"Minumlah, Xinyue. Jangan membuat perjalananmu menuju keabadian menjadi sulit." Suara itu terdengar tenang, hampir seperti bisikan seorang kekasih di peraduan. Namun, Lin Xinyue tahu bahwa di balik ketenangan itu tersimpan belati yang siap menghujam jantungnya berkali-kali.
Ia mendongak, menatap pria yang selama sepuluh tahun ini ia puja sebagai langitnya. Zhao Feng berdiri di sana, mengenakan jubah naga emas yang megah, sementara Xinyue bersimpuh di lantai Istana Dingin yang membeku. Tubuhnya yang kurus kering dibalut kain lusuh, sisa-sisa kemegahan seorang Permaisuri yang telah dibuang.
"Kenapa, Feng? Setelah semua yang keluarga Lin lakukan untuk menaruh mahkota itu di kepalamu?" Suara Xinyue parau, setiap kata terasa seperti menelan pecahan kaca.
Zhao Feng berjongkok, jemarinya yang dingin mengangkat dagu Xinyue dengan kasar.
"Keluarga Lin terlalu kuat, Xinyue. Rakyat lebih mengenal nama Jenderal Lin daripada nama Kaisar mereka sendiri. Ayahmu harus mati agar aku bisa bernapas lega."
Darah Xinyue mendidih.
"Ayahku setia padamu! Dia tewas di medan perang karena jebakan yang kau buat!"
"Sebentar lagi, kau akan menyusulnya," Zhao Feng memberikan cawan giok berisi cairan bening ke bibir Xinyue.
"Selir Yan sudah menungguku di aula utama. Hari ini, dia akan naik takhta menggantikanmu. Jadi, pergilah dengan tenang."
Dengan paksa, Zhao Feng mencengkeram rahang Xinyue dan menuangkan anggur beracun itu ke dalam kerongkongannya. Cairan itu terasa dingin di awal, detik berikutnya, api seolah meledak di dalam dadanya.
Xinyue tersedak, tubuhnya melengkung menahan sakit yang luar biasa. Pandangannya mulai mengabur, rasa benci yang mendarat di nadinya lebih kuat daripada rasa sakit itu sendiri.
Darah mulai merembes keluar dari pori-pori matanya, air mata darah yang kental dan panas.
Jika ada kehidupan setelah ini, aku bersumpah akan mencabik-cabik setiap helai sutra yang kau kenakan, Zhao Feng. Aku akan memastikan kau mati di tangan wanita yang kau hancurkan hari ini.
Kegelapan monomania. Dingin yang abadi menyelimuti kesadarannya.
"Permaisuri? Permaisuri, bangunlah. Matahari sudah tinggi, dan upacara akan segera dimulai."
Suara itu terasa jauh, sangat nyata. Xinyue tersentak bangun, napasnya memburu seolah ia baru saja lolos dari tenggelam. Ia meraba lehernya. Tidak ada rasa terbakar. Ia meraba dadanya. Jantungnya berdetak kencang, hidup dan kuat.
"Permaisuri, Anda berkeringat dingin. Apakah Anda bermimpi buruk?"
Xinyue menoleh ke samping. Di sana berdiri seorang pelayan muda dengan wajah cemas. Mo Er. Pelayan setianya yang di kehidupan lalu tewas dipukuli hingga mati oleh kaki tangan Selir Yan.
"Mo Er?" bisik Xinyue, suaranya gemetar.
"Apakah ini neraka?"
"Neraka apa yang Anda bicarakan, Permaisuri? Ini adalah hari penobatan Anda!" Mo Er terkekeh kecil sambil menyiapkan handuk hangat.
"Seluruh istana sedang bersiap. Kaisar Zhao Feng sudah menunggu di altar utama."
Xinyue tertegun. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan kaki telanjang menuju cermin perunggu besar di sudut kamar.
Di dalam pantulan itu, ia melihat seorang wanita muda berusia delapan belas tahun. Kulitnya masih segar, matanya jernih tanpa gurat kesedihan, dan ia mengenakan pakaian dalam sutra putih yang halus.
Ia kembali ke masa lalu. Sepuluh tahun sebelum racun itu merenggut nyawanya.
Xinyue menyentuh permukaan cermin yang dingin. Ini adalah hari di mana semuanya dimulai. Hari di mana ia menyerahkan hatinya kepada pria yang nantinya akan membantai seluruh keluarganya.
"Permaisuri, mari kita mulai merias wajah. Penjahit istana sudah membawakan Jubah Phoenix Merah yang baru saja selesai." Mo Er memberi isyarat kepada serombongan pelayan untuk masuk.
Xinyue menarik napas dalam-dalam. Sandalwood dan aroma bunga melati memenuhi ruangan, aroma yang dulu ia cintai, kini terasa memuakkan karena mengingatkannya pada kemunafikan istana.
Ia membiarkan para pelayan membasuh tubuhnya, memakaikan lapisan demi lapisan sutra merah yang berat, dan memasang mahkota emas berbentuk burung phoenix di kepalanya.
Setiap jarum yang ditusukkan ke sanggulnya terasa seperti pengingat akan setiap pengkhianatan yang akan datang.
"Permaisuri, Anda terlihat sangat cantik hari ini. Pasti Kaisar tidak akan bisa mengalihkan pandangannya dari Anda," puji salah satu pelayan.
Xinyue hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.
Benar, dia tidak akan bisa mengalihkan pandangannya, karena hari ini dia akan melihat awal dari kehancurannya sendiri.
Tiba-tiba, seorang kasim masuk dan membungkuk dalam.
“Permaisuri, Selir Yan mengirimkan ucapan selamat. Beliau juga mengirimkan tusuk konde giok ini sebagai tanda hormat karena beliau tidak bisa hadir secara langsung karena alasan kesehatan.”
Xinyue menatap tusuk konde giok itu. Di kehidupan lalu, ia memakainya dengan bangga, mengira Yan adalah teman yang tulus. Padahal, tusuk konde itu mengandung bubuk yang secara perlahan akan membuat kulitnya gatal dan merah-merah, mempermalukannya di depan seluruh pejabat istana tepat di hari penobatannya.
“Buang,” ucap Xinyue singkat.
Kasim itu mendongak kaget.
“Maaf, Permaisuri?”
“Kubilang buang. Katakan padanya, Permaisuri tidak memakai barang murahan dari seorang selir kelas bawah.” Suara Xinyue dingin dan berwibawa, membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Xinyue berdiri, berat jubah phoenix-nya tidak lagi terasa membebani, melainkan terasa seperti zirah perang. Ia melangkah keluar dari paviliunnya, menuju altar utama di mana ribuan orang sudah menunggu.
Di kejauhan, di atas tangga tinggi Aula Emas, ia melihat sosok itu. Zhao Feng. Masih muda, tampak gagah dengan senyum yang dulu ia kira adalah bukti cinta sejati.
Saat langkah Xinyue semakin dekat, Zhao Feng mengulurkan tangannya untuk menyambut sang calon Permaisuri. Namun, tepat sebelum jari mereka bersentuhan, Xinyue berhenti. Ia menatap tajam ke dalam mata Zhao Feng, mencari sisa-sisa pria yang memaksanya meminum racun di kehidupan lalu.
“Permaisuri?” Zhao Feng berbisik, sedikit bingung karena Xinyue tidak segera menyambut tangannya.