


oleh Kikmatulla · 37 Bab
Hana Sandrina masih duduk di bangku SMA. Pada suatu hari, ia terpaksa ikut dengan orang tuanya ke sebuah rumah yang terletak di pedesaan karena rumahnya akan direnovasi. Rumah yang akan mereka tinggali terkenal angker karena sudah lama ditinggal oleh pemilik aslinya, dan seringkali membuat siapa pun yang tinggal di rumah itu mengalami kejadian aneh. Awal tinggal di rumah barunya, Hana beberapa kali mengalami hal janggal dan sering mendapatkan mimpi buruk. Apakah Hana bisa memecahkan misteri yang terus mengganggunya?
Hana Sandrina. Gadis yang masih bersekolah di bangku SMA, kerap dipanggil dengan nama Hana oleh teman-temannya. Ia terpaksa ikut dengan orang tuanya untuk pindah rumah karena rumahnya akan direnovasi.
Sebenarnya, ia tidak menyukai rencana orang tuanya. Namun, mau bagaimana lagi, ia tetap akan ikut karena dirinya sendiri belum memiliki rumah, dan masih sering bergantung pada kedua orang tuanya.
"Hana, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Bu Muna, sang ibu, yang berada tak jauh dari seorang gadis bernama Hana.
Mendengar namanya dipanggil, Hana pun langsung menoleh ke arah sumber suara. "Baik kok, Ma. Emang kenapa? Tumben nanya ginian ke Hana," jawabnya.
"Mama pengen tahu aja. Kamu kan bentar lagi lulus, mama harap kamu mulai sekarang harus lebih fokus belajar! Jangan main HP terus!" ucap Bu Muna dengan nada yang lembut nan tegas.
Hana memilih diam tak membalas, ia malah merasa kesal dengan ucapan Bu Muna.
"Masih jauh ya, Pa?" tanya Hana. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan pada sang ayah, yang berada di sampingnya.
Rupanya, mereka sedang berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Regantara, menuju sebuah rumah yang akan mereka tinggali sementara.
Kedua orang tua Hana sengaja pergi ke rumah sementara mereka setelah Hana pulang dari sekolah, agar tak mengganggu proses belajarnya.
"Tenang saja, sebentar lagi kita sampai kok," balas Pak Regantara sambil tersenyum.
Rumah yang mereka tuju terletak di sebuah pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Sepanjang perjalanan, mereka disuguhi dengan berbagai pemandangan, mulai dari sawah, pepohonan rindang, dan perumahan di desa yang begitu khas.
Jarak antar rumah yang terlihat cukup jauh membuat desa itu terasa sepi.
"Di sini kelihatannya sepi, kalau mau komunikasi sih gimana ya?" tanya Hana dengan rasa penasaran.
"Di zaman yang serba canggih ini, memangnya apa yang nggak bisa? Semuanya pasti akan dibuat mudah menggunakan teknologi modern. Jadi, kamu tenang saja," jawab Pak Regantara.
"Papa benar, zaman sudah berubah," imbuh Bu Muna.
Hana mengangguk paham. Ia pun memilih untuk kembali menikmati pemandangan yang tengah mereka lewati.
Sepuluh menit berlalu, mobil telah berhenti. Pak Regantara langsung berkata, "Kita sudah sampai."
Bu Muna dan Hana langsung melihat sekeliling dari dalam mobil.
"I-ini rumah yang akan kita tinggali, Pa?" tanya Hana sambil menunjuk sebuah rumah.
Rumah berukuran kecil dan bentuknya yang sederhana, membuat kesan yang menakutkan bagi Hana, apalagi banyaknya pepohonan di dekat rumah itu.
Mendengar pertanyaan dari Hana, Pak Regantara hanya mengangguk.
"Ayo turun," ajak Pak Regantara.
Pak Regantara keluar lebih dulu, disusul oleh Bu Muna. Berbeda dengan Hana yang masih duduk di dalam mobil.
"Han, kok kamu masih di dalam?" tanya Bu Muna.
"Hana nggak mau turun! Hana nggak mau tinggal di rumah itu, Ma!" jawab Hana kesal.
Pak Regantara dan Bu Muna langsung bertatapan. Bu Muna hanya menggeleng pelan melihat sikap putrinya.
"Ayo turun, jangan bersikap manja seperti di kota!" ucap Bu Muna dengan tegas.
Hana menjawab dengan nada kesal, "Nggak mau! Pokoknya Hana nggak mau turun!"
Bu Muna langsung saja memutarkan bola matanya. Ia merasa cukup kesal dengan sikap putrinya.
"Sudah-sudah, biarkan saja. Nanti kalau sudah bosan dia juga akan keluar sendiri," tukas Pak Regantara.
Bu Muna membalas, "Ya sudahlah, anak itu memang susah untuk diatur. Lebih baik kita masuk lebih dulu saja ya, Pa?"
"Iya, sebelum itu kita bersihkan rumah ini dulu," jawab Pak Regantara.
Mendengar ucapan suaminya, Bu Muna langsung mengangguk.
Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam rumah itu bersama. Setelah mereka berdua masuk, suasana yang semula terasa menyenangkan langsung berubah ketika mereka melihat bagian dalam rumah itu kotor, gelap, bau, dan ada banyak sekali sampah serta sarang laba-laba di mana-mana.
"Sepertinya rumah ini kurang cocok untuk ditempati. Lihatlah sekeliling, Pa,” ucap Bu Muna kurang senang.
"Gimana mau cocok ditempati kalau belum dibersihkan!" balas Pak Regantara kesal. “Papa mau keluar dulu.”
Tanpa menunggu Bu Muna menjawab, Pak Regantara langsung keluar dari rumah untuk mengambil alat pembersih yang telah disiapkan di bagasi mobil. Setelah berhasil mengambil beberapa alat pembersih, ia kembali masuk ke dalam rumah itu dan langsung membersihkannya sendiri.
Karena tak tega melihat suaminya membersihkan rumah itu sendiri, Bu Muna langsung berjalan mendekatinya.
"Aku bantu ya, Pa," ucap Bu Muna sambil mengambil sebuah sapu.
Sebelum mulai menyapu, Bu Muna teringat dengan putrinya yang masih berada di mobil. Karena suaminya baru saja dari mobil, Bu Muna pun langsung bertanya, "Hana belum turun juga, Pa?"
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Lak Regantara hanya menggeleng.
"Hana ...! Ayo turun, bantu Papa sama Mama dong!" teriak Bu Muna dari dalam.
Suaranya yang cukup keras berhasil menembus dinding dan sampai di telinga Hana yang tengah duduk di dalam mobil sambil memainkan handphone. Hana yang mendengarnya langsung memutarkan bola matanya, ia menjadi kesal dengan Bu Muna.
"Ah, ngapain sih pakai teriak-teriak segala?" gerutu Hana yang merasa kesal.
Hana sudah merasa cukup nyaman di dalam mobil, ia mengabaikan teriakan Bu Muna dan kembali memainkan handphonenya.

Kikmatulla
47 Pengikut · 3 Novel