


oleh Yellow Flower · 100 Bab
Di saat kehidupan rumah tangga Casy dan Adrian yang mulai hambar, muncul Wardi, teman kantor sekaligus sahabat Adrian. Casy akhirnya memutuskan menerima Wardi menjadi kekasih, karena apa yang tidak didapatkan Casy dari suaminya, dia dapatkan dari Wardi. Dari mulai sekadar perhatian, sampai kepuasan di ranjang, Casy dapatkan semua dari Wardi. Adrian tidak bisa menerima perselingkuhan Casy dan Wardi, ia pun mengancam akan mencelakai Wardi dengan tujuan agar mereka tidak berhubungan lagi di belakang Adrian. Casy tetap melanjutkan hubungan terlarang itu, sampai Adrian menyerah dan memutuskan pergi, untuk selamanya dari dunia ini ....
Rutinitasku sebagai istri dan ibu dari dua orang anak, seperti biasa, bangun pagi lalu menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anakku.
Setelahnya lanjut mencuci baju, membersihkan rumah, memasak untuk makan siang, lalu menyetrika pakaian dan lanjut lagi memasak untuk makan malam, selalu begitu setiap harinya.
“Mom, kami pergi ke sekolah dulu, pulangnya nanti aku dan Teguh diantar sopirnya Fanny, jadi Mom gak perlu jemput, ya.”
Maria dan Teguh berpamitan kepadaku. Aku mencium kening kedua anakku, rutinitas setiap kali ke mana pun mereka akan pergi.
“Aku pergi!” kata Adrian sambil melangkah pergi meninggalkan aku yang sedang berada di dapur, sibuk merapikan alat masak, mencuci piring kotor, yang tadi digunakan untuk sarapan dan bekal.
“Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai di sekolah,” jawabku sambil mengantar Adrian sampai di halaman rumah.
Tidak ada kecupan lagi di dahi seperti dahulu, yang selalu Adrian lakukan setiap kali akan berangkat kerja. Mungkin sudah bisa dikatakan tidak ada lagi kemesraan seperti saat di awal pernikahan dahulu.
Suamiku bekerja sebagai guru honorer mata pelajaran komputer di salah satu sekolah menengah atas swasta di Bandung.
Dia pergi mengajar sejak pagi hingga sore hari, dengan menggunakan sepeda motor, mengais rezeki untuk membiayai aku dan anak-anak.
Seorang ayah dan suami yang bertanggung jawab, walau kadang bingung untuk mencukupi kebutuhan satu bulan kita harus menambah penghasilan dari usaha lainnya.
Kedua anakku bersekolah di sekolah Katolik, sekolah yang cukup favorit di kota Bandung. Nilai akademis anak-anakku cukup di atas rata-rata. Sebagai ibu aku bangga dengan keberhasilan mereka.
Walaupun aku hanya lulusan SMA, tapi aku bisa merawat, membesarkan dan mendidik anak-anak dengan baik.
Kehidupan rumah tanggaku yang di awal terasa baik-baik saja, semakin lama semakin terasa hambar, karena rutinitas yang dilalui oleh masing-masing seperti itu setiap harinya.
Drrrttttt Drrrttttt.
Dering telepon selularku berbunyi, aku sudah tahu dari siapa telepon itu berbunyi, karena hanya Wardi yang tahu jam berapa suamiku tidak sedang berada di rumah.
“Halo, masih sibuk?” Suara Wardi terdengar di seberang sana.
“Biasalah, kamu tahu rutinitas pekerjaanku setiap harinya,” jawabku sambil cemberut.
“Istirahatlah sejenak, Casy, jangan terlalu lelah dan kamu tidak perlu memforsir dirimu seolah kamu ini pembantu di rumah kamu sendiri, nanti kamu sakit.”
Lagi-lagi kata-kata Wardi membuatku melayang, merasa diperhatikan dan diperlakukan selayaknya seorang ratu di dalam rumah tangga.
Wardi adalah sahabat dari suamiku, usianya pun sama, hanya saja mereka lahir di bulan yang berbeda, mereka berdua selisih sepuluh tahun dengan usiaku.
Perkenalanku dengan Wardi cukup singkat, bertemu saat aku mampir ke kantor suamiku, dia sama-sama mengajar di salah satu tempat kursus komputer di tempat suamiku bekerja.
“Aku cape sih, setiap hari melakukan semua pekerjaan ini, tapi tidak ada penghargaan sedikit pun dari suamiku,” keluhku kepada Wardi di telepon. “Aku cuma melakukan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari kedua anakku."
“Emang suami kamu gak pernah ucapin terima kasih atau sekadar kecupan sebagai ungkapan sayangnya pada kamu?”
Wardi memancingku agar aku mau bercerita kehidupan pribadiku padanya.
“Dulu iya. Suamiku selalu mengecup keningku setiap kali dia akan berangkat kerja,” jawabku sambil menghela napas panjang. “Akan tetapi, entah kapan terakhir dia melakukannya kepadaku, aku juga sudah lupa."
“Kamu jangan memendam sendiri kekesalanmu ini di hati. Kamu bisa mengeluarkan rasa sakit hati kepada suamimu, berceritalah kepadaku. Aku akan menjadi pendengar setiamu, aku akan menjadi tempat berlindungmu, di saat kamu merasa sendiri.”
Wardi mengatakan hal itu seolah tahu apa yang sedang aku rasakan.
Bagiku, apa yang dikatakan Wardi seolah menjadi penyejuk di kala hati sedang panas. Aku merasakan ada perhatian lain dari seorang Wardi kepadaku, bukan hanya sebagai teman suamiku, tetapi ada maksud lain dari semua perhatian yang dia berikan padaku.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Sudah hampir dua jam kami berdua mengobrol. Cukup lama, Wardi bisa mengorek isi hatiku, sekarang dia tahu kalau rumah tanggaku sedang tidak baik-baik baik saja.
Karena hari ini aku tidak harus menjemput Maria dan Teguh ke sekolah, jadi aku bisa mengobrol lebih lama dengan Wardi, seolah dapat semangat baru. Merasa nyaman, sekarang ada orang lain yang mau mendengarkan keluh kesahku.
Wardi pamit memutuskan telepon denganku, karena harus berangkat mengajar. Kebetulan jam mengajar dia sore hari. “Aku mau bersiap dulu, ya, kalau kamu butuh sesuatu telepon aku, kalau aku bisa pasti membantu kamu.”
Akhirnya selesai sudah obrolan kami berdua, meninggalkan rasa bahagia di hatiku.
***
Beberapa hari kemudian.
Wardi datang bersama dengan suamiku saat pulang mengajar. Mereka memakai kendaraan masing-masing.
Setelah suamiku mandi air hangat yang sudah aku sediakan, kami bertiga mengobrol di ruang tamu sambil aku sajikan teh manis hangat dan camilan yang Wardi bawa tadi ketika mereka datang.
“Bagaimana kegiatan sekolah anak-anak hari ini?” tanya Wardi kepadaku.
“Mereka hari ini acara rekoleksi, menginap di Lembang selama dua hari, baru akan pulang besok,” jawabku lengkap.
“Terus nanti mereka dijemput naik apa? Dijemput di sekolah? Atau di Lembang?”
Pertanyaan Wardi berderet menunjukkan rasa khawatirnya.
“Nanti kami berdua yang jemput ke Lembang, pakai dua kendaraan bermotor,” jawab Adrian.
“Oohh begitu, ya.” Wardi tersenyum padaku.
“Kalau butuh bantuan menjemput anak-anak, bilang saja padaku."
“Waktu mengajarmu kan padat, Adrian, biar aku dan istrimu yang menjemput anak-anak menggunakan mobilku,” kata Wardi meminta izin pada suamiku, karena istrinya akan bersama dia, satu mobil hanya berdua saja, saat pergi menjemput anak-anak ke Lembang.
Aku sempat terkejut. Tak kuduga sama sekali, suamiku menyetujui usulan Wardi untuk menjemput anak-anak menggunakan mobilnya. Padahal suamiku itu tipe orang pencemburu, posesif, dan over protective.
“Benar tidak merepotkan kamu, Wardi?
“Benar, pas besok jadwal kelas mengajarku kosong."
“Asal kamu tidak cemburu padaku aja, istrimu aku ajak di mobil berdua denganku,” kelakar Wardi sambil tertawa pada Adrian dan juga melirik padaku.
“Ah kamu bisa saja, Wardi, masa aku cemburu pada orang yang mau membantuku, aku percaya kok pada istriku, dia orang yang setia."
“Benar bukan, Casy Sayang?” tanya Adrian mesra sambil melirik padaku.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan suamiku pada Wardi.
Padahal dalam hatiku bergumam,Kenapa Wardi senekat ini, terang-terangan mengajak aku pergi dengan dia, minta izin langsung pada suamiku. Wardi sudah gila!!
Tumben Adrian mesra kepadaku. Apa mungkin karena ada sahabatnya, supaya terlihat kami keluarga yang harmonis.
“Besok jam sebelas siang, aku jemput kamu ya, Casy. Suamimu sudah mengizinkan aku menemanimu menjemput anak-anak ke Lembang,” ujar Wardi kepadaku saat pamit pulang.
“Baik, terima kasih sudah mau repot-repot membantu kami,” jawabku sambil tersenyum.

Yellow Flower
66 Pengikut · 5 Novel