Langit Avarneth berubah warna pada malam itu.
Bukan merah seperti senja, bukan pula hitam seperti badai, melainkan kelabu pekat seolah abu turun lebih dulu sebelum api menyusul. Angin berembus membawa bau besi dan tanah basah, pertanda perang yang tak pernah salah.
Arshaka Rey Situmorang berdiri di tepi pagar kayu desa Lembah Karsin, jemarinya mencengkeram tombak latihan yang ujungnya telah tumpul. Usianya baru tujuh belas tahun, tetapi sorot matanya jauh lebih tua dari tubuhnya. Ia menatap langit dengan dada berdebar, seolah ada sesuatu di sana yang sedang memanggilnya.
“Langitnya aneh,” gumamnya.
Di belakangnya, suara langkah tergesa terdengar. “Shaka, masuk ke dalam!”
Itu suara Raghel, penjaga desa yang sudah seperti ayah baginya. Rambut pria itu memutih oleh usia dan perang lama, sementara wajahnya dipenuhi gurat luka. Ia menarik lengan Arshaka dengan kasar.
“Kenapa semua orang panik?” tanya Arshaka sambil berusaha menahan diri.
Raghel menatapnya tajam. “Karena tanda itu kembali muncul. Abu di langit tidak pernah membawa kabar baik.”
Belum sempat Arshaka bertanya lebih jauh, suara tanduk perang menggema dari arah utara. Panjang, berat, dan penuh ancaman. Detak jantung Arshaka langsung melonjak.
“Itu bukan tanduk desa,” katanya pelan.
Raghel mengangguk. “Pasukan luar.”
Jeritan mulai terdengar. Pintu-pintu ditutup. Api obor dinyalakan. Desa kecil yang biasanya sunyi berubah menjadi sarang kepanikan dalam hitungan detik.
Arshaka menoleh ke arah gerbang kayu. Dari kejauhan, siluet pasukan berkuda mulai terlihat, diselimuti kabut dan abu. Baju zirah hitam mereka memantulkan cahaya obor, dan di dada masing-masing terukir lambang yang membuat darah Arshaka terasa dingin: seekor naga tanpa mata.
“Naga Tanpa Mata,” bisik Raghel. “Mereka tidak seharusnya ada.”
“Siapa mereka?” tanya Arshaka.
“Jawaban dari dosa lama,” jawab Raghel singkat.
Gerbang dihantam. Sekali. Dua kali. Kayu berderit keras. Beberapa penjaga desa bersiap dengan senjata seadanya.
“Shaka,” kata Raghel sambil menatap lurus ke mata Arshaka. “Apa pun yang terjadi malam ini, kau tidak boleh ke alun-alun.”
“Kenapa selalu aku?” batin Arshaka. “Kenapa selalu ada larangan tanpa penjelasan?”
Hantaman ketiga merobohkan gerbang.
Pasukan hitam menyerbu masuk seperti gelombang gelap. Pedang terhunus. Panah dilepaskan. Teriakan pertempuran meledak.
Arshaka tersentak ketika seorang penunggang terlempar dari kuda tepat di depannya. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tombaknya dan menusuk. Gerakannya kaku, tetapi cukup membuat lawan tersungkur.
“Tetap di belakangku!” teriak Raghel sambil mengayunkan pedangnya.
Perang tidak mengenal kata “aman”.
Api mulai melalap rumah-rumah kayu. Langit semakin kelabu. Abu turun seperti salju kematian.
Arshaka berlari, menghindari tebasan, menangkis serangan seadanya. Napasnya terengah. Tangan dan kakinya gemetar, bukan karena takut semata, melainkan karena sesuatu di dalam dirinya terasa bangkit.
Ia berhenti mendadak ketika tanah di bawah kakinya retak.
“Tidak,” desahnya.
Retakan itu memanjang, membelah tanah di dekat sumur tua desa, tempat yang selama ini dilarang didekati. Dari celahnya, cahaya kemerahan menyembur ke udara.
“Apa itu?” teriak salah satu prajurit hitam.
Cahaya itu membesar. Tanah runtuh. Sebuah benda perlahan muncul ke permukaan, diselimuti abu dan panas.
Sebuah mahkota.
Logamnya hitam hangus, retak di beberapa bagian, seolah pernah melewati api naga. Di tengahnya terpasang batu merah redup yang berdenyut seperti jantung.
Arshaka menatapnya tanpa sadar. Dadanya terasa sesak.
“Jangan sentuh itu!” teriak Raghel dari kejauhan.
Terlambat.
Mahkota itu bergetar. Batu merahnya menyala terang, dan sebelum Arshaka bisa mundur, sebuah suara menggema di kepalanya bukan teriakan, bukan bisikan, melainkan panggilan.
Darahku kembali.
Arshaka terhuyung. Lututnya menyentuh tanah. Kepalanya terasa seperti terbakar.
“Apa yang terjadi padaku?” batinnya panik.
Pasukan hitam terdiam. Beberapa dari mereka berlutut.
“Mahkota Abu,” bisik salah satu dari mereka. “Itu benar-benar ada.”
Raghel berlari mendekat, wajahnya pucat. “Shaka, dengarkan aku. Apa pun yang kau dengar, jangan jawab!”
Suara itu semakin kuat.
Pewaris.
Tanpa sadar, tangan Arshaka terulur. Jarinya menyentuh logam mahkota.
Sekejap.
Api merah menyambar langit. Angin berhenti. Abu membeku di udara. Semua suara lenyap.
Arshaka melihat bayangan—naga raksasa bersayap patah, medan perang yang dilapisi tulang, dan seorang raja tanpa wajah duduk di atas takhta abu.
Ia tersentak keras dan terjatuh ke belakang.
Mahkota itu kini tergeletak di pangkuannya.
“Apa yang kau lakukan?” Raghel berteriak sambil menarik Arshaka menjauh. “Kau tidak tahu apa yang baru saja kau bangunkan!”
“Aku tidak … aku tidak bermaksud,” Arshaka terengah. “Ia memanggilku.”
Raghel membeku. “Ia?”
Dentuman keras mengguncang tanah. Dari kejauhan, raungan menggelegar terdengar bukan suara manusia, bukan pula binatang biasa.
Langit terbelah oleh kilat merah.
Pasukan hitam mundur serentak. “Naga,” ujar mereka dengan suara bergetar.
Arshaka menatap ke langit. Di balik awan abu, bayangan besar bergerak, sayapnya menutup cahaya bulan.
“Apa yang telah aku lakukan?” batinnya penuh ketakutan.
Raghel menatap Arshaka dengan campuran takut dan harap. “Sejak malam ini,” katanya pelan dan tegas. “Kau bukan lagi anak desa.”
“Lalu, aku apa?” tanya Arshaka, suaranya hampir pecah.
Raghel menarik napas panjang. “Jawaban itu akan menuntut darah, perang, dan pilihan yang tidak adil.”
Raungan naga kembali menggema, lebih dekat kali ini.
Arshaka menggenggam Mahkota Abu, dan untuk pertama kalinya ia menyadari satu hal yang membuat jantungnya bergetar.
Perang ini dimulai karena dirinya.
***
Arshaka tersentak dari pikirannya ketika Raghel mengguncang bahunya. “Shaka! Tatap aku! Jangan biarkan benda itu menguasaimu!”
“A-aku masih sadar,” jawab Arshaka terengah. Namun, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. ‘Mungkin aku hanya ingin percaya begitu,’ batinnya.
Raungan naga kembali menggema. Tanah bergetar. Atap-atap rumah runtuh satu per satu.
“Raghel!” teriak seorang penjaga dari kejauhan. “Pasukan itu mundur, tapi sesuatu turun dari langit!”
“Apa maksudmu ‘sesuatu’?” Raghel membalas dengan suara keras.
Belum sempat dijawab, bayangan besar menghantam tanah di luar desa. Debu dan abu menyembur ke udara.
Arshaka menelan ludah. “Itu naga?”
“Bukan naga penuh,” jawab Raghel cepat. “Masih terikat, tapi cukup untuk memusnahkan desa ini.”
“Apa yang harus kita lakukan?” Arshaka bertanya, suaranya bergetar.
Raghel menatap mahkota di tangan Arshaka. Tatapannya berat. “Itu sebabnya mereka datang, dan itu sebabnya kau harus pergi.”
“Pergi?” Arshaka menggeleng keras. “Aku tidak bisa meninggalkan mereka!”
“Kau harus!” Raghel meninggikan suara. “Jika kau tetap di sini, desa ini akan menjadi kuburan.”
Ledakan kembali terdengar. Jeritan menyusul.
Arshaka menggertakkan gigi. ‘Kenapa semua ini harus terjadi sekarang? Kenapa aku?’
“Aku tidak meminta mahkota ini,” katanya lirih.
Mahkota itu terasa hangat, seolah menjawab. Detak batu merahnya menyatu dengan jantung Arshaka.
“Dengarkan aku,” ujar Raghel lebih pelan.
“Banyak rahasia tentang dirimu yang belum kau ketahui, tapi jika kau ingin mereka hidup, kau harus bertahan hidup lebih dulu.”
Arshaka mengangkat kepala. Matanya bertemu mata Raghel.
“Kalau aku pergi,” katanya mantap meski hatinya gemetar. “Aku akan kembali, dan aku akan mengakhiri perang ini.”
Raghel tersenyum tipis. “Itu janji yang berbahaya.”
“Itulah satu-satunya yang kupunya.”