“Jadi, ini perempuan yang kamu bangga-banggakan itu, Adrian?”
Suara itu tidak terdengar seperti sapaan, melainkan sebuah vonis. Arini meremas jemarinya di bawah meja jati yang mengilat, berusaha meredam getaran yang merambat hingga ke bahu.
“Iya, Ma. Ini Arini. Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun, dan kedatangan kami hari ini ….” Adrian menggantung kalimatnya, tangannya bergerak menyentuh punggung tangan Arini di atas meja, memberikan remasan lembut yang seharusnya menenangkan. “… kami ingin meminta restu Mama untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.”
Hening sejenak. Ruang tamu mewah dengan pilar-pilar tinggi itu mendadak terasa sempit dan menyesakkan.
“Serius itu butuh modal, Adrian. Bukan Cuma modal cinta atau janji-janji manis di bawah pohon kamboja,” sindir Bu Lastri.
Ia meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi klang yang cukup keras di atas tatakan.
“Mama sudah menyelidiki latar belakang keluarga gadismu ini. Ayah yang sudah tiada, ibu yang hanya mengandalkan uang pensiunan rendah, dan rumah yang luasnya tidak lebih besar dari garasi mobil kita.”
“Ma!” Adrian memotong dengan nada protes.
“Arini itu pekerja keras. Dia lulusan terbaik, dia punya karier yang bagus di perusahaannya sekarang. Latar belakang keluarga bukan segalanya.”
Bu Lastri terkekeh, suara tawa yang hambar dan merendahkan.
“Karier bagus? Gaji karyawan swasta tingkat staf mau sampai kapan bisa membangun martabat? Adrian, keluarga kita punya nama. Kolega-kolega Mama selalu bertanya, siapa calon menantu dari keluarga Sudirjo. Apa Mama harus menjawab. ‘Oh, dia seorang gadis miskin yang beruntung mendapatkan anak saya’?”
Arini menelan ludah. Rasa panas mulai menjalar di matanya, tapi ia menolak untuk menangis di sini.
“Mohon maaf sebelumnya, Bu.” Suara Arini akhirnya keluar, pelan dan jernih.
“Saya mencintai Adrian dengan tulus. Saya memang tidak datang dari keluarga kaya, tetapi orang tua saya mengajarkan saya cara bekerja keras dan menjaga kehormatan.”
Bu Lastri mencondongkan tubuh ke depan, aromanya parfum mahal yang menyengat menusuk indra penciuman Arini.
“Kehormatan tidak bisa dipakai untuk membayar cicilan gengsi, Arini. Di dunia ini, segala sesuatu ada harganya.”
Adrian tampak gelisah. Ia menoleh ke arah Arini, lalu kembali ke ibunya.
“Ma, tolong jangan begini. Arini sudah berusaha sebaik mungkin untuk diterima. Kita tidak sedang membicarakan transaksi bisnis, ini soal masa depan aku.”
“Justru karena ini masa depanmu, Mama harus selektif!”
Kata-kata ‘nilai jual’ itu menghantam Arini tepat di jantungnya. Ia merasa seolah-olah dirinya bukan manusia, melainkan komoditas yang sedang ditawar di pasar loak.
Arini melirik Adrian, berharap lelaki itu akan berdiri, menarik tangannya, dan membawanya pergi dari ruang tamu terkutuk ini. Namun, Adrian hanya menunduk, tangannya yang tadi meremas tangan Arini kini telah terlepas, seolah ia sendiri sedang berupaya mencari tempat persembunyian dari amarah ibunya.
Ketakutan Adrian untuk melawan sang ibu adalah luka baru bagi Arini. Selama dua tahun ini, Adrian selalu berjanji bahwa ia akan menjadi pelindung.
“Jadi, apa maksud Mama?” tanya Adrian dengan nada lirih yang nyaris putus asa.
Bu Lastri kembali bersandar di kursi jatinya, wajahnya kembali tenang, tapi dingin seperti es. Ia melipat tangan di dada, menatap Arini dengan senyum miring yang menyimpan rencana licik.
“Mama tidak akan mengatakan tidak secara langsung,” ujar Bu Lastri tenang.
“Mama akan beri kalian kesempatan. Kamu bilang kamu perempuan bermartabat dan bukan parasit, kan, Arini?”
“Benar, bu.”
“Bagus. Kalau begitu, buktikan. Mama ingin melihat seberapa besar usahamu untuk masuk ke keluarga ini tanpa tangan kosong. Anggap saja ini tes kelayakan. Jika kalian ingin menikah, Mama minta satu syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.”
Arini menahan napas. Ia membayangkan syarat itu mungkin berupa kursus tata krama atau tuntutan untuk pindah ke divisi yang lebih tinggi di kantornya.
“Mama minta mahar dari pihak perempuan. Bukan emas, bukan seperangkat alat salat.” Bu Lastri menjeda kalimatnya, menikmati ketegangan yang tercipta.
“Bawa uang tunai seratus juta rupiah ke hadapan Mama dalam waktu singkat. Anggap itu sebagai jaminan bahwa kamu punya modal untuk berdiri di atas kakimu sendiri sebelum menyandang nama keluarga kami.”
“Seratus juta?!” Adrian terlonjak dari kursinya.
“Itu gila, Ma! Arini tidak mungkin punya uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Gaji staf tidak akan cukup dikumpulkan bertahun-tahun!”
Bu Lastri mengabaikan protes anaknya. Matanya tetap terpaku pada Arini, menantang nyali gadis itu.
“Kalau seratus juta saja tidak sanggup, berarti cintamu memang hanya sebatas kata-kata, Arini. Berarti benar dugaanku, kamu hanya ingin menumpang hidup. Bagaimana? Masih berani bicara soal kehormatan?”
Dunia Arini seolah runtuh seketika. Seratus juta. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya harga satu jam tangan bermerek. Namun, baginya, itu adalah angka yang setinggi langit.
Ia teringat ibunya di rumah yang sedang sering mengeluh sakit di dada, teringat cicilan rumah yang belum lunas, dan kini ia dihadapkan pada harga untuk sebuah restu yang seharusnya suci.
Ia menoleh ke arah Adrian, mencari pembelaan terakhir. Namun, Adrian hanya terdiam dengan wajah pucat, matanya menatap lantai seolah mencari jawaban yang tidak ada di sana. Lelaki itu tidak membela.
Arini berdiri, mencoba menjaga sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki.
“Saya,mengerti, Bu. Terima kasih atas jamuannya.”
Tanpa menunggu balasan, Arini melangkah keluar dari rumah megah itu. Udara sore yang panas menerpa wajahnya, hatinya terasa beku. Ia berjalan cepat menuju gerbang, mengabaikan panggilan lirih Adrian yang akhirnya mengejarnya.
Tepat saat ia mencapai pagar, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat. Arini merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Sebuah pesan singkat dari adiknya masuk, membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.
“Mbak, Ibu pingsan di dapur. Sekarang dibawa ke UGD. Dokter bilang harus segera ada uang muka untuk tindakan jantung. Mbak, tolong pulang.”
Arini jatuh terduduk di trotoar. Di belakangnya, Adrian berdiri dengan wajah penuh sesal, dan di hadapannya, takdir baru saja memberikan pukulan yang lebih keras dari sekadar penghinaan Bu Lastri.
Arini menatap langit yang mulai menggelap, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri. Ia telah terjual pada keadaan.