


oleh Rina22 · 106 Bab
Setelah perceraian Ajeng dengan Dimas, Ajeng kembali ke keluarganya di mana Ajeng adalah satu-satunya anak seorang milyader yang kabur saat perjodohan dahulu. Kini ayahnya sedang sekarat, Ajeng kembali dan meneruskan perusahaan ayahnya. Dimas yang sebelumnya berselingkuh dengan teman kerjanya, Dinda, merasakan bahagia ketika melihat Ajeng pergi dari rumah Dimas. Pemberitahuan Presdir baru di perusahaan Dimas dan Dinda bekerja membuat muka mereka pucat tak bernyawa, sementara Ajeng berjalan angkuh hanya melirik keduanya. Ajeng pun akhirnya mengumumkan rencana pertunangan dengan seorang pria bangsawan yang dijodohkan ayahnya di saat-saat terakhir hidupnya. Apakah Ajeng akan balas dendam terhadap Dimas dan Dinda?
“Cih, kamu lihat betapa sombongnya dan angkuhnya mantan istrimu!”
“Yaa, jalang munafik!”
Dimas dan Dinda saling bertatapan kebencian mendalam terhadap Ajeng. Kenyataannya seperti itu karena sikap mereka berdua yang membentuk Ajeng menjadi wanita mandiri yang Angkuh dan sombong.
“Kalian terus membenciku,” rintih Ajeng ketika matanya melihat kebencian dalam diri Dimas dan Dinda.
Diam-diam Ajeng memperhatikan mereka berdua.
“Hai, bos cantik mantan istriku. Emmm kamu semakin cantik mulus.“ Ucapan Dimas terhenti disela Dinda.
“Jalang sepertimu bisa menjadi presdir, pasti kamu naik ke ranjang tuan besar, aku sudah tahu. Mari bersulang atas keberhasilanmu kali ini.“ Dinda menyodorkan gelas anggur ke hadapan Ajeng. Ajeng mengambil dengan tersenyum licik.
“Tentu saja jalang sepertiku bisa melakukan apa saja yang aku mau, dan nyatanya kamu lihatlah Dinda sekarang aku adalah bosmu, kamu kalah dariku!”
“Cih, peperangan kita baru dimulai, Ajeng. Jangan bangga dulu kamu!” Dinda mengarahkan telunjuknya ke dada Ajeng yang tersenyum tipis.
“Ingatlah jalang, kami tidak pernah mengampuni kamu!“ tambah Dimas mengepalkan tangannya sampai memerah seakan-akan ingin menonjok muka Ajeng.
“Nikmatilah pesta kehadiran aku jadi Presdir kalian, jangan membuat suasana hatimu menjadi kelam,” tekan Ajeng memberikan minuman itu terhadap pelayan.
Kepalanya terasa pusing berputar, dan badannya terasa panas. Ajeng meminta pelayan mengantar ke kamar di lantai 7. Senyuman seseorang terlihat jelas mengintip saat Ajeng diantar menuju lift.
Setelah menuju lantai 7, Ajeng berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi kepalanya dan melihat kunci kamar yang diberikan asistennya. Ajeng membuka kamar dan langsung ke kamar mandi.
“Hei ... kemarilah jalang, gosokan punggungku!”
Mata Ajeng membulat melihat pemandangan sosok pria tampan tanpa busana di dalam bath up, menelan ludah, hasratnya melonjak ingin dikeluarkan.
Tanpa sadar, Ajeng mendekati, kakinya masuk kedalam bath up. Ajeng mengambil spon busa untuk mandi dan menggosok pelan-pelan.
“Hei, jalang, kenapa kamu sangat lambat?”
Pria itu membalikkan badan, dan mendudukkan Ajeng di atas paha. Pria itu jelas melihat pemandangan indah di depan matanya.
Ajeng yang hasratnya sudah tinggi langsung memberikan serangan dengan membekap mulut pria itu dengan mulutnya, mengalungkan tangannya di kepala sang pria.
Pria itu merasakan senang jalang yang dia pesan sangat agresif dan cantik. Memberikannya kepuasan.
Andika tidak kalah agresif, tangannya bergerak ke sana kemari. Mendengar desahan wanita di depan yang merdu membuat hasratnya tidak terkendali lagi.
Entah berapa lama mereka bermain di bathup sampai pindah ke tempat tidur.
Dan setelah adzan subuh terdengar Ajeng tersadar dan membuka bola matanya pelan-pelan sambil melihat di sekelilingnya.
Ajeng terkejut melihat di sebelah tempat tidur ada seorang tampan yang kelihatan umurnya masih muda.
Bangkit dari tempat tidur, ia langsung berlari ke kamar mandi setelah itu. Ajeng memeriksa isi dompet pria itu. Kosong, hanya ada satu kartu emas tanpa limit. Ajeng menyipitkan matanya. Tidak ada identitas pria itu.
’Di mana kartu identitasnya,’ pikir Ajeng.
Dia pun menyimpan uang 10 juta di atas dompet pria itu dan langsung pergi.
Setelah sepuluh menit Ajeng pergi, pria itu terbangun, dan melihat keadaan kamarnya. Menyipitkan mata melihat ada sejumlah uang di atas dompet miliknya.
“Sialan, kenapa wanita jalang memberikan aku uang? Bukankah semalam aku yang memesannya,” lirih Andika.
Andika Dirgantara seorang tuan muda dari keluarga Dirgantara yang terkenal playboy dan suka bermain wanita merasa marah dan harga dirinya diinjak wanita semalam yang meniduri dirinya. Andika mengambil ponselnya.
“Brian, apa wanita yang semalam aku pesan padamu itu datang?“
“Maaf, Tuan Muda, dia tidak datang. Dia menemani ibunya yang sedang dirawat.”
“Jadi siapa wanita semalam yang masuk ke kamarku?!”
“Ahhh ... wanita ... baik, akan aku cek,” jawab Brian ketakutan mendengar amarah sahabatnya itu.
“Sebenarnya siapa yang masuk kamar Andika?“ lirihnya, menghela napas dan melanjutkan berjalan keluar menuju hotel di mana Andika berada sekarang.
Brian ke kantor di hotel tersebut, meminta rekaman CCTV-nya. Ia agak terkejut karena ia mengenal sosok tersebut.
Brian pernah mengagumi wanita itu saat duduk di sekolah menengah atas. Wanita cantik dan sangat cerdas, sayang dia berasal dari keluarga ekonomi bawah.
Ayah wanita itu hanya seorang PNS biasa. Brian meminta copyan CCTV dan memasukkan ke dalam USB miliknya.
***
Ajeng yang dari hotel langsung pulang ke rumah meminum obat pereda mabuknya.
Ia bergidik ngeri mengingat-ngingat kejadian semalam. Membayangkan dirinya yang agresif terhadap pria muda yang tidak dikenalnya.
Ajeng menelepon asisten di kantor dan menyuruhnya untuk melacak tentang pria tersebut dan menyampaikan hari ini dia datang terlambat.
“Dodi, apa sudah ada hasilnya yang aku minta?”
“Sudah, Nona besar. Tuan muda yang semalam bersama Nona itu tuan muda Andika yang terkenal dengan sifat playboynya. “
“Hmm. Aku mengerti.”
“Ada satu lagi, tampaknya dari pihak Tuan Andika sudah melacak tentang Nona. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Dodi menunggu perintah dari atasannya, mata menatap tajam Ajeng.
“Tidak usah, kamu lihat saja apa yang akan mereka lakukan padaku,” jawab Ajeng sambil memainkan penanya.
“Hari ini terima kasih sudah dibawakan pekerjaanku kemarin, kamu tunggu sebentar. Selesai kutandatangani baru kamu bawa ke kantor. Tolong rahasiakan identitasku di kantor, bahwa aku mewarisi kekayaan kakekku, karena ayahku sudah tiada.”
“Baiklah, Nona.”
Ketika Dodi baru sampai depan pintu ruang kerja Ajeng, Dodi berbalik.
“Nona, gawat!! Tuan Andika sedang menuju kantor, sekarang dia ada di lobby kantor. Resepsionis tadi menchat.”
Ajeng mengangguk. “Baiklah, kita hadapi tuan muda itu.”
***
“Siapa pria tampan ini? Kenapa dia mencari jalang itu?” Lirih Dinda sambil berjalan mendekati tuan muda Andika.
“Maaf, Tuan. Bukankah kamu tuan muda Andika? Apa kamu mencari bos kami?“
“Ya, betul Nona. Apa kamu mengenalnya?"
“Tentu saja, dia temanku. Aku sangat mengenalnya. Kalau tuan muda menginginkan informasinya ini nomorku.“
Dinda menyodorkan ponselnya untuk memberikan kode QR. Andika hanya melirik memerintahkan asistennya untuk menerima nomor Dinda.
Dinda sedikit mengernyitkan alis melihat gerakan asisten Andika yang gesit. Ponsel Dinda pun sudah diserahkan kembali.
“Terima kasih,” ucap Brian.
“Oh, namaku Dinda.” Dinda hanya mengangguk dengan wajah muram.
“Ck ck, wanita itu lama sekali. Baru kali harus menunggu wanita, padahal biasanya mereka yang menunggu kehadiranku.” Kekesalan Andika terlihat jelas di mukanya.
“Dia baru datang,” ucap Brian menunjukkan arah wanita yang datang dengan elegan dan berwibawa.
Ajeng berjalan mendekati Andika, dan sedikit membungkukan badannya.
“Selamat datang di perusahaan kami, tuan muda Andika. Mari kita langsung masuk ke kantorku,“ ucap Ajeng ramah. Penampilan Ajeng membuat Andika diam tidak bisa berkata-kata.
“Ayo, Andika!” ajak Brian membiarkan Andika berjalan.
Brian tetap menatap, sedikit keraguan di mata Brian kenapa temannya begitu terpana dengan Ajeng.
Dia sendiri sangat memuja Ajeng. Wanita ini memang sangat cantik, Andika menjadi gagap karena kecantikan Ajeng.
“Kenapa si jalang itu bisa mengenal tuan muda Andika?”
“Awas kamu, Ajeng. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia!”

Rina22
12 Pengikut · 2 Novel