Di sebuah gedung berlantai empat puluh. Perusahaan Danuarta Group, seorang gadis tengah merapikan ruang rapat. Pagi tadi, dia baru saja mengikuti rapat bulanan bersama atasannya. Hanna, yang tadinya hanya karyawan biasa karena kecerdasan dan ide-ide cemerlangnya, dalam waktu beberapa bulan diangkat menjadi sekretaris pribadi CEO-nya. Tak jarang, Hana selalu mendapatkan bonus dan pujian dari CEO-nya yang bernama Arkan Danuarta.
Di sela-sela pekerjaanannya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dia menatap sekilas layar ponselnya. Satu pesan masuk tertera di sana. Hanna membuka ponselnya dan melihat isi pesan itu.
Tercantum nama Zaky. "Kak, aku belum bayar uang ujian. Kata Bu guru kalau nggak dibayar secepatnya, aku nggak dibolehin ikut ujian."
Hanna menghela napas berat. Dia tahu, itu adalah kewajibannya sebagai kakak sekaligus tulang punggung keluarga. Hanna harus giat bekerja karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia harus menyekolahkan adik satu-satunya yang masih duduk di bangku SMP.
"Iya, dek. Kamu sabar ya, nanti Kakak bayarin. Insya Allah hari ini bonus gajian Kakak keluar dan bisa bayarin uang ujian kamu," Hanna membalas cepat pesan singkat dari adiknya.
Namun, setelahnya terdengar suara tapak sepatu hak tinggi berbunyi nyaring di lantai marmer. Seorang wanita berbaju blazer merah dengan rok span berwarna senada menuju ke arahnya.
"Hanna!" panggil wanita itu dengan nada dingin.
"Iya, kamu Sis. Ada apa?" sahut gadis muda itu dengan mengedarkan senyum ramah pada sahabatnya.
"Kamu itu, nggak ada sopannya, ya. Saya ini Sekretaris di kantor ini. Seharusnya, panggil Ibu sama saya. Jangan karena kamu baru diangkat jadi sekretaris pribadi Pak Arkan, kamu pikir level kamu udah setara sama saya?" Tatapan sinis terlihat jelas dari mata gadis bernama Siska, bahkan dagunya terangkat menunjukkan sisi angkuhnya.
Hanna menatapnya dengan wajah heran. Tidak disangka teman satu kampus saat kuliah dengannya dulu, bahkan mereka pernah menjadi sahabat dekat telah jauh berubah. Hanya karena jabatan Siska lebih tinggi dari pada Hanna, dia merasa Hanna itu masih jauh di bawahnya.
"Maafkan saya, Bu. Saya pikir—"
"Halah, sudahlah nggak usah banyak bicara," potongnya cepat sambil melambaikan tangan tak mau mendengar alasan Hanna, kemudian melanjutkan ucapannya, "Kamu dipanggil ke ruangan Pak Arkan. Cepat pergi ke sana!"
"Memangnya, ada perlu apa, Bu?" tanyanya tak mengerti.
"Mana saya tahu! Kamu tanya aja langsung ke sana. Kayaknya, Pak Arkan marah." Senyum meremehkan terbit di bibir berwarna merah menyala milik Siska.
Hanna segera menuju ke ruangan atasannya, dengan jantung berdebar dia melangkahkan kaki ke ruangan atasannya. 'Ada perlu apa, ya. Tumben banget Pak Arkan manggil. Padahal tadi udah ketemu langsung di ruang rapat,' batinnya bertanya-tanya.
Hanna mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan nama "Ruangan CEO-Arkan Danuarta," dengan sangat hati-hati.
"Masuk!"
Di balik meja besarnya, Arkan Danuarta duduk dengan aura mematikan. Wajah tampannya terlihat kaku, rahangnya mengeras, dan matanya tajam sambil menatap sebuah amplop cokelat di atas meja.
"Bapak ada perlu apa, manggil saya?" tanya Hana lembut.
Tanpa suara, Arkan melempar beberapa lembar kertas ke arah Hanna. Kertas-kertas itu meluncur ke atas meja dan terhempas ke lantai, tepat di kaki Hanna.
"Ada apa ini, Pak?" Hanna bingung dengan sikap kasar atasannya. Ya, dia memang selalu dingin pada karyawannya, tapi kali ini mood Arkan sepertinya tidak baik-baik saja.
"Baca sendiri! Kamu sengaja mau menghancurkan perusahaan saya!" tuduhnya dengan tatapan penuh amarah.
Hanna memunguti kertas-kertas itu dengan tangan gemetar. Dia memperhatikan isinya, mata indahnya terbelalak lebar saat melihat bukti transfer bank atas namanya dan salinan percakapan surel rahasia tentang strategi tender hotel di Bali yang dikirim ke Sentosa Group yang merupakan saingan perusahaan Arkan.
"Bisa kamu jelaskan semua ini, Hanna Humairah?" Suara Arkan penuh tekanan dan seperti sedang memendam amarah.
"Pak, ini tidak benar. Saya tidak pernah melakukan ini. Saya tidak pernah mengirim surel, apalagi menerima uang dari Sentosa Group," Hanna membela dirinya, suaranya bergetar karena syok.
Arkan berdiri, melangkah perlahan mengitari meja. Langkahnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap memberi hukuman pada terdakwa. "Saya tidak pernah menyangka, kamu tega mengkhianati saya! Saya sudah berikan segalanya. Posisi, bonus, dan kepercayaan. Tapi kamu malah menjual integritas demi beberapa ratusan juta!"
"Pak, demi Allah, saya nggak pernah melakukan semua itu. Ini fitnah, Pak. Saya memang bukan orang berada, tapi saya tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang Bapak berikan pada saya."
"Jangan bawa-bawa nasib malangmu untuk memohon belas kasihan!" bentak Arkan dengan suara menggelegar. "Data ini berasal dari komputer-mu. Alamat IP-nya tidak bisa dibohongi. Ada bukti foto-foto ini, kalau kamu menyelinap di ruang arsip Minggu lalu."
Hanna menggeleng kuat. "Itu bohong, Pak! Pasti ada yang sengaja ingin membuat saya terlihat buruk di hadapan Anda!"
Arkan menatap Hanna dengan tatapan rendah. Baginya, bukti fisik adalah bukti akurat. Setiap yang berbohong harus dihukum. Air mata dan pembelaan Hanna itu cukup membuatnya percaya begitu saja. "Cukup! Saya tidak butuh drama darimu! Hari ini, jam ini juga, kamu dipecat secara tidak hormat!
Hanna tersentak. Dunianya seakan-akan runtuh. "Pak, saya sangat butuh pekerjaan ini. Saya masih punya tanggung di rumah. Adik saya butuh biaya besar untuk sekolahnya. Tolong, selidiki dulu. Bagaimana kalau kita cek CCTV, log sistem." Hana memohon dengan deraian air mata.
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang sepertimu!" Arkan kembali ke kursinya, bersikap seolah-olah Hana sudah tidak ada di sana. "Keluarlah! HRD akan memberimu gaji bulan ini. Jangan harap ada pesangon satu sen pun bagi pengkhianat perusahaan!"
"Tapi Pak—"
"Keluar! Sebelum saya memanggil keamanan untuk menyeretmu!"
Hanna keluar dengan kaki yang seperti kapas, wajahnya menunduk sedih.
"Hanna, kamu kenapa?" sapa Bimo, Asisten Arkan yang baru saja hendak menemui Arkan.
Gadis itu berjalan seperti orang linglung, dia tidak menjawab dan tidak mendengarkan ucapan Bimo.
Arkan keluar dari ruangannya. "Biarkan saja gadis itu! Jangan tertipu dengan wajah polosnya!"
"Hei, ada apa ini kawan? Apa ada yang terlewatkan dariku?" Bimo merasa ada sesuatu yang aneh di ruangan bos sekaligus sahabatnya.
"Aku baru saja memecat seorang pengkhianat!"
Deg!!!
Hati Hanna mencelos, dia menoleh ke arah atasannya. Tidak ada rasa penyesalan di mata pria itu, bahkan para karyawan mulai berbisik-bisik. Ada yang merasa kasihan, ada yang berpikiran buruk.