


oleh Hantsweety · 48 Bab
"Setelah si adek tidur, langsung ke kamar saya, ya. Sepertinya badan saya agak meriang, butuh pijatan sedikit." "Hanya dipijit saja kan, Tuan? Saya tidak mau kejadian kemarin malam terulang lagi," kata Bunga sedikit ragu. "Tapi saya bayar kan, jadi kamu nggak percuma melayani saya." Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya dengan kesadaran penuh Bunga menganggukkan kepalanya, tanpa dipaksa ataupun terpaksa. "Bagus, saya tunggu di dalam."
Lowongan pekerjaan.
Dicari orang yang siap kerja, sanggup mengurus bayi, mengurus dapur, dan pekerjaan lainnya. Tidak ada penawaran untuk gaji, karena saya sendiri yang akan menentukannya. Jika berminat, silahkan hubungi nomor yang tertera di bawah, sekian.
Huftt!
Bunga menghela napasnya sejenak, dia baru saja selesai menjemur pakaian di depan rumahnya. Untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya, Bunga memilih berselancar di sosial media, tidak sengaja dia membaca selebaran pengumuman lowongan pekerjaan di salah satu grup media sosialnya.
"Mbak, bagi duit dong aku mau jalan, temanku udah nungguin tuh di depan."
Siska menengadahkan tangannya ke arah Bunga. Entah uang apa yang dimaksud oleh Siska, karena Bunga yang jarang atau bahkan tidak pernah memegang uang sama sekali.
"Siska, Mbak mana ada uang. Semua uang Mas Arman kan Ibu yang pegang. Kamu coba minta sama Ibu aja."
"Maksud kamu apa minta sama Ibu. Makanya kamu itu kerja dong, cari duit. Jangan bisanya cuma jadi beban suami aja."
Bunga terdiam, ini memang bukan kali pertama Bu Santi mengatakan hal itu. Dengan terang-terangan Bu Santi selalu menyuruh Bunga untuk bekerja.
Berbeda dengan Arman, suaminya. Bahkan sempat beberapa kali Bunga memintanya untuk bekerja, tapi Arman selalu melarangnya.
"Kamu itu harusnya sadar diri, udah miskin, jelek, mandul, nggak berguna lagi. Nyesel saya udah restuin Arman nikah sama kamu."
Satu tetes air matanya lolos, Bunga tidak kuat jika sudah mendengar setiap ocehan yang keluar dari mulutnya Bu Santi.
"Nangis aja bisanya, harusnya kamu itu mikir."
Hampir setiap hari Bunga selalu mendapatkan perlakuan yang sama dari Bu Santi. Andai saja Arman tidak menyayanginya sudah pasti Bunga akan pergi meninggalkannya.
Setiap pagi Arman pergi bekerja, menjadi karyawan tetap di salah satu kantor perusahaan, dan itu adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.
Siska sudah pergi setelah Bu Santi memberikan beberapa lembar uang merah kepadanya, semenrata Bunga segera menyelesaikan pekerjaannya.
Lain halnya dengan Bu Santi sendiri, dia pun sama halnya dengan Siska yang pergi entah ke mana meninggalkan Bunga yang masih berkutat dengan segala pekerjaan rumahnya.
Beberapa jam kemudian, semua pekerjaan rumahnya kini sudah selesai Bunga kerjakan. Sambil menunggu kepulangan Arman, Bunga iseng mencatat nomor yang sempat dia baca di selebaran tadi.
Tuutt, tuutt, tuutt!
Dengan perasaan was-was Bunga sengaja menghubungi nomor tersebut. Panggilan sudah tersambung, Bunga berharap secepatnya panggilannya akan segera dijawab.
"Hallo."
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Bunga bisa mendengar suara seorang wanita yang menjawab panggilannya.
"Hallo, selamat sore. Maaf sebelumnya, saya tadi membaca pengumuman lowongan pekerjaan yang mungkin sengaja sudah Nyonya tulis. Saya harap tidak terlambat, karena saya berminat bekerja dengan Nyonya."
Masih dalam keadaan setengah gemetar, Bunga takut jika dia akan di tolak mentah-mentah oleh seseorang yang berada di seberang sana.
"Siapa nama kamu?" tanyanya.
"Nama saya Bunga, Nyonya."
"Hmmmm, apa kamu yakin mau bekerja dengan saya. Gajinya kecil lho, pekerjaannya juga banyak, harus mengurus bayi pula, apa kamu sanggup?"
Bunga terdiam sejenak, masih berpikir dengan keputusan apa yang harus dia ambil saat ini.
"Saya sanggup, Nyonya," kata Bunga dengan yakin.
"Baiklah, akan saya kirimkan alamat rumahnya. Kabari lagi jika kamu akan berangkat."
Setelah mengobrol panjang lebar, membahas pekerjaan apa saja yang harus Bunga kerjakan nanti, panggilan akhirnya terputus.
Pintu kamar terbuka, Bunga kaget karena yang datang adalah Arman.
"Mas, kamu udah pulang. Maaf, aku nggak membukakan pintu untukmu," kata Bunga merasa bersalah.
"Nggak papa, kamu lagi ngapain? Kok keliatannya tegang gitu, ada apa?"
Arman dan Bunga sudah sama-sama duduk di pinggir tempat tidur, dengan Arman yang terus saja menatap ke arahnya.
"Mas, aku mau bicara."
Setelah terdiam cukup lama, Bunga akhirnya mengeluarkan suaranya, membuat tatapan Arman yang semakin fokus melihat ke arahnya.
"Mas, aku mau kerja. Tolong izinin aku ya," kata Bunga penuh harap.
"Bunga, apa kamu merasa kurang? Apa tidak sebaiknya kamu tunggu di rumah aja, dan biarkan aku saja yang bekerja."
Mereka masih saling bersitatap, saling terdiam. Arman yang kini sedang bertarung dengan segala pikiran berkecamuknya, sedangkan Bunga sangat berharap jika Arman mengizinkannya untuk bekerja.
"Mas, aku bukan nggak betah tinggal sama Ibu. Tapi pasti akan lebih nyaman jika kita tinggal di rumah kita sendiri. Jadi, ayo kita cari modal sama-sama. Kamu izinin aku buat kerja kan, Mas."
Bunga masih tetap memohon, hingga di menit berikutnya Bunga bisa melihat Arman yang menganggukan kepalanya.
"Ya sudah, tapi jangan pernah merasa jika aku yang sudah menyuruhmu buat bekerja."
"Makasih ya, Mas."
***
Drrttt! Drrrttt!
"Ma, ponsel Mama getar terus nih dari tadi."
Pagi harinya di keluarga Wijaya, Steven berteriak karena merasa terganggu dengan getaran yang berasal dari ponsel sang mama.
"Nih, gendong. Mama mau angkat telepon dulu."
"Ma, yang benar aja. Aku mana bisa gendong anak bayi."
"Ya makanya belajar, jangan cuma buatnya aja yang kamu pahami."
Steven melongo, apalagi sang mama dengan sengaja sudah meletakkan bayi mungil tersebut di atas pangkuannya.
Sementara Bu Susi segera meraih ponselnya yang masih bergetar, tidak menunda waktu lebih lama lagi Bu Susi segera menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Hallo," sapa Bu Susi lebih dulu.
"Hallo, Nyonya. Maaf mengganggu waktunya, hari ini saya mau berangkat bekerja ke rumah Nyonya."
Senyuman tipis seketika terukir di bibirnya. Steven yang melihatnya jelas merasa heran dengan perubahan raut wajah sang mama.
"Baik, saya tunggu kedatangannya."
Bu Susi langsung menyudahi panggilannya, sementara Steven masih berusaha membuat sang anak nyaman berada di pangkuannya.
"Siapa, Ma?" tanya Steven penasaran.
"Babysitter buat Raya."
"Mama yakin? Apa nggak sebaiknya Mama aja yang ngurus Raya."
"Hehh, bocah sialan. Enak bener ya kamu ngomong gitu. Mama juga punya kerjaan, ada butik yang harus Mama urus."
Steven menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, lalu sedikit senyuman terukir dari bibirnya.
"Kenapa diam, harusnya kamu juga cepetan cari gantinya Wulan buat ngurusin Raya sekaligus ngurusin hidup kamu," ucap Bu Susi yang merasa kesal sendiri karena menurutnya Steven yang tidak juga mengerti.
"Mama harap kamu jaga sikap, biar dia betah kerja di rumah ini."
"Iya-iya, Mama bawel banget sih. Lagian sikapku kan biasa aja, merekanya aja yang berlebihan."
"Bukan berlebihan, kamu juga harus jaga batasan. Jangan mentang-mentang sekarang Wulan udah nggak ada kamu bebas lakuin apa pun. Ingat sekarang ada Raya."
"Astaga, iya Ma, iya. Lagian masih dibahas aja, orang yang mau kerjanya juga belum sampai, Mama udah seheboh ini. Mama tenang aja, lagian nggak mungkin juga kan aku main-main sama babysitter, yang benar aja."
Ishh!

Hantsweety
1 Pengikut · 1 Novel