Areena mengendap-ngendap melihat sekeliling bangunan besar itu dengan cermat. Matanya menatap awas ketika kakinya mulai keluar dari gerbang pembatas antara pondok pesantren Nurul Hikmah dengan perkampungan.
Senyum Areena terukir bahagia ketika tubuhnya mulai menjauh dari pondok itu. Dua hari lalu, papanya mengantar Areena untuk melaksanakan pondok kilat di salah satu pesantren salaf di Kota Pasuruan. Kota yang terkenal dengan sebutan “Kota Santri” selama ini.
Papa Areena sengaja membawa gadis berusia tujuh belas tahun itu karena kebiasaan Areena yang tidak mau berpuasa jika di rumah. Terkadang jika waktunya sahur, gadis itu akan mengikuti orang tuanya untuk sahur. Namun, ketika siang bergulir diam-diam Areena berbuka sebelum waktunya.
“Sstt! Sstt!” Terdengar suara siulan dari semak-semak membuat Areena menoleh.
“War takjil!” seru Areena memberi clue pada seseorang yang berada di semak-semak itu.
“Bijim!” Salah satu dari mereka menyahut membuat senyum Areena semakin mengembang.
Areena melangkahkan kakinya mendekati semak-semak. Matanya masih tetap mengawasi sekitarnya takut jika satpam pondok akan mengetahui jika dia sedang kabur.
“Hai!” sapa Areena melambaikan tangannya.
Ketiga gadis yang sedang bersembunyi di semak-semak itu langsung berdiri dan menarik tangan Areena agar secepatnya menjauh dari tempat itu.
“Kita amankan dulu kamu, Reen, daripada kita gak jadi war takjil bareng. Sumpah dua hari ditinggal kamu, aku rindu sama kamu!” kata Bunga, gadis berkacamata Mini the Pooh dengan gigi ginsul membuat gadis itu terlihat manis.
“Gak usah banyak bacot dulu. Yuk, kita gas ke lapangan Sidogiri. Kita sudah pantau di sana banyak makanan! Kita bisa berpesta banyak makanan di sana hari ini! Kamu jadikan buka puasa dengan kita?” seloroh gadis berjilbab pasmina dengan mengalungkan jilbab panjang itu asal-asalan—Julia.
“Yok gas, kita otw!” seru Miska lantang.
“Diam!” Julia dan Bunga menatap Miska agar gadis itu tidak bersuara dengan kencang.
Miska cengengesan sambil mengangkat dua jarinya sementara Areena sendiri menatap ketiga sahabatnya itu secara bergantian. Ada tawa kecil keluar dari bibir Areena membuat ketiga sahabatnya menoleh.
“Kamu kenapa kok tertawa, Reen?” tanya Miska.
“Kalian lucu juga kalau pakai gamis begini berasa jadi ukhti-ukhti bersorban!” kata Areena cekikikan.
“Ha! Mana ada ukhti bersorban, Reen? Kamu jangan mengada-ngada deh, yang ada tuh akhi-akhi tampan calon imam masa depan!” sahut Bunga dengan wajah berbinar mengingat betapa tampannya santri laki-laki yang sempat ia lihat keluar masuk dari pondok itu.
Areena menyentil kening Bunga. “Mulai deh, mulai! Sampai kapan kita di sini, bisa-bisa kita kehabisan takjil kalau ghibah tentang akhi-akhimu itu!”
“Ish, Areen, nanti jidatku jadi lebar gimana?” cebik Bunga.
“Ya nggak , gimana-gimana, pastinya nggak ada yang bakal mau sama kamu apalagi akhi-akhimu itu! Tumbenan nih, kamu ngomong akhi-akhi, biasanya yang dipuji cowokmu terus!”
“Beda dong, Say, ini ‘kan akhi-akhi bikin mata berbinar. Ya, sekali-kali cuci mata dong!”
“Suka-suka kaulah, Bunga!”
***
Areena dan ketiga sahabatnya telah sampai di lapangan Sidogiri yang menyajikan berbagai macam makanan. Lapangan Sidogiri adalah satu lapangan di mana tempat bazar diadakan setiap bulan rajab sampai ramadan.
Mata mereka berbinar melihat berbagai penjual makanan yang menyajikan berbagai aneka makanan dari mulai varian es masa kini, gorengan, makanan berat dan lain sebagainya.
“Hua, aku terpesona dengan makanan semuanya! Ayo, kita belanja sepuasnya, aku sampai rela memecahkan celengan untuk pesta di sini!” seru Miska semangat.
“Perasaan yang mondok dan tidak bisa keluar itu aku deh, kenapa kamu yang semangat banget kayak gak pernah merasakan berburu takjil saja?” seloroh Areena menatap Miska dengan sinis.
Miska cengengesan. “Beda dong, Say, di kota ‘kan sudah biasa berburu takjil, tapi ini beda kayaknya. Lebih istimewa gitu. Apalagi kami juga menculik kamu dari pondok itu!” sahut Miska.
“Dasar sahabat edan!” umpat Areena melangkahkan kakinya menuju kedai boba.
“Boba rasa alpukat, Mas!” kata Areena memesan boba, minuman beraneka rasa dengan topping bulat-bulat coklat.
“Siap, Neng manis!” jawabnya mengacungkan jempolnya.
Keempat gadis bersahabat itu berburu takjil. Mereka membeli beberapa makanan yang berbeda agar bisa saling mencicipi satu sama lain.
“Eh, aku mau beli gorengan dulu, kayaknya nggak lengkap kalau tidak ada gorengan saat buka puasa kita nanti!” kata Areena melirik sebuah kedai tak jauh darinya.
“Yaudah, kita tunggu di sana ya!”
Areena mengangguk mengiyakan dan menuju kedai tukang gorengan.
“Gorengan sepuluh ribu, Mas!” ujar Areena memanggil pemilik kedai itu yang sedang sibuk mengaduk adonan gorengan.
Posisi pemilik kedai itu membelakanginya membuat Areena mengernyit. ‘Apa dia nggak denger ya kalau aku mau beli.’ Batin Areena.
“Mas, halo!” Areena sedikit meninggikan nada suaranya.
Pemilik kedai itu menoleh. Entah kenapa tubuh Areena mendadak meleleh melihat wajah tampan pemiliknya seakan terpesona dengan pemuda itu.
“Ya, ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya pemuda itu dengan coolnya apalagi ketika pria itu menarik lengan bajunya membuat Areena terpesona.
Wajah tampan, body oke dan suaranya membuat Areena merinding. Apakah dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama?
“Mbak, halo!” Pria itu melambaikan tangannya membuat Areena tersadar, “mau pesan apa?” tanya pria itu lagi.
“Pesan masnya untuk dijadikan suami, bisa nggak?” lontar Areena ceplos sehingga buru-buru menutup mulutnya.
“Astaga, mulutku yang sexy ini, ngapain ngomong begitu!” gumam Areena merutuki dirinya. Ia begitu malu melihat pria itu tersenyum tipis.
“Bisa saja, mbaknya ini! Mau pesan gorengan berapa, Mbak?”
“Sepuluh ribu, Mas!” jawab Areena masih malu-malu. Areena menyodorkan uang sepuluh ribu pada pria itu dan langsung lari karena tidak bisa menahan malunya lagi.
Pria itu hanya tersenyum tipis melihat kepergian Areena. Ada sesuatu yang tertarik dari tingkah gadis itu membuat pria itu begitu penasaran.