


oleh Tris Riyana · 58 Bab
Dalila bukan wanita biasa. Tanpa ragu, dia mengembalikan sang suami pada orang tuanya. Bukan karena dia lemah, tapi karena dia cukup kuat untuk memilih jalannya sendiri. Selama ini, wanita kerap dicap tak berdaya, selalu bergantung pada suami, harus bertahan meski terluka. Akan tetapi, Dalila menolak tunduk pada stigma masyarakat tersebut. Dia tahu keputusannya akan mengundang banyak pertanyaan, bahkan cibiran. Itu tidak membuatnya goyah. Bagi Dalila, hidup adalah tentang sebuah pilihan. Dia memilih untuk berdiri tegak, menghadapi orang-orang yang berusaha mengguncang prinsipnya, bahkan suaminya sendiri. Apakah keputusan Dalila itu akan membawanya pada bahagia?
“Mas, akan lebih baik jika kamu pulang saja ke rumah orang tuamu hari ini," ujar seorang wanita bernama Dalila, dengan posisi membelakangi sang suami yang saat ini sedang duduk diam di sebuah kursi roda, karena kecelakaan besar yang ia alami beberapa waktu lalu.
Wanita berhijab itu tampak tidak ingin tahu bagaimana respons dan ekspresi wajah suaminya sekarang. Terlihat, pria itu sedang bingung atau mungkin kesal. Namun, sungguh Dalila tak peduli dengan apa yang akan suaminya pikirkan.
Kemudian, wanita itu langsung bangkit, ia mengambil sebuah koper di atas lemari dan mulai mengemasi pakaian milik Hamzah-suaminya, lalu mulai memasukkannya satu per satu.
Semua baju Hamzah, tanpa terkecuali ia masukkan. Bahkan, di sisi lemari bagian Hamzah, sudah tak disisakan barang pribadi milik pria itu.
Dua koper dan satu tas kecil berisi parfum juga minyak rambut, serta barang pribadi milik Hamzah sudah dikemasi. Kemudian, Dalila mendekatinya dan sedikit tersenyum. Senyuman yang ia paksakan, tentu saja.
“Aku tidak akan meminta maaf, karena kurasa semuanya akan sia-sia saja. Jadi, suka atau tidak, kamu harus terima semuanya," katanya lirih dengan nada suara yang datar.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu dan rumah ini," ucap pria itu tiba-tiba, membuat sang istri tertawa. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan. Namun, Dalila tidak akan lagi peduli dengan apa yang ingin Hamzah katakan.
Lalu, wanita itu mendorong kursi roda Hamzah dan membawanya keluar dari kamar. Namun, saat belum sempat pintu terbuka, tangan kanan Hamzah justru memeganginya dengan erat. Kemudian, Dalila menatap kedua matanya yang sudah memerah. Hamzah menangis, tapi ia tidak boleh terpancing dengan itu semua.
"Dengarkan Mas, Dalila ...."
"Bicaralah, Mas," sahutnya mempersilakan, meski sejujurnya ia sudah muak pada sang suami. Bukan masalah juga memberikannya kesempatan untuk bicara, setidaknya sebentar saja, begitulah yang Dalila pikirkan.
"Kita bisa mulai semuanya dari awal. Kita akan mengusahakan semuanya. Mas akan …."
"Jika hanya itu yang ingin Mas katakan, aku sudah tidak ingin mendengarnya. Lebih baik, Mas simpan saja semuanya. Aku sudah cukup selama ini bertahan denganmu. Hari ini, aku sudah lelah. Akan lebih baik jika Mas kembali saja ke rumah orang tuamu, Mas."
Hamzah mulai terisak, tapi sekali lagi Dalila tidak peduli. Baiklah, Dalila akan membiarkan Hamzah dan menunggu sampai tangisannya reda.
Dalila akan memberi Hamzah waktu beberapa menit dan memilih untuk berdiri di balkon kamarnya saja. Ya, ia cukup menikmati suasana di tempat itu untuk mengusir segala hal yang mengganggunya, seperti sekarang ini.
Kemudian, tanpa aba-aba, sebuah tangan kembali memegang lengan Dalila. Itu Hamzah, ia melakukan hal yang sama seperti beberapa saat lalu. Wajahnya penuh iba, seolah ingin sang istri mengasihani dirinya.
"Apa yang Mas lakukan?" tukas Dalila sambil melepaskan tangannya cukup keras.
"Mas tidak ingin kita berpisah," ucap Hamzah lagi-lagi dengan kalimat yang sama. Dalila sudah muak, tapi Hamzah sepertinya tidak jera juga.
Wanita itu kemudian menarik napas cukup dalam dan mengembuskannya kasar.
"Aku sudah memutuskan dan memikirkannya cukup lama, Mas. Bukankah seharusnya lima tahun cukup untukmu memahamiku? Tapi, apa itu? Kamu gagal, selalu gagal dan malah membuatku terpaksa mengubah banyak hal."
"Tapi, kita menikah karena cinta, 'kan? Apakah semudah itu cintamu hilang?" tanyanya membuat Dalila semakin geram. Kemudian, ia mencengkram keras kerah baju Hamzah. Mata Dalila melebar dengan wajah yang memerah, ia marah pada Hamzah.
"Cinta yang mana maksudmu, Mas?"
"Cinta yang selalu ada di antara kita. Aku yakin cinta itu tidak akan mudah hilang darimu. Aku yakin kamu masih mencintaiku, Dalila," sahutnya masih belum jera dan semakin membuat amarah sang istri pecah.
Dalila benar-benar geram dan ingin rasanya mendaratkan satu pukulan di wajah Hamzah saat ini juga. Namun, urung ia lakukan sebab masih tahu batasan.
"Pulanglah ke rumah orang tuamu, Mas! Aku sudah tidak ingin melihatmu atau mendengar suaramu! Ada saatnya di mana aku juga bisa muak, Mas Hamzah," ucapnya, langsung menarik kursi roda Hamzah dan membawanya keluar dari kamar. Akan lebih baik jika ia cepat pergi saja dari rumah ini.
Walaupun Hamzah berusaha memberontak, Dalila terus membawanya masuk ke dalam lift menuju lantai satu rumah mereka.
Saat sudah sampai di lantai dasar, kedua matanya mengedar mencari seseorang yang bisa ia mintai bantuan, untuk mengantar Hamzah ke rumah orang tuanya. Alasannya, ia juga tidak ingin pergi ke rumah mertuanya itu.
“Pak Yono!” seru Dalila memangggil seorang pria paruh baya yang juga sopir pribadinya dan Hamzah selama ini.
Tanpa butuh waktu yang lama, pria itu sudah datang, dengan senyuman mengembang ia menyapanya.
“Pagi, Non Dalila. Ada yang bisa saya bantu?”
Dalila tahu Pak Yono akan bertanya seperti itu sebab hari ini libur. Jadi, biasanya ia tidak pergi dengan seorang sopir jika akhir pekan seperti ini.
“Bapak tidak sibuk, ‘kan?” tanyanya yang dijawab dengan gelengan cepat oleh pria tua itu.
“Tidak, Non. Ke mana pun Non Dalila dan Tuan Hamzah pergi, saya siap antarkan.”
Dalila kemudian kembali mendorong kursi roda Hamzah, lalu meminta Pak Yono membawanya.
“Antarkan Pak Hamzah ke rumah orang tuanya ya, Pak,” pintanya menimbulkan respons kaget dari Pak Yono. Dia tahu hanya dari ekspresi wajah pria itu.
“Non Dalila juga ikut?”
Dari pertanyaan yang Pak Yono ajukan, Dalila paham jika lelaki itu belum tahu niat yang sudah bulat ia putuskan. Ya, lagi pula ini adalah keputusan sepihak yang dirinya ambil. Hamzah saja terkejut, seolah tak menyangka, jika istrinya itu cukup berani melakukan hal yang selama ini mungkin ia anggap mustahil.
“Tidak, Pak. Mas Hamzah hanya sendiri,” jawab Dalila dengan senyuman kecut.
“Oh ... seperti itu. Baik, Non,” ucap Pak Yono yang sudah mengambil alih kursi roda milik Hamzah.
"Tidak, Pak. Saya tidak akan ke mana-mana," sambar Hamzah mencoba menghentikan Pak Yono. Namun, dengan segera Dalila menjauh, agar Hamzah tak dapat lagi mengatakan sepatah kata pun padanya.
“Sekalian dua koper yang ada di kamar, ya Pak,” titah Dalila kemudian, yang diangguki oleh pria setengah baya itu.
Meski sedikit bingung dengan apa yang terjadi, Pak Yono masih tetap menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada pertanyaan lagi pada Dalila.
"Pak, saya juga Tuan rumah di sini!” tukas Hamzah pada Pak Yono yang masih terdengar jelas di telinga Dalila. Sepertinya ia masih mencoba keras agar tak keluar dari rumah itu.
"Saya hanya menjalankan tugas dari Non Dalila, Tuan. Maafkan saya."
Pak Yono memang dapat diandalkan dan merupakan orang kepercayaan keluarga Dalila, bahkan sejak almarhum sang papa masih ada dulu.
"Dalila! Kita harus memperbaiki semuanya. Perpisahan ini tidak akan baik untuk kita dan Mas masih mencintai kamu!"
Wanita itu sudah benar-benar tidak ingin peduli lagi dengan apa pun yang Hamzah katakan. Persetan jika ia ingin memperbaiki semuanya. Ia sudah tidak mau. Tentang cinta, itu hanya lelucon yang kapan pun bisa berubah. Begitu juga dengannya saat ini. Sudah tidak ada lagi cinta untuk Hamzah di dalam hubungan mereka. Semua telah ia akhiri dengan atau tidak adanya penolakan sang suami.

Tris Riyana
9 Pengikut · 1 Novel