


oleh SAGARA DIKARA · 41 Bab
Maya, seorang gadis indigo, pindah ke apartemen tua di tengah kota. Di sana ia bertemu Lucas Van Dijk, pemuda Belanda tampan yang ternyata bukan manusia. Lucas adalah arwah yang terjebak sejak ratusan tahun lalu. Maya bisa melihat dan berbicara dengannya, bahkan merasakan pesona yang membuatnya sulit berpaling. Namun, di balik tatapan biru Lucas, tersimpan rahasia kelam yang bisa menyeret Maya ke dalam bahaya.
Langkah kakiku terhenti di depan gerbang besi berwarna hitam yang mulai berkarat. Catnya mengelupas, dan jika disentuh pasti meninggalkan serbuk cokelat di tangan. Di balik gerbang berdiri rumah besar bergaya kolonial. Cat putihnya sudah kusam, beberapa bagian tembok ditumbuhi lumut, sementara jendelanya tinggi-tinggi dengan tirai lusuh yang menutupi bagian dalam.
Aku menelan ludah. Inilah rumah peninggalan kakek dan nenekku yang selama ini dibiarkan kosong. Sejak kecil aku sering mendengar cerita bahwa rumah ini terlalu besar untuk dihuni sendiri dan sudah banyak kejadian aneh di dalamnya. Kini, setelah mereka tiada rumah ini resmi menjadi milikku.
Pintu gerbang berderit keras,saat Pak Surya penjaga lama keluarga kami, mendorongnya. Suara itu membuat bulu kudukku berdiri, entah karena memang bunyi besi tua atau karena suasana hati yang belum tenang.
“Kunci pintu utama ada di sini, Nona Maya.” Pak Surya menyerahkan kunci tua berwarna keperakan. Logamnya dingin saat menyentuh tanganku. “Rumah ini sudah lama kosong, jadi kalau nanti terdengar suara-suara aneh, jangan terlalu dipikirkan. Rumah tua memang begitu.”
Aku tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa tidak nyaman.
“Iya, Pak. Saya paham. Namanya juga rumah besar, pasti banyak bunyi dari kayu atau atap.”
Pak Surya mengangguk, tetapi tatapannya seperti menyimpan sesuatu yang tidak ia katakan. Tatapan orang yang sudah lama tahu lebih banyak daripada yang tampak di permukaan.
Aku melangkah masuk ke halaman. Rumput liar tumbuh tinggi di kanan-kiri jalan setapak. Pohon mangga tua di samping rumah menjuntai, daunnya menutupi sebagian atap. Angin sore bertiup pelan, membuat dedaunan bergesekan dan menghasilkan suara lirih.
Begitu sampai di depan pintu utama, aku memutar kunci perlahan. Suara klik disusul derit panjang dari engsel pintu kayu jati. Udara dingin bercampur aroma debu segera menyergap wajahku. Ada bau kayu tua yang khas, sekaligus lembap, seolah ruangan ini menyimpan napas masa lalu.
Lorong panjang menyambutku. Dindingnya dipenuhi foto hitam putih keluarga. Ada wajah kakekku muda, nenek dengan kebaya, dan beberapa kerabat yang bahkan tidak kukenal. Lampu gantung tua menyala redup, cahayanya kekuningan dan bergetar pelan.
Aku menarik napas panjang.
“Ya Allah, semoga betah di sini,” bisikku pelan, meski jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Pak Surya masih berdiri di ambang pintu, seolah ragu untuk masuk.
“Nona Maya, kalau butuh bantuan, panggil saja. Rumah sebesar ini kadang terasa terlalu sepi.”
Aku mengangguk.
“Iya, Pak. Terima kasih. Saya coba bereskan sendiri dulu.”
Ia pamit, menutup pintu perlahan. Sejak itu, hanya ada aku dan rumah tua ini.
Keheningan menyelimuti, hanya terdengar detik jam tua di ruang tamu. Dengan setiap langkahku di atas lantai kayu, bunyi kriyet-kriyet mengikuti, seakan ada yang memperhatikan dari balik dinding.
Aku menggenggam erat kunci di tanganku. Sesuatu di rumah ini terasa hidup.
Aku menutup pintu ruang tamu dengan pelan. Begitu kayu berat itu menutup rapat, gema samar bergulir di seluruh ruangan lalu menghilang begitu saja. Rasanya seperti menandai awal baru sekaligus batas antara aku dan dunia luar.
Koper besar kutarik ke ruang tengah. Rumah ini ternyata jauh lebih luas dari yang kuingat. Plafonnya tinggi, lampu gantung tua menggantung di atas kepala, kristalnya sudah kusam tertutup debu. Jendela besar berjajar di sisi kanan, tirai panjang menjuntai hingga menyentuh lantai.
Aku membuka salah satu jendela, berharap udara segar masuk, namun yang datang justru hembusan dingin, membuat bulu kudukku kembali berdiri.
“Dingin sekali, padahal matahari masih terang.” Aku mengusap lengan, berusaha mengusir sensasi aneh itu.
Di ruang tamu ada lemari kayu tua peninggalan nenek. Kacanya buram, berdebu, seakan sudah lama tidak disentuh. Di sudut lain sebuah piano tua berdiri diam, dengan beberapa tuts menguning. Sekilas aku bisa membayangkan nenek duduk di sana, jemarinya menekan tuts sambil menyanyi lagu Belanda yang sering ia dendangkan.
Aku menghela napas panjang.
“Ini rumahku sekarang. Mau tidak mau, aku harus terbiasa.”
Aku membuka koper, mengeluarkan beberapa pakaian, buku catatan, dan laptop. Buku-buku kususun di rak kecil dekat jendela. Foto keluarga kecil aku, ayah, dan ibu kutaruh di meja samping. Foto itu sedikit memberiku rasa hangat di tengah suasana asing.
Tanganku berhenti saat menyentuh cermin kecil berbingkai kayu. Cermin itu kubawa sejak kuliah, sudah seperti barang wajib. Kupasang di atas meja tulis.
Begitu kutaruh, aku memandang pantulan wajah sendiri. Rambutku agak kusut setelah seharian perjalanan, wajahku lelah, tapi ada semacam cahaya tekad di mataku. Aku mencoba meyakinkan diri, pindah ke rumah tua ini adalah langkah awal. Aku tidak boleh terus-terusan lari dari masa lalu.
“Mulai dari sini,aku akan memulai hidup baru.”
Udara di sekitar cermin terasa lebih dingin dari sebelumnya, seakan ada sesuatu yang berhembus dari balik kaca.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, merapikan baju ke lemari, lalu menyalakan kipas kecil untuk mengusir udara lembap. Rasa sepi itu semakin kental. Rumah ini terlalu besar untuk satu orang, dan setiap sudutnya seakan menatap balik ke arahku.
Sore menjelang malam. Sinar matahari terakhir menembus jendela besar, memantul pada cermin kecil di meja. Ruangan tampak keemasan, tapi justru membuat bayangan di sudut-sudut semakin pekat.
Aku duduk di kursi, menatap cermin itu sekilas sambil merapikan rambut. Seharian beres-beres membuat tubuhku letih, tapi rasa cemas lebih dominan daripada lelah.
Saat pandanganku jatuh pada cermin, napasku tercekat.
Di belakangku ada bayangan seorang pria.
Tinggi, bahunya bidang. Rambutnya hitam, dipotong rapi dengan gaya modern. Rahangnya tegas, dan yang paling menusuk adalah matanya. Mata biru keabu-abuan, menatapku tajam, namun ada sesuatu di balik sorot itu, dingin sekaligus hampa.
Aku spontan menoleh ke belakang, ruangan kosong. Hanya meja, kursi, dan tirai panjang yang bergoyang sedikit karena angin dari jendela.
Aku menatap lagi ke cermin. Bayangan itu lenyap.
Jantungku berdegup tak karuan. Tanganku refleks menutup mulut agar tidak berteriak.
“Ya ampun, baru juga pindah, sudah disambut beginian,” gumamku lirih.
Aku menutup cermin dengan kain seadanya, lalu berdiri menjauh. Pikiranku terus berputar. Sebagai indigo, aku memang sering melihat hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Sosok itu berbeda, terlalu jelas, terlalu nyata, seolah dia benar-benar ada di ruangan tadi.
Aku memeluk diriku sendiri, mencoba menenangkan napas, namun rasa dingin itu tak kunjung hilang.
Malam turun cepat di rumah tua itu. Hujan deras mengguyur dari langit, mengetuk atap seng dan kaca jendela. Suara gemuruhnya bercampur dengan desir angin yang menembus celah-celah kayu.
Aku menutup tirai, mencoba membuat kamar terasa lebih hangat. Kesunyian makin terasa pekat. Sesekali terdengar derit kayu dari lantai bawah, seakan ada yang berjalan pelan.
“Rumah tua, wajar bunyinya aneh,” bisikku pada diri sendiri.
Aku menyalakan lampu meja di samping ranjang, lalu merebahkan diri dengan selimut menutupi badan. Mataku berusaha terpejam, tapi telinga terus waspada.
Tiba-tiba, listrik padam.
Semua lampu mati. Gelap total. Suara hujan mendadak terdengar semakin jelas, menusuk telinga.
Aku bangkit dengan panik, mencari ponsel di samping bantal. Cahaya layar biru muda menyorot wajahku yang pucat. Aku menunggu, berharap listrik segera kembali.
Beberapa detik kemudian, lampu menyala lagi, dan saat itu aku melihatnya.
Pria itu.
Berdiri di sudut kamar, bersandar santai pada dinding. Tubuhnya ramping tegap, wajahnya sama persis dengan yang kulihat di cermin tadi. Mata biru keabu-abuan itu menatapku dalam, tanpa berkedip.
Aku tercekat. Mulutku kering. Jantungku seperti mau pecah.
Aku refleks mundur ke tepi ranjang. Bukannya menghilang, pria itu malah tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kudukku semakin berdiri.
Suara berat tapi lembut keluar dari bibirnya.
“Jangan takut. Aku Lucas ..., Lucas Van Dijk.”

SAGARA DIKARA
2 Pengikut · 1 Novel