Malam yang sunyi dengan bintang-bintang yang bertaburan di atas langit. Di sebuah gunung berdiri sebuah pondok yang cukup besar, yang terbuat dari bambu. Di dalam halaman pondok itu terlihat seorang pemuda yang sangat tampan, dengan kulitnya yang putih, hidungnya yang mancung dan juga tubuhnya yang tinggi. Pemuda itu terlihat sedang sangat fokus melakukan meditasi di atas sebuah batu besar yang terdapat di depan halaman pondok itu.
Di saat pemuda itu masih terlihat sangat fokus, tiba-tiba ia dihampiri oleh seorang pria tua memakai kaos polos berwarna putih, dengan celana pendek yang senada serta membawa tongkat.
"Kencana buka matamu, Nak. Kita akhiri meditasi kita hari ini," ujar pria tua itu kepada sang pemuda.
Pemuda yang bernama Kencana itu langsung membuka matanya dan menyudahi meditasinya, dan bertanya kepada sang kakek.
"Kakek, kenapa kakek menyuruh aku untuk mengakhiri meditasiku? Padahal, aku kan sedang fokus sekali melakukannya," tanya Kencana yang langsung memasang wajah masam ke arah kakek itu.
Pria tua yang dipanggil kakek oleh Kencana hanya bisa tertawa saja, karena melihat wajah Kencana yang cemberut ke arahnya itu. Sang kakek memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Kencana, ia lebih memilih untuk masuk ke dalam pondok dan duduk di salah satu kursi kecil yang berada di dalam pondok tersebut.
Kencana yang tidak mendapatkan jawaban dari kakeknya dan malah melihat sang kakek yang duduk dengan tenang di dalam pondok, hanya bisa mengembuskan napasnya saja sebelum akhirnya ia memilih untuk ikut masuk ke dalam pondok, dan duduk di bangku kecil yang terletak di samping kakeknya. Setelah Kencana masuk ke dalam pondok dan duduk di sampingnya, kakeknya itu akhirnya bertanya kepada Kencana.
"Nak sekarang usiamu sudah 18 tahun, itu tandanya kekuatan yang berada di dalam tubuhmu sudah saatnya untuk di buka, apakah kamu sudah siap, Nak?" Sang kakek bertanya kepada Kencana sambil tersenyum teduh.
Kencana yang mendapatkan pertanyaan itu dari kakeknya terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk dengan mantap. Kakeknya yang melihat Kencana sudah siap akhirnya menyuruh Kencana untuk duduk bersila di lantai, setelah itu kakeknya duduk bersila di belakangnya dan memulai ritual untuk membuka segel-segel yang menutupi aliran kekuatan yang berada di dalam tubuh Kencana.
Saat sedang proses pembukaan seluruh segel, tubuh Kencana bergetar cukup kuat, lalu tidak lama kemudian Kencana merasakan tubuhnya seperti terbakar. Namun, rasa terbakar itu menghilang dengan cepat dan tergantikan dengan rasa hangat di sekujur tubuhnya.
Setelah proses pembukaan seluruh segel selesai, sang kakek berdiri dan berjalan menuju ke dalam kamar. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya sang kakek kembali ke ruang tamu tempat Kencana berada sambil membawa sebuah pedang, kemudian sang kakek duduk di samping Kencana, dan dirinya menyerahkan pedang yang ia bawa kepada Kencana.
Kencana yang diberi pedang oleh sang kakek sangat terkejut dan juga dirinya enggan untuk menerimanya.
"Kakek, kenapa Kakek memberikan pedang milik Kakek kepadaku?" tanya Kencana yang terlihat sangat kebingungan.
"Ini sebenarnya bukan pedang milik kakek, tapi milik kamu, hanya saja kakek yang rawat dan simpan selama ini, sambil menunggu kamu hingga usia 18 tahun. Saat ini kamu sudah berusia 18 tahun, itu berarti sudah saatnya kakek memberikan pedang ini," ujar sang kakek.
Kencana akhirnya menerima pedang itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu setelah itu ia mengecek pedang itu dengan teliti. Namun, saat ia membolak-balikkan pedang itu tiba-tiba saja di depannya muncul sebuah cahaya berwarna putih yang kemudian berubah menjadi sosok seorang wanita muda yang sangat cantik memakai pakaian kerajaan berwarna ungu dengan hiasan kepala yang seperti mahkota di kepalanya. Sosok itu kemudian menundukkan kepalanya dengan hormat ke arah Kencana.
"Salam anak muda, perkenalkan nama saya adalah putri Widari, mulai hari ini aku akan selalu mengikutimu," ujar sosok itu yang bernama Widari.
Kencana yang melihat sosok itu menunduk hormat ke arahnya, hanya terbengong dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Di saat Kencana masih bengong, sang kakek akhirnya berkata kepada sosok itu.
"Widari tugasku sudah selesai, sekarang kamu bisa melindungi tuanmu," ucap kakek Kencana.
"Terima kasih Cahyo, kamu telah menepati janjimu kepadaku, saat ini aku bisa melindungi keturunan terpilih dari Raden Jaya Mandala," ucap sosok itu yang kemudian berubah kembali menjadi titik cahaya berwarna putih dan masuk ke dalam pedang yang berada di genggaman tangan Kencana.
Setelah kejadian itu, sang kakek mengajak Kencana untuk masuk ke dalam kamar, lalu tidur karena waktu telah memasuki tengah malam.
"Nak, ayo kita masuk ke dalam, sekarang sudah larut malam. Sebaiknya kita pergi tidur," ujar kakeknya yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju ke kamarnya.
Kencana yang sebelumnya masih bengong dan terpaku di tempatnya duduk, kini dirinya langsung berdiri dan bergegas menuju ke dalam kamarnya. Namun, saat ia hendak membuka pintu kamarnya tiba-tiba dirinya dihadang oleh kakeknya.
"Tunggu, Kencana. Kakek ingin memberitahumu sesuatu yang penting, karena kamu sudah memiliki pedang Cakrabumi, jadi gunakanlah pedang itu untuk menolong orang lain, dan jangan sampai pedang itu jatuh ke tangan orang yang salah. Jika hal itu terjadi, maka akan menimbulkan sebuah malapetaka, apa kamu paham, Nak?" tanya sang kakek, setelah dirinya memberitahu Kencana panjang lebar.
"Kencana paham, Kek. Kencana akan menjaga pedang ini dengan sebaik-baiknya," jawab Kencana dengan penuh semangat.
"Ya sudah kalau begitu, kamu masuklah ke dalam kamarmu. Jangan lupa besok kamu harus bangun pagi," ujar sang kakek, yang kemudian dirinya masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Kakeknya masuk ke dalam kamar, Kencana langsung masuk ke dalam kamarnya juga. Ia mengunci pintunya dari dalam, setelah itu barulah merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai terlelap tidur.