


oleh HK · 74 Bab
Hubungan pernikahan Nurma dan Setyo selama lima tahun yang penuh cinta harus berubah jadi pernikahan yang dingin dan datar. Setyo berubah jadi suami yang acuh tak acuh, membuat Nurma merasa kesepian. Namun, seorang pria asing datang membawa cinta yang sudah lama Nurma rindukan. Antara mempertahankan pernikahan dan mengejar cinta baru, manakah yang akan dipilih Nurma?
"Mas Setyo pasti suka sama masakanku. Malam ini dia pasti makan dengan lahap!" ucap Nurma sambil tersenyum.
Ia membayangkan sang suami pulang kerja dan langsung memakan makanan yang dibuatnya.
Melirik jam dinding, Nurma terperanjat. "Ya ampun! Ternyata sudah jam delapan! Aku harus cepat-cepat mandi sebelum Mas Setyo pulang."
Dengan tergopoh-gopoh, Nurma langsung berlari kecil menaiki anak tangga. Namun, baru tiga anak tangga ia lewati, suara deru mobil suaminya terdengar.
"Loh? Mas Setyo sudah pulang?"
Dengan cepat, Nurma kembali turun dan membuka pintu. Wajah Setyo yang baru habis pulang bekerja langsung muncul di balik pintu.
Nurma menyambutnya seperti biasa, mencium punggung tangan suaminya dan mengambil alih tas kerjanya. Namun, ada yang berbeda malam itu. Setyo tidak mengecup kening Nurma seperti kebiasaannya.
Padahal, Nurma sudah sedikit menundukkan kepalanya, berharap Setyo akan mengecup keningnya singkat atau sekadar mengusap kepalanya dengan lembut.
Nurma merasa kecewa saat Setyo melangkah masuk. Tapi, dengan cepat, Nurma mengikuti langkah sang suami.
"Mas mau langsung makan malam atau mandi dulu?" tanyanya lembut.
Setyo menggeleng, "Aku sudah makan di luar sama teman-teman kantor," jawabnya dingin.
Nurma tersentak. "Kok Mas gak mengabari aku kalau sudah makan diluar? Setidaknya, aku gak perlu capek masak," keluhnya lemah.
Meski lelah mengurus rumah, Nurma tetap memasak demi suaminya. Ketika mendengar bahwa Setyo sudah makan tanpa mengabarinya, Nurma merasa bahwa usahanya sia-sia.
Setyo berbalik, matanya menatap Nurma tajam. "Aku sibuk makanya gak kasih kabar!" katanya sedikit membentak.
Bukan kali pertama Setyo membentak Nurma, belakangan ini, Setyo memang sering bersikap dan berkata kasar. Nurma masih menyikapinya dengan bijak. Ia pikir, suaminya mungkin lelah dan stress sehingga sering melampiaskan kemarahannya di rumah.
"Ya sudah, maaf. Tapi lain kali kasih kabar, ya, Mas? Aku sudah capek mengurus rumah seharian, setidaknya kalau kamu bilang sudah makan diluar, aku kan gak perlu—"
"Iya, iya, kamu berisik banget, sih?!" sela Setyo seraya melangkah menaiki tangga. Meninggalkan Nurma yang termenung sendirian di dapur.
"Kamu sudah banyak berubah, Mas." Nurma berucap lirih, menatap punggung suaminya yang makin menjauh.
Mereka sudah menikah selama lima tahun. Pernikahan mereka awalnya berjalan baik dan penuh cinta. Setyo mencintainya dan sangat perhatian. Tetapi, beberapa waktu terakhir, Setyo mulai berubah.
"Tidak, tidak. Jangan berpikiran negatif, Nurma. Mas Setyo pasti lagi stress makanya jadi dingin seperti itu," monolog Nurma seraya mengusap dadanya.
Ia lekas mengikuti Setyo ke kamar untuk menyiapkan pakaiannya. Nurma sudah biasa melakukannya, Setyo selalu ingin dilayani. Nurma tak pernah keberatan meski lelah kadang terasa menghantam raga.
Bagi Nurma, melayani suami adalah baktinya sebagai seorang istri. Apalagi, Setyo sudah berusaha keras dalam menghidupi keluarga kecil mereka.
"Mas, aku sudah siapkan pakaian kamu di sini, ya." Nurma berucap dari depan pintu kamar mandi, memberitahu sang suami bahwa semua yang ia butuhkan sudah tersedia.
Selepas itu, Nurma kembali ke bawah untuk menyimpan makanan yang sudah ia masak ke dalam kulkas. Rencananya, ia akan menghangatkan makanan itu untuk sarapan besok pagi.
"Sudah selesai, tinggal memijat Mas Setyo. Habis itu, aku bisa istirahat," gumamnya lantas kembali lagi ke atas.
Namun, sesampainya ia di depan kamar tidur, Nurma justru mendapati Setyo tengah sibuk melakukan panggilan video dengan seseorang.
Wajah Setyo tampak berbinar, tertawa lepas. Siapa yang bisa membuatnya sebahagia itu?
Padahal, beberapa menit yang lalu, Setyo bersikap sangat dingin terhadapnya. Nurma jadi merasa curiga, sebagai seorang istri, ia tahu betul kebiasaan sang suami.
"Mas Setyo gak pernah terima telepon dari kantor kalau sudah di rumah. Tapi siapa itu, ya? Kok kelihatan bahagia banget," gumam Nurma.
Tangannya meraih pegangan pintu dan bersiap untuk membukanya. Tapi, keraguan itu datang, Nurma urung membuka pintu.
"Gimana kalau itu panggilan penting? Nanti Mas Setyo bisa marah lagi kalau aku tiba-tiba masuk," katanya lirih.
Nurma kembali mengintip ke dalam dan masih belum ada tanda-tanda Setyo akan segera mengakhiri panggilan videonya. Nurma mulai pegal, tubuhnya benar-benar butuh istirahat sekarang.
Dengan keyakinan dirinya, Nurma membuka pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Setyo. Ia berjalan ke tempat tidur dengan kaki berjinjit.
"Sedang apa kamu? Kenapa berjalan seperti maling begitu?" tegur Setyo yang melihat gelagat aneh istrinya.
Nurma terperanjat. "Eh, maaf, Mas. Aku pikir Mas Setyo lagi sibuk makanya jalan pelan begini karena takut ganggu," jawabnya seraya berkelakar dan mengusap tengkuknya.
Setyo bangkit dari tempat tidurnya, "Kamu memang ganggu, Nurma! Kamu gak tahu kalau aku lagi kerja? Rapat penting jadi tertunda gara-gara ulahmu yang seperti anak-anak itu!" bentak Setyo kasar.
Nurma kaget, hingga beberapa saat ia hanya bisa terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sebelumnya, Setyo tak pernah begitu kasar terhadapnya.
"Mas? Kamu membentakku?" tanya Nurma, tak percaya.
"Apa?! Kamu mau menangis? Menangislah, Nurma! Lalu kamu bisa pergi ke rumah orang tuamu!" kata Setyo kasar.
Nurma membeku. Tangannya gemetar, dadanya terasa sesak seolah napas tak bisa masuk. Matanya panas, tapi ia menahan isak agar tak terdengar.
"Ah, sudahlah! Kamu itu makin hari bikin aku kesal saja!" Setyo langsung berjalan keluar kamar tanpa mempedulikan istrinya yang gemetar takut dan terluka.
Suara pintu yang membanting keras menjadi penanda jatuhnya air mata Nurma. Ia bukan hanya menangisi sikap kasar Setyo, tapi juga kesalahannya.
"Seharusnya aku tetap berdiri di luar sambil menunggu Mas Setyo selesai," lirihnya mengusap air mata yang jatuh ke pipi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku terus bertahan?" monolog Nurma, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar yang menutup pelan.

HK
7 Pengikut · 1 Novel