Hujan di bulan November selalu membawa bau yang tak tertolong. Tanah yang membusuk, besi karatan, dan kenangan yang menolak dimakamkan.
Naraswari berdiri di ujung lorong lantai dua yang lengang. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, seolah-olah sekarat dan bersiap ditelan kegelapan sore. Di hadapannya, loker nomor 47 membisu. Berbeda dari loker-loker lain yang dihiasi stiker penuh warna atau coretan nama pemiliknya, loker ini dibiarkan meranggas sendirian. Cat hijau tuanya mengelupas bagai kulit mengering, dan engselnya telah menyerah pada karat sejak puluhan tahun silam.
Di genggaman Nara, sepotong kunci kuningan tua terasa dingin dan berat. Kunci itu ia temukan secara tidak sengaja di dasar laci meja belajarnya kemarin sore. Kunci itu tanpa gantungan, tanpa petunjuk, hanya sebuah ukiran angka 47 yang samar di tangkainya.
"Nara, kamu belum pulang?"
Suara Tari mengejutkannya dari jarak beberapa meter. Tari berjalan mendekat, menyampirkan tas sekolahnya yang berat di satu bahu sambil memegang payung lipat yang masih meneteskan air ke lantai marmer.
"Bentar lagi, Tar," sahut Nara pelan. Ia mencoba menyembunyikan kunci tua itu di balik lipatan jemarinya. "Aku cuma mau merapikan beberapa berkas piket sebentar."
Tari menatap ujung lorong yang temaram itu dengan kerutan tipis di dahi. "Lorong ini bau lembap banget. Lagian loker-loker tua itu kan sudah tidak dipakai sejak era sembilan puluhan. Yuk, barengan ke depan. Hujan di luar makin deras."
"Duluan saja, Tar. Nanti aku nyusul." Senyum Nara memulas tipis, berusaha meyakinkan sahabatnya.
Tari mendesah panjang, lalu menepuk bahu Nara pelan sebelum akhirnya melangkah pergi. "Jangan kemalaman. Katanya lampu lorong lantai dua ini suka mati mendadak."
Langkah kaki Tari perlahan memudar di tikungan lorong, digantikan oleh simfoni gemuruh hujan yang membentur kaca jendela. Keheningan kembali merayap, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Nara menghela napas panjang, merapatkan kemeja seragam putih-abunya yang terasa menempel dingin di kulit.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyisipkan kunci kuningan itu ke dalam lubang kunci loker 47. Besi tua yang kaku itu sempat menolak, tetapi Nara menekan kunci lebih kuat hingga terdengar bunyi benturan keras.
Klik.
Pintu loker terdorong terbuka.
Hawa dingin yang pekat mendadak berembus dari dalam rongga besi tersebut. Bau dusta tua dan kertas basah langsung merebak memenuhi udara. Di dalam loker yang diselimuti debu tebal itu, tidak ada tumpukan buku pelajaran atau sepatu bekas. Hanya ada sebuah buku berukuran sedang bersampul kain mori lusuh yang terikat tali rami kusam.
Nara mengulurkan tangan. Saat ujung jemarinya pertama kali menyentuh tekstur kain mori yang kasar itu, aroma cengkih dan tanah basah tiba-tiba menyengat hidungnya dengan begitu hebat.
Lalu, kepalanya seolah dihempas secara brutal oleh bongkahan batu besar.
Pandangannya berputar tajam. Dengung tinggi memekakkan telinganya, menulikan suara deras hujan di luar. Gambar-gambar asing berkelebat liar di dalam benaknya. Gambar-gambar itu hadir bukan sebagai bayangan samar, melainkan sebagai ingatan yang teramat nyata, tajam, dan menyakitkan.
Tahun 1997.
Ia tidak sedang berada di lorong SMA ini dalam wujud Naraswari. Ia sedang berdiri di sebuah ruangan temaram beraroma kental asap rokok murah. Namanya pada masa itu adalah Kalila Swastika. Tangannya yang mengenakan cincin perak memegang seberkas lembar jawaban ujian yang telah dipalsukan.
"Mahardika tidak akan pernah bisa mengelak kali ini," bisik sebuah suara pria yang kaku di dekatnya—suara ayahnya di masa lalu. "Nama keluarga kita harus tetap bersih, Kalila. Biarkan anak itu yang menanggung semuanya."
Kalila mengangguk tanpa ragu. Dengan dingin dan perhitungan yang amat matang, ia menyelipkan lembaran fitnah itu ke dalam tas milik Mahardika Janitra—seorang pemuda cerdas berseragam lusuh yang selalu menatap dunia dengan mata paling jujur.
"Maafkan aku, Mahardika," bisik Kalila dingin di dalam ingatan kelam itu, "tetapi kamu bukan siapa-siapa dibandingkan nama besarku."
"Ngggh."
Nara merintih keras. Tubuhnya kehilangan seluruh tumpuan daya. Buku harian itu terlepas dari genggamannya, dan Nara tersungkur keras ke lantai semen lorong yang dingin. Lututnya menghantam lantai keras, kepalanya serasa pecah oleh gelombang penyesalan, duka, dan ketakutan yang datang bertubi-tubi. Air mata menetes begitu saja tanpa sanggup ia tahan.
Ia ingat. Ia ingat segalanya. Ia bukan sekadar Nara. Dalam jiwanya yang koyak, hidup ingatan seorang Kalila Swastika—seorang penjahat yang telah merenggut masa depan, nama baik, dan nyawa seorang pemuda di masa lalu demi sebuah prestise palsu keluarga.
"Kamu ... kenapa?"
Sebuah suara bariton yang dalam dan bernada datar memutus penderitaan batin Nara.
Nara menengadah dengan napas tersengal-sengal. Di hadapannya, berdiri Damar Panji Aksara. Cowok itu memegang bundel kertas koran sekolah dan sebuah kamera yang melingkar di lehernya. Panji menatap Nara yang tergeletak di lantai dengan dahi berkerut bingung.
"Kamu sakit?" tanya Panji lagi. Langkah kakinya mendekat secara perlahan. Ia kemudian berjongkok dan mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Nara berdiri. "Bisa bangun?"
Nara menatap telapak tangan Panji yang terulur di udara. Lalu, pandangannya naik, bertubrukan langsung dengan sepasang iris hitam milik Panji.
Pada detik itu juga, dunia seolah berhenti berputar.
Wajah Panji di bawah temaram lampu lorong mendadak bertumpuk sempurna dengan bayangan Mahardika Janitra dari tahun 1997. Garis rahangnya, tatapan matanya yang tajam, bahkan tahi lalat kecil di dekat alis kirinya—segalanya persis sama.
Dada Nara dihantam keputusasaan yang teramat pekat. Batinnya menjerit memanggil nama itu, tetapi tenggorokannya terkunci rapat oleh rasa takut. Rasa bersalah yang begitu berat meremukkan dadanya hingga ia hampir tak bisa meraup udara. Namun, hal yang lebih mengerikan justru terjadi pada Panji.
Saat mata mereka beradu, tangan Panji yang sedang terulur mendadak membeku di udara.
Sebuah gelombang asing yang dahsyat mendadak menghantam dada Panji. Secara logis ia tidak mengenal Nara, tetapi tubuhnya memberikan reaksi yang teramat liar. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Rasa mual dan benci yang pekat mendadak merayapi seluruh pembuluh darahnya. Otot-ototnya menegang, dadanya terasa sesak, seolah-olah sosok gadis di hadapannya ini adalah ancaman yang mematikan.
Panji menyentakkan tangannya kembali dengan cepat, seolah-olah ia baru saja menyentuh batangan besi membara. Ia mundur satu langkah, menatap Nara dengan pandangan tajam yang dipenuhi rasa antipati mendalam.
"Kamu ...." Suara Panji bergetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa benci refleksif yang tak sanggup ia jelaskan sendiri. "Jangan tatap saya seperti itu."
Nara masih terpuruk di lantai dingin dengan air mata yang terus membahasi pipinya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Panji menolak keberadaannya dengan begitu hebat.
"Maaf," bisik Nara dengan suara parau dan nyaris tenggelam oleh deru hujan.
Panji membuang muka, berusaha menetralkan napasnya yang mendadak memburu. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping paha, berusaha menguasai diri dari rasa jijik yang menguasai dadanya tanpa sebab rasional.
"Kalau tidak bisa bangun, panggil saja petugas kebersihan," kata Panji dingin. Ia tidak memiliki sedikit pun niat untuk menolong lagi.
Panji berbalik, melangkah pergi meninggalkan Nara dengan terburu-buru. Setiap detik yang ia habiskan di dekat gadis itu terasa seperti sebuah siksaan fisik yang tak tertahankan.
Nara kembali sendirian di ujung lorong yang dingin. Di samping jemarinya yang gemetar, buku harian bersampul kain mori itu tergeletak terbuka, memamerkan tulisan tangan kusam dari tahun 1997 yang kini menuntut keadilan.