


oleh Zaid Zaza · 6 Bab
Sampah keluarga Jiang yang dulu dihina, kini bangkit dengan bakat tertinggi! Semua yang pernah meremehkannya kini takluk di bawah kakinya. Dengan langkah mantap, dia menapaki jalan menuju puncak, mengguncang langit dan bumi. Kehadirannya saja cukup membuat para dewa gemetar!
"Jiang Wei! Jiang Yi! Cepat berlutut, minta maaf pada Tuan Muda Zhen!" bentak kepala keluarga, Jiang Yuan, yang ada di ruangan itu.
Alih-alih membela atau mencari kebenarannya, Jiang Yuan malah langsung menyalahkan kedua bersaudara Jiang Wei dan Jiang Yi, yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun.
Keluarga yang lain pun ikut berbisik menyalahkan mereka, "Apa sih yang dilakukan kedua anak itu? Bagaimana kalau kita juga terseret?"
"Sudah jadi beban di keluarga, sekarang malah cari masalah di luar."
"Apa kita juga akan kena masalah?"
"Pssst ... pssst."
Bisikan dan pandangan keluarga yang menyalahkan mereka terasa sangat menyakitkan. Namun, Jiang Wei dan Jiang Yi sudah terbiasa dengan semua ini. Mereka menerimanya dengan pasrah dan hanya bisa membiarkannya begitu saja.
Begitulah keluarga mereka, tak ada yang bisa mereka harapkan.
Jiang Yi memandangi seluruh keluarga yang menatap mereka dengan penuh kebencian, hatinya terasa hancur. Dia tak pernah menyangka, bahwa di antara mereka semua, tak ada satu pun yang peduli.
Ia berharap, meskipun hanya sedikit, ada sedikit rasa peduli dari mereka. Namun, sikap semua orang membuatnya semakin sadar, bagaimana keberadaan mereka dalam keluarga, tidak lebih berharga dari seekor anjing.
Jiang Yi terdiam, matanya memerah, memendam amarah yang membara dan kesedihan yang mendalam.
Bagaimanapun dia berusaha untuk tegar, tetapi tetap saja, rasa sakit terus menerus datang untuk menyiksanya.
Sementara di sebelahnya Jiang Wei hanya diam tanpa ekspresi, dia tahu jelas bagaimana orang-orang itu, dan dia tak mengharapkan apa pun dari mereka.
"Kepala keluarga, kami tidak bersalah, mereka jelas-jelas--" Jiang Wei mencoba membela diri, tapi perkataannya langsung dipotong oleh Jiang Yi, kakaknya.
"Kepala keluarga, ini semua adalah salahku, adikku tidak bersalah sedikit pun! Bahkan adikku tak menyentuh mereka sedikit pun! Ada pun keluargaku ...." Jiang Yi terdiam sejenak, menoleh ke arah Jiang Yuan yang menatapnya dengan tajam.
Jiang Yi tahu betul apa yang akan kepala keluarga lakukan jika dia sampai melibatkan mereka. Jiang Yi takut Jiang Wei akan dicelakai oleh orang-orang jahat dan egois itu. Karena itulah dia menanggung semua kesalahan, bahkan jika dia harus membayar semua itu dengan nyawanya.
Dengan gemetar, Jiang Yi melanjutkan perkataannya, "Keluargaku sedikit pun tidak ada hubungannya dengan hal ini. Semua ini murni kesalahanku saja! Kepala keluarga, saya siap menerima hukuman apa pun!" tegas Jiang Yi lalu berlutut dan bersujud di hadapan semua orang.
Jiang Yi sadar bahwa mereka tak akan bisa melewati ini. Walau mereka membela diri, tak akan ada yang mempercayai mereka.
Jiang Yuan sedikit terkejut ketika mendengar Jiang Yi mengakuinya begitu saja. Ia sempat mengira Jiang Yi akan membela diri terlebih dahulu. "Dia mengakuinya?" gumamnya dengan perasaan lega.
Ketika Jiang Yuan melirik ke arah Jiang Wei, seringai tipis muncul di wajahnya. Dia memahami, mengapa Jiang Yi melakukannya, semua itu untuk melindungi adiknya tercinta. "Rupanya begitu," gumamnya.
Jiang Yuan tak peduli dengan hal itu. Yang terpenting baginya adalah dirinya dan keluarga tidak terkena masalah apapun.
"Tidak, bukan begini." Jiang Wei terisak. Hukuman dari menyerang keluarga pejabat sangatlah berat, mungkin nyawa pun sulit untuk diselamatkan.
Jiang Wei memohon dengan suara parau, air mata menggenang di matanya. "Kepala keluarga, ini bukan salah Kakak! Mereka yang lebih dulu--" Sebelum kata-katanya bisa berkembang lebih jauh, Jiang Yuan hanya mengangkat tangannya dengan dingin. Sebuah isyarat tanpa kata-kata, dan penuh makna.
Seketika, salah satu pelayan keluarga maju dengan cepat dan tanpa ampun menutup mulut Jiang Wei dengan kasar, mencegahnya untuk melanjutkan pembelaan.
Jiang Wei terkejut, matanya membelalak karena tidak menyangka bahwa keluarganya akan begitu kejam. Bahkan tak segan untuk membunuh anggota keluarganya sendiri.
"Kalian semua! Tangkap orang itu!" teriak Zhen Tian memerintahkan para pengawal yang datang bersamanya.
"Mmmppp!" Pelayan yang tadi membekap mulut Jiang Wei kini sudah membawanya menjauh dari ruang pengadilan keluarga.
Jiang Wei tak bisa melawan sedikit pun, kaki dan tangannya lumpuh. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis. Menangis tanpa ada seorang pun yang peduli padanya.
Pelayan itu membawa Jiang Wei ke kamarnya. "Ugh, dasar menyusahkan!" katanya dengan kesal, dia langsung melemparkan tubuh Jiang Wei dengan rasa jijik.
Brak!
Bukannya di dalam kamar, pelayan itu malah melemparkannya di luar pintu, lalu pergi sambil mengibas-ngibas bajunya dengan tangan. Seakan Jiang Wei adalah benda kotor yang harus dibersihkan.
"Aku sangat tidak berguna," Jiang Wei membatin dengan perasaan pahit.
Tidak tahu bagaimana nasib kakaknya, tapi siang telah berubah menjadi malam. Sudah seharian dan kakaknya masih belum pulang. "Kakak, aku mohon, jangan terjadi sesuatu padamu, hanya kau yang kumiliki di dunia ini."
Kedua mata Jiang Wei perlahan menutup tak sadarkan diri, rasa lelah dan sakit tak lagi mampu ditahan oleh tubuh rapuhnya.
Malam itu Jiang Yi pulang dengan tatapan mata yang kosong, penuh dengan kekecewaan. Bajunya robek tak karuan, dan keringat lelah yang bercampur dengan darah terus berjatuhan dari tubuhnya.
Setiap langkah sangatlah berat, dan menyakitkan. Keadaannya sangat berantakkan, dan dia tak ingin menyerah untuk hidup, karena jika dia menyerah, apa akan terjadi pada adiknya.
Krieeek!
Dalam keadaan seperti itu, betapa terkejutnya Jiang Yi saat melihat Jiang Wei meringkuk kedinginan di lantai.
Walau sebentar mata Jiang Yi berubah merah. Dia seperti dirasuk oleh iblis. Mata merah itu perlahan lenyap saat ia menyentuh tubuh adiknya.
"Wei'er!" Jiang Yi bergegas menggendong adiknya itu ke kasur. Rasa sakit yang ada di kulitnya tak berasa lagi. Melihat Jiang Wei meringkuk kedinginan di lantai membuat hatinya lebih sakit.
Saat menaruh adiknya di kasur Jiang Yi bergumam dengan bibir gemetar, "Maafkan kakak, kakak tidak bisa menjagamu dengan baik. Maaf."
Ia menundukan kepala penuh penyesalan. Dipeluknya Jiang Wei, hingga akhirnya tertidur.
Batinnya terus menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga Jiang Wei dengan baik.
Karena rasa tak nyaman aneh yang ada di tubuhnya, Jiang Wei kembali sadar. Perhatiannya langsung tertuju pada Jiang Yi yang tertidur di sisinya.
"Kakak!" katanya dengan rasa lega. Dia senang bahwa kakaknya masih hidup, tapi luka yang memenuhi tubuhnya membuat hati Jiang Yi terasa tusuk dengan ribuan jarum.
"Teganya kalian melakukan ini pada Kakak!" serunya dengan suara yang mengguncang udara, dipenuhi kebencian yang membara.
Di tengah amarah dan keputusasaan yang mencekam, tiba-tiba sebuah cahaya biru terang menyala dari dadanya, memecah kegelapan di sekitarnya.
Kilatan petir liar mulai merayap di sepanjang tubuhnya, memancarkan energi yang mengguncang tanah di bawah kakinya.
"Apa ini," Jiang Wei tergagap. Cahaya biru itu seketika menerang. Sangat terang hingga spontan membuatnya memejamkan mata.

Zaid Zaza
3 Pengikut · 1 Novel