Suara denging tipis dari senar bass terbang milik Fikri berpadu lambat dengan ketukan keprak yang saling berkejaran. Di sudut ruang sekretariat berukuran empat kali enam meter itu, hawa pengap sisa hujan sore tadi masih terasa matang. Dua belas personel tim hadrah Syauqul Qulub duduk melingkar di atas karpet hijau yang mulai menipis bulunya.
Di tengah lingkaran, Arkan Al-Ghifari memeluk terbang utamanya dengan lutut tegak bertumpu. Jari-jemarinya yang panjang bergerak lincah, memukul kulit hewan pada rebana itu hingga menghasilkan ketukan hadrah yang tegas dan cepat. Ritme yang dibawakannya malam ini terasa berapi-api seperti terlalu berenergi, bahkan cenderung memburu tempo.
"Tunggu, Ar! Kecepatan!" Fikri mendadak menghentikan petikan jemarinya pada senar bass, lalu menepuk pundak Arkan menggunakan punggung tangan. "Ini selawat, bukan baris-berbaris. Temponya lari semua."
Arkan menghentikan ketukannya secara mendadak. Suara gemerincing logam di pinggiran rebananya perlahan mati. Pria berusia dua puluh dua tahun itu mengembuskan napas berat, menyeka bulir keringat yang meluncur dari pelipis menuju rahang tegasnya.
"Kita cuma punya waktu tiga minggu sebelum kompetisi wilayah, Fik," sahut Arkan datar. Suaranya terdengar serak, sarat akan tekanan. Ia meletakkan rebananya ke lantai dengan ketukan sedikit menghentak, mencerminkan isi kepalanya yang sedang kusut. "Kalau ketukan kita masih selemah ini, juri bahkan enggak bakal melirik syiar kita."
"Memaksa anak-anak menabuh secepat ini juga bukan solusi," timpal Fikri tenang. Pria berkacamata itu membenahi posisi duduk silangnya, mencoba meredam ketegangan. "Kita butuh keselarasan, bukan kepanikan."
Sebelum Arkan sempat membalas, pintu kayu sekretariat yang berderit nyaring terbuka kasar. Sosok Danu, vokalis utama mereka, berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah yang pias. Jaket organisasi Syauqul Qulub yang biasa ia kenakan dengan bangga, malam ini hanya tersampir lesu di lengan kirinya.
Arkan langsung berdiri dari duduknya, melangkah dua kali mendekati Danu. "Danu? Ke mana saja kamu? Kita sudah telat latihan tiga puluh menit!" serunya tanpa basa-basi.
Danu tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, lalu meletakkan sebuah map plastik bening di atas meja administrasi dekat pintu. Tangannya gemetar samar saat ia menatap Arkan dengan pandangan penuh rasa bersalah.
"Ar ... Fik, aku minta maaf." Suara Danu tercekat di tenggorokan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya yang terasa amat berat. "Aku harus mundur dari tim. Besok pagi, aku harus ikut orang tuaku pindah domisili ke Surabaya karena urusan keluarga yang tidak bisa ditunda."
Keheningan seketika menyergap ruangan. Suara tawa kecil dari beberapa personel di sudut belakang langsung lenyap. Fikri terperangah hingga mulutnya sedikit terbuka, sementara Arkan mematung dengan tatapan mata yang menggelap.
"Mundur?" Arkan mengulang kata itu dengan nada sangsi. Ia tertawa hambar, melangkah maju hingga jaraknya dengan Danu hanya tersisa satu meter. "Tiga minggu sebelum kompetisi wilayah, Danu! Kamu bercanda, kan?"
"Aku serius, Ar. Surat pengunduran diri resmiku sudah ada di dalam map itu." Danu menunjuk meja dengan dagunya, tidak berani menatap langsung sepasang mata Arkan yang kini mulai memerah akibat amarah yang tertahan. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak punya pilihan lain."
"Pilihan lain katanya?" Arkan mencengkeram kerah jaketnya sendiri, menahan diri agar tidak melakukan tindakan gegabah. Dadanya naik-turun dengan cepat. Luka lama di kepalanya tentang penolakan, tentang ditinggalkan secara mendadak, seakan tergores kembali oleh situasi ini. "Kamu yang paling tahu kalau seluruh aransemen vokal kompetisi ini dibuat khusus untuk karakter suaramu! Dan sekarang kamu pergi begitu saja?"
"Ar, tenang dulu!" Fikri bergegas bangkit, menyisipkan tubuhnya di antara Arkan dan Danu. Ia memegang kedua pundak Arkan, merasakan tubuh sahabatnya itu mengeras tegang seperti batu. "Jangan pakai urat. Danu juga sedang kena musibah urusan keluarga."
Danu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan aku, semuanya. Semoga kalian bisa menemukan penggantiku secepatnya. Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban, Danu berbalik dan melangkah cepat keluar, meninggalkan suara langkah sepatu yang menjauh di lorong kampus yang sepi.
"Waalaikumussalam," gumam Fikri lirih.
Arkan berbalik memunggungi pintu, lalu melayangkan satu tendangan keras ke arah sebuah kursi plastik kosong di dekatnya.
Prang!
Kursi itu terjungkal dan menghantam dinding, menimbulkan suara gaduh yang membuat beberapa anggota tim hadroh yang lebih muda tersentak kaget.
"Arkan, jaga sikapmu!" tegur Fikri dengan nada yang mulai meninggi. "Mengamuk tidak akan mengembalikan Danu ke sini!"
Arkan tidak bergeming. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan, menatap nanar ke arah lantai karpet. Pikirannya berputar liar. Nama baik organisasi Syauqul Qulub yang dibangunnya dengan susah payah terancam hancur. Ego dan rasa takut akan kegagalan membakar dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa.
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Anak-anak tim terbang dan keprak hanya bisa saling pandang, tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara atau sekadar membenarkan posisi duduk mereka.
Setelah dua menit yang mencekam, Arkan perlahan menurunkan tangannya. Ia berbalik menatap Fikri, dengan tatapan mata yang kini berubah menjadi dingin dan tajam. Keputusasaan telah berganti menjadi ketetapan hati yang keras kepala.
Matanya menatap ke semua personil yang hadur. "Aku minta maaf kepada kalian semua atas sikapku tadi." Ia kemudian melirik ke arah Fikri. "Kumpulkan semua pengurus inti malam ini juga," perintah Arkan, suaranya terdengar mutlak dan tak terbantahkan. Ia berjalan menuju mejanya, mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pena.
Fikri mengernyitkan dahi. "Mau bikin rencana apa lagi kamu, Ar?"
Arkan menoleh sedikit, melirik Fikri dari sudut matanya sebelum menggoreskan pena dengan tekanan kuat di atas kertas. "Kita tidak punya waktu untuk meratapi Danu. Besok pagi, tempel pengumuman di seluruh mading kampus dan bagikan di media sosial."
Ia membalikkan kertas itu ke arah Fikri. Di atasnya, tertulis beberapa kata dengan huruf kapital yang tebal: AUDISI KILAT VOKALIS UTAMA SYAUQUL QULUB.
"Kita adakan audisi terbuka sampai lusa," tegas Arkan sembari merapikan letak terbang di tangannya. "Siapa pun dia, mahasiswa baru atau lama, perempuan atau laki-laki, asal suaranya bisa menyelamatkan tim ini dari kehancuran, akan kita ambil. Syauqul Qulub tidak boleh kalah sebelum bertanding."