


oleh MamaNLA · 50 Bab
Arda dan Aluna adalah couple A yang menjalani LDR selama lima tahun. Setelah meniti karier dengan jalan yang berbeda, Arda kembali ke Indonesia dan langsung melamar Aluna. Rumah tangga mereka berjalan lancar selama beberapa tahun ke depan. Walaupun pernikahan mereka terbilang lama, tetapi pasangan itu belum juga diberi momongan oleh Sang Kuasa. Meskipun begitu, mereka tetaplah pasangan yang harmonis dan romantis dalam menjalin rumah tangga. Siapa sangka jalan menuju usia pernikahan yang semakin lama, ada badai besar yang menimpa rumah tangga mereka. Akankah couple A bisa mempertahankan rumah tangga mereka, atau rumah tangga mereka akan hancur begitu saja?
Pertemuan Aluna dan Arda di kampus terkenal kota A.
Aluna Putri Bernado adalah gadis cantik, manis, ia selalu berhijab sejak masuk sekolah dan memiliki kulit putih bersih.
Meskipun Aluna tak memiliki postur tubuh yang tinggi dan seksi seperti idaman setiap lelaki pada umumnya, Aluna cukup terkenal dikalangan kaum pria.
Kecerdasan dan ketegasan yang ia miliki sebagai seorang mahasiswa teladan. Ia selalu menjalani hidup dengan mengutamakan norma sosial dan agama. Dia tumbuh dengan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.
Sayangnya saat ia mulai masuk kuliah, ayahnya mengalami kecelakaan dan langsung meninggal dunia di tempat kejadian.
Sejak saat itu pula gadis berhijab tersebut menjadi gadis yang lebih tangguh dan penguat bagi adik serta ibunya.
Bisa dibilang juga ialah yang menggantikan sosok ayah untuk adik perempuan yang dua tahun lebih muda darinya.
Sang Pencipta selalu mempermudah semua urusan Aluna baik di luar maupun di dalam kampus.
Sosok Aluna di dunia luar terlihat cuek dan bodo amat soal cinta, padahal selama ini ia selalu mendambakan sosok lelaki sebagai imam yang bisa membimbingnya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Ia mengharapkan sosok yang memiliki sikap tegas seperti sang ayah datang di hidupnya.
***
Arda adalah lelaki idaman setiap wanita, ia memiliki postur tubuh yang lumayan tinggi yaitu 190 centimeter. Wajahnya yang tampan menjadi kunci agar bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya.
Arda adalah kakak tingkat Aluna di kampus tersebut.
Sudah lama Arda memperhatikan gadis yang hampir setiap hari menyendiri itu. Tetapi dia sama sekali tidak ada niatan untuk mengenal Aluna lebih dekat. Tentu karena ia sudah memiliki kekasih dan satu lagi, Aluna bukanlah tipenya.
***
Suatu hari, ia dihadapkan pada taruhan yang cukup menggiurkan.
Di sebuah taman yang ada di Kampus A, Arda duduk bersama dengan teman-temannya.
"Da, Aluna lewat tuh," ujar teman Arda lirih.
Arda pun menoleh ke arah yang ditunjuk temannya tersebut. "Emang kenapa?" tanya Arda pura-pura tidak mengenal Aluna. "Taruhan yuk," timpal teman Arda yang lain.
"Taruhan apa?!" tanya Arda bingung.
"Kalau kamu bisa deketin Aluna terus dia jadi pacar kamu, mobil aku untuk kamu," ucap teman Arda yang satu dengan entengnya.
"Iphone sama semua isi yang ada di kartu ATM-ku buat kamu, Da," timpal teman yang satunya lagi tanpa rasa takut.
Pasalnya mereka berdua adalah pria yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh Aluna. Mereka mengenal Aluna sejak Sekolah Menengah Atas dan kebetulan sekali mereka satu kampus yang sama dengan Aluna lagi.
Arda terbelalak tak percaya mendengar tawaran yang diberikan teman temannya itu.
"Kalau aku kalah?" tanya Arda sambil mengernyitkan dahi.
"Kalau kamu gak bisa dapetin dia, nggak perlu mikir yang muluk-muluk. Cukup traktir kita selama kuliah di sini. Gimana?"
Kedua teman Arda yakin bahwa pria itu akan ditolak seperti saat Aluna menolak mereka dulu. Maka dari itu mereka berani bertaruh.
"Siapa takut!" jawab Arda dengan gagah berani.
Dua teman Arda tersenyum puas.
"Kita bakalan makan gratis selama beberapa tahun ke depan," ucap teman Arda sambil menepuk bahu pria satunya lagi.
Sementara Arda sibuk memperhatikan Aluna yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Arda begitu percaya diri, pasalnya selama ini tidak pernah ada wanita yang menolaknya.
Arda adalah lelaki yang tidak pernah merasakan single walau hanya sedetik saja. Dia selalu punya kekasih, tujuannya adalah sebagai penyemangat hidupnya.
Bahkan mereka pun melakukan hal bodoh dan tanda tangan di atas materai demi seorang Aluna.
"Aluna!" teriak Arda dengan gagah berani.
Gadis itu pun menghentikan langkahnya.
"Maaf, Anda memanggil saya?" tanya Aluna sopan.
Ternyata suara Aluna cukup merdu, ini pertama kalinya Arda mendengar suara wanita yang lemah lembut seperti Aluna.
Arda memberanikan diri menghampiri Aluna.
Sementara dua teman Arda masih duduk di bangku taman dan memperhatikan bagaimana cara Arda mendekati Aluna.
"Assalamualaikum, Aluna," ucap Arda sopan seraya menjaga jarak dari Aluna karena sepertinya gadis itu tidak mudah untuk didekati.
"Waalaikumsalam, Kak," balas Aluna sambil menundukkan kepalanya.
Ia hanya melihat senyum Arda sekilas. Ia tak berani menatap lawan jenis terlalu lama dari jarak sedekat ini karena itu tidak baik.
"Aluna apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Arda sambil mengeluarkan kotak beludru dari saku celananya.
Aluna menutup mulut tak percaya, secepat itukah Allah mengabulkan doanya. Apakah Arda orangnya?
Teman Arda berdiri dengan perasaan tidak sabar.
"Gila! Dia senekat itu, Bro!" teriaknya.
Teman yang bertaruh mobil meredakan amarah temannya dengan cara menepuk bahu pria itu.
"Tenang, mustahil Aluna menerimanya."
"Ta-pi ...."
"Sudahlah, kita lihat kelanjutannya saja!"
"Hm."
***
"A-aku ...." Aluna gugup.
Ini pertama kalinya dia dibuat kagum oleh sosok pria yang berani menyatakan cinta secara langsung bahkan langsung mengajaknya menikah.
"Aku hanya membutuhkan jawabanmu saja Aluna, 'iya' atau 'tidak'. Kalau 'iya' kamu terima cincin pemberian dariku ini. Aku tidak akan pernah mengajakmu untuk berpacaran. Kalau kamu menerimaku kita hanya perlu berkomunikasi sebagai teman. Kelak jika waktunya sudah tiba aku akan melamarmu secara resmi. Sekarang kamu hanya perlu mengatakan 'iya' atau 'tidak'. Aku akan menjadi imam yang baik untukmu, Aluna," ucapnya sungguh-sungguh seperti tidak ada kebohongan dibaliknya.
"Baiklah, aku menerima cincin ini. Lima tahun lagi datanglah melamarku," balas Aluna sambil meraih cincin itu, lalu pergi dari hadapan Arda dengan langkah tergesa-gesa.
Arda menoleh ke arah kedua temannya yang sudah terduduk lemas di atas rumput.
Pria itu tersenyum puas, rencananya berhasil.
Masalah lima tahun yang akan datang, akan ia pikirkan lagi baik-baik bagaimana menghadapinya.
"Ha-ha-ha! Apa kalian puas! Ha-ha-ha!" Arda tertawa lepas melihat dua temannya lemas.
"Ah! Sialan. Pasti kamu main dukun ya!" pekik teman Arda yang bertaruh mobil.
"Dukun pala lu peyang, sebelum bertaruh lihat situasi dulu Bro, siapa yang kamu ajak taruhan. Gadis mana sih yang bisa menolak ketampananku ini?" ucap Arda dengan percaya diri sambil merapikan bajunya.
Karena sudah bertaruh di atas materai mereka berdua hanya bisa menyerahkan apa yang sudah dijanjikan.
Sungguh Arda kali ini mendapatkan keuntungan besar yang signifikan. Hubungan yang berawal dari sebuah taruhan akankah berakhir bahagia?

MamaNLA
14 Pengikut · 1 Novel