Di sela-sela aktivitasku sebagai penulis, aku
kadang terjebak dengan pertanyaan klasik yang sering kali membuat dahi berkerut
tegak lurus.
"Setelah ini, cerita tentang apa lagi
ya?"
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku
seperti lalat yang kehilangan arah. Menulis adalah caraku bernapas, tapi
belakangan ini, pasokan oksigen ide di kepalaku rasanya agak tersendat.
Aku memandangi layar laptop yang masih bersih
dari ketikan. Hanya ada kursor kelap-kelip yang seolah sedang mengejek
ketidakbisaanku malam ini.
Sebagai penulis digital, aku dituntut untuk
selalu peka dengan pasar. Namun, jujur saja, aku mulai jenuh. Cerita rumah
tangga yang penuh intrik pelakor dan mertua kejam? Menurutku itu terlalu drama
dan melelahkan untuk ditulis, apalagi untuk dijalani.
Kisah fiksi tentang CEO tampan, kaya raya, dan
dingin yang jatuh cinta pada gadis biasa? Ah, kupikir pembaca juga sudah mulai
bosan dengan kehidupan orang kaya yang kadang tidak sesuai dengan realitas.
Mana ada CEO di dunia nyata yang punya waktu
luang sebanyak itu hanya untuk mengejar cinta di jam kerja? Realitasnya, mereka
pasti sibuk rapat atau pusing memikirkan saham yang anjlok.
Di tengah kebuntuan itu, ketika keheningan
kamar mulai terasa mendominasi karena suamiku sibuk bekerja dan aku didera rasa
kurang perhatian, tiba-tiba sebuah kenangan lama berkelebat di benakku. Sebuah
ide liar mendadak melintas tanpa permisi.
"Bagaimana jika aku menceritakan kisah
cinta manis tentang diriku sendiri?"
Pikiran itu membuatku menegakkan posisi duduk.
Sial, ini cukup menarik. Kenapa aku harus repot-repot memeras otak menciptakan
karakter miliarder fiktif, kalau aku sendiri punya gudang cerita yang belum
pernah kubuka di depan pembaca?
Aku tersenyum sendiri. Untuk memahami
bagaimana aku bisa sampai di titik ini, kita harus mundur jauh ke belakang. Di
kampung tempatku tinggal nikah muda masih menjadi hal yang sangat umum terjadi.
Bagaimana tidak? Anak kelas empat SD saja
sudah punya status berpacaran. Mereka berjalan bergandengan tangan di pematang
sawah sepulang sekolah dengan bangga, seolah dunia sudah milik berdua.
Orang-orang dewasa menyebutnya cinta monyet.
Jika dipikir-pikir lagi, di usia yang masih berkisar antara 10-12 tahun, apakah
perasaan itu benar-benar bisa disebut sebagai cinta? Ataukah itu hanya
ketertarikan semata karena hormon yang baru mulai mekar, atau sekadar
ikut-ikutan tren biar tidak diledek "enggak laku" oleh teman sekelas?
Pada akhirnya, aku tidak bisa berpura-pura
suci. Aku menjadi bagian dari mereka. Aku resmi menceburkan diri ke dalam dunia
percintaan monyet ini saat semester pertama kelas enam SD.
Sejak hari itu, gerbang petualangan asmaraku
terbuka lebar. Disusul dengan rangkaian kisah cinta yang tak pernah bertahan
lama, bahkan sebagian besar tidak pernah lewat dari tiga bulan.
Ya, terdengar konyol dan sangat
kekanak-kanakan, tapi itulah faktanya. Aku tidak akan menutup-nutupinya lagi.
Aku, Elly, adalah seorang wanita dengan koleksi mantan yang barisannya mungkin
bisa menyamai panjang antrean sembako.
Kalau diingat-ingat lagi sekarang, isi museum
masa laluku itu sangat bervariasi. Koleksiku terbilang lengkap, dari yang
paling busuk sampai yang paling berkilau. Aku punya mantan yang masuk kategori
red flag berjalan, yang kerjaannya memanipulasi pikiran dan membuatku merasa
bersalah setiap saat.
Ada yang bertipe toksik, hobinya mengatur
warna baju hingga potongan rambutku. Jangan lupakan juga mantan yang matre,
kalau kencan dompetnya mendadak "tertinggal" di rumah, atau si tukang
selingkuh yang stok cadangan wanitanya ada di setiap kecamatan.
Aku juga pernah terjebak dalam hubungan tanpa
status alias TTM (Teman Tapi Mesra). Sebuah fase abu-abu paling melelahkan
karena aku punya cemburu yang sah, tapi tidak punya hak untuk marah.
Ada pula kisah melodrama ala sinetron di mana
hubunganku kandas total karena tidak direstui oleh orang tuanya yang memandang
bibit, bebet, dan bobot. Hubungan jarak jauh atau LDR yang modalnya cuma rasa
percaya dan kuota internet juga pernah kulalui. Lengkap dengan drama
putus-nyambung yang jumlahnya sudah seperti lagu diskografi grup K-pop.
Akan tetapi, tidak adil rasanya jika aku
menyebutkan bahwa semua mantanku berwujud monster. Di antara tumpukan patah
hati itu, aku juga pernah memiliki mantan yang sangat effort. Tipe pria idaman
yang selalu meratukanku, rela kehujanan demi mengantar martabak manis
kesukaanku, atau yang selalu siap siaga mendengarkan keluh kesahku tanpa pernah
menghakimi.
Mengingat mereka kadang membuat dadaku sedikit
menghangat oleh rasa nostalgia yang manis. Oh, jika daftar itu belum cukup
panjang untuk membuatmu geleng-geleng kepala, mari kita tambahkan satu fakta
lagi. Aku juga punya mantan suami, hahaha!
Sebuah status yang terdengar sangat berat
untuk wanita seusiaku, tapi itulah coretan takdir yang menjadikanku manusia
yang sekarang. Kalian pikir itu sudah semuanya? Tentu tidak. Koleksi mantanku
bahkan menembus batas dimensi realitas.
Di masa-masa sekolah dulu, demi mendapatkan
validasi dan pujian dari teman-temanku agar tidak dicap sebagai cewek kuper
yang kesepian, aku pernah dengan sengaja menciptakan mantan fiksi!
Aku mengarang cerita tentang sosok cowok
tampan, perhatian, dan misterius dari sekolah sebelah yang katanya sedang
mengejar-ngejar cintaku. Aku bahkan sampai niat membuat skenario palsu agar
teman-temanku berdecak kagum. Benar-benar sebuah usaha yang menggelikan kalau
diingat sekarang.
Kini, dengan jemari yang menggantung di atas
papan ketik, aku memandangi layar laptop sekali lagi. Rasa sepi yang tadi
menggelayut mendadak terusir oleh antusiasme yang membuncah. Kenangan-kenangan
manis, pahit, dan konyol itu berdesakan minta diringkas menjadi sebuah karya.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu
mengembuskannya perlahan. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan menulis
tentang CEO dingin atau drama rumah tangga yang menguras air mata malam ini.
Aku akan menulis tentang mereka. Tentang
barisan para pria yang pernah singgah, yang pernah membuatku menangis
bergulung-gulung di kasur, dan yang pernah membuatku tertawa sampai sakit
perut.
Aku akan membuka gerbang museum pribadiku dan
memamerkan koleksi mantanku kepada dunia. Mari kita mulai dari lembaran yang
paling berdebu. Pria pertama yang mengajariku arti kata "pacaran"
dengan cara yang paling absurd.
Jemariku mulai bergerak cepat. Mengetikkan
satu nama yang langsung memicu senyum geli di bibirku.
Taufik.
Aku jatuh cinta padanya sejak pandangan
pertama.
Pria itu adalah definisi cinta monyet yang
sangat harfiah. Tingginya biasa saja, bahkan aku lebih tinggi dari dia.
Kulitnya putih bersih, seperti terbiasa memakai skincare sejak lahir.
Entah kenapa, di mataku waktu itu dia tampak
bersinar seperti pemeran utama dalam drama ikan terbang. Aku masih ingat jelas
bagaimana semuanya bermula. Bukan dari momen romantis seperti di novel, bukan
juga karena dia menyatakan cinta sambil membawa bunga. Melainkan ....
"Satu biji permen 'kiss'." Tawa
kecil kembali lolos dari bibir mungilku.