Malam harinya Anna dan Anggar menunggu operasi Aminah di ruang tunggu. Anna terlihat gelisah dan tak tenang. Wajahnya pun pucat dan terlihat lelah karena kurang tidur.
Anggar sudah berusaha membujuknya untuk pulang dan beristirahat di rumah, tapi Anna menolak. Di kontrakan pun dirinya tidak akan bisa memejamkan matanya.
Pada saat itu Eldwin datang. Kedua tangannya menenteng kantong plastik, mungkin makanan. Dia lantas menghampiri Anggar dan memberikan satu kantong itu padanya.
“Makanlah, selagi masih hangat,” ucapnya pada Anggar.
“Terima kasih,” ucap Anggar.
Melihat Eldwin menghampiri Anna dan duduk di sampingnya, dia melihat Anna mengangkat wajahnya. Eldwin dengan jemarinya mengusap lembut wajah Anna. Anna malah menangis, menjatuhkan kepalanya di dada pemuda itu.
Anggar sedikit merasa lega. Melihat Anna bersama dengan Eldwin, dia akan baik-baik saja. Anggar kemudian menyingkir, menjauh dan duduk di kursi tunggu lainnya. Kemudian, membuka bungkusan makanan pemberian Eldwin.
“Kenapa menangis? Apa aku yang sudah membuatmu sedih seperti ini?” Eldwin bertanya sembari melingkarkan tangannya di bahu Anna. Membawa tubuh itu dalam dekapannya.
Anna merasa sangat nyaman saat menyandarkan kepalanya di dada Eldwin. Mendengar detak jantungnya, wajah Anna serasa panas dingin.
“Kenapa tidak bilang kalau kau yang membiayai operasi itu. Kalau aku tahu kau sampai mempertaruhkan nyawa demi uang itu aku tidak akan—“
“Ssstt!” Eldwin menempelkan jemarinya di bibir Anna. Bulu matanya yang panjang bergetar. Masih ada sisa air mata di sana.
“Jangan dibicarakan kalau itu membuatmu sedih dan cemas,” ujar Eldwin.
“Kalau aku tahu aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, El,” ungkapnya.
“Lalu, operasi ibumu bagaimana? Selama ini kau sudah banyak membantuku dengan uangmu, dan membeli rumahku hanya untuk membantu biaya restoran. Kalau aku menerbangkan pesawat itu hanya usahaku yang tak seberapa.”
Anna menarik tubuhnya menjauh. “Melakukan uji coba kau anggap kecil? Kau tahu kan risikonya apa?”
“Apa?” tanya Eldwin.
“Kau bisa tiada, El, dan aku tidak mau itu terjadi denganmu.”
Eldwin tersenyum. Dia bisa melihat kecemasan di dalam pancaran mata Anna saat itu.
“Jadi, sebenarnya kau sedih karena takut kehilanganku atau takut menjadi janda yang ke tiga kali?”
Merasa Eldwin sedang mengolok-olok dirinya Anna berubah kesal, lalu duduk termenung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Eldwin mendekatkan wajahnya, memiringkan kepalanya sedikit mengintip wajah Anna dengan tatapan menggoda.
Melihat wajah tampan itu memerhatikannya, Anna tak bisa untuk tidak deg-degan. Apalagi ketika dengan cepat Eldwin mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.
“El!” Anna melotot marah. Dia melihat ke sekeliling dengan khawatir. “Jangan sembarangan melakukan hal itu di tempat umum.”
“Jadi kau maunya di tempat tersembunyi, ayo!” Eldwin mencekal tangan Anna, tapi Anna menolaknya.
“Duduklah! Jangan berbuat macam-macam!” Anna mengingatkan.
Eldwin menurutinya, tapi tetap saja dia tidak bisa duduk dengan tenang sementara dia berada di dekat Anna. Jemarinya tidak mau diam, terus bergerak-gerak memainkan kerudung Anna, sampai kemudian dia berhenti ketika mendengar suara perut keroncongan.
Anna mengangkat sudut bibirnya, memegangi perutnya yang lapar dengan perasaan malu. Eldwin menggelengkan kepalanya, lalu meraih kantong makanan yang dia bawa.
“Masih hangat, cepatlah makan.” Eldwin membuka Box makanan itu. Satu porsi mi goreng, aromanya menggoda perut yang lapar.
Melihat dari reaksinya sepertinya Anna malas untuk makan. Padahal, jelas sekali dia sedang kelaparan, mungkin karena masih memikirkan Aminah yang belum keluar dari ruang operasi.
Akhirnya Eldwin mengalah dan menyuapinya.
Merasa kenyang dan mengantuk, Anna tertidur di kursi, di pangkuan Eldwin. Dia memberikan jas seragamnya untuk menyelimuti tubuh Anna supaya tidak kedinginan.
Udara di malam hari cukup dingin. Eldwin juga melihat Anggar duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu.
Sekitar jam sepuluh malam, dokter datang memberikan kabar baik. Operasi berjalan dengan lancar, dan saat ini Aminah berada di ruang pemulihan.
Eldwin membangunkan Anggar untuk menjaga Aminah, dan tetap membiarkan Anna beristirahat hingga keesokan harinya.
***
Anna bangun pagi-pagi sekali dan menyadari dirinya masih di pangkuan Eldwin. Anna merasa kasihan karena dirinya Eldwin tidur sembari duduk. Pasti badannya sakit dan pegal-pegal.
Perlahan Anna membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipi pemuda itu, tapi sepertinya dia harus lebih keras lagi untuk bisa membangunkannya.
Anna mengulurkan tangannya, tangannya terhenti saat menyadari wajah itu terlihat lebih memesona saat terpejam. Bulu matanya juga panjang. Alisnya dan semua yang ada padanya begitu indah terpahat sempurna.
Seakan tidak ada cela sedikit pun. Mungkin, saat melahirkannya Mala memikirkan seorang pangeran yang gagah dan tampan hingga dia melahirkan laki-laki yang rupawan seperti Eldwin.
“Kau sedang melihat apa?” Tiba-tiba pemuda di hadapannya itu membuka matanya. Anna sampai terkejut dan gugup.
“Bukan apa-apa,” jawab Anna tersipu, tapi sikap gugupnya tidak bisa membohongi seorang Eldwin.
“Jangan bohong, aku tahu kau sedang mencuri memerhatikanku, kan? Tidak apa-apa, setelah kita di rumah kau bisa memandangiku sepuasmu.”
Mendengar ucapan Eldwin, Anna kini yang dibuat gugup.
***
Atas saran Eldwin, Aminah dan Anggar tinggal di rumahnya sampai Aminah sembuh. Awalnya Aminah menolak, tapi dengan alasan Eldwin yang tidak ingin jauh-jauh dari Anna, wanita itu pun memahaminya.
Selain itu Eldwin menjelaskan alasan lain, dia yang harus kembali ke perusahaan akan lebih tenang jika meninggalkan Anna bersama keluarganya.
Keputusan Eldwin yang cukup bijaksana itu membuat Anna merasa kagum. Dia bisa merasakan Eldwin semakin dewasa setelah pemuda itu tinggal di asrama perusahaan.
Malam itu setelah semua berada di kamarnya, Anna masih melihat Eldwin duduk di ruang tamu. Anna kemudian menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Besok berangkat pagi, tapi kau masih belum tidur?” tanya Anna.
Eldwin menghentikan aktivitasnya. Meletakkan ponselnya di meja. Dia menatap perempuan di sampingnya dengan tatapan seperti ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan. Namun, ragu untuk mengatakannya.