Langit sore di kafe itu berwarna oranye lembut, seolah menandai awal dari sesuatu yang indah atau mungkin, sesuatu yang akan meninggalkan luka panjang. Alya duduk di pojok, menatap layar laptop yang sudah lama tidak ia sentuh. Tulisan-tulisan yang seharusnya jadi cerita malah berubah jadi barisan kalimat tak selesai.
Ia menghela napas pelan.
“Kenapa setiap kali mau mulai, rasanya takut?” gumamnya lirih.
“Takut gagal, atau takut berhasil?”
Suara itu datang dari arah belakang. Lembut dan penuh percaya diri. Alya menoleh. Seorang pria berdiri di sana, membawa secangkir kopi di tangan kanan dan senyum yang terlalu mudah disukai.
“Maaf, aku boleh duduk di sini?” tanyanya sambil menunjuk kursi kosong di depannya.
Alya sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Silakan. Aku juga cuma numpang wifi,” ujarnya setengah bercanda.
Pria itu tertawa kecil. “Damar,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Alya,” jawabnya, menyalami perlahan.
Ada jeda aneh di antara mereka. Bukan canggung, tapi semacam tenang yang tak disengaja. Damar menatap Alya cukup lama, hingga gadis itu merasa pipinya memanas.
“Aku sering lihat kamu di sini,” ucap Damar tiba-tiba. “Kamu selalu duduk di pojok yang sama, pakai earphone, tapi nggak pernah benar-benar memutar lagu.”
Alya terkekeh kaget. “Kamu memperhatikan aku?”
Damar mengangkat bahu. “Sedikit. Soalnya kamu kelihatan seperti orang yang sedang mencari sesuatu, tapi nggak tahu apa.”
Alya terdiam. Kalimat itu menampar halus.
“Lucu juga, kamu bisa menebak sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak tahu,” katanya pelan.
“Kadang orang lain bisa melihat yang kita sembunyikan terlalu dalam,” balas Damar.
Dialog itu berlanjut tanpa rencana. Dari obrolan ringan tentang kopi, musik, sampai masa kecil yang penuh kehilangan. Alya merasa nyaman, seperti bertemu seseorang yang bisa membaca tanpa harus menjelaskan. Namun, di balik kenyamanan itu, ada sesuatu yang samar. Cara Damar memandangnya terlalu lama, caranya menimpali setiap kalimat dengan nada yang sedikit menuntun seolah ingin memastikan ia tetap jadi pusat perhatian Alya.
Ketika langit berubah gelap, Damar menatap jam tangannya. “Sudah malam. Kamu pulang sendiri?”
“Iya,” jawab Alya.
“Boleh aku antar? Kota ini nggak selalu aman buat perempuan sendirian.”
Alya tersenyum ragu. “Aku biasa sendiri, kok.”
“Malam ini biar aku temani. Anggap saja aku pengganti lampu jalan,” katanya sambil tertawa kecil.
Alya sempat menolak, tapi akhirnya luluh. Dalam diam, ia merasa diperhatikan dan itu terasa baru setelah sekian lama hidup dengan jarak dari banyak orang.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun ringan. Damar memutar lagu lawas dari radio mobilnya.
“Lagu ini, suka banget aku dengar waktu kuliah,” katanya.
Alya mendengarkan lirih. Cinta bisa indah, tapi juga bisa menipu, liriknya menembus hati.
“Dulu aku pikir cinta selalu indah,” ucap Damar tiba-tiba.
“Dan sekarang?” tanya Alya.
“Sekarang aku tahu, cinta itu seperti kopi. Harus tahu cara menikmatinya, kalau tidak, bisa pahit.”
Alya tersenyum samar. “Mungkin aku belum tahu caranya.”
“Kalau begitu, biar aku yang ajari,” balas Damar. Suaranya lembut, tapi entah mengapa terasa seperti janji yang menakutkan jika diucapkan terlalu sering.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, pesan dari Damar mulai rutin datang.
“Sudah makan?”
“Jangan bergadang, nanti sakit.”
“Kamu lagi di mana? Aman?”
Awalnya Alya senang. Rasanya menyenangkan diperhatikan, tapi lama-lama pesan itu datang setiap jam, bahkan ketika ia sedang bekerja.
Suatu malam, ponselnya bergetar.
“Kamu belum balas chat aku dua jam. Kamu ke mana?” tanya Damar.
Alya mengetik cepat. “Maaf, tadi lagi nulis.”
Balasan muncul segera.
“Kamu lebih pilih tulisanmu daripada aku?” tanya Damar.
Alya mematung. Kalimat itu terasa aneh, tapi ia menertawakannya. “Mungkin dia cuma bercanda,” batinnya. Namun, di dada, ada perasaan kecil yang tiba-tiba tidak nyaman.
Beberapa minggu berlalu. Mereka semakin dekat. Damar mulai sering menjemput, menelepon malam-malam, menanyakan hal-hal kecil yang dulu tak pernah ditanyakan siapa pun. Alya merasa spesial, meski kadang lelah menjawab semua pesannya.
Suatu sore, Damar memandangi Alya lama. “Aku suka kamu pakai baju warna pastel begini. Kelihatan lembut.”
“Terima kasih,” balas Alya malu-malu.
“Tapi kalau bisa, jangan pakai rok pendek lagi, ya. Aku nggak nyaman.”
“Kenapa?”
“Bukan apa-apa, cuma aku nggak suka kalau orang lain lihat kamu seperti itu.”
Alya diam. Dalam hati ia berpikir, "Dia cuma protektif, bukan posesif, kan?" Namun, entah kenapa kalimat itu meninggalkan rasa dingin di dada.
Suatu hari di kafe yang sama, Alya datang lebih dulu. Ia melihat Damar berbicara dengan pelayan perempuan yang sama ramahnya seperti dulu. Damar tertawa kecil, menyentuh tangan pelayan itu tanpa sadar. Sesuatu di dada Alya bergetar aneh, ada campuran cemburu dan takut.
Saat Damar duduk, Alya mencoba bersikap biasa. “Tadi ngobrol sama siapa?” tanyanya ringan.
“Oh, barista itu. Kenapa?”
“Nggak, cuma nanya.”
“Jangan cemburu, ya. Kamu cantik kok, dia nggak ada apa-apanya,” katanya sambil menatap dalam.
Kemudian suaranya menurun, agak dingin. “Aku suka kalau kamu nggak cemburu. Itu bikin kamu kelihatan lebih dewasa.”
Alya tersenyum kaku.
Dalam hati, ia bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa cinta yang baru terasa begini rumit?"
Malam itu, di kamar, Alya menatap cermin. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya menyimpan binar baru.
“Dia berbeda,” bisiknya pelan. Namun, bayangan di cermin menatapnya balik seolah berkata, "Benarkah berbeda, atau kamu hanya ingin percaya?"
Ia terdiam lama, lalu menulis di jurnal kecil di atas meja:
“Hari ini aku bahagia, tapi juga takut. Apakah wajar jika cinta membuatku khawatir kehilangan diriku sendiri?”
Di luar, hujan turun lagi. Di ponselnya, satu pesan baru muncul.
“Aku rindu. Besok jangan pergi ke mana-mana tanpa aku, ya?” tanya Damar.
Alya menatap layar itu lama. Ia tidak tahu apakah itu bentuk kasih sayang atau awal dari sesuatu yang perlahan akan membuatnya kehilangan napas, dan di antara derasnya hujan malam itu, ia belum tahu bahwa tatapan pertama di kafe kecil tadi, akan menjadi awal dari perjalanan panjang menuju luka dan akhirnya, cahaya.