengan nada datar.
Aira menatap Sofia sekali lagi, matanya menyala dengan campuran api dan air mata yang tertahan. Ia baru saja dihakimi dan dieksekusi oleh wanita yang seharusnya ia percaya.
"Ini belum berakhir, Sofia," bisik Aira, janji yang ia ucapkan lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Saat ia berbalik menuju pintu keluar, ia melihat sekelompok orang lain memasuki ruangan. Di tengah mereka, berdiri seorang wanita muda dengan tatapan tajam dan dingin, memegang sebuah tas tangan mahal.
Wanita itu berjalan langsung ke kursi Aira, dan tanpa menoleh ke arah Aira yang kini terhalang oleh keamanan, ia duduk.
"Selamat pagi, Dewan," sapa wanita baru itu dengan suara yang sama sekali asing. "Saya Maya. Saya akan mengambil alih sementara posisi Direktur Operasional."
Aira terpaku di ambang pintu, menyaksikan Maya, orang yang tidak ia kenal, duduk di kursinya, sementara keamanan mengawal dirinya keluar dari aula tempat warisannya dicuri. Kekalahan ini terasa total.