“Aku keguguran, Ma!” teriakan itu meledak dari mulut Nelly.
Ia berdiri di ambang pintu ruang tamu, wajahnya pucat, mata sembab, dan tubuh menggigil seperti daun diguncang badai. Sang ibu yang sedang menyapu lantai sontak menghentikan gerakan. Sapu terjatuh, dan mata membelalak menatap putrinya.
“Apa yang kamu bilang tadi?” Suara ibunya pelan, tak percaya.
“Aku ... aku keguguran, Ma," isak Nelly. Lututnya lemas. Ia merosot ke lantai, memeluk lutut sendiri. Suara isaknya mengisi seluruh ruangan kecil itu, membentur tembok-tembok dan langit-langit.
Ibunya berjalan pelan mendekat, seperti takut dengan jawaban yang akan ia terima jika bertanya lebih lanjut. Namun, pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
“Kamu, kamu hamil?”
Nelly mengangguk pelan, lalu kembali menangis lebih keras. “Sekarang nggak lagi, aku minum obat, terus berdarah. Kemarin hampir pingsan waktu ambil air dari sumur.”
Wajah ibunya memucat. Ia mengangkat tangan, seperti hendak menampar, tapi mengurungkan niat. Jemarinya bergetar.
“Siapa yang ngelakuin ini ke kamu?!”
Nelly menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tidak sanggup menjawab. Ia tahu, ibunya harus tahu. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia menjawab, “Jemmy.”
Diam.
Waktu terasa berhenti. Hanya suara angin berdesir dari celah jendela tua yang terdengar. Lalu datanglah letupan kemarahan.
“Astaghfirullah'aladzim, Nelly! Kamu sadar nggak umur kamu baru enam belas tahun?! Ini bukan sinetron! Malu-maluin keluarga tahu, nggak?”
“Maaf, aku takut. Aku bingung harus ngapain, Ma. Semua salahku.”
Sang ibu berdiri dan berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Matanya merah, menahan tangis dan kekecewaan. Nelly masih terduduk di lantai, tubuh membungkuk.
Nelly tahu benar bahwa hubungan mereka akhir-akhir ini memang memburuk. Jemmy bukan lagi sosok yang dulu rajin mengirimi pesan setiap pagi. Sekarang, ia sering menghilang tanpa kabar, muncul hanya saat Nelly menghubungi lebih dulu.
Mereka juga sering bertengkar, masalah sepele bisa jadi besar. Bahkan ketika Nelly memberanikan diri untuk bilang bahwa ia curiga hamil, reaksi Jemmy justru menghindar. Pria itu sempat hilang dua hari penuh. Baru muncul dengan alasan ponselnya rusak.
“Kenapa bisa sebodoh ini, Nelly? Kamu kan tahu Jemmy itu nggak bisa dipercaya.”
Nelly hanya bisa duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Di luar, suara ayam berkokok dan radio tetangga yang menyetel dangdut pagi terdengar seperti dari dunia lain.
**
Beberapa minggu sebelumnya.
Nelly memandangi kalender di dinding dengan jantung berdegup tak karuan. Tiga bulan. Tiga bulan dan belum juga datang bulan. Tangannya gemetar saat menghubungi Jemmy melalui pesan singkat.
“Aku telat. Sudah tiga bulan.”
Tak sampai lima menit, ponselnya berdering. Jemmy menelepon, suaranya cemas dan panik.
“Kamu yakin? Ini jangan-jangan stres doang, Nelly.”
“Nggak, Jem! Aku udah ngerasa beda. Aku takut.”
Hari itu juga, mereka pergi diam-diam ke tempat bidan di desa lain, beberapa kilometer dari rumah Nelly. Naik motor butut pinjaman, menembus jalanan tanah becek selepas hujan. Nelly mengenakan masker dan jaket lebar, menyembunyikan wajah dari siapa pun yang mungkin mengenali.
Di ruang tunggu kecil itu, Nelly duduk dengan tangan dingin. Jemmy menggenggam jemarinya, tapi genggaman itu justru membuatnya makin takut. Hatinya berkecamuk, antara harapan, penyesalan, dan ketakutan yang mencekik.
Tes urin hanya butuh lima menit.
“Positif,” kata bidan itu, singkat dan tegas.
Nelly hampir muntah mendengar kata itu. Jemmy diam, lalu mengangguk pelan. Mereka keluar tanpa banyak kata.
Dalam perjalanan pulang, Jemmy berkata, “Kita cari cara, Nel. Jangan panik dulu. Kamu masih muda, nggak bisa punya anak sekarang.”
Begitulah, malam-malam berikutnya diisi dengan pencarian sunyi di balik gorden yang tertutup rapat. Mereka membaca forum-forum gelap di internet, mendengarkan bisik-bisik teman yang ‘pernah mengalami’, dan akhirnya membeli jamu pelancar haid dari pasar malam.
Jemmy membelikannya. Katanya dari tukang jamu langganan seorang dukun bersalin. Baunya menusuk, tapi Nelly minum juga. Tubuhnya pun mulai bereaksi.
Dua minggu setelahnya, perutnya melilit, dan darah keluar deras. Ia menggigil di kamar mandi, menggigit handuk agar tak berteriak.
“Kamu yakin itu cuma efek jamu biasa?” tanya Jemmy lewat telepon.
“Aku rasa, ini udah selesai, Jem.”
Seminggu setelahnya, mereka kembali ke bidan yang sama.
“Tesnya negatif,” kata sang bidan, dengan nada datar.
Nelly mengangguk, perasaannya campur aduk. Lega, bersalah, kosong, takut. Semua jadi satu.
Sekarang, setelah keguguran benar-benar terjadi, setelah tubuhnya kelelahan dan jiwanya terkoyak, tidak ada pelukan dari Jemmy. Tidak pula permintaan maaf. Hanya ketakutan bahwa setelah semua ini, Jemmy akan lari lebih jauh.
“Kamu tahu udah bunuh anakmu sendiri?”
Kalimat itu menghantam Nelly lebih keras daripada tamparan mana pun. Ia terisak, kepalanya nyaris menyentuh lantai.
“Aku nggak tahu harus ngapain, Ma. Aku malu buat jujur dari awal.”
“Kamu pikir Mama nggak malu punya anak perempuan kayak kamu?! Semua orang bakal ngomongin kita, Nelly! Semua orang!”
Nelly tak menjawab. Ia kehabisan kata-kata. Di dalam dada, lubang kekosongan itu makin besar. Hampa. Dingin.
“Jemmy harus tanggung jawab. Hari ini juga.”
Ibunya berdiri, meraih ponsel, dan menghubungi ayah Jemmy yang sedang bekerja di ladang.
“Panggil Jemmy. Dia sudah hancurkan hidup anakku.” Suaranya tajam dan tak bisa ditawar.
Seperti badai yang datang tanpa aba-aba, hidup Nelly berubah dalam satu hari. Hancur. Porak poranda.
Jika diberi kesempatan, ia ingin membangun kembali dirinya. Setiap hari ia terus bertanya-tanya, apakah cinta harus sesakit ini?