“Tiga puluh derajat. Tidak kurang, tidak lebih. Kelembapan udara harus dijaga pada angka enam puluh persen jika kita tidak ingin kayu jati ini memuai dan merusak presisi sambungannya.”
Suara Angga terdengar datar, nyaris berbisik pada dirinya sendiri, seolah ia sedang merapal mantra suci yang tidak boleh dilanggar oleh alam semesta.
Di dalam bengkel kerjanya yang terletak di sudut kota Yogyakarta, waktu seakan berjalan sesuai dengan detak jam mekanik yang terkalibrasi sempurna. Tidak ada ruang untuk improvisasi. Tidak ada toleransi untuk sebuah kebetulan.
Bagi Angga, hidup adalah sebuah persamaan matematika yang rumit, pasti. Setiap potongan kayu harus diukur dengan jangka sorong hingga ketelitian sepersepuluh milimeter. Setiap baut dikencangkan dengan torsi yang telah dihitung menggunakan rumus fisika sederhana.
Di ruangan berukuran enam kali delapan meter itu, aroma serbuk gergaji dan pelitur menjadi parfum harian. Ia menikmati kesunyian ini, sebuah keteraturan mutlak yang memberinya rasa aman dari dunia luar yang terlalu bising dan sering kali tidak masuk akal.
Pukul tujuh pagi tepat. Angga meletakkan jangka sorongnya di atas meja kerja yang bersih tanpa noda. Ia meraih cangkir keramik putih, menuangkan air panas bersuhu delapan puluh derajat Celsius, suhu ideal untuk menyeduh teh hijau celup tanpa merusak antioksidannya, lalu duduk di kursi kerjanya yang berlapis kulit sintetis hitam. Matanya menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan jalanan luar. Pagi ini, langit tampak cerah, berhiaskan semburat jingga pucat di ufuk timur. Semuanya berjalan sesuai rencana. Jadwal produksinya untuk meja pesanan khusus klien VIP sudah berjalan separuh jalan.
Hukum fisika dan keteraturan yang telah Angga bangun selama bertahun-tahun mendadak runtuh pada pukul delapan lewat lima belas menit.
Brak!
Suara benturan keras dari arah pintu depan bengkelnya membuat cangkir teh Angga hampir terlepas dari genggaman. Pintu kayu jati tua berukuran besar itu terdorong terbuka dengan kasar, menghantam dinding tembok hingga cat putihnya mengelupas sedikit. Angga bangkit berdiri, alisnya bertaut tajam, kemarahan langsung merayap di dadanya. Di bengkelnya, tidak seorang pun boleh membuka pintu sembarangan, apalagi merusak properti.
“Maaf! Astaga, maafkan aku! Engsel pintu Anda terlalu longgar atau anginnya yang terlalu kencang, ya?”
Sebuah suara perempuan meluncur deras, mengalahkan suara dengung mesin penghalus kayu di sudut ruangan. Pemilik suara itu berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Rambutnya yang panjang ikal dibiarkan tergerai berantakan, dihiasi beberapa helai benang wol berwarna cerah, kuning matahari dan merah muda, yang terselip di sana. Ia mengenakan mantel rajut oversized yang tampak kedodoran di tubuhnya yang mungil, serta membawa sebuah ransel kanvas besar yang terlihat sangat berat hingga membuat posturnya sedikit membungkuk.
Angga tertegun sejenak, mengamati makhluk asing yang baru saja menerobos benteng keteraturannya. “Anda, siapa? Dan darimana Anda masuk? Pintu depan bertuliskan ‘Tutup’ dan baru akan buka pukul sembilan.”
Perempuan itu, yang belakangan diketahui bernama Bella, malah tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putih bersih tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia melangkah masuk begitu saja, mengabaikan jejak kaki berdebu yang tertinggal di lantai keramik putih Angga yang baru saja dipel bersih dua jam lalu.
“Tulisannya terlalu kecil, Pak Tukang Kayu. Lagi pula, pintu itu tidak terkunci, jadi secara teknis pintunya mengundang saya masuk,” jawab Bella santai, lalu meletakkan ranselnya di atas meja kerja Angga, tepat di atas lembar cetak biru pesanan meja klien!
Mata Angga membelalak lebar. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena lonjakan darah tinggi akibat invasi mendadak itu.
“Hei! Jangan letakkan tas kotor itu di atas dokumen saya! Dokumen itu memiliki skala presisi tinggi dan tidak boleh terlipat sedikit pun!” bentak Angga, suaranya naik satu oktaf, mencerminkan kepanikan bercampur murka.
Bella mengerjap, menatap lembar kertas di bawah tasnya, lalu mengangkat tas itu dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat. “Wah, maaf. Sensitif sekali. Lembar kertas bergambar garis-garis kotak ini tidak akan hancur hanya karena bersentuhan dengan tas kanvas saya, Tuan Presisi.” Bella terkekeh kecil, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh wajah Angga yang kini sudah mengeras bagaikan batu padas.
Bella mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bengkel. Alih-alih merasa risih dengan bau kayu dan debu gergaji, matanya justru berbinar-binar kagum. Ia berjalan, atau lebih tepatnya mondar-mandir ke sana kemari, menyentuh beberapa balok kayu mahoni yang tersusun rapi di rak sudut ruangan.
***
“Tempat apa ini? Surga pencinta kriya kayu, ya? Bau kayunya harum sekali, seperti aroma hutan setelah hujan,” puji Bella tanpa diminta, tangannya meraih sebuah potongan kayu sisa berbentuk kubus kecil yang dihaluskan dengan sangat sempurna oleh Angga.
“Jangan disentuh. Itu sampel produk. Letakkan kembali di tempat semula,” perintah Angga dengan nada dingin dan penuh penekanan, tangannya terulur kaku, meminta benda kecil itu dikembalikan.
Bella mendengkus pelan, lalu meletakkan kubus kayu itu kembali ke atas rak, dan posisinya sedikit miring, tidak sejajar dengan kubus-kubus lainnya. Hal itu kontan membuat mata Angga berkedut kesal. Tanpa memedulikan protes Angga, Bella merogoh saku mantel rajutnya dan mengeluarkan segulung benang wol berwarna biru tua yang tampak kusut masai.
“Begini, Pak Tukang Kayu yang terhormat. Nama saya Bella. Saya tetangga baru di ruko blok sebelah yang baru saja buka kedai rajut kecil-kecilan. Masalahnya, benang saya terlindas truk pengangkut barang tadi pagi di depan pintu ruko Anda, lalu gulungannya masuk ke dalam saluran air di dekat sini, dan sialnya, ujung benang ini tersangkut di kolong meja luar bengkel Anda,” cerocos Bella tanpa jeda, seolah ia sedang membacakan daftar belanjaan harian.
Angga memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Hari baru berjalan seperempat jam, tetapi kepalanya sudah terasa mau pecah. “Lalu, apa urusannya dengan saya? Saluran air di depan bukan tanggung jawab saya, dan truk pengangkut barang bukan sopir saya.”
“Urusannya adalah ….” Bella mendekat, berdiri hanya berjarak satu langkah dari meja kerja Angga, menatap manik mata cokelat gelap lelaki itu lekat-lekat, “Anda harus membantu saya menyelamatkan benang ini. Kalau tidak, seluruh rajutan kardigan pesanan pelanggan saya akan gagal selesai hari ini.”