Hari
itu, aku enggan sekali bangun dari tempat tidur. Rasanya seperti ada beban
ribuan ton yang menindih dadaku. Sebuah firasat buruk mengendap di dasar
kesadaranku sejak semalam.
Langit
masih abu-abu, warna yang suram dan tidak menjanjikan. Tiba-tiba, ponselku
bergetar tanpa henti di atas meja kecil samping kasur. Getaran itu terasa
kasar, beradu dengan permukaan kayu.
Satu
kali.
Dua
kali.
Tiga
kali.
Aku
menutup wajah dengan bantal, berusaha menenggelamkan diri dalam kegelapan
buatan, berharap siapa pun yang menghubungiku sepagi ini akan menyerah. Namun,
dunia seolah menolak untuk membiarkan aku kembali terlelap.
Getaran
itu terus berulang, kali ini diikuti nada dering yang melengking. Dengan napas
berat dan kekesalan memuncak, aku meraih ponsel. Cahaya terang dari layar
langsung menusuk mataku yang masih sembab.
Layar
penuh dengan notifikasi dari grup WhatsApp kampus yang biasanya hanya berisi
keluhan tentang tugas atau jadwal kuliah yang mendadak batal. Pagi ini, satu
nama muncul berkali-kali di setiap baris pesan.
Nadia.
Jantungku
seakan berhenti berdetak sesaat, lalu jatuh bebas dari lantai tiga. Jemariku
gemetar, menyentuh salah satu pesan suara yang dikirimkan oleh Tika. Begitu
tombol play ditekan, suara isak tangis histeris pecah, memenuhi
kesunyian kamarku.
"Hana!
Hana, kamu di mana?" Suara Tika terdengar patah-patah, nyaris tenggelam
dalam deru angin dan suara gaduh di latar belakang. "Nadia ditemukan di
kolam renang kampus. Dia ... dia tewas, Han. Cepat ke sini!"
Dunia
di sekitarku seolah kehilangan warnanya. Aku tidak ingat bagaimana aku berdiri
dari tempat tidur. Kakiku terasa seperti kapas, ringan, tak bertenaga.
Aku
menyambar jaket denim yang tersampir di kursi, tidak peduli apakah aku sudah
menyisir rambut atau mencuci muka. Yang kuingat hanyalah rasa sesak mengimpit
paru-paru. Angin pagi terasa mengiris kulit saat aku berlari menyusuri lorong
kos menuju parkiran motor.
Sepanjang
perjalanan, pikiran-pikiran liar mulai menghantam. Nadia adalah sahabatku sejak
semester pertama. Kami berbagi rahasia, mimpi tentang menjadi penulis besar,
bahkan berbagi tawa di kafe pinggir jalan hingga larut malam.
Nadia
bukan sekadar teman. Dia adalah jangkar bagi kewarasanku di tengah tekanan
kuliah yang menggila. Bagaimana mungkin dia pergi begitu saja?
Kompleks
olahraga kampus sudah dipenuhi manusia ketika aku tiba. Garis polisi berwarna
kuning cerah membentang, membelah area kolam renang dari kerumunan mahasiswa
yang berdesakan. Suasana di sana adalah perpaduan antara kengerian dan rasa
ingin tahu yang hambar.
Beberapa
orang menunduk sambil menangis. Sementara yang lain sibuk mengarahkan kamera
ponsel mereka, merekam tragedi ini seolah-olah itu hanyalah konten media sosial
belaka.
Aku
menerobos kerumunan itu, mengabaikan sikut orang-orang yang menabrak bahuku.
Mataku hanya tertuju pada satu titik. Di sana, di samping air kolam yang
berwarna biru jernih, sahabatku terbujur kaku di atas lantai.
Tubuhnya
sudah ditutup kain putih hingga batas leher. Rambut hitamnya yang biasanya
selalu rapi dan harum stroberi kini menempel pekat di pipinya. Bibirnya yang
biasa melengkungkan senyum manis kini berubah menjadi kebiruan, kaku, dan
sunyi.
Aku
berhenti beberapa meter dari garis pembatas. Napasku tercekat di tenggorokan.
"Nadia
itu pandai berenang," bisikku tanpa sadar.
Suaraku
terdengar asing di telingaku sendiri, kering dan hampa. Nadia adalah atlet
renang saat SMA. Dia mencintai air. Tidak masuk akal jika dia tenggelam di
kolam kampus yang kedalamannya bahkan tidak seberapa bagi orang setinggi dia.
Aku
menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Tanganku gemetar hebat di dalam saku
jaket. Tika tiba-tiba muncul dari samping dan menyentuh bahuku. Matanya merah
dan sembab, ia berusaha mengatakan sesuatu yang menenangkan, tapi suaranya
hanya terdengar seperti gumaman tak berarti di telingaku.
Saat
aku memutar tubuh, mencoba mencari udara, mataku menangkap sosok seorang pria
yang berdiri sedikit lebih jauh dari kerumunan.
Dia
berdiri sendirian di bawah bayangan pohon mahoni. Wajahnya pucat pasi,
rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Kedua tangannya masuk
ke saku jaket hitam, bahunya merosot seolah-olah dia sedang memikul beban.
Rendra.
Pacar Nadia, atau mungkin mantan pacarnya.
Hubungan
mereka memang selalu naik turun seperti roller coaster dalam beberapa
bulan terakhir. Aku tahu Rendra adalah seorang penulis novel psikologis yang
namanya mulai dikenal, tapi di mataku, dia selalu memiliki aura mengerikan.
Di
tengah kesunyian yang mencekam itu, suara bisik-bisik dari mahasiswa di
belakang mulai menyusup ke indra pendengaranku. Netizen selalu punya cara untuk
menjadi hakim sebelum pengadilan dimulai.
“Kemarin
mereka bertengkar hebat di kantin, kan?” ucap seorang mahasiswi dengan nada sok
tahu.
“Iya,
katanya Nadia minta putus semalam. Dia kelihatan ketakutan,” timpal yang lain.
“Eh,
kalian tahu tidak? Ini bukan pertama kalinya. Mantannya Rendra yang dulu-dulu
juga meninggal misterius. Ada yang bilang depresi, terus satu lagi jatuh dari
apartemen. Kok bisa ya, semua perempuan di dekatnya berakhir tragis?”
Kata-kata
itu seperti serpihan kaca yang sengaja ditaburkan di atas luka terbukaku.
Mantannya Rendra? Mati? Pola itu terlalu mengerikan untuk dianggap sebagai
kebetulan.
Aku
menatap Rendra lagi. Pria itu masih diam membeku. Matanya kosong menatap
lantai. Sama sekali tidak menunjukkan emosi meledak-ledak layaknya seorang
kekasih yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.
Apakah
itu kesedihan mendalam? Atau ketenangan seorang predator yang baru saja
menyelesaikan perburuannya?
Polisi
mulai bergerak. Mereka mengangkat tubuh Nadia ke atas tandu untuk dimasukkan ke
dalam ambulans. Saat tandu itu melewati kerumunan, angin pagi berembus cukup
kencang, membuat kain putih yang menutupi tubuh Nadia sedikit tersingkap.
Langkahku
terhenti. Mataku melebar.
Di
pergelangan tangan kiri Nadia yang pucat, aku melihat sesuatu. Ada memar gelap
keunguan melingkar di sana. Memar itu tidak terlihat seperti lebam akibat
benturan di air.
Bentuknya
sangat jelas. Itu terlihat seperti bekas genggaman tangan yang sangat kuat.
Seseorang telah memeganginya dengan kasar sebelum ia masuk ke dalam air.
Darahku
mendidih. Namun, di saat yang sama, rasa dingin menjalar dari tulang
belakangku.
“Mbak,
jangan terlalu dekat. Beri jalan.” Suara tegas seorang petugas memecah
lamunanku.
Aku
dipaksa mundur satu langkah, memberikan ruang bagi maut untuk melintas. Namun,
mataku tetap terkunci pada Rendra. Mungkin karena ia merasakan tajamnya
tatapanku, Rendra akhirnya mengangkat wajahnya.
Untuk
pertama kalinya, tatapan kami bertemu. Matanya gelap dan dalam, seolah
menyimpan ribuan paragraf yang tidak pernah ia tulis dalam novelnya. Tidak ada
rasa bersalah di sana, hanya ada kekosongan.
Aku
mengepalkan tangan di balik saku jaket. Di sana, jemariku menyentuh sebuah
benda kecil berbentuk persegi. Ponselku.
Aku
teringat sesuatu. Nadia sempat mengirimiku pesan singkat pukul dua pagi tadi.
Sebuah pesan yang belum sempat kubaca karena terlanjur terlelap.
Apakah
Rendra tahu aku adalah orang terakhir yang dihubungi Nadia? Aku juga tidak akan
membiarkan kematian ini dianggap sebagai "kecelakaan" belaka.
Begitulah pekerjaanku sebagai seorang jurnalis kampus yang haus akan fakta.
Di
bawah langit abu-abu, aku bersumpah. Jika Rendra memang dalang di balik semua
tragedi ini, aku akan menjadi karakter utama yang menghancurkan seluruh plot
ceritanya. Aku akan membuat dunia melihatnya bukan sebagai penulis berbakat,
melainkan penjahat sesungguhnya.