


oleh Delly Asmal · 35 Bab
Aryan adalah pemuda tampan cerdas dan baik hati yang datang kembali ke desa demi keinginan kakeknya. Ternyata dia harus meneruskan perguruan kakeknya. Mampukah dia mengolah dan melaksanakan beberapa ritual wajib perguruan itu yang, ternyata penuh dengan teror dan ketegangan jika tidak dilaksanakan. Mampu kah Aryan melewati semua segala rintangan untuk menghadapi serangan makhluk astral tersebut. Walaupun dia di bantu oleh Laila adik seperguruannya. Perjalanan di mulai ketika Aryan menyetujui kemauan Sudiro, agar dia mempelajari hal-hal yang di luar kemampuannya. Meskipun begitu, Aryan harus menghancurkan semua ritual tersebut, sebab terlalu banyak orang menjadi korbannya. Bagaimana cara Aryan mengalahkan semua ilmu hitam milik kakeknya?
Sett!
“Berhenti kalian!”
Seorang pemuda berteriak sambil meluncurkan anak panah ke arah Aryan dan Sudiro.
“Siapa kau?” tanya Sudiro.
Tak ada jawaban. Hanya tawa yang menggelegar di balik pohon besar.
Sudiro mendekati sumber tawa tersebut. Orang itu pun menampakkan dirinya. Sudiro hanya bisa memperhatikannya, ternyata ia mengetahui siapa di balik topeng tersebut.
“Buka saja topengmu, Dika!”
Aryan yang mendengar ucapan Sudiro tersentak. Ia merasa kakeknya tahu segalanya.
“Untuk apa kau membawanya ke sini?” tanya Dika
“Itu bukan urusanmu, dasar bocah," seru Sudiro.
Tanpa basa-basi, Dika melepaskan pukulannya kepada Sudiro malah mengenai Aryan.
Bugkh!
“Aryan!” teriak Sudiro.
Ia segera mendekati Aryan. Wajah Aryan tampak sedikit kesakitan. Sudiro pun menyerang Dika karena telah melukai cucunya. Terjadilah perkelahian di antara mereka.
Pukulan pertama mendarat di dada Dika hingga ia terpental jauh ke pinggir sebuah tebing.
“Jangan pernah ganggu cucu saya! Mengerti?!” seru Sudiro.
Dengan tatapan tajam, Sudiro meninggalkan Dika. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke sebuah desa yang tidak bisa ditempuh oleh kendaraan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Tak lama, mereka tiba di sebuah tempat sunyi dan gelap, sebuah padepokan kuno. Terdengar suara langkah kaki orang-orang yang berlari menghampiri mereka.
“Selamat datang, Guru!” ucap para murid serentak.
Sudiro memperhatikan mereka satu per satu, lalu memperkenalkan Aryan.
“Kenalkan, ini Aryan, cucu saya. Dia akan meneruskan padepokan ini,” jelasnya.
Semua terdiam. Baru saja Sudiro menaruh tubuhnya di kursi, tiba-tiba sesosok makhluk hitam dengan kepulan asap terbang melintasi Aryan dan berhenti di hadapan Sudiro. Aryan terdiam, kaget, saat melihat wujud asli makhluk tersebut.
Wajahnya penuh luka dan lendir. Gigi-giginya tajam menyeringai ke arahnya.
Grrrr!
Suara erangan makhluk itu menggelegar. Seketika tangannya melesat, mencekik leher Aryan. Sudiro yang melihatnya langsung mencegah.
Duggghk!
Sudiro menendang makhluk itu hingga terjatuh.
“Harimau Langit!” seru Sudiro.
Makhluk itu hanya tertawa.
“Berhenti! Ternyata kau belum puas juga?”
“Eh, Kakek tua! Seharusnya akulah yang menjadi penerusnya!”
Sudiro tak banyak bicara. Ia melepaskan kekuatannya untuk melumpuhkan makhluk itu yang ternyata adalah Dika.
Wush!
Sett!
Beberapa tenaga dalam melesat tepat ke bagian vital Dika. Ia pun terhempas dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Saat Sudiro hendak melayangkan pedangnya, tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya dari tempat itu.
Perkelahian pun berakhir. Aryan mencoba bertanya pada Sudiro.
“Kakek, apakah dia musuhmu?”
Sudiro terdiam. Dika adalah salah satu alumnus Padepokan Naga Hitam. Ia tak menjawab pertanyaan Aryan, sedangkan Aryan bergumam dalam hati.
‘Kenapa waktu kutanya, Kakek diam saja? Kakek sangat aneh!' Aryan menggaruk kepalanya, bingung.
Namun, Sudiro mengalihkan pertanyaannya. Ia menepuk pundak Aryan, lalu berkata, “Sudahlah, jangan kau pikirkan dia.”
Aryan mengikuti langkah Sudiro memasuki sebuah ruangan gelap. Mereka berhenti di depan sebuah kamar.
“Masuklah, ini kamarmu."
“Oh, tapi kenapa gelap, Kek?”
“Di sini tidak ada penerang seperti di kota. Cukup dengan lampu dinding saja,” jelas Sudiro, lalu melangkah pergi meninggalkan Aryan.
Aryan masuk ke dalam kamar itu dan mendekati ranjang. Tiba-tiba, jendela kamarnya bergerak sendiri. Aryan terkejut dan perlahan mendekat.
Sreeekk! Sreeek!
Suara gesekan tirai jendela tertiup angin. Aryan mengintip ke jendela, lalu tersentak tak percaya.
“Astaga!” desisnya sambil menutup mulut.
Pandangan itu sungguh tak diharapkannya. Tampak sosok seperti manusia, wajahnya datar tanpa hidung atau mata. Ia menyeringai ke arah Aryan dan perlahan mendekatinya. Saat tangannya hendak meraih leher Aryan, tiba-tiba, terjadi sesuatu.
“Aryan!” Sudiro masuk ke kamar.
Sosok itu pun menghilang tanpa jejak. Aryan menoleh ke belakang dan bingung karena tak lagi melihat makhluk itu. Sudiro lalu mendekatinya dan bertanya soal kesediaannya menjadi penerus Naga Hitam. Tanpa banyak pikir, Aryan menyetujuinya.
‘Aku sudah terlanjur berada di sini. Mana mungkin aku menolak lagi?’ ucap Aryan dalam hati.
Sudiro merasa lega dengan jawaban Aryan. Namun, di balik raut wajah penuh harap itu, tampak sesuatu yang ia sembunyikan.
Aryan kembali memandangi jendela. Desa itu dikelilingi pohon-pohon besar dan rimbun. Terlihat gelap dan mencekam. Hanya beberapa rumah yang terlihat. Ia berusaha tenang dan diam. Namun, tiba-tiba ia merasa tercekik. Tak bisa bicara. Beberapa makhluk mendekatinya.
“Si—siapa kau?” tanyanya dengan suara bergetar.
Makhluk-makhluk itu mendekat, tapi tidak untuk melukainya. Aryan yang lebih dulu diliputi rasa takut akhirnya jatuh pingsan.
***
“Ada apa, Aryan?”
Makhluk itu seketika menghilang saat Sudiro kembali ke kamar Aryan. Ia segera menghampiri dan menatap wajah cucunya.
Sudiro tak henti-hentinya menepuk pipi Aryan agar sadar. Tak lama kemudian, Aryan perlahan membuka mata.
“Oh, iya, Kek,” lirihnya.
“Kenapa kau terlihat ketakutan?” tanya Sudiro.
Aryan terdiam. Ia merasa tak perlu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Sudiro memperhatikan raut wajah Aryan dan menyadari bahwa cucunya telah melihat sesuatu. Ia pun memutuskan meninggalkan Aryan dan menyuruhnya beristirahat.
'Aku tadi lihat apa, ya?' gumam Aryan dalam hati.
Tanpa sengaja, Aryan mengintip ke arah Sudiro yang tengah berjalan menjauhi kamarnya.
'Apa aku ikuti saja Kakek, ya?' pikirnya.
Aryan pun mengikutinya diam-diam. Ia terus menyusuri lorong yang cukup jauh dari ruang pertemuan. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Sudiro berdiri di tengah sebuah lingkaran, dan seseorang tampak menaburkan sesuatu di sana.
Aryan segera bersembunyi di balik sebuah patung besar. Ia mengintip dari celah patung itu dan terkejut melihat Sudiro melakukan ritual aneh.
Aryan membelalakkan mata saat sesosok makhluk besar tiba-tiba muncul di hadapan Sudiro.
'Apa yang sedang dilakukan Kakek sebenarnya?' batin Aryan.
Tanpa ia sadari, seseorang muncul di belakangnya dan menyapanya.
“Aryan, sedang apa kamu di sini?”
“Oh, Kakek!” serunya, kaget.
Sudiro tersenyum, tak menunjukkan sedikit pun kemarahan.
“Sebaiknya sekarang kamu tidur. Besok, Kakek akan jelaskan,” ujarnya.
Aryan hanya mengangguk dan menurut. Keesokan paginya, ia dikejutkan oleh suara teriakan dari halaman depan. Ia mencoba mengintip dari pintu samping kamar. Namun,
Sett!! Dugkhh!!
Sebuah senjata tajam melesat tepat di hadapannya. Untungnya, tidak mengenai tubuhnya. Aryan terperanjat.
“Issh, apa-apaan sih!”
Seseorang segera menghampirinya dan membungkuk sopan.
“Maaf, Mas Aryan."
“Hmm, kalian sedang apa?”
“Kami sedang latihan."
Beberapa anak perguruan tersenyum ramah disela latihan mereka. Tak beberapa lama, Sudiro datang menghampiri dan melihat cucunya.
“Aryan, cepat bergabung dengan mereka!”
Aryan merasa ucapan itu seperti tamparan keras yang mendarat di pipinya. Sorot mata kakeknya tajam.
“Baik, sebentar, Kek. Aku bersih-bersih dulu,” ucap Aryan.
Sudiro hanya tersenyum saat melihat Aryan melangkah pergi. Namun, raut wajahnya menyimpan rahasia.
Tak lama kemudian, Aryan kembali menemui Sudiro.
Dugkhh!!
Sebuah bungkusan dilemparkan tepat di hadapan Aryan. Bungkusan itu dibalut kain kafan.
“Pakailah baju itu!”
“Baiklah!” Aryan terlihat ragu, namun akhirnya menuruti.
'Kenapa baju ini terasa aneh, ya? Haruskah aku terus mengikuti semua hal aneh yang tak kumengerti ini?' batinnya.
“Kenapa melamun, Aryan?” tanya Sudiro, menghentikan lamunannya.
“Oh, iya, Kek! Aku akan segera pakai."
Dari kejauhan, datang seorang perempuan seusianya. Sudiro memperkenalkan perempuan itu kepada Aryan.
“Aryan, coba ingat, siapa dia?” tanya Sudiro.
“Hm, aku tidak kenal,” jawab Aryan datar, sambil melihat wanita dihadapannya.
“Aku Laila,” ujar gadis itu sambil mengulurkan tangan.
Begitu tangan mereka bersentuhan, ingatan Aryan muncul perlahan. 'Laila yang dulu cengeng, sekarang dia sangat beruba!' desisnya dalam hati.
Tanpa Aryan sadari, kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya perlahan bangkit. Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat cepat ke arah Sudiro.
Cusss!!
Anak panah itu menancap tepat di dada Sudiro. Ia terjatuh, darah mengalir membasahi pakaiannya.
“Kakek!" teriak Aryan.
Serempak semua murid ikut berteriak. “Guru!"
Wajah Sudiro membiru. Laila segera mendekat dan memeriksa luka di dadanya.
“Ini racun!"

Delly Asmal
10 Pengikut · 1 Novel