


oleh wasilatur rohmah · 46 Bab
Seorang guru muda yang penuh semangat memilih mengabdi di kampung terpencil tempat kelahirannya. Gayatri Nurin atau lebih akrab disapa Nurin, harus menghadapi tantangan besar dalam menjalankan tugasnya dan mengubah pandangan masyarakat. Guru muda tersebut menghadapi berbagai rintangan, seperti kurangnya dukungan dari masyarakat dan fasilitas sekolah yang terbatas. Selain itu Nurin juga harus mengungkap misteri hilangnya sang ayah. Rahasia apa sebenarnya yang tersimpan di kampung terpencil itu? Yuk ikuti kisahnya hanya di sini! Jangan lupa tinggalkan jejak ya supaya author lebih semangat.
“Selamat ya Nduk, kamu sekarang sudah lulus dan mendapat gelar sarjana. Ibu dan Bapak bangga sama kamu, tidak sia-sia perjuangan kamu untuk melanjutkan pendidikan selama ini,” tutur wanita paruh baya yang mengenakan daster kembang dan berjilbab ungu. Dia Bu Gemati, ibu hebat yang sudah melahirkan Nurin.
Hari ini adalah hari kepulangan Nurin setelah hampir setahun tidak pernah pulang kampung.
Bukannya Nurin tidak rindu rumah, namun karena dia disibukkan dengan kejar target untuk segera lulus tahun ini. Mati-matian Nurin menyelesaikan kuliah yang hanya mengandalkan beasiswa.
Makanya Nurin memilih fokus untuk segera menyelesaikan skripsi agar bisa secepatnya wisuda.
Meskipun mendapatkan beasiswa tapi tidak semua keperluanya ditanggung.
Apalagi jarak antara rumahnya dan kampus yang cukup jauh, jarak tempuhnya bisa sampai 3 jam lebih. Sayang uangnnya jika harus digunakan untuk perjalanan pulang pergi. Begitulah pikir Nurin.
Nurin hanya anak seorang anak petani yang merangkap sebagai nelayan di pesisir Parangtritis. Jangankan untuk membiayai kebutuhan Nurin selama kuliah. Bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah alhamdulilah.
Tidak mudah bagi Nurin untuk mendapatkan izin melanjutkan kuliah. Selain sangat jarang anak perempuan yang bersekolah tinggi, tradisi menikah muda juga menjadi tantangan tersendiri.
Tentu saja Nurin harus menulikan telinga kala sebutan perawan tua disemangatkan oleh masyarakat. Sebab rata-rata wanita di kampung Nurin hanya lulusan SD atau SMP.
Setelah itu mereka akan bekerja di ladang atau melaut, tentu sambil menunggu jodoh lalu menikah.
Hanya beberapa wanita di kampung Nurin yang melanjutkan pendidikan sampai bangku SMA, selain jaraknya yang jauh yaitu di kecamatan, biayanya juga mahal.
Daripada menghabiskan uang untuk biaya sekolah, lebih baik untuk biaya makan.
Menurut sebagian besar masyarakat di kampung Nurin, untuk apa sekolah tinggi jika pada akhirnya akan menjadi petani atau nelayan juga.
Khususnya untuk perempuan, palingan kembalinya ya ke dapur dan mengurus anak. Jadi prinsipnya yang penting bisa baca tulis, itu sudah cukup.
Sungguh miris memang, 79 tahun Indonesia merdeka. Namun, masih banyak warga negara yang menderita.
Hidup serba kekurangan dan tidak bisa mengenyam pendidikan.
Namun di atas sana, setiap pergantian menteri pendidikan selalu membuat terobosan baru demi kemajuan pendidikan. Apalagi sekarang serba berbasis online.
Tidak tahukah para petinggi negeri ini, jika tidak sedikit warga mereka yang masih hidup di daerah terbelakang dengan minim akses dan fasilitas, serta berada di bawah garis kemiskinan alias melarat.
Jangankan untuk membeli paket data, membeli beras saja mereka kadang harus ngutang di warung. Tower saja satu kelurahan hanya ada satu. Membuat sinyal HP timbul tenggelam seperti kenangan pada mantan.
“Maturnuwun Bu, semua ini berkat doa Ibu dan Bapak,” ucap Nurin dengan tulus.
“Aku juga sering doakan Mbak Nurin, lho!” Guntur protes karena namanya tidak disebut.
“Iya, maturnuwun sudah mendoakan Mbak selama ini ya Adikku yang paling baik sedunia,” seloroh Nurin sambil mengacak rambut Guntur dengan gemas.
Guntur adalah satu-satunya saudara Nurin. Nurin sangat menyayangi adiknya. Guntur saat ini sudah duduk di bangku SMA kelas XII.
“Wes, jangan ngobrol terus. Nurin, ayo masuk kamu pasti capek dari perjalanan jauh. Ayo Bune, Guntur, kita masuk!” ajak Pak Panji pada anak dan istrinya.
Nurin dan Bu Gemati, melangkah memasuki rumah sederhana berlantai semen, diikuti Guntur yang menyeret koper besar milik Nurin.
Setiba di dalam rumah, Nurin pamit pada orang tuanya dan mengambil alih koper dari tangan Guntur. Nurin melanjutkan langkah menuju kamarnya untuk istirahat. Bu Gemati dan Pak Panji menuju dapur, karena memang mereka ada di sana.
Sementara Guntur menggelar kasur lipat di depan TV, untuk rebahan sambil menonton film dari layar TV yang hanya berukuran 21 inchi.
TV jadul yang masih menggunakan tabung menggelembung itu diletakkan di atas meja sederhana terbuat dari kayu. Di atas kasur lipat itulah biasanya Guntur tidur jika Nurin pulang, karena di dalam rumah sederhana itu hanya terdapat dua kamar.
Satu kamar ditempati ibu dan bapak Nurin, dan kamar satunya lagi Nurin yang menempati. Namun jika Nurin sedang kuliah, sesekali Guntur yang menepati.
Meskipun sederhana, tetapi rumah itu tenteram. Rumah yang menjadi tempat tumbuh kembang Nurin memang tidak terlalu besar. Ruangan depan merupakan ruang tamu, serta terdapat sebuah kamar yaitu kamar Nurin.
Kemudian di belakangnya ada sebuah ruangan lagi, itu adalah dapur yang di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang dijadikan kamar oleh orang tua Nurin.
Di dekat tungku kayu ada ruangan kecil, yaitu kamar mandi. Dulu waktu Nurin masih kecil kamar mandinya ada di belakang rumah.
Namun, karena di belakang rumah banyak ditumbuhi pohon jati, Nurin takut jika harus ke kamar mandi sendiri saat malam hari. Makanya Pak Panji berinisiatif untuk membuatkan kamar mandi kecil di dalam dapur.
Nurin merebahkan badannya di atas kasur busa sederhana, dia benar-benar lelah hari ini.
Perjalanan jauh yang dia lalui hari ini benar-benar menguras tenaganya. Untuk bisa sampai di kampung, Nurin harus menaiki bus selama 2 jam.
Setelah tiba di terminal, dia menempuh perjalanan lagi selama satu jam dengan mengendarai motor. Biasanya jika Guntur tidak sempat menjemput. Maka Nurin akan menggunakan jasa tukang ojek.
***
Tok tok tok
Terdengar suara pintu kamar sedang diketuk dari luar, Nurin yang tertidur mengeryitkan alis. Dia membuka mata lalu duduk.
Matanya melirik jam dinding, ternyata sudah jam 6 petang dan dia belum melaksanakan salat magrib. Gegas Nurin bangkit dan membuka pintu kamar.
“Kamu belum mandi dan salat magrib Nur, kenapa dari tadi tidak keluar kamar?” berondong Bu Gemati begitu sosok Nurin muncul dari balik pintu.
“Nurin ketiduran Bu.”
“Yasudah sana cepatan mandi terus salat magrib! Setelah itu kita makan bersama!” usai berucap, Bu Gemati pergi meninggalkan Nurin.
Dengan langkah malas, Nurin kembali memasuki kamar. Dia membongkar koper dan mengambil baju serta perlengkapan mandi. Nurin lantas keluar kamar dan melangkah menuju dapur, tentu saja tujuannya adalah ke kamar mandi.
“Mandinya yang cepet Nduk, airnya dingin banget. Lagi pula mandi malam itu tidak baik untuk kesehatan!” Bu Gemati menasehati Nurin saat anak gadisnya itu melintasi dapur.
“Enggeh Buk,” jawab Nurin patuh.
Setelah mandi, Nurin langsung menuju kamar untuk melaksanakan salat magrib.
Namun, baru saja Nurin menyelesaikan salam kedua, terdengar seruan adhan dari musala yang menandakan sudah waktunya salat isya’.
Sambil beristighfar, Nurin bangkit dan melaksanakan salat isya sekalian.
***
“Kamu beneran mau ngajar di SMP Rimba Ilmu, Nur?” tanya Pak Panji di sela-sela kunyahannya.
Saat ini, keluarga cemara itu sedang duduk melingkar diatas tikar sederhana untuk makan malam bersama.
Di hadapan mereka sudah terhidang menu sederhana hasil karya Bu Gemati. Ada nasi grontol atau nasi merah putih. Bukan merah si tapi lebih ke kuning.
Karena terbuat dari beras dan butiran jagung. Ditemani oseng kangkung dan telur dadar serta tempe goreng. Ada pula toples besar berisi kerupuk sermier (terbuat dari singkong) hasil tangan ajaib Bu Gemati.
“Kamu yakin mau ngajar di SMP Rimba Ilmu, Nur? Apa tidak eman sama ijasah kamu, susah payah kamu kuliah tapi hanya jadi guru honorer di kampung. Ibu dengar gajine ndak cukup buat beli sabun, Nur,” tutur Bu Gemati mencoba menggoyahkan niat Nurin.
“Nur sudah yakin Bu, soal gaji berapa pun ndak masalah. Rezeki sudah diatur sama Guti Allah.”
“Coba kamu pikir-pikir lagi sambil melihat situasi di kampung sini, Nur! Mungkin saja kamu akan berubah pikiran, karena jika hanya tinggal di kampung ini, hidup kamu tidak akan maju dan hanya begini saja nasibnya.”
Sungguh bukan maksud Bu Gemati mengusir Nurin, hanya saja dia menyayangkan keputusan Nurin yang ingin bekerja di kampung terpencil ini.

wasilatur rohmah
8 Pengikut · 1 Novel