“Serius, Nona. Ada beberapa benda yang seharusnya tetap terkubur. Demi ketenangan jiwa Anda.”
Dewi menggeser debu tebal yang menutupi bingkai kayu mahoni itu. Debu halus itu, tebal seperti kabut, beterbangan, dan menari di sela-sela berkas cahaya senja yang menyelinap dari jendela toko.
Bau minyak terpentin yang menguap dan aroma debu kuno yang pekat di Toko Antik Purbakala itu terasa asing. Akan, tapi secara paradoks, terasa jauh lebih memikat dan membumi daripada bau antiseptik dan kesendirian yang selalu agresif menyambutnya di apartemennya yang steril dan terisolasi di lantai lima belas.
“Aku sudah bilang, Pak Tulus. Ini bukan benda mati, ini koneksi,” balas Dewi, suaranya terdengar tenang, kontras dengan gejolak emosi di dadanya yang didorong oleh kebutuhan mendesak. Ada nada keras kepala yang tidak terbatalkan.
Ia membelakangi Pak Tulus, fokus pada potret cat minyak yang tersandar di sudut paling gelap toko itu. Lukisan itu hampir tersembunyi, dilupakan, atau bahkan diasingkan, di balik tumpukan patung perunggu yang menghitam dan karpet usang.
“Koneksi yang dingin dan penuh sial,” dengkus Pak Tulus, langkahnya berderit mendekat. Pria tua itu tampak benar-benar putus asa.
“Lukisan ini sudah tiga puluh tahun teronggok di sana. Tidak ada yang mau menyentuhnya, apalagi membelinya. Tatapannya, Nona tidak melihat betapa kosongnya mata wanita itu? Ia membawa energi buruk, Nona.”
Dewi mengabaikan peringatan mitos usang itu. Lukisan itu menampilkan potret seorang wanita bangsawan era Batavia lama, diperkirakan sekitar tahun 1910-an. Wajahnya pucat pasi, bibirnya tipis dan terkatup rapat, dihiasi kalung mutiara yang tampak tenggelam dalam gaun beludru gelap. Teknik artistiknya mahir, tapi yang menarik Dewi, seorang kurator seni yang biasanya sangat rasional, bukanlah keahlian kuasnya. Itu adalah tatapannya.
Mata yang besar dan gelap itu seharusnya mati, statis, hanya seonggok cat dan kanvas. Namun, mata itu terasa hidup, menuntut. Ia menyimpan kesedihan yang membeku, kemarahan yang tertahan, dan seribu cerita yang terbungkam oleh sejarah keluarga yang mungkin memalukan.
Bagi Dewi, yang hidup dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri, lukisan ini menawarkan semacam kehadiran, janji akan teman yang sunyi, mengisi kekosongan yang memuakkan.
“Ia tidak kosong, Pak. Ia berduka, dan ia menuntut untuk didengar,” bisik Dewi, menyentuh kanvas di bawah lapisan debu tebal.
Sensasi dingin yang intens, tajam seperti ujung logam, menjalar ke ujung jarinya, bukan karena suhu ruangan, melainkan dingin yang berasal dari kedalaman waktu yang lama terperangkap, yang kini terlepas.
“Aku ingin membawanya pulang. Berapa harganya?” tanya Dewi, tanpa menoleh, keputusan sudah mutlak. Ini bukan lagi tentang seni, ini tentang kebutuhan emosional. Ia butuh ‘teman’ itu, terlepas dari logika keuangannya.
Pak Tulus terdiam, frustrasi dengan keras kepala Dewi. “Aku tidak menjualnya, Nona. Aku akan memberikannya secara gratis. Ambil saja, dan bersihkan sudut gudangku.”
“Tidak,” potong Dewi cepat, nada suaranya tajam menolak belas kasihan.
“Aku tahu lukisan seperti ini pasti memiliki nilai historis yang mahal. Aku akan membelinya. Berikan harga yang paling tinggi yang Bapak bisa bayangkan. Aku akan membayarnya.”
Negosiasi singkat yang aneh berakhir dengan Dewi membayar hampir tiga kali lipat dari harga yang Pak Tulus sebutkan.
Pak Tulus menatap Dewi dengan ekspresi campur aduk antara lega karena beban itu hilang dan cemas yang mendalam karena ia merasa telah menyaksikan Nona muda ini membawa pulang masalah yang telah tertidur pulas selama puluhan tahun. Ia sudah berusaha.
***
Pukul enam sore, Lukisan Potret Nona Elara, nama yang ia berikan secara sepihak, telah dipasang di dinding ruang tamu apartemen Dewi di lantai lima belas. Dinding abu-abu minimalis dan furnitur modern yang bersih terasa berteriak protes di hadapan bingkai mahoni kuno yang berukir rumit dan cat minyak yang mulai retak. Lukisan itu mendominasi ruang, mengalahkan semua dekorasi lain. Kontrasnya begitu tajam, hampir invasif.
Dewi mundur beberapa langkah. Ia merasakan gelombang euforia yang didorong oleh rasa impulsifnya beradu dengan penyesalan yang tajam. “Ini gila. Aku melanggar semua prinsip kuratorialku.”
Ia telah menghamburkan uang untuk sepotong sejarah yang jelas-jelas bermasalah. Namun, saat menatap mata Nona Elara, penyesalan itu mereda, digantikan oleh rasa lega yang aneh. Kesepiannya telah terisi. Ia tidak lagi sendirian. Kini ada ‘seseorang’ yang menatapnya kembali di ruang tamu.
Ia menghabiskan waktu dengan duduk di sofa, mengamati potret dingin itu. Keheningan apartemen yang biasanya menusuk kini terasa terisi oleh kehadiran yang sunyi, tapi kuat. Ia menunggu, tanpa tahu apa yang ditunggu.
Lelah mental karena guncangan emosional, ia memutuskan untuk tidur lebih awal. Sudah hampir pukul tujuh malam.
Ia mematikan lampu utama ruang tamu. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya diterangi oleh sedikit cahaya lampu jalanan dan reklame kota yang menyelinap dari celah tirai. Keheningan kota terasa tebal, mencekik.
Dewi beranjak menuju kamar tidur, yang pintunya terletak tepat di seberang ruang tamu, memaksa ia berjalan melewati lukisan itu.
Saat ia berjalan melewatinya, ia berbalik secara refleks. Dalam remang-remang, Nona Elara tampak lebih menyeramkan.
Bayangan jatuh di bawah matanya yang cekung, dan garis bibirnya yang tipis seolah melengkung, bukan senyum, melainkan seringai sedih yang tertahan. Dewi menenangkan diri. Ilusi optik, Dewi. Itu hanya cat tua.
Ia mulai berjalan lagi menuju kamarnya. Namun, hanya dua langkah menjauh, sesuatu memaksa tubuhnya berhenti secara brutal. Bukan suara, bukan sentuhan, melainkan sensasi yang amat jelas sepasang mata dingin, menusuk dari belakang, mengunci posisinya.
Dewi membeku, rasa merinding yang dingin menjalar dari leher hingga tulang ekornya. Ia berbalik, gerakannya lambat, terbebani oleh ketakutan yang instan dan tak terjelaskan. Ia menatap mata potret itu.
Mata Nona Elara, yang tadi lurus ke depan, melihat jauh ke dinding seberang, ke arah yang kosong. Kini, dalam kegelapan yang pekat, seolah bergeser.
Fokusnya telah beralih. Mata potret itu, yang seharusnya diam abadi oleh kuas pelukis, kini terasa sedang mengunci pandangannya, mengikuti setiap gerakan Dewi yang mematung di ambang pintu.
Lukisan itu, yang baru beberapa jam ia sebut cinta pada pandangan pertama, kini balas menatapnya. Dewi merasakan jiwanya dirobek oleh tatapan dingin dan hidup itu. Ia tahu pasti. Lukisan itu tidak lagi hanya diam. Ia bergerak.