"Tersenyumlah, Isabella. Kau bukan sedang menghadiri pemakaman, ini adalah perayaan kemenangan keluarga kita," bisik Baron Valerius, suaranya sekeras gesekan belati di atas batu asah.
Isabella menarik napas panjang, memaksakan sudut bibirnya terangkat meski hanya beberapa milimeter.
"Aku tersenyum, Ayah. Hanya saja, gaun ini terlalu sesak untuk membuatku bernapas lega."
"Bukan gaunnya yang sesak, tapi pikiranmu yang terlalu liar," sahut sang ayah tanpa menoleh, matanya sibuk memindai kerumunan bangsawan dan sekutu yang memenuhi aula.
“Ingat siapa dirimu. Kau adalah seorang Valerius. Setiap mata di ruangan ini sedang menilai harga dirimu. Jangan buat aku malu dengan wajah murammu itu."
Isabella tidak membalas. Ia tahu betul bahwa dalam kamus ayahnya, seorang putri tak lebih dari sebuah aset diplomasi, permata yang dipajang untuk menunjukkan kemegahan, lalu ditukar dengan aliansi yang menguntungkan.
Musik orkestra mulai mengalun, memenuhi langit-langit aula yang dihiasi lukisan dinding tentang kejayaan leluhur mereka, tentu saja, lukisan yang mendegradasi musuh bebuyutan mereka, keluarga Montague, sebagai pecundang yang hina.
Isabella memandang lukisan itu dengan rasa jengah. Sejak kecil, ia dicekoki narasi kebencian. Setiap tetes darah yang tumpah di perbatasan, setiap kegagalan panen, bahkan cuaca buruk sekalipun, selalu dilemparkan sebagai kesalahan keluarga lawan.
"Dengar, Bella." Suara kakaknya, Julian, mendadak muncul di sisi kirinya. Ia memegang segelas anggur merah dengan gaya angkuh.
“Malam ini bukan hanya soal pesta. Ayah sedang mengamati siapa di antara para pria di bawah sana yang paling layak mendapatkanmu. Pastikan kau tidak berdansa dengan sembarang orang.”
"Aku bukan kuda pacuan yang sedang dilelang, Julian," desis Isabella tajam.
"Di dunia kita, kita semua adalah pion. Hanya saja, kau adalah pion yang memakai tiara. Nikmati sajalah. Setidaknya anggurnya mahal."
Isabella merasa mual. Ia butuh udara segar. Ia butuh ruang di mana ia tidak perlu mendengar nama keluarga atau rencana perjodohan.
Mengambil keuntungan saat ayahnya sedang sibuk berbincang dengan seorang jenderal, Isabella menyelinap turun dari podium. Ia bergerak lincah di antara kerumunan, menghindari sapaan basa-basi dari para nyonya bangsawan yang haus gosip.
Ia terus berjalan menuju koridor belakang, melewati deretan patung marmer yang seolah mengawasinya dengan pandangan menghakimi.
Isabella sampai di pintu kayu jati yang menuju ke taman belakang. Tanpa ragu, ia mendorongnya dan menghirup udara malam yang dingin dengan rakus.
Taman itu sangat luas, dipenuhi dengan labirin tanaman pangkas dan air mancur yang memancarkan air perak di bawah sinar rembulan. Namun, Isabella tidak berhenti di sana.
Ia terus berjalan menuju bagian paling belakang taman, di mana pagar besi tinggi memisahkan wilayah Valerius dengan hutan liar yang menjadi zona netral, atau yang lebih dikenal sebagai perbatasan berdarah dengan wilayah musuh.
Di sana, tradisi dan aturan terasa sedikit lebih longgar. Isabella sering menyelinap ke sana untuk melukis secara sembunyi-sembunyi, satu-satunya kegiatan yang membuatnya merasa benar-benar hidup.
Ia duduk di atas akar pohon besar yang melintasi batas pagar, membiarkan gaun mahalnya tersangkut semak-semak. Ia tidak peduli.
"Seharusnya seorang putri tidak berada di tempat segelap ini sendirian," sebuah suara bariton yang asing tiba-tiba memecah kesunyian.
Isabella terlonjak. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera berdiri dan meraba belati kecil yang selalu ia sembunyikan di balik korsetnya, sebuah kebiasaan yang diajarkan oleh rasa paranoid keluarganya.
"Siapa di sana?" tantang Isabella, berusaha menjaga suaranya agar tidak gemetar.
Seorang pria muncul dari balik bayang-bayang pepohonan di sisi luar pagar. Ia mengenakan pakaian perjalanan yang sederhana, tapi berkualitas tinggi, jauh dari kemewahan pesta yang baru saja ditinggalkan Isabella.
Rambutnya gelap, berantakan karena angin, dan matanya menatap Isabella dengan rasa ingin tahu yang tenang.
"Hanya seorang pengembara yang tersesat oleh cahaya bulan," ujar pria itu. Ia berhenti tepat di depan pagar besi yang memisahkan mereka. "Atau mungkin, seseorang yang juga sedang mencari pelarian dari keramaian yang menyesakkan."
Isabella menyipitkan mata. Pria ini tidak terlihat seperti prajurit perbatasan yang kasar, tapi ia juga tidak terlihat seperti bangsawan dari aliansi ayahnya.
"Kau tahu ini wilayah siapa? Jika penjaga menemukanku bicara dengan orang asing di sini, mereka tidak akan bertanya dulu sebelum menghunuskan pedang."
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus sekaligus berbahaya.
"Aku tahu risikonya, tapi melihatmu duduk di sini dengan wajah yang seolah-olah membawa beban seluruh kerajaan, kurasa risiko itu sepadan."
"Kau sangat lancang," ucap Isabella, meski ia tidak benar-benar merasa marah. Ada sesuatu pada pria ini, ketenangan, cara dia menatapnya seolah ia bukan sekadar 'Isabella sang Valerius', yang membuatnya terpaku.
"Kejujuran sering dianggap sebagai kelancangan oleh mereka yang terbiasa hidup dalam kebohongan," balas pria itu. Ia menyandarkan bahunya di pagar besi.
“Jadi, apa yang membuat seorang gadis cantik seperti kau lebih memilih kegelapan hutan daripada cahaya lilin pesta di atas sana?"
Isabella terdiam sejenak. Ia seharusnya berteriak memanggil penjaga. Ia seharusnya lari kembali ke aula. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang bertanya tentang perasaannya, bukan tentang kewajibannya.
"Tradisi," jawab Isabella singkat, suaranya kini melunak.
"Kadang-kadang, tradisi terasa seperti rantai yang dibungkus emas. Kau memakainya agar terlihat cantik, tapi kau tidak bisa bergerak ke mana pun kau mau."
Pria itu mengangguk paham.
"Aku mengerti. Aku menghabiskan seluruh hidupku mencoba memutus rantai serupa. Mereka ingin aku menjadi pedang, padahal aku hanya ingin menjadi tangan yang memegangnya dengan caraku sendiri."
Percakapan itu mengalir begitu saja. Selama hampir satu jam, mereka berbicara tentang mimpi-mimpi yang terkubur, tentang keindahan yang terabaikan, dan tentang betapa konyolnya kebencian yang diwariskan oleh leluhur.
Kedamaian itu pecah saat suara teriakan penjaga dan gonggongan anjing pelacak terdengar dari arah kediaman Valerius. Cahaya obor mulai menyambar-nyambar di kejauhan.
"Isabella! Di mana kau?!" Suara Julian menggelegar, terdengar lebih dekat dari sebelumnya.
Isabella pucat. "Aku harus pergi. Jika mereka melihatmu, kau akan dibunuh."
Pria itu berdiri tegak, wajahnya kembali waspada. "Sampai jumpa lagi, Gadis Hutan."
"Tunggu!" Isabella menahan langkahnya sejenak. "Siapa namamu?"
Pria itu ragu sesaat, lalu tersenyum misterius. "Panggil saja aku Sebastian, dan kau?"
"Isabella," sahutnya cepat sebelum berlari menjauh menuju semak-semak, berusaha kembali ke rute yang aman sebelum kakaknya menemukannya.
Isabella berhasil kembali ke teras belakang tepat saat Julian muncul dengan wajah merah padam. "Dari mana saja kau?! Ayah mencarimu ke mana-mana! Dia sudah memutuskan siapa yang akan berdansa denganmu malam ini."
Isabella tidak mendengarkan omelan kakaknya. Pikirannya masih tertinggal di pagar besi itu, pada mata pria bernama Sebastian itu. Ia mengikuti Julian kembali ke aula dengan perasaan aneh yang bergejolak di dadanya.
Di tengah aula, Baron Valerius berdiri dengan bangga di samping seorang pria tua bertubuh tambun yang mengenakan lencana keluarga sekutu. Namun, di tangan sang Baron, terdapat sebuah surat yang baru saja diantarkan oleh kurir rahasia. Wajah sang Baron yang tadinya sombong, kini berubah menjadi murka yang sangat dalam.
"Isabella! Kemari!" ayahnya berteriak, mengabaikan tamu-tamunya.
Isabella mendekat dengan gemetar. "Ada apa, Ayah?"
Sang Baron melemparkan surat itu ke lantai di depan kaki Isabella. "Seorang mata-mata baru saja kembali dari wilayah Montague. Mereka melaporkan bahwa putra mahkota mereka, Sebastian Montague, telah terlihat berkeliaran di dekat perbatasan kita malam ini untuk merencanakan serangan pengecut!"
Jantung Isabella seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Sebastian Montague?
"Yang lebih buruk lagi." Ayahnya mencengkeram rahang Isabella, matanya berkilat penuh kebencian.
"Seseorang melihat seorang wanita dengan gaun pesta keluarga Valerius sedang berbicara dengannya di pagar belakang. Katakan padaku, Isabella, siapa pengkhianat itu?!"
Isabella membeku, sementara seluruh mata di aula kini tertuju padanya dengan penuh curiga.