


oleh Anandea · 115 Bab
Menikah itu bukan ajang perlombaan, apalagi percobaan! Kalau saat ini ditanya, lebih memilih perjodohan atau menikah dengan orang yang dicintai? Jawaban Natasha adalah tidak akan pernah menikah. Di tengah ambisi membalaskan hujatan miring terhadap dirinya yang tak kunjung wisuda, Natasha justru harus terjebak dalam sebuah kata yang bernama perjodohan. Bukan tidak bisa menolak. Hanya saja, waktu yang mengharuskan Natasha mau tidak mau menikah dengan kerabat ayahnya.
“Hai, Pak!”
Suara Natasha terdengar dari balik pintu, kepalanya menyembul dengan senyum lebar yang tampak ceria. Matanya berbinar, seolah membawa semangat pagi yang menular. Perlahan, dia melangkah masuk dengan riang, skripsi di tangannya terangkat seperti trofi kemenangan, meski belum ada yang disetujui.
“Pak Dosen yang paling ganteng, apa kabar?” tanyanya dengan nada genit, suaranya manja, tapi tidak berlebihan. Natasha berjalan pelan menuju meja dosen, masih tersenyum lebar seakan ingin memberikan sedikit keceriaan di ruang yang terasa penuh keseriusan itu.
Dosen itu mengangkat wajahnya dari tumpukan skripsi yang ada di atas meja, lalu menatap Natasha sejenak.
“Baik, Natasha. Ada apa?”
Ruang dosen terasa sepi. Hanya terdengar suara ketukan pena yang sesekali terdengar, mengikuti detakan jam dinding yang berdetak monoton.
“Pak, ini skripsi saya.” Natasha menyodorkan skripsi keduanya yang telah disusun dengan susah payah. Sudah berhari-hari Natasha begadang, menulis, merevisi, dan akhirnya sampai pada titik ini.
Dosen itu menatapnya, dia membuka lembaran skripsi yang diserahkan Natasha, memeriksanya dengan cermat, matanya bergerak mengikuti setiap kata yang tercetak. Natasha berdiri di sana, menunggu dengan harap-harap cemas.
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam, sampai akhirnya dosen itu menatapnya dan meletakkan skripsi itu di atas meja. “Natasha, ini belum siap. Kamu masih perlu banyak revisi.”
Natasha merasa seolah ada yang pecah di dalam dirinya. “Apa? Lagi? Kenapa sih, Pak?” Suaranya terdengar mulai meninggi, ada nada kecewa yang begitu dalam. “Saya udah capek, Pak! Berapa kali saya harus revisi? Kenapa selalu nggak diterima?” Matanya mulai berkaca-kaca, meskipun dia berusaha keras untuk menahannya.
“Belum bisa, Natasha.” Dosen itu tetap duduk di kursinya, menatap Natasha dengan sabar.
Natasha berbalik, berjalan mondar-mandir, langkahnya cepat dan gelisah. “Kenapa selalu saya? Apa saya bodoh, Pak? Apa saya nggak cukup baik? Kenapa setiap kali saya hampir selesai, pasti ada yang salah?” Natasha tidak bisa menahan amarah dan keputusasaannya, air matanya perlahan mengalir.
Dosen itu hanya menatapnya sejenak, lalu mendekat. “Kamu kenapa? Jangan nangis dong,” katanya dengan nada yang lebih lembut.
Natasha menghentikan langkahnya, mencoba mengendalikan tangis yang semakin tak terkendali. “Tapi saya capek, Pak. Capek banget.”
“Kalau ada yang sulit, kamu bisa tanya sama saya,” jawab dosennya, mencoba memberi solusi yang sudah sering dia sampaikan.
“Saya udah tanya! Udah bener-bener tanya! Tapi kenapa masih belum cukup? Kenapa saya nggak bisa dapat persetujuan dari Bapak?” Suaranya semakin keras, dan Natasha melangkah menjauh lagi, kesal dengan situasi yang terasa tak ada habisnya.
Dosen itu menatap Natasha dengan penuh perhatian, mencoba memahami amarah yang menggumpal di dada Natasha. “Saya nggak bilang kamu bodoh. Ini hanya tentang kualitas, Natasha. Proses ini nggak mudah, dan saya tahu kamu sudah berusaha keras.”
“Proses?” Natasha hampir tertawa sinis. “Proses ini udah makan waktu saya, Pak! Ini udah lebih dari cukup.” Natasha menatap dosennya tajam, tak bisa menahan perasaan frustrasinya.
Dosen itu tetap berdiri tanpa bergerak, seolah menunggu Natasha untuk meredakan emosinya. Natasha merasakan matanya mulai kabur, air mata yang mulai menetes semakin deras.
“Temen saya udah pada lulus semua, Pak. Udah ada yang punya anak malahan,” ujar Natasha mencoba menyeka air matanya.
“Kamu mau punya anak?”
“Ih, saya serius lho, Pak.” Natasha menghadiahi tangan dosenya dengan pukulan ringan dari tangannya.
Natasha sering kali bersikap seperti itu kepada dosennya, terutama dosen pengujinya. Setiap kali skripsinya ditolak atau diminta revisi, emosinya langsung meledak.
Dosen itu sudah sangat hafal dengan sikap Natasha, tak lagi terkejut atau merasa terpengaruh. Beliau sudah tahu betul bagaimana cara menghadapi Natasha yang mudah frustrasi dan kesal.
Tentu saja, beliau tidak terlalu mempermasalahkan sikap Natasha yang sering marah-marah, karena dia tahu itu bagian dari proses yang harus dilalui Natasha.
Lalu, dosen itu melangkah maju sedikit, lebih dekat. “Kalau kamu merasa capek, istirahatlah sebentar, tapi jangan berhenti. Kamu punya potensi yang besar. Jangan biarkan kesulitan ini menghentikanmu.”
Natasha menunduk, tangannya terlipat di dada, bibirnya mengerucut seperti anak bebek yang mencari induknya.
“Bapak itu nggak pernah ngerasain posisi saya, bisanya asal nilai aja.” Suaranya terhenti, hanya isakan yang bisa terdengar.
Dosen itu mengangkat sebelah alisnya, seraya memerhatikan wajah Natasha yang memerah karena menangis. “Saya bisa ada di sini, karena saya dulu pernah jadi seperti kamu, Natasha.”
Natasha beralih duduk di kursi dosen, tangannya meremas skripsi yang sudah bolak-balik direvisi, matanya penuh harapan. “Pak, acc dong skripsi saya, ayo acc, acc!” serunya, terdengar seperti rengekan seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu.
Tubuhnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, gerakan yang tidak biasa dia tunjukkan di depan dosennya, mencoba memohon dengan cara yang seolah memikat. “Pak, saya mohon acc ya. Acc ya, Pak,” kata Natasha, suaranya sedikit lebih lembut, tapi tidak bisa menutupi kesan terdesaknya.
Dengan tiba-tiba, Natasha mendekatkan wajahnya ke wajah dosen itu, memberi tatapan manis dan imut, seolah ingin membuat permohonannya tak bisa ditolak.
“Tolong Pak, acc ya?” Wajahnya tampak lucu, ekspresinya dibuat begitu menggemaskan, berharap dosen itu akan melunak dan mengabulkan permohonannya.
Dosen itu memandang Natasha sejenak, kemudian dengan perlahan menyentuh dahi Natasha menggunakan jari telunjuknya. Dengan gerakan lembut tapi tegas, dia mendorongnya ke belakang, membuat Natasha sedikit mundur ke kursinya.
“Natasha, Skripsi kamu masih perlu banyak revisi. Belum cukup baik untuk di-acc.”
Natasha merosot, sedikit kecewa, tapi tetap mencoba membujuk. “Bapak kok kejam sih?” tanyanya dengan nada cemberut, meski dia tahu dosennya tidak akan begitu saja mengalah.
Dosen itu terdiam sejenak, menunggu Natasha menenangkan diri. “Natasha, kadang kita merasa lelah, tapi itu bukan berarti kita gagal. Kamu hanya perlu lebih banyak waktu, lebih banyak usaha. Setiap orang punya cara masing-masing untuk belajar dan berkembang”
Natasha mendongak, menatap dosen itu dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Tapi saya udah ngelakuin semuanya, Pak. Kenapa nggak pernah cukup?”
“Karena kamu belum sepenuhnya memberi dirimu waktu untuk berkembang,” jawab dosennya, matanya tidak lepas dari Natasha.
Natasha terdiam, meresapi kata-kata itu. Perlahan, dia menghela napas, mencoba menenangkan diri. “Saya capek, Pak,” ujar Natasha pelan, tangannya menyeka air mata yang kembali jatuh.
“Saya tahu. Semua ini nggak mudah, tapi kamu harus yakin sama dirimu sendiri. Jangan menyerah begitu saja,” ucap dosennya lagi, dengan nada yang jelas menunjukkan perhatian.
“Lap dulu air matanya.”
Dosen itu mengambil tisu dari kotak di atas mejanya, meremas beberapa helai tisu, dan menyodorkannya ke arah Natasha. Natasha yang melihat itu langsung meraih tisu tersebut dengan cepat, tanpa ada sedikit pun kelembutan dalam gerakannya.
Natasha mengusap ingusnya dengan kasar, wajahnya masih cemberut penuh kemarahan. “Saya sebel sama Bapak. Saya benci sama Bapak!” Suaranya sedikit menggelegar, penuh dengan kekesalan yang tak bisa disembunyikan.
“Pokoknya saya nggak mau ketemu sama Bapak lagi, saya nggak mau lihat muka Bapak!” ucapnya dengan gerakan tangan yang terburu-buru, seolah ingin menyingkirkan segala hal yang membuatnya frustrasi.
Setelah melontarkan kata-kata itu, Natasha langsung berbalik dan meninggalkan ruangan dosen dengan langkah yang sedikit berlari, seperti ingin segera keluar dari situasi yang terasa begitu mencekik. Pintu ruangan itu pun ditutup dengan keras, meninggalkan kesunyian yang tiba-tiba terasa tebal.
Dosen itu hanya menggelengkan kepala pelan, sebuah senyum samar muncul di wajahnya, meskipun Natasha tidak bisa melihatnya. Dia tahu betul bagaimana cara Natasha merespons tekanan.
Setelah itu, dosen itu kembali fokus pada tumpukan skripsi di mejanya, seakan tingkah Natasha itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang tidak lagi mengejutkan.

Anandea
12 Pengikut · 1 Novel