


oleh Arunaya · 9 Bab
Ghea hidup dalam rumah tangga yang "mati", di mana orang tuanya tak lagi saling bicara. Di sisi lain ada Reza. Lelaki yang selalu merasa menjadi orang asing sejak ayahnya membangun keluarga baru. Keduanya dipertemukan oleh luka yang sama di atap menara air komplek pada tengah malam. Di tengah sunyinya malam, mereka saling berbagi beban yang tak bisa diceritakan di rumah. Namun, saat cinta mulai tumbuh, ego orang tua mengancam memisahkan mereka. Ini adalah kisah tentang dua remaja yang berusaha menemukan arti "pulang" ketika rumah mereka sendiri tak lagi terasa nyaman.
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen adalah satu-satunya musik di meja makan keluarga Ghea pagi ini. Tidak ada radio, tidak ada televisi, apalagi percakapan hangat.
Ayahnya sibuk menatap layar tablet, membaca berita saham seolah-olah angka-angka itu lebih menarik daripada wajah istri dan anaknya.
Sementara Ibu Ghea, duduk tegak dengan riasan wajah yang sudah sempurna padahal jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh, sibuk memotong roti bakarnya dengan presisi seperti seorang dokter bedah.
"Ghea, habiskan susunya. Kamu ada ujian sejarah hari ini, kan?" Suara Ibu Ghea memecah keheningan, datar juga dingin.
Ghea mengangguk tanpa suara. Rasanya Ia ingin bilang bahwa ujian sejarahnya nanti lusa, tapi membantah hanya akan memicu debat panjang tentang "kurangnya fokus Ghea dalam belajar". Jadi, Ghea memilih menelan susu cokelatnya yang terasa hambar.
"Papa pulang telat hari ini. Ada rapat di kantor pusat," ucap Papa Ghea tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.
Ibu Ghea mendengkus kecil, tipe dengusan yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang sudah terjebak dalam pernikahan hambar selama belasan tahun. "Rapat, atau sekadar menghindar?"
Ghea segera menyampirkan tas sekolahnya.
"Satu ... dua ... tiga ...," batinnya menghitung. Benar saja, sebelum hitungan kelima, suasana meja makan mulai memanas dengan sindiran-sindiran halus yang tajam. Ghea bangkit berdiri sebelum peluru kata-kata itu mengenai dirinya.
"Ghea berangkat, Ma, Pa."
Ghea tidak mau menunggu jawaban. Ghea berlari kecil menuju pintu depan, seolah-olah jika ia terlambat satu detik saja, ia akan tersedot ke dalam lubang hitam yang bernama "urusan orang dewasa".
Begitu gerbang sekolah SMA Bina Bangsa terlihat, Ghea menarik napas dalam-dalam. Di sinilah sandiwara kedua dimulai: Ghea si Siswa Teladan yang Ceria.
"GHEAAAA! WOI, TUNGGUIN AKU!"
Seorang gadis dengan ikat rambut tinggi yang miring ke kiri berlari kencang ke arahnya. Itu Cika, sahabat karib Ghea yang otaknya sepertinya terbuat dari kumpulan video TikTok dan ramalan zodiak.
"Ghe! Kamu udah baca ramalan Leo hari ini belum?" Cika mengatur napasnya yang tersengal, wajahnya panik. "Katanya hari ini aku bakal dapet sial dalam hal asmara. Dan bener aja! Barusan aku liat Kak Revan, gebetan aku dari kelas sebelah, lagi asyik ... asyik ... ngupil di parkiran! Ilfeel banget deh, Ghe! Zodiak nggak pernah bohong!"
Ghea tertawa, tawa pertamanya hari itu. "Cik, Kak Revan ngupil itu kebutuhan biologis, bukan ramalan bintang."
"Kamu kelewat berlebihan."
"Tapi estetikanya hilang, Ghea! Ilang!" Cika merengek sambil mengguncang-guncang lengan Ghea. "Mana hari ini katanya bakal ada 'pertemuan tak terduga yang mengubah garis hidup'. Duh, apa jangan-jangan aku bakal ketemu jodoh pengganti Kak Revan di kantin? Mang Udin penjual bakso lagi duren, lho, sekarang."
"Duren? Duda keren maksudnya?" Ghea menggeleng-gelengkan kepala. "Udah ah, ayo masuk kelas. Sebelum kamu makin halu."
Langkah Ghea terhenti di koridor dekat tangga. Di sana, segerombolan siswa laki-laki sedang berdiri menghalangi jalan. Di tengah-tengah mereka, bersandar pada tembok dengan gaya acuh tak acuh, adalah Reza.
Cowok itu mengenakan jaket denim di atas seragamnya yang tidak dimasukkan ke dalam celana. Rambutnya berantakan, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Reza sedang mendengarkan musik lewat satu earphone, sementara teman-temannya sibuk menertawakan sesuatu.
Mata mereka bertemu selama satu detik. Tatapan Reza kosong, tapi tajam. Ada sesuatu di balik mata itu yang membuat Ghea merasa ... aneh. Seolah-olah Reza juga sedang memakai topeng yang sama dengannya.
"Eh, liat tuh si 'Pangeran Pemberontak' lagi beraksi," bisik Cika sinis. "Ganteng sih, tapi katanya dia itu masalah berjalan. Bokapnya donatur terbesar sekolah, tapi dia sendiri kerjaannya cuma bolos dan bikin onar. Jangan deket-deket, Ghe. Zodiak kamu Virgo, nggak cocok sama Scorpio modelan dia. Bisa meledak!"
Ghea hanya tersenyum tipis, tapi matanya sempat melirik sekali lagi ke arah Reza sebelum masuk ke kelas. Ia tidak tahu bahwa malam ini, di atas tangki air yang dingin, cowok itulah yang akan mendengarkan tangisannya yang paling jujur.
Ghea berusaha memalingkan wajah, mempercepat langkahnya melewati kerumunan siswa laki-laki itu.
Bau parfum maskulin yang bercampur dengan aroma samar asap rokok dari jaket Reza sempat tertangkap indra penciumannya.
"Wangi yang berantakan," batin Ghea. Sangat kontras dengan wangi pewangi pakaian mahal di rumahnya yang selalu terukur dan steril.
Begitu sampai di dalam kelas, Ghea langsung menjatuhkan diri di bangkunya. Ia meletakkan kepala di atas meja, mencoba meredam denyut di pelipisnya.
"Ghe, kamu sakit?" Cika bertanya sambil sibuk mengeluarkan kotak pensil bergambar karakter anime dari tasnya yang penuh gantungan kunci.
"Muka kamu pucat banget. Apa gara-gara tadi lewat depan Reza? Dia emang punya aura dark yang bisa bikin Virgo kena gangguan pencernaan seketika, sih."
Ghea terkekeh pelan tanpa mengangkat kepalanya. "Cik, berhenti bawa-bawa zodiak atau aku bakal minta Pak Bambang mindahin tempat duduk kamu ke sebelah tong sampah."
"Dih, galak amat! Aku kan cuma perhatian," Cika mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah cermin kecil dan mulai merapikan poninya yang selalu terlihat berantakan.
"Eh, Ghe, tau nggak? Katanya si Reza itu hampir dikeluarin minggu lalu karena ketahuan tidur di ruang OSIS pas jam pelajaran. Tapi ya itu, karena donasi bokapnya bisa buat bangun tiga gedung perpustakaan baru, kepala sekolah cuma bisa elus dada sambil istighfar."
Ghea tidak menyahut. Pikirannya kembali melayang ke meja makan tadi pagi. Suara denting sendok ibunya seolah masih bergema di telinganya. Ia membayangkan apa yang sedang dilakukan ibunya sekarang. Mungkin sedang menata bunga di ruang tamu sambil menunggu telepon dari teman-teman sosialitanya, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa suaminya tidak sedang menghindarinya.
Pelajaran Sejarah dimulai. Pak Bambang masuk dengan langkah gontai, membawa tumpukan buku tebal yang baunya seperti perpustakaan tua.
Suaranya yang monoton mulai memenuhi ruangan, menceritakan tentang runtuhnya kerajaan-kerajaan besar di masa lalu karena pengkhianatan dari dalam.
Pengkhianatan dari dalam, tulis Ghea di sudut buku catatannya. Bukan tentang kerajaan, tapi tentang rumahnya sendiri.
Ghea mulai melamun. Tangannya bergerak tanpa sadar, menggambar pola garis-garis kusut di kertas. Di matanya, sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang pola yang berulang. Seperti bagaimana ibunya selalu menyiapkan sarapan yang sama setiap pagi, dan ayahnya yang selalu membaca berita yang sama, seolah mereka semua adalah aktor yang lupa kapan pertunjukan mereka berakhir.
"Ghea? Ghea Alisya?"
Suara Pak Bambang membuyarkan lamunannya. Ghea tersentak, berdiri dengan kikuk.
"I-iya, Pak?"
"Sebutkan salah satu faktor internal keruntuhan Kerajaan Majapahit?" tanya Pak Bambang sambil membetulkan letak kacamata tebalnya.
Cika menyikut lengan Ghea sambil berbisik sangat pelan, "Perang Paregreg, bego! Perang keluarga!"
Ghea menarik napas pendek. "Perang Paregreg, Pak. Perebutan kekuasaan di antara anggota keluarga sendiri yang membuat pertahanan mereka melemah dari dalam."
Pak Bambang mengangguk puas. "Tepat. Pelajaran moralnya: musuh terbesar seringkali bukan dari luar, melainkan dari retakan kecil di dalam pondasi kita sendiri. Silakan duduk."
Ghea duduk kembali dengan jantung yang berdegup kencang. Kalimat Pak Bambang barusan terasa seperti tamparan keras di pipinya. Retakan kecil di dalam pondasi. Di rumahnya, retakan itu bukan lagi kecil. Itu sudah menjadi jurang yang sangat dalam, dan Ghea merasa dirinya sedang berdiri di tepian, siap untuk terjatuh kapan saja.
Bersambung...

Arunaya
0 Pengikut · 2 Novel