


oleh Ancy · 18 Bab
Dituntut memiliki anak dalam waktu dekat, padahal suaminya tidak peduli, membuat Flavio sangat tertekan. Dalam keadaan sangat terpuruk, dia bertemu dengan Rakha—CEO muda yg terkenal dingin, angkuh dan tak tersentuh. Di saat rumah tangganya mulai retak, Rakha menemani hari-harinya yang sepi, memberikan kehangatan dan perhatian yang sudah lama tidak Vio dapatkan. Takdir seolah mempermainkannya. Akankah Vio mempertahankan pernikahannya, atau justru takdir akan menyatukan Vio dengan Rakha?
Pagi ini sama seperti hari sebelumnya, Flavio menyiapkan sarapan untuk Narendra. Walaupun ada asisten rumah tangga, tapi untuk makanan, Flavio yang turun tangan sendiri.
Bukan tanpa sebab Narendra menolak hidangan dari para asisten rumah tangga. Baginya, hanya masakan Flavio yang mampu memenuhi kenikmatan lidahnya.
Langkah kaki Flavio begitu ringan menuju dapur. Aroma bunga yang baru bermekaran, menambahkan kesan kedamaian baginya. Flavio membuka pintu kulkas, sesaat setelahnya dia menoleh ke arah Bi Inah yang tengah mengelap meja makan.
"Bi, di kulkas masih ada lauk apa?" tanyanya sambil mengamati rak-rak pendingin.
Bi Inah menoleh ke arah Flavio dengan cepat, lalu menjawab pertanyaan Flavio dengan sopan. "Masih ada daging ayam, jagung, wortel, sama sayuran, Bu."
Kening Flavio berkerut tipis. "Telur tidak ada, Bi?"
"Ada, Bu. Masih utuh satu kilo."
"Tolong siapkan ya, Bi. Oh ya, nasi kemarin apa masih ada di magicom?"
"Masih, Bu," jawab Bi Inah sambil mendekat ke arah Flavio. "Memang Ibu mau masak apa?"
Bi Inah salah satu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan Flavio. Jauh sebelum Flavio menikah dengan Narendra. Flavio sudah terbiasa hidup mandiri sejak muda, meninggalkan rumah orang tuanya untuk membangun kehidupan dengan caranya sendiri.
Flavio yang saat itu masih menempuh pendidikan, memilih membeli apartemen yang letaknya tidak jauh dari kampusnya. Papa dan mamanya mengizinkan Flavio tinggal sendiri di apartemen dengan syarat Bi Inah ikut. Flavio mengiyakan saja syarat dari orang tuanya, toh Bi Inah sudah lama ikut keluarganya.
"Aku mau masak nasi goreng sama telur mata sapi saja, Bi. Soalnya tidak keburu kalau mau masak yang lain," ujar Flavio.
Dengan cekatan Bi Inah menyiapkan apa yang diperlukan oleh Flavio. Saat Flavio menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak, terdengar suara gaduh dari depan.
"Bi, itu di depan ada siapa ya? Tolong di cek ya, Bi. Siapa tahu ada yang bertamu."
"Baik, Bu."
Tak berselang lama, Bi Inah kembali ke dapur dengan tergopoh-gopoh. Flavio mengernyitkan dahinya melihat sikap asisten rumah tangganya.
"Bi, ada apa? Siapa yang datang?" tanya Flavio penasaran.
"Itu, Bu, di depan ada Nyonya Lukmana, tapi beliau tidak sendiri. Beliau datang bersama dengan Bu Nina dan Non Lili."
Flavio merasa heran, tidak biasanya ibu mertuanya beserta iparnya datang pagi-pagi begini ke rumahnya.
"Bi, tolong nanti masakkan telur mata sapi ya. Setelahnya nanti siapkan di meja makan, aku mau ke depan dulu."
"Baik, Bu."
Flavio berjalan ke depan untuk menemui ibu mertua dan iparnya. Saat sampai di ruang tamu, Flavio melihat ibu mertuanya dan juga Nina beserta anaknya duduk di sofa dengan angkuh. Pandangan Flavio langsung tertuju pada beberapa koper besar yang terletak di ujung ruangan.
"Mama, Mbak Nina, Lili tumben datang sepagi ini. Ada apa?" tanya Flavio sambil menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Narendra mana?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang dia ajukan, ibu mertuanya justru menanyakan suaminya.
"Ada apa, Ma? Tumben datang tidak kasih kabar dulu."
Flavio menoleh ke arah Narendra yang tiba-tiba sudah berada di sana. Terlihat Narendra sudah rapi, lengkap dengan jas dan dasi yang sudah dia pakai.
"Memang salah jika orang tua datang berkunjung ke rumah anaknya? Haruskah memberi kabar terlebih dahulu jika akan datang?" cecar Bu Lukmana.
"Ya … tidak harus begitu, Ma. Hanya saja tidak biasanya Mama datang sepagi ini ke rumah. Oh ya, kenapa Lili dan Mbak Nina ikut ke sini? Lalu koper itu milik siapa?" tanya Narendra yang bingung melihat banyaknya koper di ruang tamu.
Bu Lukmana memandang ke arah Nina terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Narendra. Dia tidak mungkin menjawab semua pertanyaan Narendra saat ini, sebab ada Flavio di antara mereka.
"Ma, kenapa malah diam?" tanya Narendra yang berhasil menyadarkan mamanya dari lamunannya.
"Mulai hari ini mama, Nina dan Lili akan tinggal di sini. Semua koper itu milik kami," jawab Bu Lukmana tanpa basa basi.
Terkejut. Tentu saja hal itu dirasakan oleh Flavio, tapi dia juga tidak mungkin menolak keinginan mertuanya. Yang Flavio herankan, kenapa Nina dan Lili harus ikut tinggal di rumahnya? Bukan tidak setuju, tapi Flavio merasa itu tidak pantas. Terlebih Nina adalah seorang janda.
Narendra bisa menangkap keterkejutan di wajah Flavio. Tidak dipungkiri jika dia juga terkejut mendengar pernyataan mamanya. Terlebih sebelum hari ini, Narendra sudah merencanakan untuk pergi bersama Flavio di akhir pekan nanti.
"Kamu tidak keberatan kan, Ren?" tanya Bu Lukmana menyelidik.
"Tidak, terserah Mama saja."
Mendengar jawaban Narendra, Flavio mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. Dia tidak menduga jika suaminya akan mengambil keputusan tanpa mempertanyakan pendapatnya terlebih dahulu.
Bu Lukmana langsung melenggang pergi dari ruang tamu lalu menuju ruang makan. Di sana dia langsung duduk dan mengambil makanan yang sudah tersedia tanpa memedulikan Flavio, begitu juga dengan Nina dan Lili yang mengikuti Bu Lukmana.
"Sampai saat ini kamu belum juga hamil, Vi?" tanya Bu Lukmana.
"Belum, Ma," jawab Flavio.
"Kamu ini sebenarnya mampu memberi keturunan untuk Rendra tidak sih? Sudah satu tahun menikah masa belum hamil juga! Nina saja dulu baru menikah dengan almarhum Dimas dua bulan sudah langsung hamil loh. Jangan-jangan kamu mandul lagi."
Flavio menelan sarapannya dalam diam setelah mendengarkan kalimat pedas dari Bu Lukmana tentang dirinya yang belum memberi keturunan. Narendra hanya menanggapi dengan datar, tanpa mengeluarkan kata pembelaan sama sekali.
Flavio merasakan hatinya perih saat melihat suaminya yang tidak membela dia di depan mamanya. Diamnya Narendra membuat Flavio menyadari, mungkin suaminya juga menganggap dia sama seperti ibu mertuanya.
"Iya loh Vi, masa kamu belum hamil? Apa kamu tidak pernah konsul ke Dokter soal hal ini? Kasihan Narendra sudah menanti kehadiran anak di antara kalian selama satu tahun ini," tanya Nina.
"Tuh dengerin kata kakak ipar kamu, harusnya kamu itu mulai konsul ke Dokter, Vi. Takutnya kamu mandul lagi." Bu Lukmana mengatakan hal itu tanpa memedulikan perasaan Flavio sama sekali.
Flavio berusaha menelan makanan yang ada di mulutnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekik begitu mendengar perkataan mertua dan iparnya yang menohok hatinya. Ditambah melihat Narendra yang diam tanpa membelanya sama sekali.
"Iya, Ma, Mbak, nanti aku akan konsul ke Dokter." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Flavio. Rasanya dia sudah tidak selera untuk melanjutkan sarapan pagi ini.
"Aku berangkat ke kantor dulu," pamit Narendra.
Flavio dengan sigap membawakan tas kerja dan jas suaminya ke depan. Sesampainya di teras depan, Flavio menyerahkan kedua benda yang dibawanya kepada Narendra. Narendra yang menyadari perubahan pada diri Flavio, langsung memeluknya.
"Semua akan baik-baik saja, jangan dengarkan ucapan Mama dan Mbak Nina," ujar Narendra.
Flavio menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selepas kepergian Narendra, Flavio melangkahkan kakinya memasuki rumah. Di ruang keluarga dia melihat Nina dan ibu mertuanya tengah bercanda bersama dengan Lili.
Hatinya kembali perih melihat kebersamaan itu, bukan iri pada Lili, tetapi Flavio iri pada kedekatan antara ibu mertuanya dan Nina. Flavio juga menginginkan kedekatan itu, sayangnya ibu mertuanya tidak pernah menganggapnya sebagai menantu di keluarga Lukmana.

Ancy
29 Pengikut · 3 Novel