


oleh DFau · 99 Bab
Aliana Shima. Dia adalah wanita biasa yang tidak pernah bermimpi untuk menikah muda. Namun, keadaan membuatnya menerima lamaran dari pria kaya yang terkenal kejam dan mengerikan. Pria itu jatuh cinta pada Shima meski awalnya menolak mengakuinya, bahkan dia rela menutupi semua kekejamannya saat bersama Shima. Sayangnya di saat cinta mereka mulai bertunas, ada beberapa hal yang membuatnya ragu dengan cinta Shima bahkan karena rasa sakit dan cemburu membuat pria itu tanpa sengaja menyakiti Shima. Apakah cinta itu akan terus tumbuh atau akan berakhir hanya karena sebuah kesalahpahaman? Hanya Shima yang tahu akan hasil akhirnya.
"Kamu akan menikah satu minggu lagi.”
Kalimat itu berhasil membuat Shima kaget bukan main. Dia baru saja selesai membersihkan rumah dan berniat pergi bekerja. Wati duduk dengan gelas teh di tangannya. Baginya ini sebuah anugerah yang tidak bisa ditolak. Apa lagi lamaran itu berasal dari keluarga kaya.
"Kenapa tidak tanya dulu padaku, Bi?"
Wati memutar bola matanya dengan malas. Dia benar-benar menyesal sudah merawat Shima sejak kecil. Jika bukan karena Hadi yang begitu menyayangi Shima sudah sejak dulu Wati membuangnya.
Saat ini Hadi tengah terbaring di rumah sakit dan membutuhkan donor ginjal. Orang kaya yang baru datang itu setuju untuk membantu hal ini, bahkan rela memberikan sejumlah uang. Tentulah Wati tidak akan melepaskan kesempatan ini. Bahkan Wati dengan senang hati memberikan Shima pada mereka.
"Orang itu bersedia membantu donor ginjal Mas Hadi. Apa kamu bisa melakukannya?"
Shima diam. Jika dia menolak pasti akan dianggap egois dan tidak tahu balas budi. Namun, jika dia menerimanya sama saja Shima harus menghapus semua mimpi yang sudah disusun di dalam hatinya.
"Keputusan ini sudah tidak bisa diubah. Lagi pula siang ini Mas Hadi akan operasi. Paham kamu."
"Paham, Bi."
"Bagus. Besok keluarga kaya itu akan datang untuk pertunangan. Kau harus terlihat cantik. Paham!"
Shima hanya bisa mengangguk pasrah. Sekuat tenaga dia mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Dia beberapa kali mengatur napasnya, baru setelah itu dia keluar rumah karena ojek online sudah menunggu.
Perjalanan ke butik sama sekali tidak dinikmati oleh Shima. Pikirannya melayang jauh tentang siapa yang mengirim lamaran itu. Bahkan tahu tentang kondisi keluarganya. Namun tidak ada jawaban yang dapat memuaskan hati Shima.
"Sudah sampai, Mbak."
"Maaf, Pak."
Shima turun dan memberikan helm yang baru saja dia pakai. Kemudian memberikan sejumlah uang. Setelah merapikan jilbab dan bajunya Shima masuk ke dalam butik yang masih terlihat sepi.
Sebelum buka butik Shima dan yang lain membersihkannya lebih dulu. Merapikan barang yang terlihat berantakan. Bahkan mengganti beberapa baju yang sudah lama berada di display.
"Diam aja dari tadi. Ada apa?" Lita menyenggol siku Shima yang tengah sibuk merapikan sweater.
"Tidak ada." Shima mencoba tersenyum, padahal sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada rencana pernikahan itu.
"Jangan bohong. Cerita deh sama aku."
"Nanti aja pas jam istirahat. Ok?"
"Awas kalau menipuku."
Lita dan Shima memang sudah lama berteman. Waktu SMA mereka bersama sampai pada akhirnya dua tahun berpisah. Tidak disangka saat bekerja di butik Moon ini mereka bertemu lagi. Pertemanan itu terjalin dengan erat, bahkan tidak jarang Shima yang bosan di rumah akan menginap di rumah kontrakan Lita.
Tidak terasa jam istirahat tiba. Kini giliran Shima, Lita dan dua teman lainnya untuk makan siang. Shima yang biasanya membawa bekal pagi tadi lupa membawanya karena kabar yang diberikan oleh Wati. Alhasil dia berniat untuk mencari makan di luar saja.
"Shima."
Merasa namanya dipanggil Shima menoleh. Benar saja, Aisa pemilik butik Moon mendekat padanya. Wanita dengan jilbab lebar itu tersenyum ramah seperti biasanya.
"Ada apa, Bu?" tanya Shima.
"Bisa ke ruangan saya sebentar. Ada tamu yang mau bertemu denganmu."
Shima menoleh pada Lita. Lita mengangguk tanda tidak apa jika ditinggal saat ini. Meski dekat baik Shima maupun Lita sama-sama memberikan ruang untuk satu sama lain.
"Baik, Bu."
Seorang wanita paruh baya tengah duduk dengan tenang di ruangan Aisa. Beberapa kali wanita itu membenarkan letak kacamata yang dia gunakan. Baginya menunggu adalah hal yang paling tidak bisa dia lakukan. Semuanya harus tepat waktu tidak boleh telat meski hanya satu menit.
"Oma Melati. Ini Shima." Aisa mempersilakan Shima untuk masuk.
"Shima," panggil Oma Melati lembut.
Shima mendekat dan mencium tangan Oma Melati dengan penuh hormat. Oma Melati adalah langganan di butik Moon ini. Jadi beberapa kali Shima bertemu, meski tidak sering mereka berbincang tapi Shima tahu Oma Melati.
"Shima duduk di sini." Oma Melati menepuk sofa di sisi kirinya.
Setelah Shima duduk, Aisa memilih untuk keluar. Mengatakan jika ada urusan. Padahal sengaja memberikan ruang untuk Shima dan Oma Melati untuk mengobrol.
"Kamu pasti sudah tahu arah pembicaraan ini," kata Oma Melati.
"Maksud Oma apa ya?" Shima memang tidak paham apa yang dikatakan oleh Oma Melati itu.
"Oma dan Bibi kamu sudah membahasnya. Kamu sudah tahu bukan?"
Akhirnya Shima paham apa yang dikatakan oleh Oma Melati. Ini tentang pernikahan yang tadi pagi bibinya katakan. Shima tidak menyangka jika ternyata Oma Melati yang datang untuk melamarnya. Bahkan sampai membuat bibinya tanda tangan sebuah surat perjanjian.
Oma Melati menatap Shima dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hal yang jarang Shima dapatkan. Hal ini tentu membuat Shima tersentuh. Orang yang jelas tidak dia kenal menatapnya dengan penuh cinta.
"Dia Kaif Arga Hilmar. Cucu Oma, calon suami kamu."
Sebuah foto diletakan Oma Melati di atas meja. Shima melihat ke arah foto itu. Seorang pria yang terlihat tampan. Namun, dari foto itu sama sekali tidak terlihat kebahagiaan, tatapan pria itu bahkan sangat dingin.
"Maafkan Oma, Sayang. Oma memang egois karena memaksamu dalam hal ini, tapi Oma benar-benar sayang padamu."
"Bukankah aku tidak bisa menolaknya Oma?"
Bukan jawaban yang Shima dapatkan melainkan sebuah pelukan hangat yang menenangkan. Pelukan yang selama ini Shima rindukan. Pelukan orang yang benar-benar mau menerimanya.
"Sampai bertemu besok. Oma harap kamu bahagia."
Setelah obrolan itu berakhir, Shima mengantar Oma Melati keluar dari butik. Shima melanjutkan kembali pekerjaannya sementara Oma Melati keluar dari butik dengan wajah tersenyum bahagia. Dia benar-benar senang karena akhirnya menemukan wanita yang cocok untuk Kaif.
Selama ini Oma Melati mencari wanita yang mau menerima Kaif dengan tulus. Bukan dengan harta atau ketampanan yang Kaif miliki. Sampai Oma Melati melihat Shima, membuatnya teringat dengan sosok gadis sederhana dan penuh kasih. Oma Melati dengan adanya pernikahan ini perlahan akan membuat Kaif seperti dulu lagi.
***
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan itu menggema di dalam ruangan. Kaif berhenti menembak kala asistennya mendekat karena ada sebuah telepon dari Oma Melati. Orang yang begitu Kaif hormati dan cintai karena selama ini orang tuanya tidak peduli pada Kaif.
"Malam, Oma. Ada apa menelponku saat malam? Apa ada yang sakit?"
"Kau mendoakanku sakit?"
Kaif tertawa mendengar pertanyaan lucu dari Oma Melati. Kaif tetap memegang ponselnya sembari melepas sarung tangan yang dia pakai.
"Lamaranmu diterima."
Hampir saja ponsel ditangan Kaif terjatuh saat Oma Melati mengatakan tentang lamaran. Memang selama ini Oma Melati sudah mengatur kencan buta dan hal semacamnya. Namun, ini kalimat pertama yang membuat Kaif tidak bisa mengatakan apa pun.
"Satu minggu lagi kau akan menikah dengannya. Semuanya sudah Oma urus. Oma harap kau bisa pulang besok untuk pertunangan."
"Oma, aku ...."
"Tidak ada penolakan Kaif."
"Baik, Oma."
Wajah Kaif berubah tidak bersemangat. Selama ini dia tidak pernah mencoba sekalipun dekat dengan wanita. Bukan tanpa alasan, kehancuran keluarganya membuat Kaif tidak berminat akan cinta. Apa lagi dia tahu jika keluarganya hancur karena ibunya berselingkuh dengan pria lain.
Selama ini Kaif hanya patuh pada Oma Melati. Bahkan membantah perkataannya saja tidak bisa. Sejak ibu dan ayahnya berpisah hanya Oma Melati yang berada di sisinya. Menyayanginya dengan penuh, bahkan saat sakit pun Oma Melati tetap mengurus Kaif.
"Urus kepulanganku malam ini."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi. Cari tahu tentang calon istriku."
Lee mengangguk dan keluar dari ruangan itu. Menyisakan Kaif dengan segala pikirannya yang saling menyerang.
.*.*.*

DFau
33 Pengikut · 1 Novel