“Where are you going?” tanya Leony ketika melihat Leon bersiap pergi.
“Go to hospital, of course,” jawab Leonardo, karena memang hari ini jadwal shiftnya, dan bisa dipastikan pria itu akan kembali ke rumah besok siang menjelang sore. Sementara jadwal shift Leony baru dimulai esok pagi, praktis mereka hanya bertemu di rumah untuk saling menyapa, tanpa ada komunikasi yang lainnya.
“Why?” tanya Leonardo, karena melihat wajah Leony yang tiba-tiba murung.
“Forget it.” Leony menutup wajahnya dengan selimut, sebenarnya ia sedang lelah, jenuh, dan ingin merebahkan kepalanya sejenak di pelukan suaminya. Namun,hal itu belum bisa ia realisasikan karena keduanya sedang tak bisa melakukan hal itu.
Leonardo dan Leony bertemu di acara reuni SMU, dan dari sanalah benih-benih cinta mereka dimulai. Dua tahun terakhir ketika sama-sama menyelesaikan program Dokter Muda di dua negara berbeda, tak membuat cinta mereka pudar, justru semakin hangat.
Seringnya bolak-balik London-Jakarta demi sang kekasih, membuat kedua orang tua mereka khawatir. Maka keduanya pun dinikahkan setelah sama-sama menyelesaikan program Dokter Muda.
Kini setelah melanjutkan program spesialis di London, keduanya semakin mesra, dan sama-sama bucin tak terpisahkan.
“Tell me why, babe?” bujuk Leonardo sebisanya, karena kini pria itu pun sibuk dengan program spesialisnya. Hingga tak punya banyak waktu ber manja mesra, begitu pula Leony yang hampir sama dengan sang suami.
“Aku tahu, satu tahun ini kita sibuk, hingga kita tak punya banyak waktu bersama, bercanda, dan berinteraksi mesra.” Leon menyempatkan diri duduk di sisi pembaringan, dan mencoba membuka selimut yang menutupi wajah Leony.
“No … ignore me.” Leony memegang erat selimutnya, hingga Leonardo gagal melanjutkan pertanyaannya.
“It’s okay, katakan padaku, jika ada apa-apa.”
“Hmm–”
“Aku pergi, ya?”
Leony hanya diam, tak lagi memberi jawaban.
Leonardo menepuk pelan kepala Leony, sebelum benar-benar pergi. “Take care, Babe,” ucap Leonardo sebelum menutup pintu apartemen yang mereka tempati.
Setelah mendengar kunci otomatis berbunyi, Leony kembali membuka selimutnya. “Sebenarnya aku butuh kamu sekarang,” gumam Leony dengan air mata berlinang.
Leony adalah anak satu-satunya, ia tak memiliki kakak ataupun adik, jadi wajar jika ia sangat dekat dengan sang papa. Setiap kali ada masalah, tanpa segan ia menangis mencurahkan isi hatinya pada cinta pertamanya tersebut. Begitu pula yang ia inginkan dari suaminya saat ini.
Tapi hal sederhana itu tak bisa ia wujudkan, karena sadar jika kini suaminya pun sama sibuknya dengan dirinya. “Apakah, aku terlalu kekanakan?” desah Leony.
•••
Tiba di rumah sakit, Leonardo segera menuju ruang ganti, ia hendak menukar pakaian casualnya dengan pakaian khas dokter yang bekerja di rumah sakit.
“Aku kira kamu tak bertugas malam ini,” sapa Annette, rekan satu timnya di bedah Hepatobilier Pankreas.
“Aku bertukar jadwal dengan Rex.” Leonardo menjawab singkat. Masih teringat istrinya yang belakangan selalu murung, dan tak lagi ceria seperti dulu.
Siang tadi Leonardo sengaja pulang, karena jadwal shiftnya sudah berakhir, ini satu-satunya harapannya bisa bersama sang istri hingga esok pagi.
Tapi sepertinya Leony sedang lelah dan butuh istirahat, dan karena tak ingin mengganggu istirahat sang istri, maka Leonardo pun setuju bertukar shift dengan salah satu rekan satu timnya di rumah sakit, alih-alih menghabiskan quality time bersama sang istri.
“Yes!” Diam-diam Annette mengulum senyuman, bahagia rasanya jika bisa satu shift dengan Leonardo. Karena Annette cukup gencar mendekati pria itu, kendati tahu bahwa dia sudah beristri. Tapi siapa yang peduli, hal itu tak masalah di negara bebas seperti London.
Malam semakin larut, Tepat di penghujung malam, panggilan darurat datang, membuat Leonardo dan Annette sama-sama harus mendampingi dokter utama melakukan operasi. Operasi tersebut cukup memakan waktu, karena kondisi pasien yang berkali-kali memasuki ambang batas mengkhawatirkan.
Hingga matahari pagi benar-benar bersinar terang, barulah keduanya bisa keluar dari ruang operasi.
“Ah, operasi tadi hampir membunuhku,” keluh Annete.
Tapi Leonardo hanya diam, tak berkata apa-apa, ia hanya merebahkan kepalanya di atas meja di ruangan khusus dokter spesialis Hepatobilier Pankreas. Tak lama kemudian pria itu pun terlelap dengan meja sebagai tumpuan kepalanya.
Annette tentu tak menyia-nyiakan kesempatan itu, suasana ruangan yang sepi karena masing-masing orang sedang sibuk, membuat Annette merasa leluasa. Gadis itu ikut merebahkan kepalanya di atas meja, bahkan sengaja memangkas jarak mereka, hingga Annette bisa merasakan hembusan nafas Leonardo.
“Kamu tampan sekali,” puji Annette sembari menyingkirkan anak rambut yang ada di kening Leonardo. “Aku akan menunggumu, sampai kapan pun.” Annette tersenyum penuh arti, bahkan dengan lancang mencium sekilas bibir Leonardo.
“Sayang! Aku datang … ” Suara Leony menggantung, ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Dari balik pintu transparan. Wanita itu melihat apa yang Annette lakukan, padahal ia sengaja datang lebih pagi, hanya untuk sarapan bersama sang suami. Namun, kedatangannya disambut pemandangan yang tak menyenangkan.
Leony mundur beberapa langkah, ia sangat cemburu, bahkan menyesalkan sikap Leonardo yang membiarkan wanita selain istrinya lancang mencium bibirnya, bahkan di tempat umum.
Senyum yang ia bawa sejak dari rumah, memudar seketika. Di negara bebas seperti London, berciuman memang hal yang lumrah, tapi tidakkah Leonardo menyadari bahwa ada hati yang harus ia jaga, dan ada larangan yang juga harus dipatuhi, kendati jauh dari pasangan halalnya.