


oleh Aisa Falya · 98 Bab
Karina tak pernah menyangka jika kepergiannya ke Kota Semeraja untuk melanjutkan pendidikan, justru membawa petaka baginya. Dilecehkan pria yang tak dikenalnya, hingga ia hamil, membuatnya merasa hancur. Hal itu diperparah dengan kenyataan jika ia dikeluarkan dari kampus. Meski tertekan, Karina memutuskan merawat kandungannya. Sayangnya, bayi itu justru hilang setelah dilahirkan. Karina tak menyerah dengan terus mencari keberadaan bayinya ke mana pun info yang ia dapatkan. Tanpa diduga, ia justru bertemu dengan pria yang sudah membuatnya menderita dalam pencarian itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Suara ketukan pintu yang berulang membuat Bu Lina bergegas mengarahkan langkahnya menuju pintu depan. Salam yang menggema dari luar pintu sana, membuatnya bersemangat. Apalagi saat suara lembut itu kembali terdengar, Bu Lina semakin tak sabar lagi.
“Karina, kau pulang, Nduk? Ibu kangen.” Bu Lina segera memeluk tubuh semampai milik sang putri yang kini tak lagi terhalang pintu yang baru saja ia buka.
“Iya, Bu. Karina juga kangen banget sama Ibu. Maaf ya, Bu, Karina baru sempat pulang sekarang.” Gadis cantik berkulit putih itu membalas pelukan sang ibu dengan lebih dalam dan erat.
“Tidak apa-apa, Nduk. Ibu paham, pasti kau sibuk kuliah, kan? Sekarang, masuklah, Ibu akan membuatkan sego pecel untukmu. Kalau saja kamu bilang lebih dulu kalau mau pulang, Ibu akan membuatkan soto ayam kesukaanmu, Nduk.”
Senyum Bu Lina merekah, seiring kebahagiaannya menyambut sang buah hati yang menjadi kebanggaannya itu.
“Tidak perlu repot-repot, Bu. Apa pun yang Ibu sajikan, Karina akan dengan senang hati melahapnya,” balas sang gadis yang langsung mencuci tangannya di keran belakang.
Ia beranjak duduk di ruang tengah yang biasa menjadi tempat berkumpul keluarganya, sekaligus ruang makan.
Dipandanginya layar kaca ukuran empat belas inch yang masih setia berada di atas meja. Televisi itulah yang selalu menjadi hiburan untuk keluarganya sejak kecil dulu.
Karina sebenarnya belum lama meninggalkan rumahnya itu, sekitar enam bulan lamanya.
Meski awalnya terasa berat, nyatanya ia memang harus pergi demi cita-citanya melanjutkan pendidikan hingga tinggi dan mendapatkan gelar yang ia impikan.
Sebuah proses yang tak mudah, apalagi harus mengarungi hidup sendirian di luar kota.
“Jangan melamun, Nduk! Kamu mikirin apa, to?” Tepukan tangan di pundak Karina, membuat gadis itu terhenyak dan menoleh ke arah ibunya. Senyum ia paksakan terurai di bibirnya.
“Nggak apa-apa kok, Bu. Aku hanya teringat bagaimana kita selalu bercengkerama di tempat ini. Tapi sekarang, semua itu akan sulit terulang. Bapak kapan pulang, Bu?” Raut kesedihan membayang saat Karina teringat pria yang selalu bekerja keras untuknya itu.
“Bapakmu belum pulang, Nduk. Mungkin nanti lebaran baru beliau pulang,” jawab Bu Lina santai, seolah tak ada beban.
Karina tersenyum kecut dan kembali berkata, ”Coba saja aku tak memaksakan keinginanku ini ya, Bu. Pasti Ibu dan Bapak tak perlu bersusah payah mencari biaya tambahan untuk kuliah. Aku memang egois. Maafkan Karina ya, Bu!”
Mendengar ucapan putrinya, Bu Lina segera meraih bahu gadisnya itu.
”Hush, kamu ngomong apa to, Nduk? Kami ini adalah orang tuamu. Tentu saja kami wajib memberikan yang terbaik untukmu dan memenuhi kebutuhan dasarmu, seperti pendidikan. Kami sering membicarakan ini, Nduk. Sejak dulu ibu dan bapakmu bertekad agar kau bisa kuliah, mendapatkan pendidikan yang layak, dengan harapan hidupmu akan lebih baik dari kehidupan ibu dan bapak, Nduk. Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Sebaiknya kau makan dulu, Nduk. Ibu tahu, kau pasti sudah lapar setelah mengarungi perjalanan dari Kota Semeraja.”
Karina menganggukkan kepalanya, sepakat untuk menghentikan pembahasan itu. Namun, dalam hatinya, ia masih begitu terharu melihat perjuangan kedua orang tuanya. Baginya itu sebuah anugerah yang besar.
“Ayo, Nduk, dimakan, ya!” Tangan Bu Lina menyodorkan piring berisi sayuran rebus dan juga saus kacang dengan aroma daun jeruk yang menggoda selera.
“Huekkk.” Tiba-tiba Karina bereaksi tak terduga. Indera penciumannya seolah terusik.
“Kamu kenapa, Nduk? Apa kamu tak suka dengan masakan ini?” Bu Lina begitu terkejut. ”Ibu perhatikan wajahmu sedikit pucat. Apa kamu sakit, Nduk?”
“Aku ....” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Karina merasakan perutnya bergolak. Ia pun berlari ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Menyadari ada hal yang tak beres dengan putrinya, Bu Lina bergegas menyusul langkah Karina. Kekhawatiran tergambar jelas dalam wajahnya yang mulai berkeriput.
Sesekali ia mengingat apa-apa saja bumbu yang sudah ia gunakan tadi, barangkali saja ada yang salah. Seingatnya semuanya sudah seperti yang biasa dibuat dan tak menambahkan bahan di luar kebiasaannya.
“Kamu kenapa, Nduk? Apa kamu masuk angin?” tanya Bu Lina langsung terlontar menyambut pintu kamar mandi yang terbuka.
Karina yang tampak kepayahan, berusaha keras menyunggingkan senyumnya. Terlihat sekali jika ia tak ingin membuat ibunya khawatir dengan keadaannya. ”Aku tidak apa-apa, Bu.”
“Jaketmu basah, Nduk. Biar ibu bantu melepasnya.” Tangan Bu Lina bergerak ke arah kerah Karina.
“Ti-tidak perlu, Bu. Biar nanti Karina saja yang melepasnya.” Refleks gadis itu memegang tangan sang ibu, menahannya agar tak melanjutkan niatan untuk membuka jaketnya.
Bu Lina melongo, ada yang mengganjal di hatinya. Tak biasanya Karina menolak bantuannya. Selama ini bahkan putri tunggalnya itu begitu dekat dengannya dan tak sungkan padanya.
Karina kembali duduk di kursi makan. Dipandanginya sego pecel yang tersaji di hadapannya. Rasanya ingin sekali ia mengambil makanan itu dan menyantapnya, namun selera itu tertahan di dadanya. Rasa mual juga masih samar muncul.
“Biar ibu kerik badanmu, ya, Nduk? Setelah ini, kau akan membaik. Pasti kau kelelahan dan masuk angin setelah perjalanan jauh.” Bu Lina muncul kembali dengan minyak angin dan uang logam di tangannya.
“Tidak usah, Bu. Sepertinya aku hanya butuh istirahat saja, kok. Aku ke kamar dulu ya, Bu.” Karina merasakan pusing yang semakin nyata di kepalanya.
“Tapi kamu belum makan. Apa tidak sebaiknya kamu makan dulu. Nduk, Nduk.” Ucapan lembut Bu Lina, seketika berubah menjadi teriakan.
Gubrak.
Tubuh Karina limbung lalu pingsan. Untung saja tangan Bu Lina masih sempat menangkapnya. Kecemasan wanita tua itu semakin nyata.
***
Bidan Aini tampak serius memperhatikan benda di tangannya. Sesaat kemudian, ia memanggil Bu Lina dari ruang pemeriksaan. Sementara Karina masih terkulai lemah, namun kini dalam keadaan sadar.
“Ada apa ya, Bu Bidan? Karina hanya masuk angin saja, kan?” Bu Lina langsung nyerocos begitu keluar dari ruangan.
“Silakan duduk dulu, Bu! Ada hal penting yang ingin saya sampaikan,” sapa Bidan Aini dengan ramah.
“Hehe, baik, Bu.” Bu Lina tampak malu-malu menyadari ketergesaannya.
“Bu Lina, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, saya bisa menyimpulkan jika Karina sedang mengandung. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki minggu ke sepuluh.”
Bidan Aini tampak serius menguraikan apa yang ia temukan. Meski banyak tanya yang menggantung dalam angannya, ia merasa tak enak hati menyampaikannya.
Air muka Bu Lina berubah drastis, tetapi yang paling mengemuka adalah raut terkejut muncul di sana.
“Apa Bu Bidan tidak salah? Karina baru saja kuliah, Bu, dia belum menikah. Lagi pula, selama ini Karina tidak pernah terlihat dekat dengan pria mana pun. Saya rasa, Karina tak mungkin hamil, Bu.”
Bidan Aini tersenyum kecil. Ia memahami apa yang ada di pikiran Bu Lina.
”Saya mengerti maksud Ibu. Tapi, menurut hasil pemeriksaan pada Karina, ini memang benar-benar positif. Saya bisa memastikannya, Bu.”
Perempuan yang sudah memasuki kepala empat itu mengelus bahu Bu Lina, memberikan dukungan terbaik sebagai sesama ibu.
Bu Lina merasa lunglai. Ia tak kuat mendengar kenyataan yang ia hadapi. Selama ini yang ia tahu, Karina adalah gadis manis yang penurut dan membanggakannya. Namun, kenapa setelah kepulangannya dari menuntut ilmu, justru kabar mengejutkan yang tak pernah disangka sebelumnya yang ia dapatkan.
”Apa yang sebenarnya terjadi, Nduk?” tanya Bu Lina berbisik.

Aisa Falya
22 Pengikut · 1 Novel