


oleh Ayu Sekti · 107 Bab
Kesedihan hebat menimpa Kirana Anastasia ketika menjalani pernikahan setelah lima tahun. Suaminya yang bernama Jansen, yang dulunya manis, kini berubah angkuh dan bar-bar. Hal tersebut membuat Kirana tertekan dan tidak betah mengarungi bahtera rumah tangganya. Keduanya sering bertengkar dan pisah ranjang. Di tengah badai rumah tangga yang datang, seorang pria tampan bernama Reynan mencintai Kirana. Ia sangat peduli hingga ia bisa menaklukkan Kirana. Terjadilah hubungan terlarang di antara keduanya. Apakah pernikahan Jansen dan Kirana akan bertahan? Atau akan kandas begitu saja? Ikuti episode selanjutnya.
"Kamu dari mana, Mas, kok pulangnya tengah malam?" tanya Kirana pada suaminya yang baru saja pulang tepat jam dua belas malam. Kirana berdiri dari ruang tamu setelah melihat suaminya masuk ke dalam rumah
"Bukan urusanmu! Yang penting aku kerja itu cari nafkah dan bisa kasih kamu duit! Awas saja kalau kamu ngadu sama orang tua kita! Kamu mau uang ini 'kan?"
Pria berkemeja abu-abu itu memberikan beberapa lembaran merah kepada Kirana. Ia sangat takut jika Kirana mengadukan keburukan rumah tangganya kepada kedua orang tua kedua belah pihak. Karena mereka berperan penting dalam bisnis kedua orang tuanya yang kaya raya.
"Mas Jansen? Aku itu nggak hanya butuh uang. Aku hanya ingin tahu kamu pergi ke mana saja karena setiap hari kamu pulangnya larut malam. Sekarang kau beda sama yang dulu Mas. Saat kita awal menikah? Ada apa denganmu?"
Pertengkaran pun terjadi. Meski begitu Kirana masih menyiapkan makan malam dan beberapa kue untuk suami yang akhir-akhir ini sering mengabaikannya dan berubah sikap.
Saat awal nikah, Jansen sangatlah romantis dan penuh kasih sayang. Tapi setelah menjalani beberapa tahun menikah, Jansen mengalami perubahan sikap secara drastis. Berubah angkuh dan tidak peduli. Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal Kirana sudah menjadi yang terbaik untuk sang suami.
"Sudahlah Kirana. Aku itu kerja nggak neko-neko. Lagian, aku itu kerja untuk kamu? Bukan untuk orang lain! Sudah ya, kepalaku pusing, mau tidur!" jawab Jansen dengan sinis di depan Kirana.
Pria itu tidak mau menjawab tentang kesibukannya di tempat kerja. Ia lebih memilih diam dan langsung ke kamar untuk tidur. Tanpa mandi dan tanpa cuci muka.
Sementara Kirana kembali lagi di ruang makan sendirian menghabiskan segelas kopi yang sengaja ia buat dan belum ia minum karena kelamaan menunggu sang suami.
"Semakin hari, Mas Jansen semakin cuek dan tidak berterus terang padaku. Namun, aku harus tetap bersabar dan nggak boleh cengeng, siapa tahu memang benar kalau Mas Jansen itu sibuk bekerja," batin Kirana sambil duduk di ruang makan. Ia menyesap kopi perlahan-lahan sambil mendinginkan pikirannya yang suntuk. Ia berusaha berpikir positif mengenai suaminya tersebut.
Tring!
Tidak lama, ada notifikasi chat WA di ponsel Kirana yang selalu ia bawa.
"Siapa, sih?" tanya Kirana sambil membuka chat notifikasi tersebut.
"Selamat malam, Kirana. Maukah kamu bertemu aku di Kafe Melati besok pagi? Kalau mau aku tunggu tepat jam sembilan pagi. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan padamu."
Begitulah chat WA dari seorang pria yang membuat Kirana terkejut.
"Reynan ngajak aku ketemuan di kafe? Bukannya dia pacarnya Rika? Ya Tuhan, apakah aku harus menuruti permintaan dia, padahal aku sudah mempunyai suami? Aku sangat tersiksa dengan sikap suamiku yang dingin dan selalu mengabaikan aku.”
Kirana menghentikan acara minum kopinya. Air matanya meleleh seketika karena tidak tahan dengan rumah tangga yang ia jalani selama beberapa tahun ini.
Baktinya kepada Jansen selama lima tahun menikah, tidak pernah dibalas walau hanya dengan sekedar ngobrol bareng. Mereka bersama saat makan pagi dan siang saja. Selain itu, Jansen sibuk dengan dunianya sendiri.
Karena sudah tengah malam, Kirana terpaksa tidur di sebelah Jansen. Ia tidur dalam kesendirian dengan hati yang sedih. Mau tidak mau ia harus memaksakan tidur agar hatinya tidak terlalu sakit.
Pagi pun tiba. Meski hatinya galau, Kirana masih memasak sarapan untuk suaminya. Ia memasak nasi goreng ati ayam.
Sambil memasak, ia memikirkan chat WA dari Reynan. "Apa aku nanti menemui Reynan, ya? Suntuk di rumah. Mas Jansen aja ke luar rumah sesuka hati dan pulang selalu larut malam, kenapa aku nggak bisa?" batin Kirana sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang hampir jadi.
Semalam ia tidak sempat membalas pesan itu karena masih dilanda dilema. Namun, sekarang ia sudah memutuskan jawabannya.
"Aku akan datang."
Hanya kalimat itu yang ia kirim. Buru-buru ia menyimpan kembali ponsel ke dalam saku bajunnya.
Kirana memastikan nasi goreng yg ia buat pas. Setelah itu ia menyajikannya di atas piring. Sebagai pelengkap ia menambahkan kerupuk bawang, tak lupa teh manis hangat yang selalu menemani pagi mereka saat sarapan.
Tinggal Kirana menunggu sang suami yang biasanya akan datang sendirinya untuk sarapan. Walaupun Jansen cuek dengan Kirana, tetapi jika waktunya makan, ia akan datang ke ruang makan dan mau bergabung untuk makan. Karena Jansen tahu, setiap masakan yang dimasak Kirana pasti lezat dan menunya selalu bervariasi setiap hari.
Tepat pukul 6.30 pagi, benar saja, Jansen menghampiri Kirana di ruang makan. Ia memakai setelan kemeja berwarna biru dan celana hitam berkilau. Rambutnya tersisir rapi dan menguar parfum semerbak wangi membuat siapa yang mencium klepek-klepek. Setiap mau kerja, Jansen dandan Bustylist. Namun, dengan istrinya sendiri malah dingin.
"Jam sepagi ini kamu udah mau kerja, Mas?" tanya Kirana yang mulai menginterogasi suami yang sebenarnya memang tampan. Suami yang sedang lahap memakan sarapan buatan Kirana.
"Iya dong, suami idaman harus kerja sepagi mungkin dan tepat waktu. Ada berbagai tugas yang harus diselesaikan juga. Jika nanti sudah masuk kerja, tinggal lanjutin tugas dari Pak Direktur," jawab Jansen yang selalu membanggakan dirinya sendiri dan pekerjaannya.
"Yasudah, sarapannya dihabiskan. Eh, nanti Mas Jansen dibawain bekal nggak?"
Seperti biasa, sebelum Jansen bekerja, Kirana menanyakan tentang bekal makanan yang dibawa suami. Wanita itu tidak mau suaminya sakit gara-gara makan tidak sehat di luar kantor.
"Hari ini tidak perlu, karena di kantor sudah diadakan makan siang bersama. Ada yang bertugas memasak di dapur. Aku mau berangkat dulu. Kamu tidak perlu mengantar aku sampai keluar karena aku nggak mau kamu menjadi istri lebay! Untuk sampai saat ini, kamu tidak bisa mencuri hati aku!" tegas Jansen dengan percaya diri. Seakan-akan, Jansen tahu isi hati Kirana.
"Mas, kamu kok berpikiran negatif begitu sama aku? Aku itu lakuin ini semua hanya sebatas ...."
"Sebatas apa? Sudah jangan ditunda. Aku nggak mau dengar penjelasanmu! Intinya, jangan antar aku sampai luar gerbang sana, mengerti!" jawab Jansen dengan nada angkuh. Setelahnya, ia berdiri untuk segera berangkat kerja.
Jansen beringsut menuju garasi mobilnya tanpa pamitan dengan sang istri. Tidak lama, mobil pribadi berwarna silver keluar dari gerbang rumah bergaya elit tersebut.
Kirana berdiri di samping pintu depan sambil menahan perih hati. "Kenapa kamu angkuh denganku, Mas? Apa salahku? Bukankah, di depan penghulu dulu, kamu akan bilang perhatian dan sayang denganku? Janjimu itu hanya topeng di depan khalayak umum agar semua keluarga memujimu!" ujar Kirana lirih. Secara refleks, bulir bening meleleh dari pipinya karena tidak tahan menahan perih jantung karena sikap suami yang angkuh.
Jika waktu bisa mundur, Kirana tidak mau menikah dengan pria pilihan orang taunya. Beberapa tahun menikah terasa manis, kini menginjak tiga tahun terakhir, sikap aslinya muncul. Nasi sudah menjadi bubur. Hanya hampa, kesepian dan perih yang ia rasakan saat itu. Burung pun urung ikut berkicau karena melihat kesedihan mendalam yang dialami Kirana.

Ayu Sekti
56 Pengikut · 2 Novel