"Woi, gimana, nih? Sudah diupload belum, cerita itu?" tanya Irsyad.
Irsyad baru saja sampai di lorong sekolah.
"Sudah beres, lah! Tapi yang nonton cuma sedikit," kata Satria sambil memeriksa laptopnya.
"Wah! Ini, sih, namanya menurun banget. Biasanya yang nonton berapa ribu gitu 'kan? Apa yang kurang, ya, dari konten kita?" Irsyad mengerutkan dahinya.
Satria menggaruk kepala. Ia juga bingung dengan performa konten anggota mereka.
"Mungkin kurang menegangkan? Karena Orang-orang itu lebih percaya dan yakin kalau cerita itu nyata dan secara langsung." Satria memberikan sebuah ide.
Irsyad termenung sejenak sambil mengelus dagunya.
"Bisa jadi begitu, sih! Coba kita tanya Gibran, deh. Siapa tahu dia punya ide yang lebih menarik untuk konten kita selanjutnya," sahut Irsyad.
Mereka pun menuju kelas dengan tingkah mereka yang sedikit tengil dan suka menggoda siswi di sekolahnya. Bahkan guru matematika juga sering mendapat gombalan mereka.
Sesampainya di kelas. Satria langsung mengeluarkan suara hebohnya.
"Eh, eh, dengerin, deh. Konten kita yang kemarin diupload itu, cuma beberapa ratus aja yang nonton, gimana, nih!" ujar Satria dengan heboh.
"Oh, My God! Seriusly, kok bisa?" ucap Naura.
"Ya, bisa aja, kalau kita nggak menampilkan yang lebih menarik dari creator lain," ucap Maya memberikan pendapat.
Mendengar itu mereka saling pandang satu dengan lainnya.
"Kira-kira menurut pandanganmu, gimana? Apa yang harus kita lakukan dan seperti apa konten menarik itu?" tanya Oca.
"Kalau aku baca dan amati, sih! Sekarang orang gemar dengan konten horor!" sahut Satria.
"Betul itu, dari berbagai belahan dunia ini, kan sangat kental dengan hal supranatural," sahut Luna. "Apa lagi di daerah-daerah terpencil!" lanjutnya.
Semua orang mengangguk serius. Luna mengatakan fakta dalam dunia nyata.
"Tapi kita mau cari di mana? Tempat yang banyak mengandung hal mistisnya?" tanya Irsyad.
Sebelum Luna atau Satria yang membalas. Maya langsung menimpali.
"Lebih baik kita cari hal atau konten lain aja lah dari pada konten horor begitu. Lebih baik konten yang menyenangkan aja, enggak harus mengikuti konten orang lain, kan?" ujar Maya melarang pendapat mereka.
"Iya, betul. Lebih baik cari amannya aja." Oca menyetujui pendapat Maya.
Sementara itu, Gibran yang sejak tadi hanya diam, mulai mengeluarkan suaranya. "Sudah-sudah lebih baik kita bahas ini di rumahku aja, sambil main PS gimana, Guys?" ucap Gibran.
"Wih, ini seru, Jam berapa?" tanya Irsyad, antusias.
"Jam sembilan aja. Kalau kalian mau, lebih baik di bicarakan dengan pikiran yang tenang, hehe. Atau mau aku pesankan minuman yang lebih menyenangkan?" tanya Gibran.
"Nah, itu lebih seru lagi 'kan!" balas Luna.
Mata Luna berbinar-binar seperti mendengar jackpot.
"Oke, nanti malam kumpul di rumahku, jam sembilan, yang terlambat ku kasih hukuman seperti biasa," ujar Gibran.
Gibran memang sering memberikan hukuman konyol pada teman-temannya. Bukan sekedar hukuman biasa, lebih tepatnya untuk menghibur dirinya sendiri hingga tertawa.
***
Malam harinya mereka berkumpul tepat waktu. Dikarenakan mereka tidak ingin mendapat hukuman dari Gibran. Sebab, terakhir kali mereka mendapat hukuman.
Di suruh berdiri semalaman di gedung kosong dengan memakai pakaian seadanya dan yang mendapatkan hukuman itu adalah Luna dan Irsyad. Itu menjadi sebuah konten di sosmed mereka dengan penonton paling terbanyak dari konten lainnya.
Saat berada di rumah Gibran. Camilan sudah disediakan oleh Maya. Minuman yang tidak memabukkan hingga memabukkan mereka sediakan di atas meja. Sambil bermain PS dan kartu ramalan milik Maya, mereka mulai percakapan untuk ide-ide konten yang mereka inginkan.
"Gimana kehidupanku, May? Apa aku akan mendapat pasangan yang romantis?" tanya Naura tentang dirinya.
"Mana tanganmu?"
Maya memintanya mengulurkan tangan.
Tiba-tiba Irsyad langsung menyerobot dan memegang tangan Naura sambil berkata, "Kalau aku lihat kamu akan berjodoh dengan pria yang tampan dan baik hati yang bernama Irsyad," ucapnya dengan lantang. Irsyad terbahak-bahak sambil memandang Naura yang mengkerutkan dahinya.
"Haha." Semua tertawa mendengar Irsyad yang mulai merayu.
"Apaan, sih! Gila, ya? Sudah sana main PS, ikutan aja!" kata Naura yang kesal.
"Sudah sini, Haha! Lama-lama kalian beneran berjodoh, nih! Ribut terus!" ucap Maya dengan sedikit meledek.
"Maya, kamu ikutan juga, ih! Sebel banget!" Naura menggerutu dengan mengerutkan dahinya kembali.
Maya mulai membolak-balikkan kartu tarotnya. Tanpa sengaja tiga kartu itu jatuh ke meja dengan memiliki arti. Maya tercengang ketika membaca kartu itu. Oca dan Luna memperhatikan ekspresi Maya yang berubah.
"May, kenapa?" tanya Luna yang sedikit penasaran.
"Enggak apa-apa. Ayo, kita mulai diskusinya!"
Maya mengalihkan pembicaraan dan menutupinya sambil terus memandang kartu yang terjatuh. Ketika kembali mengocok kartu, Gibran berbicara.
"Oke, gimana Guys, mau konten seperti apa dan di mana? Sudah ada referensi belum mau seperti apa?" tanya Gibran.
"Kalau aku, sih, yang tadi di sekolah itu, konten horor lebih menegangkan. Karena kebanyakan orang, hobinya pasti yang menegangkan dan menantang!" ujar Satria, tetap pada pendapat sebelumnya.
"Iya, tapi di mana?" sahut Irsyad.
Tiba-tiba mata Luna melotot, sambil jari telunjuknya di angkat. Ia seperti mengingat sesuatu.
"Oh, aku tahu. Aku pernah baca artikel tentang gedung kosong di daerah kita ini. Gedung itu bekas tempat aborsi. Di tutup karena ya, sudah ketahuan bahwa klinik itu tempat seperti itu!" balas Luna memberi sebuah informasi.
"Wah, kok kamu tahu? Pasti kamu pernah itu, ya, Lun?" Irsyad mulai meledek.
"Enak, aja! Anak siapa bego!" balas Luna sambil memukul kepala Irsyad dengan buku.
"Haha, anak Dajjal, lah!" Irsyad semakin menguras kesabaran.
"Sudah-sudah, kalian ini kalau ketemu berantem Mulu!" ucap Gibran kesal.
"Ya, maaf!" jawab mereka serempak.
Gibran menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, kita mulai buat konten di situ aja dulu. Kalau misal viewer banyak, berarti memang benar mereka sukanya konten horor!" ucap Gibran.
"Wait ... wait! Kalau di buat live, gimana?" Satria memberi ide kembali.
"Live? Maksudnya, live streaming?" sahut Naura.
"Iya, jadi mereka juga ikut merasakan dan nggak mengira kita itu settingan atau di edit, gitu! Gimana, mau nggak?" ucap Satria. Ia menunggu keputusan teman-temannya.
Mereka saling tatap. Berharap ada yang memulai menjawab.
"Boleh, seru juga!" sahut Luna.
"Aku setuju Brother!" Irsyad ikut menyetujui.
Gibran mengangguk. "Boleh, Gimana kamu, May. Mau nggak?" tanya Gibran.
"Hmm, tapi aku minta jangan berbuat aneh-aneh, ya!" ujar Maya menghawatirkan ide yang temannya pilih.
Mereka semua setuju dengan konten live streaming yang diajukan oleh Satria. Semua kembali dengan kegiatannya bermain PS dan kartu. Maya memejamkan mata dan berkata dalam hatinya, 'Eyang, apa kami akan aman melakukan hal itu?'
Kartu Maya tiba-tiba berhamburan dan berterbangan. Mereka semua terkejut dengan kejadian itu.
"Maya, bangun. Kamu kenapa?" tanya Oca.
Kemudian, Maya membuka mata dan melihat Eyangnya berada di antara Satria dan Luna. Seakan memberi isyarat kepada Maya. ia membaca setiap kartu yang Eyangnya tunjuk dan itu membuat Maya terkejut.
"May, kamu kenapa?" tanya Gibran.
"Aku, emm, nggak apa-apa. Mungkin kurang fokus jadi keluar kartunya nggak fokus juga!" ucapnya, bohong.
Maya berusaha untuk menutupi dan berpikir bahwa dia telah sangat kelelahan sehingga tidak fokus dalam memainkan kartu tarot.
Mereka semua melanjutkan aktivitas yang tidak penting. Bermain dan meminum minuman yang memabukkan. Hanya Maya, Oca dan Naura yang tidak ikut dalam pesta tersebut. Hingga mereka tepar tidak berdaya di sofa.
Satria yang mabuk berat berkata, "Aku suka sama kamu, May! Kenapa kamu malah lebih demen sama pria brengsek kayak, dia!" ucap Satria, sambil menunjuk ke arah Gibran.
Atas ucapan Satria yang setengah sadar itu, membuat Maya hanya menggelengkan kepalanya. Tentu Maya sangat di sukai banyak pria sebayanya.
Maya anak yang pandai, cantik, ramah, dan baik. Bahkan di antara mereka Maya lah yang paling peka terhadap hal mistis. Gibran yang menyukainya pun sudah menunggu lama untuk mendengar balasan cinta dari Maya.
"Orang bodoh!"