


oleh Dila Melody · 28 Bab
Memiliki suami yang kerjanya main game online terus, ditambah lagi dengan mertua yang menjerumuskan Hilma dalam urusan utang di rentenir. Di saat Hilma akan bangkit dalam keterpurukannya, Rendi, sang suami malah dengan sengaja membawa wanita selingkuhannya, dengan alasan fisik Hilma yang gendut tak enak dipandang lagi. Akankah Hilma bebas dari utang pada rentenirnya itu? Bagaimana cara Hilma mempertahankan rumah tangganya?
Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya, menyapa jiwa yang malas untuk mencari kerja.
Jangankan mencari pekerjaan tetap, kerja serabutan saja dia malas. Hidupnya hanya untuk bermain game slot, mengandalkan penghasilan dari berjudi.
"Bang, kamu bangun dong. Apa nggak capek tidur terus?" Hilma mencoba membangunkan tubuh sang suami.
"Aku ngantuk, Ima," ucapnya tanpa membuka mata.
"Tapi beras di rumah habis, Bang. Kita mau makan apa? Kalau kamu nggak kerja."
"Kamu berisik amat sih, Ima. Nanti siang aku narik uang, semalam aku menang main main game."
Dengan perasaan sedih, Ima keluar dari kamarnya, ia sudah menyerah membangunkan Rendi yang tak kunjung bangun.
Sudah jam sebelas siang. Namun, ia belum makan apa pun. Perutnya sangat lapar, tapi untuk meminta sama mertuanya pun dia tidak memiliki keberanian. Meski selama ini mertuanya selalu ikut makan di rumah Hilma.
Kriuk kriuk
Perut buncit Hilma terus berbunyi. 'Yang sabar, ya, cacing di perutku. Kalian jangan pada ngambek sama aku ya, sedang aku usahakan asupan kalian semua,' ujar Hilma bicara sendiri, sambil mengelus perutnya.
Hilma mencoba merebahkan tubuhnya. Namun, rasa lapar itu tetap saja tidak hilang.
"Ahaa!" Hilma seperti mendapatkan angin segar, dari mana ia bisa mendapatkan uang banyak. Hilma segera bangun dari rasa malasnya. Ia segera berjalan ke arah benda keramat di dalam kamarnya.
Segera dibukanya lemari pakaian dari kayu jati itu, ia mencoba mengeluarkan kotak usang miliknya beberapa tahun yang lalu.
"Sepertinya ini cukup menjadi pegangan beberapa hari ke depan," monolog Hilma dalam hati.
Hilma segera berganti pakaian, ia akan berjalan kaki ke pasar, untuk menjual cincin yang sudah lama ia simpan.
'Abah, maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanat, Abah. Aku terpaksa menjual cincin ini, untuk melangsungkan hidupku,' gumam Hilma dalam hati.
Dadanya sesak menahan tangis, karena barang itu adalah kenang-kenangan terakhir dari abahnya sebelum meninggal.
Lima belas menit berlalu, akhirnya Hilma sudah sampai di pasar.
'Semoga aku bisa membeli cincin ini nanti ya, Bah!' ujar Hilma, sebelum ia menyerahkan cincin itu pada pegawai toko.
"Totalnya, jadi tiga ratus dua puluh ribu ya, Bu. Sudah dipotong admin, silahkan hitung kembali uangnya!" ucap pelayanan toko, memberikan uang itu pada Hilma.
Melihat uang banyak di hadapannya, mata Hilma jadi berbinar, sejenak Hilma melupakan kesedihannya.
"Alhamdulillah, aku harus bisa menggunakan uang ini dengan baik."
"Sekarang saatnya aku memanjakan dirimu, cacing kesayanganku!" ujar Hilma mengelus perutnya, tujuan utamanya adalah warung nasi padang.
Dari jarak beberapa meter saja sudah tercium rempah masakan padang, hal itu sukses membuat cacing dalam perut Hilma semakin berdisko ria.
"Bu, nasi satu porsi, lalapan, tahu, tempe, lauknya ikan kembung saja. Jangan lupa minta sambelnya ya." Hilma menyebutkan pesenannya pada penjaga warung, tak lama makanan yang Hilma pesan sudah siap santap. Namun, baru saja Hilma selesai berdo'a. Tiba-tiba ada pasukan tempur.
"Bagus, ya kamu! Kamu enak-enakkan makan di sini. Tidak ingat sama suami dan mertua, kamu tahu ka—" Nyanyian merdu keluar dari mulut mertua ajaib Hilma yang baru saja tiba.
"Bu sudah malu, Ibu mau makan apa?" tanya Hilma langsung pada intinya, karena tak ingin kehadiran mertua membuatnya malu di depan banyak orang.
"Nah, begitu baru. Cakep!" Tanpa terkomando Mak Eti langsung berbalik badan. "Jeng, sepertinya kalian pulang duluan saja, saya diajak makan sama menantu saya!" usir Mak Eti pada gengs-nya.
Gaya bahasanya 'jeng' padahal sehari-hari mereka manggil 'Emak' maklum 'lah ya, ini kan lagi di pasar.
Setelah kepergian gengs-nya. "Bu, nasi satu porsi, lauknya saya mau rendang, ya, dimakan di sini. Dua porsi dengan menu yang sama dibungkus, tapi lauknya pisah!" ucap Mak Eti pada si ibu penjual nasi padang.
'Aku yang punya uang saja makan sama ikan kembung, lah, Ibu tidak kira-kira makan ambil tiga porsi mana lauknya rendang pula!' gerutu Hilma dalam hati.
Mak Eti duduk di depan Hilma, ia sengaja memindahkan posisi kaca matanya ke atas topi.
"Hilma, punya duit berapa? Si Rendi pasti menang lagi 'kan mainnya? Memang anak itu hoki melulu, kebanggaan ibu banget!"
Hilma bingung jawab apa, kalau dirinya jujur uang itu hasil jual cincin, yang ada dirampas semua.
"Alah, cuma dapat seratus ribu, Bu. Itu pun buat beli beras," dusta Hilma.
"Ya sudah, sekarang kita makan dulu!" ucap Mak Eti penuh semangat.
Bahkan dalam hitungan menit, nasi dalam piring Mak Eti sudah berpindah ke dalam perut langsingnya.
"Ayo, Hilma, kamu kok lelet sekali sih jadi orang. Makanya punya badan begini kaya ibu. Langsing jadi tidak berat bagitu kaya kamu." Mak Eti sudah siap pergi lagi, tak lupa dirinya membenarkan posisi kaca mata yang dari tadi tidak disimpan di mata.
"Memangnya, Ibu mau ke mana?" tanya Hilma heran.
"Ya mau beli beras 'lah, tadi kan kamu bilang mau beli beras."
"Tapi Hilma tidak bilang akan membelikan Ibu beras juga."
"Oh, jadi begini kelakuan kamu sama Ibu?" teriak Mak Eti yang bisa membangunkan orang sepasar.
"Sudah, Bu. Ayo kita beli beras, tapi jangan banyak-banyak dua liter setengah saja," ketus Hilma.
Hilma segera membayar makanan mereka. "Bu, berapa totalnya?" tanya Hilma pada ibu pemilik warung.
"Totalnya jadi delapan puluh lima ribu," jawab ibu itu, lalu Hilma menyodorkan uang seratus ribu.

Dila Melody
63 Pengikut · 5 Novel