


oleh Tya Oline · 115 Bab
Larasati, putri salah satu adipati di tanah Jawa. Tragedi menyakitkan yang merenggut nyawa keluarga dan rakyatnya, membuat dirinya murka. Ditambah dengan fakta, ternyata kesucian yang dia jaga justru telah direnggut oleh Prabu Rancasena. Kutukan pun terucap. Amarahnya membuat Larasati memilih untuk melenyapkan dirinya sendiri. Kesaktiannya dia gunakan. Dia pun lenyap tanpa meninggalkan jejak. Hanya kutukan pada Prabu Rancasena dan keturunannya yang bergema. Kutukan apa yang Larasati ucapkan? Akankah dendam itu terwujud? Ataukah justru sebaliknya?
Desir angin menyapu wajah Larasati. Hawa dingin yang menyusup menembus kulit, tak membuatnya menyurutkan tekad untuk terus memacu kuda hitam miliknya. Semakin jauh dia menembus medan, keluar dari batas perkampungan.
'Lekaslah pulang, Nduk. Romomu dan kami di sini sedang tidak baik-baik saja.'
Pesan yang tertulis pada sehelai daun lontar dan dia terima dari salah satu abdi dalem, membuatnya berpacu dengan jarak dan waktu.
"Lebih cepat, Sembrani. Aku harus segera membantu Romo di kadipaten sana," ucap Larasati sembari menepuk kepala kudanya.
Seperti paham dengan kegelisahan pemiliknya, kuda hitam dengan nama Sembrani itu meringkik, lalu kembali berlari kencang mengentak-entak tubuh penunggangnya.
"Bagus, Sembrani. Kita harus sampai sana sebelum arunika menyapa jagat." Larasati tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada kekang kuda.
Sembrani mendadak berhenti berlari saat mereka sampai di lereng bukit, nyaris memasuki perbatasan kadipaten tempat orang tua Larasati tinggal dan memimpin wilayah.
"Ada apa, Brani? Apa kau melihat sesuatu?" Larasati yang tadi nyaris terpelanting dari punggung kudanya, langsung bertanya dan mengedarkan pandangan menyapu sekitar.
Walaupun alam masih diselimuti gulita, mata tajam gadis dengan kemben kuning dan celana sebatas lutut berbahan kain jarik itu, mampu menangkap gerakan-gerakan kecil dari balik rimbunnya semak belukar.
"Siapa kalian? Jangan jadi pengecut dengan mengendap-endap dan menyerang dari belakang!" teriak Larasati tanpa mengurangi sikap siaga.
Srak!
"Hahaha, ternyata matamu cukup tajam, Cah Ayu. Mau ke mana, Nduk? Sepertinya, kau cukup liar jika kujadikan pemuasku."
Pria yang mengenakan ikat kepala, celana hitam dan pakaian terbuka di bagian dada itu menyeringai buas. Matanya menatap liar pada tubuh molek Larasati yang masih berada di punggung kudanya.
"Tutup mulut kotormu, Gadong. Sampai mati pun, tidak sudi aku menjadi budak nafsumu!" Larasati berseru marah.
"Percuma kau menolakku, Nduk. Apa kau ingin bernasib sama seperti orang tua dan kadipaten milikmu?" Gadong, pria berwajah buruk dengan codet di dekat dagu itu tersenyum mengejek.
"Apa maksudmu? Kau ...." Larasati terkesiap. Barulah dia ingat tujuannya melakukan perjalanan malam itu.
Secepat kilat, Larasati mengibaskan tangannya. Dari gerakannya itu, melesat cahaya kebiruan yang langsung menerjang Gadong dan tiga pengikutnya.
Tepat saat cahaya biru itu menyentuh tanah, sekitar tempat tersebut semakin kelam dan penuh kabut. Saat itulah Larasati melesat dengan Sembrani dan meninggalkan Gadong yang kesulitan melihat sekeliling.
"Kurang ajar! Licik juga bocah ingusan itu. Cepat kejar dia. Jangan sampai dia mendapatkan bantuan!" seru Gadong pada pengikutnya.
"Kami tidak bisa melihat apa pun, Ki. Cahaya milik gadis itu membuat kami terasa seperti buta." Pengikut Gadong berkata sambil terus berusaha menghindari cahaya yang menyebarkan kabut tersebut.
"Bodoh kalian! Percuma aku mengandalkan kalian bertiga!" Gadong semakin marah. Dia terus saja mengerahkan tenaga dalam untuk melenyapkan kabut buatan Larasati.
'Kau sendiri saja tidak mampu menghalau kabut ini, Ki. Seenaknya saja memaki kami.' Salah satu pengikutnya berbicara dalam hati karena kesal oleh perkataan ketuanya.
Bugh!
Pria itu terhuyung ke samping ketika sebuah pukulan kencang mengenai dadanya. Dia meringis menahan sakit, berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya yang nyaris roboh.
"Sekali lagi ada yang menyumpahiku, tidak akan kuampuni!" Gadong melesat ke arah perginya Larasati setelah mampu mengikis kabut di sekitarnya.
***
Sampai di gerbang kadipaten, Larasati termangu. Pemandangan mengerikan tersuguh di depannya.
Api sudah melahap hampir seluruh wilayah desa dan istana kadipaten. Mayat-mayat bergelimpangan di hampir semua tempat. Rakyatnya menjadi korban keganasan Gadong dan semua pengikutnya.
"Romo, Kanjeng Ibu!" Larasati berteriak. Gadis dengan rambut terurai dan hanya menyanggul rambut atasnya itu, berlari kencang menuju bangunan terbesar yang sudah nyaris rata dengan tanah.
Bak kesetanan, dia mendekati bangunan yang menyisakan puing-puing hitam dan asap yang masih mengepul di beberapa bagian.
"Romo, Kanjeng Ibu!" Teriakan gadis berkulit halus itu hanyalah mendapat jawaban dari gemeretak kayu yang remuk terbakar.
"Mbok Rami, kalian semua di mana?" Seruan yang dibarengi isakan terus saja bergema di reruntuhan.
Arunika sudah mulai menyapa. Larasati masih terus berjalan ke sana-sini memeriksa reruntuhan dan juga taman keputren yang sudah porak-poranda.
"Nduk." Satu panggilan pelan menyeruak masuk menembus pendengaran Larasati.
"Kanjeng Ibu," gumam Larasati sambil terus mencari asal suara yang tersendat tersebut.
Ketika berada di bawah reruntuhan bekas istal kuda, dia mendapati dua sosok tubuh tergeletak bersimbah darah dengan beberapa anak panah menancap di punggung. Pakaian wanita itu tidak lagi tampak keindahannya. Semua berlumur cairan merah yang nyaris kering.
"Kanjeng Ibu, Mbok Rami. Ya Gusti, maafkan aku. Maaf karena terlambat."
Tangisan Larasati tak lagi terbendung. Tubuh ibunya terkulai di pelukannya setelah meregang nyawa. Sementara Mbok Rami, dia sudah terlebih dahulu mengembuskan napas setelah melihat wajah anak asuhnya.
Larasati meletakkan jasad ibundanya ke tanah. Wajahnya mengeras dengan sorot mata penuh kobaran api kemarahan. Betapa tidak, satu nama yang disebutkan sang ibunda sebelum kematian, mampu menghapus semua rasa hormat dalam dirinya.
"Aku akan membalaskan dendam kalian. Rakyat dan juga keluarga kadipaten, aku bersumpah akan menuntut balas kematian kalian semua."
Baru saja Larasati menyelesaikan sumpah, desingan suara anak panah mendekati dirinya. Larasati yang tengah berduka, kehilangan kewaspadaan.
Sret!
Bagian ujung anak panah yang cukup tajam, mengenai bahu kanannya, tepat ketika dia berusaha menghindari serangan.
Berniat membalas, pandangan mata Larasati mengabur. Sendinya lemas seolah tak lagi bertulang. Dia pun ambruk ke tanah basah dan menatap nyalang pada rombongan yang berjalan mendekat.
"Bawa dia pulang ke kadipaten. Pastikan dia mendapat perawatan dari tabib terbaik."

Tya Oline
103 Pengikut · 7 Novel