“Benarkah? Bagaimana kalau yang melakukan itu adalah Raka, apa kau juga akan meminta pertanggungjawaban darinya?”
Aisha tertegun mendapatkan pertanyaan itu. Dalam hati dia akui apa yang dikatakan Eldwin memang benar. Dirinya mana mungkin kembali pada Raka, tapi kenapa juga dia terpikirkan untuk menuntut Eldwin menikahi dirinya. Apakah sebenarnya itu juga adalah keinginan hatinya atau hanya salah satu sandiwaranya untuk bisa mengetahui perasaan Eldwin pada Aisha.
“Mungkin,” jawab Aisha.
Eldwin seketika mengangkat wajahnya. Dari ekspresi yang terlihat, dia sepertinya tidak senang dengan jawaban Aisha. “Karena Anda yang sudah menyentuh saya, apa Anda ingin seperti pepatah, lempar batu sembunyi tangan?” Aisha menyindir.
Eldwin beranjak berdiri, lalu berjalan mendekati Aisha. Menatap Aisha dari tempatnya berdiri.
“Angkat wajahmu dan perhatikanlah diriku baik-baik!” pinta Eldwin.
Aisha meremas kedua telapak tangannya yang dingin, ada perasaan gugup di sana. Perlahan dia mengangkat wajahnya hingga terlihat jelas sepasang matanya yang jernih.
‘Melihat sepasang mata ini mengapa aku merasa familier. Di mana aku pernah melihatnya?’ batin Eldwin.
Aisha sampai harus mendongak, karena postur tubuh Eldwin terlalu tinggi untuknya.
“Bangunlah!” pinta Eldwin.
Aisha bangun dari duduknya. Kini keduanya sudah saling berhadapan. Aisha merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Wajah tampan di hadapannya terukir begitu sempurna seakan tanpa cacat, membuatnya ingin menyentuhnya.
“Sudah puas menatapku?”
Pemuda itu bertanya seakan mengetahui apa yang sedang Aisha pikiran saat itu.
“Apa maksud, Anda, Pak?” Aisha kelimpungan.
“Sekarang kau bisa melihat seperti apa diriku, usiaku mungkin jelas jauh lebih muda darimu. Aku ini pemuda yang memiliki sifat berubah-ubah, berbicara tanpa berpikir, dan tidak peka.” Eldwin memutar tubuhnya membelakangi Aisha. “Aku juga bukan laki-laki yang dewasa, tak memiliki banyak harta. Rumah ini juga sudah bukan milikku lagi. Dua minggu lagi mungkin aku sudah berada di kolong jembatan saat pemilik asli rumah sudah kembali, dan satu hal yang perlu kau ketahui, dengan tanganku aku sudah menghancurkan pernikahanku sendiri, Jadi sebaiknya kau pikirkan lagi.”
Ketika Eldwin memutar tubuhnya kembali, dia melihat Aisha menangis. Bukannya tergerak untuk menenangkannya, dia justru tersenyum menertawakan.
“Lihatlah, baru mendengar ceritaku saja kau sudah menangis, apalagi setelah menikah denganku, mungkin setiap hari aku akan membuat kedua matamu menjadi bengkak.” Ucapan Eldwin terdengar seperti tengah menggodanya.
“Non Aisha tidak apa-apa, Non?” tanya Bi Rum yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Tidak apa-apa, Bi,” jawab Aisha sembari mengusap kedua matanya dengan tisu. “Saya hanya sedih mendengar cerita Pak Eldwin barusan, tapi buat saya, jika harus menikah dengan pria yang tidak disukai, saya lebih memilih Pak Eldwin jika dia bersedia menikahi saya.”
“Maksud Non Aisha?”
“Iya, Bi, saya sudah dijodohkan dengan seorang pria di kampung, tapi saya tidak menyukainya,” jelas Aisha.
“Setahuku orang tua di desa tidak akan sembarangan memilihkan jodoh untuk anak gadisnya. Jika bukan karena kaya, pria itu pasti terhormat dan terpandang. Mengapa kau tidak menyukainya?” celetuk Eldwin.
“Karena saya tidak mencintainya,” jawab Aisha.
“Cinta bisa dibangun setelah menikah, sebaiknya jangan terburu-buru memutuskan menolaknya. Aku sarankan terima saja perjodohan itu.”
Aisha tidak mengira reaksi Eldwin sebegitu santainya mendengar dirinya dijodohkan dengan pria lain. Sama sekali tak menunjukkan pembelaannya, justru mendukung perjodohan itu. Apakah benar Eldwin tidak menyukai Aisha, atau hanya untuk menghindar dari tanggung jawabnya yang sudah melecehkannya.
Aisha mengepalkan tangannya, lalu berjalan menghampiri Eldwin
“Mungkin bagi Anda ciuman itu hanya sebuah kecelakaan, Pak Eldwin, tapi bagi saya itu adalah kehormatan, dan Anda sudah merenggut kehormatan saya. Asal Anda tahu Pak Eldwin, itu ciuman pertama saya.”
Usai mengatakan semua itu, Aisha meraih tas di atas meja dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Eldwin termangu tidak mengira jika itu ciuman pertama Aisha.
“Eh eh, Non Aisha mau ke mana?” Bi Rum bergegas mengejarnya.
“Aku harus pulang, Bi, aku batal menginap lagi malam ini.”
“Jangan, Non, ini sudah malam. Bagaimana kalau pria itu datang lagi dan menculik Non Anna?”
“Jangan khawatir, Bi, saya akan lebih berhati-hati.” Aisha melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah itu.
Sebenarnya rasa cemas itu masih ada, khawatir bertemu kembali dengan Raka. Namun, dia harus keras Kepala untuk mengetahui apakah Eldwin masih peduli dengan Aisha atau tidak.
Melihat Aisha sudah berada di halaman, Bi Rum kembali lagi menemui Eldwin.
“Den, Den Eldwin, cegah Non Aisha pergi, Den. Kalau terjadi apa-apa dengan Non Aisha itu tidak baik,” bujuk Bi Rum.
“Tidak, Bi, biarkan saja.” Eldwin terlihat acuh.
“Apa Anda mau kehilangan Aisha seperti Anda kehilangan Non Anna? Meskipun tidak punya rasa suka, sedikit saja belajar peduli dengan kesusahan orang lain, Den. Saat ini Non Aisha sedang butuh perlindungan. Jika dia datang kemari itu artinya dia menganggap Den Eldwin mampu melindunginya.”
Eldwin diam memikirkan ucapan asisten rumahnya itu, lalu tiba-tiba dia beranjak dan berlari ke luar dengan cepat menyusul Aisha.
Sesampainya di luar rumah, dia sudah tak menemukan sosok Aisha di sana. Eldwin berjalan sedikit menjauh, mungkin saja Aisha masih terlihat di jalan itu.
‘Cepat sekali dia perginya, perasaan dia baru saja keluar. Sebaiknya aku menyusul ke rumahnya.’
Eldwin berjalan kembali ke rumah untuk mengambil motornya. Di depan pintu gerbang dia melihat perempuan itu di sana, duduk di dekat tanaman bunga. Kepalanya tertunduk, kedua tangan memeluk lututnya.
“Aisha.” Eldwin segera menghampiri.
Aisha terkejut tiba-tiba sosok pria langsung meraih bahunya membawanya berdiri, lalu memeluknya dengan erat. “Jangan pergi, aku tidak mau kau kenapa-kenapa,” ucapnya sangat dekat di telinga Aisha.
Aisha, tepatnya Anna merasakan kekhawatiran Eldwin. Pemuda itu akhirnya mengejarnya tak membiarkannya pergi.
Anna mendekatkan tangannya, dengan ragu ingin membalas memeluk bahu pemuda itu. Namun, sebelum sempat dirinya melakukannya, Eldwin sudah menarik mundur tubuhnya, lalu menarik tangannya masuk ke dalam rumah.
Melewati ruang tamu Anna masih melihat Bi Rum, wanita itu tengah memandangnya dengan terkejut juga perasaan senang. Sementara Eldwin terus menariknya membawanya masuk ke dalam rumah.
Anna tak sempat bertanya, Eldwin sudah membawanya menaiki tangga hingga mereka tiba di kamar Eldwin.